Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 32 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌺Selamat Membaca🌺


Tentu saja ada hal aneh yang berkecamuk dalam benak dan pikiran Angga. Ia tak menyukai kondisi seperti saat ini. Dimana ia tidak bisa melakukan apapun padahal ia tahu jika posisi Cia tak baik-baik saja jika menjalin hubungan dengan Arfi, terlebih jika sampai menikah, sebab ia tahu Arfi tak sepenuhnya mencintai Cia, gadis yang sudah sejak lama Angga sukai.


"Eh, kok melamun sih? Jangan-jangan kamu lagi nggak punya uang ya?" Cia menggoda Angga mana kala sudah kembali dari mencari buah-buahan untuk Sisi.


"Kepo!" Angga berdecak pelan. "Btw, mana pacarmu?"


"Ada, lagi kedalam.... kasih buah-buahan untuk Kak Sisi." jawab Cia santai.


"Kok di biarin, sih? Kamu nggak takut mereka malah pacaran, ya? Bisa aja kan, mereka saling jatuh cinta karena terlalu sering bertemu." ujar Angga spontan, membuat Cia sontak mengerutkan dahi.


"Aku percaya mereka. Dan aku yakin... Pak Arfi dan Kak Sisi tidak akan mengkhianatiku." ucap Sisi penuh keyakinan.


Angga hanya bisa menghela napas jengah, karena kenyataannya tak sebaik yang Cia kira. Sisi dan Pak Arfi menyimpan rahasia besar dan jika terungkap gadis itu pasti akan semakin patah.


"Mau saya antar pulang nggak? Atau masih mau jaga Kakak kamu?"


"Pulang' aja deh."


Entah kenapa Angga merasa bahagia karena Cia mau di antarkan pulang olehnya, padahal ada Arfi di rumah sakit ini.


"Naik motor kamu saja!"


"Terus. mobilmu gimana?" Angga penasaran.


"Biarin aja di sini, nggak akan hilang juga. Eemm lagi pula aku udah lama nggak naik motor, pasti seru." ungkap gadis itu.


Angga yang semangat tak menyia-nyiakan kesempatan, ia sesegera mungkin menarik tangan Cia dan membawa gadis itu pergi bersamanya. Cuaca malam yang begitu dingin membuat Cia memeluk erat pinggangnya.


"Andai Cia jodohku," ucapnya lirih di dalam hati dan terasa perih. "Ku pasti kan, dia bahagia dan tak akan ku biarkan Cia terluka." harap nya lagi, tapi harap tinggalah harap, toh nyatanya Cia sangat mencintai Arfi.


Dingin benar-benar dingin, Cia jarang sekali menikmati hal ini. Karena setiap ia pergi kemanapun, selalu mobil yang menjadi kendaraan nya. "Setiap hari naik motor, kamu nggak demam ya?" tanya Cia polos.


"Nggak dong, kan sudah terbiasa."


"Ooh gitu ya,"


"Kalau kamu nggak betah, stop taxi aja!"


"Betah, kan ada kamu, aku selalu membayangkan betapa indahnya dunia saat malam hari, tapi aku tidak berani keluar sendiri untuk menikmati." ujarnya jujur.


"Lah, kan ada Kak Sisi, kamu bisa ajak dia jalan-jalan malam."

__ADS_1


"Kak Sisi itu, asmanya pasti kambuh jika terlalu ke dinginan."


"Ooh." lirih Angga singkat.


Ia mengingat, jika beberapa waktu yang lalu, Angga sempat menemui Sisi yang tengah jalan-jalan malam. Wanita itu tampak semangat dan antusias sekali, tak di sangka jika kesehatannya terancam jika terlalu sering terkena cuaca dingin.


.


.


.


***


Arfi sendiri yang kini berada di rumah sakit, menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari kebaradaan Cia. Tapi sejauh ia memandang, Arfi tak menemukan kebenaran gadis itu, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Cia


("Aku sudah pulang, Pak, tidak perlu di cari! Aku di antara oleh Angga.") jawab Cia melalui pesan singkat.


Spontan Arfi mengerutkan kan dahi, karena Cia tidak terbiasa bersikap dingin seperti ini. Tapi Arfi tak coba untuk memusingkan nya, toh akhirnya ia bisa leluasa menjaga Sisi.


"Biasanya Cia selalu memaksa untuk di antara kan pulang. Kok malam ini aneh." ucap Sisi panik setelah mendengar cerita dari Arfi.


"A-apa jangan-jangan, Angga memberi tahu Cia prihal siapa kita." pikir Sisi spontan.


"Nggak mungkin, Angga itu jatuh cinta kepada Cia, jadi aku yakin sekali dia tak akan mengatakannya."


Mendengar penuturannya Arfi sontak membuat Sisi Menatap nanar ke arah nya. "Maksud kamu apa?"


Sadar jika ia tak berbicara yang membuat Sisi terkejut, Arfi seketika menjadi salah tingkah, ia langsung mendudukkan tubuh di samping Sisi.


"Kok nggak jawab sih?"


Dengan terpaksa Arfi pun menceritakan yang sebenarnya. Jika selama ini ia mengetahui bahwa Angga sudah jatuh cinta Cia sejak lama. Tapi anak itu memilih diam dan memendam.


"Kini Cia jatuh cinta kepada kamu dan Angga tetap diam?" tanya Sisi kemudian


"Iya."


Tak bisa lagi berkata-kata, lagi-lagi Sisi hanya menghela napas jengah. Pantas saja jika ia sering melihat Angga memperhatikan Cia secara di diam-diam.


"Tapi kamu harus tetap menikahi, Cia! Bagaimana pun Cia mencintai kamu."


"Woylaaahh......!" kini Arfi yang sulit berkata-kata. Karena merasa heran atas sikap sang mantan istri yang bersikukuh untuk memintanya menikahi Cia.

__ADS_1


"Mau kemana, Kak?" Sisi berdecak heran kala Arfi melangkah pergi.


"Menenangkan diri, karena lusa aku akan melamar Adikmu."


Sisi termangu, ia mendadak kelu. Perasaan nya sulit untuk di jelaskan. Ia bingung harus merasa senang atau harus bersedih. Jujur saja perasaanya masih full milik Arfi, kini pria itu bersedia menuruti permintaan nya. Permintaan untuk menikahi Cia.


CK.


Arfi keluar memilih menenangkan diri di lantai atas balkon rumah sakit. Sementara Sisi memilih diam dan berusaha untuk memejamkan mata.


.


.


.


***


Jauh setelah hampir satu jam berada di perjalanan. Kini Angga berhasil mengantarkan Cia tepat di depan gerbang rumah gadis itu. Dan seketika keduanya mendadak kelu karena mendapati banyak orang berlalu lalang, keluar masuk dari rumah.


"Cia... ada acara apa di rumahmu? Kenapa ramai sekali?" Angga memberanikan diri untuk bertanya.


Cia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Angga. Karena nyatanya ia sendiri belum tahu apa yang telah terjadi.


"Pak ada apa? Kenapa rumah saya ramai sekali?" Cia bertanya kepada satpam penjaga rumahnya. Tapi saya satpam itu memilih diam tanpa kata, tentu saja membuat Angga emosi seketika.


"Nggak punya mulut ya, Pak? Di tanya nggak jawab malah diem. Kalau anda kerjanya di kantor bos saya, udah pasti di pecat tanpa hormat." Imel Angga kesal


"Maaf Mas, maaf Mbak Cia, sebaiknya kalian langsung masuk saja! Nanti kalian juga pasti tau apa yang sudah terjadi." titah Pak Satpam itu.


Cia tak menjawab ia langsung berlari masuk ke dalam rumah dan langkahnya pun di ikuti oleh Angga. Semakin masuk, semakin ramai yang keduanya rasa, semakin mendekati ruangan tegah, terdengar suara Isak tangis yang amat Pilu menusuk ke telinga.


"Pah, Tante...," Cia coba memanggil sang Papa dan Adik kandung si Mama, bahkan beberapa kerabat masih tampak menangis tersedu-sedu semakin membuat Cia bergumam sendu.


"Mama mu meninggal Cia. Kamu kemana saja, kenapa dari siang kamu tidak pulang?"


Cia diam membisu, jangankan menjawab, karena ia sudah kehilangan banyak kata. Tubuhnya lemas seketika, mendengar kenyataan jika sanga Mama sudah meninggalkan dunia. Kini satu-satunya hal yang Cia lakukan hanyalah menangis.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2