Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Emosi Tak Terkendali


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Matahari sudah berubah orange, pertanda hari ini akan segera berakhir. Sementara Airin baru saja tiba di rumah, setelah seharian bekerja.


"Kak Rio,"


"Rin,"


Airin menatap heran, sang kakak yang tengah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.


"Apa yang kakak lakukan di sini?"


"Menunggu suamimu, sebab, tadi Alvian memintaku untuk menghantarkanya ke kamar sebentar," jelas Rio.


"Ah, begitu,"


Si cantik menautkan kedua alisnya seraya memperhatikan gerak-gerik sang kakak yang cukup mengherankan. Benar saja, saat ini Rio tengah meminta bantuan kepada Alvian untuk menolong perusahaanya.


"Mari duduk saja, di ruang tengah!" ajak Alvian kepada kakak iparnya.


Kedua pria yang sudah sama-sama paham cara menghadapi sebuah masalah, kini tengah membicarakan sesuatu yang cukup serius.


"Bagaimana Al? Apa kau bisa membantu keuangan perusahaan kami, maaf, aku tak tau harus meminta bantuan ke siapa lagi," jujur Rio.


"Hmmm... maaf! Bukan aku tidak mau membantu, tapi aku rasa apa yang kini menimpa keluargamu, adalah "Karma" karena telah membuat Airin menderita." Jelas si tampan yang terkesan menyalahkan. "Jadi, dengan berat hati, aku menolak untuk menolong kesulitan yang kini menimpa perusahaan kalian, karena aku sendiri masih sulit menata keunganku " tambahnya kemudian.


Rio hanya mampu membuang nafas kasar sebab ia melihat binar dendam dari sorot mata Alvian.


"Sebaiknya, ajak papa, untuk bertemu dengan pemilik asli perusahaan tersebut, dan bicarakan baik-baik! Apa kalian bisa melunasi hutang secara bertahap?"


Ide Airin cukup di terima oleh kakaknya, sebab memang jalan satu-satunya adalah bertemu langsung dengan pemilik utama perusahaan tersebut.


"Alvians Group, nama perusahaan itu... dan itu seperti namamu," cetus Rio lagi seraya menatap lekat wajah Alvian.


"Memang itu perusahaan, saya," lirih Alvian dalam hatinya. "Nama Alvian, kan banyak," jawabnya kemuadian.


Setelah gagal meminta bantuan dari adik iparnya, dengan alasan bahwa kini Alvian tengah darurat keuangan. Jalan, satu-satunya adalah, bernegosiasi dengan pemilik perusahaan yang hampir membuat perusahaan keluarganya bangkrut.


"Al.... maafkan kakakku!"

__ADS_1


"Tidak masalah, karena seharusnya aku bisa menolongnya,"


"Tidak perlu, karena aku memang menginginkan kehancuran perusahaan papaku,"


"Tapi, bagaimana dengan kakakmu! Apa kau tak sedih melihat dia bingung begitu?"


"Sedih sih, nanti kalau perusahaan papa benar-benar bangkrut, aku akan mengajak kak Rio bekerja denganku,"


"Heeh, bekerja dimana?"


"Untuk sementara, kak Rio, akan menjadi sopir pribadi kita berdua, tapi kalau nanti aku sudah punya perusahaan sendiri, aku akan mengajak kakaku itu untuk bekerja sama.


"Ide bagus," ujar Alvian datar, penjelasan istrinya seolah biasa baginya, karena memang nyatanya, semudah itu untuk Alvian mewujudkan apa yang baru saja Airin harapkan.


"Besok, hari kedua aku bekerja, jadi aku harus lebih rajin lagi, biar bisa sesegera mungkin, dapat promosi naik jabatan,"


"Haduh, Rin.... baru dua hari kamu bekerja, udah ngebayangin naik jabatan aja, memang kamu pikir untuk duduk di kursi kepercayaan, bisa semudah itu.. semuanya butuh proses dan perjuangan, usaha dan buktian, bahwa kamu mampu dan totalitas dalam bekerja, jika itu semua, sudah bisa kamu penuhi, maka kemungkinan besar, pemilik perusahaaun tersebut, akan menaikkan jabatanmu," ucap Alvian pada istrinya, karena kenyataannya perusahaan tersebut memang milik Alviaan sendiri.


"Hmmm," hanya itu yang keluar dari bibir Airin.


"Tidurlah... karena besok, kau harus bangun pagi-pagi untak segera masuk ke kantor. Jangan telat, nanti di pecat!" tegasnya hingga Airin menautkan kadua alisanya.


"Ahhh bodo amat,"


Airin segara beranjak lalu masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh.


***


Waktu terus bergulir, hari selalu berganti, hampir 1 minggu lebih, si cantik bekerja di kantor barunya kini. Banyak kejangalan-kejanggalan yang Airin dapatkan, namun ia mencoba untuk tak perduli.


Sebagai karyawan baru di kantor, ia bekerja kini, tak sedikit sesama para karyawan menggungjingkan Airin, terlebih lagi, selama ia sudah bekerja di kantor tersebut, hampir lebih dari 5x kali, ia di caci maki oleh Amira yang tak lain adalah adiknya sendiri.


"Dasar... anak tidak tahu diri! Perusahaan orang tuanya tengah mengalami kesulitan, kakak justru bekerja untuk perusahaan lain, bahkan, ini perusahaan yang akan mengambil alih perusahaan papa kita," pekik Amira sekuat tenaga, seraya menunjuk-nunjuk wajah kakaknya, bahkan caci maki Amira tersebut di saksikan oleh banyaknya karyawan dimana kini Airin bekerja.


"Bisa pelankan, nada bicaramu! Apa kau tak malu, memanggilku dengan sebutan kakak, sementara jari jemarimu menunjuk-nunjuk wajahku, dan mulut sialanmu itu mencaci maki diriku. Asal kau tau... kita bukanlah saudara lagi, karena papamu itu, sudah membuang dan mencoretku dari data keluarga... Lalu, kenapa kau marah-marah, aku bekerja di kantor ini?!" Airin pun ikut tersulut emosi.


Amira diam sejenak, namun tanganya siap menjambak rambut sang kakak, gadis itu kesal, karena Airin justru membongkar rahasia sang papa, yang di pastikan akan mempengaruhi nama baik kedua orangtuanya.


"Asal kau tau... aku sudah tidak sabar, menunggu, saat-saat kau dan kedua orang tuamu jatuh miskin," tambah Airin.

__ADS_1


"Kak Airin.. tega kau berucap seperti itu, untuk orang yang telah membesarkan dan melahirkanmu?!"


"Masa bodo.... aku memang sudah tak perduli sedikitpun dengan kalian," amarah Airin tak bisa tertahaankan.


Melihat itu, semua orang justru memandang Airin anak yang tak tau diri, sementara si cantik segera berlari kedalam kamar mandi, lalu menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


"Ya Tuhan....," tangisnya pecah, ia segera membasuh wajahnya berkali-kali.


Sungguh, betapa sakit batin dan hati Airin saat ini, yang tadi telah berteriak memburukan kedua orang tuanya, sebab, sebenci apapun ia terhadap si mama dan papa, masih ada secercah sayang yang terselip di perasaanya. Airin mengingat hari-hari dulu, dimana si mama menyikat rambut panjangnya dan si papa mengantarkannya ke sekolah.


"Tapi, kenapa kalian membuangku? Kenapa kalian tak memperdulikanku, di saat aku butuh," tangisnya lirih.


Benar, antara cinta, sayang dan benci memang sangat tipis perbedaanya. Airin ingin menghancurkan kedua orangtuanya, namun ia justru terjebak dalam dilema.


"Kau tak salah Rin! Jangan dengar apapun yang mereka bicarakan tentangmu!" Rio menguatkan adiknya.


Karena saat ini, ia tengah menjadi bahan pembicaraan, di kantor tempatnya bekerja, bahkan kegaduhan tersebut terdengar juga hingga ke telinga Alvian, sebab Ridho melaporkan apa yang sudah terjadi di kantor hari ini.


"Sial... beraninya mereka menghina dan merendahkan istriku," ucap Alvian kesal, ia mengepal jari jemarinya, seolah ingin menghajar mulut-mulut yang telah membuat istrinya terluka.


Dengan kejadian hari ini, Alvian pun mengambil keputusan secepat mungkin.


"Besok, kumpulkan semua karyawan kantor! Karena, ada hal yang ingin ku bicarakan dengan mereka... dan satu hal lagi, katakan pada Wijaya Bratayuda, esok ia harus menemuiku dan harus mengembalikan semua hutang yang telah dia pinjam. Aku tak mau tau, dia harus membayarnya lunas besok siang!!" titah Alvian kepada Ridho, papa dari sahabatnya sendiri, orang yang sangat Alvian percayai.


Bahkan, Ridho sang manager perusahaan, tidak tahu, jika Airin adalah istri dari Alvian, pemilik perusahaan dimana ia bekerja dan di percaya saat ini.


Sementara Alvian sendiri sudah tak sabar, ingin mencaci maki karyawan kantornya dan menghina kedua orang tua Airin.


"Hmmmmm....... tak ku biarkan, kalian melukai hati istriku lagi,"


.


.


.


.


Pembaca Alhamdulilah naik terus, insya Allah, kapan-kapan, aku up 2 bab setiap hari.... Doakan naik terus ya....❤ Dan nanti kalau aku sudah ada Rizki, aku mau adakan give away di sini🤗.

__ADS_1


*TERIMA KASIH*


__ADS_2