Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPH S2: Rapuh dan Patah


__ADS_3

ANTARA CINTA DAN DENDAM


Polisi Sang Penakluk Hati (Season 2)


☡Selamat Membaca☡


Braaaak!


Sebuah tabrakan maut, merenggut nyawa kedua orang tua Alvian, yang akan pergi ke suatu tempat, Tania dan Reyhan, menghembuskan nafas terakhir bersama seorang sopir. Detik terakhir yang akan menjadi teka-teki.


"Sudah ku bilang, kalian jangan pergi kemana-mana! Tapi mama dan papa tak menghiraukan laranganku," tangis Alvian meledak, setelah pemakaman kedua orang tuanya.


"Mas," Airin memeluk erat tubuh sang suami.


Sejak hari kematian kedua orang tuanya, Alvian seolah kehilangan separuh nafas hidupnya, ia menjadi pendiam, bahkan tak mau bertemu siapapun. Airin dan kedua anaknya sudah berusaha menguatkan, tapi nyatanya Alvian tetap menjadi sosok yang selalu diam tanpa kata. Satu hal yang membuat Alvian tak bisa menerima kematian kedua orant tuanya, sebab Reyhan dan Tania meninggal, dengan anggota tubuh yang tak lagi utuh, tangan sang papa terpisah dari badanya, bagitupun sang mama, yang juga kehilangan kedua kakinya saat meregang nyawa.


"Mereka memang sudah tua, tapi setidaknya jangan meninggal setragis itu,"


Itulah, kata-kata yang selalu Alvian lontarkan, meski dalam sadar atau pun tidurnya. Kematian kedua orang tua yang tak wajar, sungguh mengoyak mental Alvian.


"Sialan.... akan ku pastikan, siapapun yang menyabotase mobil, Opa dan penyebab kematian Opa dan Oma... akan mati di tanganku." Geram, Arfa dari dalam kamarnya.


Ya... kini si kembar memang sudah beranjak dewasa. Tapi khidupan pribadi Arfi dan Arfa jauh berbeda. Jika Arfi sudah menjadi seorang polisi di usia 23 tahun, berbeda dengan Arfa, meski sudah berusia lebih dari kepala 2, tapi ia masih duduk di bangku kuliah.


Peruhaban sikap sang papi, membuat Arfa menyimpan dendam yang mendalam di dalam dada. Namun meski ia ingin membalaskan dendam atas kematian kedua orang tua, sang papi, Arfa tetap bersikap biasa saja, ia menyimpan sisi berbeda dari dalam dirinya di balik kaca mata, yang selalu ia bawa kemana-mana. Ia berpenampilan bak orang bodoh dan culun.


Berbeda dengan Arfi, ia tampil keren dan apa adanya, bahkan ia di kagumi banyak sekali wanita. Tapi meski begitu, ia tak bersikap angkuh, Arfi selalu berusaha melindungi kedua orang tuanya dan sang saudara kembar, terlebih Arfa selalu di bully, culun dan cupu oleh teman-teman sekampusnya.


Tapi, tanpa siapapun tahu, Arfa sebenarnya bos di segerombolan anak pank, dan jalanan, ia di segani dan di takuti, semua anak buahnya di wajibkan tutup mulut atas identitasnya, karena ia berpenampilan sok culun dan cupu saat di rumah ataupun saat sedang berkuliah.


***


"Nayla....., aku cinta kamu!" pekik Arfa dari lantai atas gedung kampusnya.


Sejak lama, ia memang menganggumi dan jatuh cinta, kepada Nayla Askarina, seorang gadis yang di anggap paling cantik di kampusnya, bahkan Nayka di kagumi banyak sekali pria, ia adalah anak tunggal dari seseorang petinggi di tempat Arfa tinggal.


"Gaaa punya malu, ya kamu. Ngaca dong! Culun, cupu dan bego.. beraninya jatuh cinta ke Nayla." Cerca Ika, yang tak lain sahabat Nayla.


"Iya... dasar cupu. Gak punya malu lagi!" tambah Meymei, sahabat Nayla juga.


"Ih... kalian apaan sih. Udah deh, jangan membully orang lain, mending kita pergi," ajak Nayla, tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Arfa, padahal anak muda itu, sudah menahan malu, karena menyatakan cinta dengan cara gila kepada gadis yang ia sukai.


Sikap Nayla dan sahabat-sahabatnya membuat Arfa marah, ia justru tak akan menyerah dan akan mendapatkan Nayla dengan cara apapun.

__ADS_1


"Sabar Fa, mereka memang seperti itu!" ucap Aldi, sahabat yang selalu ada di samping Arfa.


***


"Aaaah... kurang ajar. Akan ku pastikan mereka menangis darah." Pekiknya sekuat tenaga, lalu memukul stir kemudi mobil miliknya.


Anak muda itu, memacu mobilnya dengan kecepatan tak biasa. Wajah Nayla dan sahabat-sahabatnya terus terbayang dalam benaknya. Arfa benar-benar hidup di penuhi rasa dendam dan marah.


Ssssttt...


"Fi... bukanya yang lewat tadi mobil adikmu?" tanya Rifki, sahabat Arfi di kepolisian.


"Arfa maksudmu?"


"Iya..., dia memacu mobil secepat kilat,"


"Benarkah?"


"Iya,"


Sejenak Arfi terdiam, biasanya Arfa akan kehilangan akal sehatnya jika sedang marah. Karena sedikit banyak, Arfi paham sikap dan sikap saudara kembarnya itu.


"Yang aku tahu, adikmu sedikit culun. Apa dia bisa marah juga?" ujar Rifki spontan.


Sebuah tamparan mendarat aman di wajah Rifki, karena Arfa tak terima, jika ada orang yang berucap seolah membully adiknya.


"Jaga ucapanmu!"


"Maaf, Fi!"


Tapi Arfi tak perduli, ia beranjak dari sebuah warung kopi, yang dimana sejak tadi, ia bersantai di sana.


"Mau kemana, Fi?"


"Pulang,"


"Oh.....,"


Rifki hanya mampu diam, ia menatap langkah Arfi yang menjauhi keberadaanya. Semetara Arfi sudah enyah, memacu mobil dengan kecepatan tak biasa juga.


***


Sesampainya di rumah, Arfi mendapati Arfa sedang duduk di samping sang papi. Saudara kembarnya itu bercerita apapun, meski tak di tanggapi oleh Alvian.

__ADS_1


Ya, begitulah. Hampir setiap hari Arfa selalu menyempatkan waktu, untuk berbicara sejenak kepada sang papi. Meski tak pernah Alvian tanggapi, sikap Arfa itu sungguh membuat Airin dan Arfi tersenyum, karena Arfa tampak sangat menyayangi ayah kandungnya itu, walaupun semenjak si Opa dan si Oma meninggal, sang papi seolah tak memiliki semangat hidup.


"Tenang pi, aku pasti akan menghancurkan para penjahat yang telah menyebabkan Opa dan Oma meninggal," lirih Arfa dalam hati, ia mengecup kening Alvian lalu melangkah masuk ke dalam kamar.


"Fa... apa yang terjadi? Sepertinya kamu sedang marah?' tanya Arfi pelan, lalu mendekati keberadaan sang adik yang baru saja merebahkan tubuh sesaat tiba di dalam kamarnya.


Arfa pun menceritakan, hal yang sudah terjadi hari ini, bahwa ia di bully setelah menyampaikan cintanya kepada Nayla.


"Nayla, anak pak Tito? Orang no satu di daerah ini?"


"Iya.... Apa salahnya aku jatuh cinta, toh keluarga kita juga kan, kaya. Sepadan dengan mereka." Jawabnya namun rasa kesal, masih tak bisa ia sembunyikan.


"Bukan itu masalahnya, Fa,"


"Lalu? Apa karena aku cupu dan culun?"


"Mungkin itu salah satu sudut pandang mereka, tapi bukan itu masalah besarnya," ujar Arfi seketika.


"Lantas, apa?" Arfa penasaran.


"Pak Tito itu, sungguh membenci papi, karena dulu, Opa kita musuh besar keluarga pak Tito itu," jelas Arfi tanpa ragu.


"Haaah.. apa kau serius?"


"Sangat serius,"


"Apa mereka belum tau, kalau kita anak dari Alvian Atala?'


"Nayla pasti tau, tapi dia tidak tau, jika keluarga kita musuh besar papanya,"


Sejenak Arfa terdiam, ia pun mulai berpikir liar. Bahwa keluarga Nayla lah, penyebab kematinan kedua orang tua sang papi.


"Pasti mereka, pembunuhnya," geram Arfa dalam hati.


Ia pun mulai merencanakan sesuatu, untuk menghancurkan keluarga Tito. Bahkan Arfa spontan memiliki jalan pintas untuk membalas dendam, Arfa tak berpikir dulu, apakan benar keluarga Titolah, penyebab kematian kedua orang tua sang papi.


.


.


.


Nanti Up lagi ya❤. Terima kasih kakak-kakak baik🤗

__ADS_1


__ADS_2