Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Titik Awal Kehancuran


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Alvian dan Airin masih saling menatap, keduanya seolah tengah membatin di dalam hati, masing-masing.


"Gila.... bisa-bisanya dia pura-pura lumpuh selama ini," grutu Airin dalam hati seraya memperhatikan sikap sang suami yang senyum-senyum menatapnya kini.


"Kenapa sih, Rin? Pasti, kagumkan?" goda si tampam hingga spontan membuat Airin menepuk pundaknya.


Sssssssttt... Ck....


"Heeeii..., apa yang kau lakukan?"


"Hemmmm,"


Bibir Alvian sudah maju ke depan, dan sedikit lagi sudah menyentuh bibir sang istri.


"Balasan, karena kau telah memukul pundakku,"


"Haaaahh... jangan gila, Al! Kita sedang berada di kantor,"


Airin berusaha menghentikan aksi sang suami, yang benar-benar menggila hari ini.


"Ahh... terserah! Siapa yang berani menggunjingkanku?" ceplosnya tanpa ragu.


Dan.... sssstt..


Satu kecupan mendarat aman, membuat si cantik diam tak bersuara, bibir keduanya saling beradu, bahkan Alvian tak perduli dimana ia berada kini. Jujur saja, sebenarnya si tampan masih sedikit malu-malu, bersikap seperti apapun di depan istrinya, namun kini ia bertingkah sok romantis bak film di drama korea.


Ceklek!


"Ehh....,"


Ridho dengan cepat menutup pintu, ruangan dimana Airin dan Alvian berada, pria paruh baya itu mengerutkan wajahnya sesaat melihat pemandangan yang tak biasa.


"Al....,"


"Kenapa?"


"Pak Ridho melihat, ulah nakalmu,"


"Biarkan saja, apapun yang ku lakukan, itu hakku," jawab Alvian berlaku tak malu-malu sedikit pun, walau sebenarnya ia malu luar biasa.


"Huuuuuf," Airin membuang nafas kasar, ia pun meminta Alvian untuk segera berlari mengejar Ridho, pasti ada hal penting yang akan di bicarakan.


Dengan langkah cepat, Alvian pun mengerjar manager kantornya, ia penasaran apa yang mau Ridho katakan.


"Apakah anda tadi, mencariku?" tanya Alvian saat sudah berada di hadapan Ridho.


"Iya," jawab Ridho sedikit canggung. "Ada, pak Wijaya Bratayuda di ruang tunggu, seperti yang anda perintahkan, hari ini beliau pun menemui anda,"


"Ohh bagus kalau begitu...," ujar Alvian lalu melangkah menuju ke ruang tunggu.


"Maaf pak,"

__ADS_1


Ridho menghentikan langkah Alvian, karena ada hal yang mau ia sampaikan lagi.


"Ada apa?"


"Begini pak, saya minta maaf, prihal ketidak nyaman yang terjadi di kantor ini, apa lagi beberapa karyawan yang dengan sengaja menyakiti batin istri anda.. jujur pak, saya tidak tau apa yang telah mereka lakukan!" ucap Ridho tulus.


"Hemmm....,"


Si tampan menarik nafas panjang, lalu membuang secara perlahan.


"Nasib mereka, ada di tangan istriku! Karena mulai besok, aku akan stay di kantor setiap hari, dan membawa serta istriku ke sini! Jadi.... yang punya masalah dengan Airin, minta maaflah secara pribadi, sebelum taring istriku keluar. Karena kalau dia sudah marah, hmmmm.. hancurlah dunia," seruan Alvian terkesan bencanda, namun sebenarnya ancaman. yang tak main-main.


Alvian bukan tak mau ambil pusing, dengan sikap para karyawanya, namun Airin sendiri memintanya untuk tak mempermasalahkan hal ini, sebab Airin paham semua orang, mulai detik ini, tak akan ada yang berani mengusiknya lagi.


***


"Hemmm," Alvian menyapa pria paruh baya yang sejak tadi sudah menunggu.


"Al.....," Yuda cukup terkejut saat melihat Alvian yang hadir di hadapanya. "Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah, selama ini kau duduk di kursi roda?" Yuda benar-benar penasaran.


"Hmmm....," Alvian hanya menghela nafas untuk menjawab pertanyaan itu. "Anda sendiri, kenapa ada di sini?" Alvian justru balik bertanya.


"Aku menunggu pemilik perusahaan, ini.. karena ada hal penting untuk ku bicarakan denganya,"


"Hmm, begitu,"


Seketika senyum mengembang dari wajah tampan Alvian, sebab Yuda tak tau jika orang yang kini ada di hadapanya adalah seseorang yang ingin ia temui.


"Al... kau belum menjawab pertanyaaku! Bagaimana kau bisa ada di sini, dan bagaimana bisa kau berdiri sendiri??"


"Heeh.. apa maksudmu?"


"Aku sengaja berpura-pura lumpuh, demi mencari tahu siapa yang bersungguh-sungguh mencintaiku,"


Alvian pun mengungkapkan salah satu alasan kenapa ia pura-pura lumpuh. Selain ia, ingin mendapatan perhatian penuh dari Airin, ia juga ingin menguji ketulusan Amira, yang saat itu di jodohkan denganya.


"Al...," Yuda tertunduk lesu.


"Karena aku lumpuh, Amira tak memiliki niat menikah denganku sedikitpun, karena anak kesayangan anda itu, tak mau hidup sulit," jujur Alvian.


Yuda makin memunjukan wajah sedih, karena nyatanya Amira memang tak mau menikah dengan anak sahabatny, di karenakan Alvian saat itu lumpuh dan tak bisa melakukan apapun.


Ceklek...


Pintu ruangan pun terbuka, yang seketika menghentikan Alvian bercerita, sebab ada Airin dan Ridho yang hadir di hadapan keduanya.


"Rin," Yuda menyapa anaknya, tapi Airin seolah tak perduli sedikitpun. Ia segera mendekati sang suami lalu duduk di samping Alvian.


"Emem... pak Yuda, silahkan anda bicarakan, apa yang ingin anda sampaikan!" titah Ridho.


"Apa yang mau ku sampaikan. toh... pemiliknya belum hadir di sini, lagi pula, aku seketika badmood melihat mereka berdua, ada di hadapanku," Yuda bersikap sinis setelah Airin duduk di samping Alvian.


"Loh... anda belum tau, jika pak Alvianlah pemilik perusahaan ini!" ungkap Ridho tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Haaaah......!!"


Belum selesai, rasa terkejutnya karena Alvian tiba-tiba bisa berjalan, kini Yuda di kejutkan karena nyatanya Alvian pula sang pemilik perusahaan.


"Hem,"


Senyum penuh kemenangan tak bisa Alvian sembunyikan, namun tatapanya benar-benar sinis pula mengharah kewajah Yuda, yang tak lain, papa dari istrinya sendiri.


"Ma_maksudmu?" gugup Yuda tak beraturan, rasanya jantung seketika berhenti berdetak, nafasnya seolah tak bisa di tata, karena rasa yang tak bisa di jelaskan. Malu dan takut, kini menyergap perasaan Wijaya Bratayuda, orang yang dengan tega mengabaikan anaknya demi nama baik dan harta.


"Iya.. aku memang pemilik perusahaan ini, dan sebentar lagi, istrikulah yang akan jadi pemimpin di sini,"


"Lalu.. bagaimana dengan hutang-hutangku? Bisakah, aku bayar secara bertahap,"


"Tentu saja tidak bisa, sebab sesuai perjanjian, kembalikan saat aku butuh,"


"Tapi, Al... perusahaanku saat ini, tak ada pemasukan, dan aku harus membayar tanggungan ke sana kesini," jujur Yuda berharap anak menantunya akan merasa iba.


"Maaf... itu buka urusanku! Karena, aku tak mau tau, hari ini juga, semua hutang harus anda bayar tanpa sisa!!"


"Ta_tapi,"


Yuda tak tau, bagaimana cara untuk melunasi hutangnya, kepada perusahaan milik seseorang, yang baru saja ia ketahui, bahwa perusahaan yang menjatuhkanya adalah milik anak menantunya sendiri.


"Apa yang harus ku lakukan? Karena jujur, saat ini aku tak memiliki uang sebanyak itu!"


"Hemmm...."


Lagi-lagi Alvian hanya menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan. Sementara Airin hanya diam menyaksikan sang papa di ambang kehancuran.


"Begini saja," Alvian pun mulai buka suara, dan memberi jalan tengah agar Yuda tak bingung membayar hutang padanya.


Si tampan, meminta Yuda menjual perusahaan kepadanya, dengan harga sedikit mahal, dari hutang yang Yuda punya.


"Hutang anda lunas, anda dapat uang setengah lagi, tapi perusahaan anda, di pastikan akan menjadi milikku," tegas Alvian dengan semua kelicikan yang memang sudah ia rencanakan.


"Hah...," Yuda tertunduk lesu, ia tak mampu menjawab ucapan anak muda di hadapanya itu.


"Bagaimana, pak?!" Alvian menodong.


"A_akan, ku pikirkan dulu," gugup Yuda luar biasa.


"Baik... akan ku tunggu sampai jam, 4 sore ini! Dan anda harus sudah ambil keputusan.. Jual perusahaan anda padaku atau bayar hutang anda tanpa sisa!!"


Tak bisa berbuat apapun, itulah yang kini pria paruh baya itu rasa, bahkan Alvian membuat Yuda kelabakan, tepat di hadapan Airin, anak kandung yang telah Yuda sia-siakan.


.


.


.


Jangan lupa bahagia, buat semua, semoga tetep betah di sini ya. Makasih kakak-kakak baik🤗🤗🤗❤❤.

__ADS_1


Oh.. iya. Nanti siang jam 12, Airin Alvian up lagi ya, kali ada yang mau nungguin😭❤.


🕊Terima Kasih🕊


__ADS_2