
🕊Selamat Membaca🕊
Degup jantung Airin, bertindak lebih cepat dari biasanya, dadanya berdebar tak seirama, aliran darah berdesir terasa hingga kepala, air mata jatuh tak terkira.
"Di bunuh," geramnya lalu mengepalkan jari jemarinya.
"Hei, Rin! Tenang dulu!"
Alvian meraih tangah sang istri, lalu meminta si cantik untuk duduk kembali.
"Jangan panik, Rin! Kita harus memastikan dulu, apa itu benar-benar ayahmu," kini Reyhan yang berbicara.
Selembar foto di album keluarga milik Alvian, terdapat seorang pria yang wajahnya benar-benar mirip dengan foto sang papa. Airin yakin jika itu adalah orang yang sama.
"Tanyakan pada mamamu! Siapa nama papamu, mungkin beda dengan nama anak angkat kakek Alvian," seru Tania kemudian.
"Siapa nama, anak angkat kakek, mah?"
"Namanya Bayu, dia adik angkat mama. Saat itu kakek mengangkatnya, karena beliau tak memiliki seorang anak laki-laki. Maka dari itu, kakekmu menganggap Bayu untuk menjadi anaknya sekaligus adik mama," cerita Tania.
"Okeh, namanya "Bayu"... aku akan tanya, ke mamaku, siapa nama papa kandungku?" ujar Airin kemudian.
Sesigap itu, si cantik segera menghubungi sang mama, tanpa basa-basi ia langsung menanyakan. Siapa nama asli sang papa kandung.
"Bayu Prastio," ungkap si mama, melalui pesan singkatnya.
DEEEEG!
Kaki Airin seketika melemas, ia jatuh kelantai karena merasa lemah. Sakit bukan main, saat Anita memberi tahu, nama sang papa adalah "Bayu".
"Ja_jadi, dia orang yang sama?" gugup Tania.
"Haaaah, artinya papamu meninggal, bersama kakekku " gemetar Alvian pula.
"Heeeh, Rin... Rin!"
Airin tiba-tiba saja tak sadarkan diri, ia tak sanggup menerima kenyataan ini, ia harus menerima cerita buruk, secara bertubi-tubi.
"Rin, bangun!"
Panik Alvian luar biasa, ia spontan mengguncang tubuh sang istri berkali-kali.
15 menit kemudian, barulah Airin perlahan membuka matanya, tampak air mata menitik di wajah cantiknya.
"Al,"
Airin langsung mendekap tubub Alvian dengan erat.
"Jangan pergi, jangan pernah tinggalkan aku!" ucapnya di sertai isak tangis yang menjadi-jadi.
__ADS_1
"Tenang, Rin! Aku akan selalu ada di sisimu, kita akan hidup sama-sama, sampai kita menua," balas Alvian berbisik di telinga sang istri.
Tania memberikan air hangat untuk menantu kesayanganya itu, ia sangat takut jika Airin kenapa-kenapa setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Mah, pah... siapa pembunuh papa kandungku?" tanyanya pelan penuh harap, dengan air mata yang masih berderai dengan sangat derasnya.
Kenyataan pahit, memang harus di terima Airin bertubi-tubi dalam waktu sesingkat ini. Dimana ia baru tahu. jika ia bukan anak kandung Wijaya Bratayuda. Namun saat Airin juga mulai tahu wajah sang papa kandungnya, lagi-lagi ia juga harus menerima, karena nyatanya si papa di kabarkan sudah meninggal dunia. Yang tragisnya, beliau di kabarkan meninggal karena sengaja di lenyapkan oleh seseorang, dan gilanya, sampai detik ini, mereka belum tahu, siapa yang tega melakukan pembunuhan tersebut.
Tangis Airin semakin pecah, ia tak mampu menahan betapa sakit batinya, ia begitu terpukul harus menerima kenyataan yang sangat memilukan.
"Menangislah, Rin!" bisik Alvian pelan.
Si tampan memapah tubuh Airin, lalu membawa istrinya itu ke dalam kamar, Alvian berharap di dalam sana, sang istri akan lebih leluasa saat berada di dalam sana.
***
Sejuk angin malam menyapa, siang sudah berlalu malam pun tiba. Di seperempat malam, Airin terbangun dari tidurnya, ia menatap Alvian yang nampak lelah, tertidur dengan sangat pulasnya.
"Maaf, Al! Jika seharian ini, aku menyusahkanmu," bisiknya pelan di telinga Alvian
Airin beranjak dari tempat tidurnya. lalu duduk di depan jendela kamar, ia membuka sedikit jendela kamarnya, lalu menatap luasnya langit di angkasa. Meski tadi siang hujan cukup deras, namun malam ini bintang tetap bersinar terang.
"Pah," lrihnya dalam hati. "Benarkah papa sudah tiada? Jika iya, aku berharap saat ini papa sudah duduk nyaman di surga." Harap Airin untuk sang papa.
Airin tertunduk lesu, lalu menatap langit malam ini dengan perasaan sendu.
Lirih Airin pelan, untuk sosok yang akan menjadi misteri sumur hidupnya.
"Pah, dimana aku harus menepis rindu, jika kau tak sedetikpun pernah hadir di hidupku. Kita berpisah sebelum bertemu. Aku tak perduli, bagaimana caramu membuatku hadir dalam rahim mama, yang perlu papa tau, aku butuh sosokmu di sisiku, meski.. hal itu tak akan pernah ku dapatkan," batinya lagi.
Malam ini, Airin bercakap pada diri sendiri, berharap akan melegakan batinya yang luka sedikit saja. Ya benar.. Airin dan si papa, berpisah sebelum berjumpa.
"Aku harus memaksa Alvian, untuk mencari tahu, siapa pembunuh sialan itu, karena dia harus bertanggung jawab, atas hilangnya nyawa papaku dan kakeknya," ucapnya lagi.
***
Setelah malam yang seolah terasa panjang, akhirnya sang fajar pun mulai menyapa. Airin dan Alvian sepakat untuk berangkat ke kantor, nanti siang saja.
"Menurut mama, lebih baik kalian libur kerja saja dulu! Terutama kau, Rin... jangan di paksa, karena tak baik untuk kesehatan tubuhmu!" titah Tania pada anak dan menantunya
"Siap mah," jawab Alvian tegas.
Keduanya pun memutuskan untuk tak bekerja hari ini, Alvian memberitahu Ridho, jika ia tak bisa ke kantor.
"Al, apa yang akan kau rencanakan?"
"Diam di rumah, siapa tahu pengirim paket misterius itu datang ke rumah lagi,"
Namun nyatanya, sampai siang menyapa, tak ada tanda-tanda, siapa pun datang ke rumah, apa lagi si pengirim paket.
__ADS_1
"Jam berapa biasanya dia, kesini?" tanya Alvian pada kedua satpam rumahnya.
"Biasanya, sebelum jam 12 siang, si pengirim paket sudah datang, tapi entah kenapa, hari ini dia tak menunjukan batang hidungnya," jawab si satpam pula.
Alvian menghela nafas berat, ia pun segera melangkah untuk kembali masuk ke dalam rumah
"Sedang apa, Rin?"
"Aku menceritakan pada mama, bahwa papaku kemungkinan meninggal dunia, karena selama ini, mama pun tidak tahu keberadaan papaku," ungkap Airin.
Benar, karena bagaimana pun, selama ini Anita tak mengetahui dimana, Bayu berada. Yang ia tahu, ayah dari bayi yang ia kandung saat itu, pergi... karena tak mau bertanggung jawab.
Drrrrt... Drrrt!
Ponsel milik Alvian berdering.
"Siapa Al?" Airin penasaran, siapa yang menghubungi suaminya.
"Toni,"
"Owh, okeh,"
Alvian segera mengangkat panggilan telpon tersebut.
"Hallo, ada apa?"
"Al, kau dimana?" Toni justru balik bertanya.
"Aku di rumah. Kenapa?"
"Pihak kepolisian sudah menangkap, orang yang selalu mengirim paket untuk istrimu," jelas Toni, ia menyampaikan maksud dan tujuanya menelpon Alvian.
"Kau serius. Baiklah, aku dan Airin segera menuju ke sana,"
Alvian mematikan sambungan telpon, ia mengatakan pada Airin bahwa pelakunya sudah di amankan oleh polisi. Keduanya segera bergegas untuk pergi ke kantor polisi, dengan dada yang berdebar-debar, Airin sudah tak sabar, ingin melihat wajah pelakunya
.
.
.
Ada dua pertanyaan.
1... Siapa pembunuh, ayah kandung Airin? Hayooo siapa kira-kira.
2... Siapa pengirim paket misterius itu? Kan kemarin pada nebak, kalau yang kirim papa kandungnya Airin😁.
🕊Terima kasih kakak-kakak baik🕊
__ADS_1