Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 3 IUMS : TERPIKIRKAN


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Siang ini matahari tak menunjukan sinarnya. Ia enggan bercahaya seolah paham kondisi hati dan perasaan Cia. Mana kala gadis itu terus menangis sesenggukan di dalam kamar kos, milik Sisi.


"Udah dong, jangan nangis mulu!" Sisi bingung sendiri.


"Kakak, nggak tau sih. Aku sedih banget loh. Masa Papah, jual aset satu-satunya keluargaku."


Cia menceritakan semuanya. Sedangkan Sisi menjadi pendengar yang baik. Gadis itu terus menangis sesenggukan, sampai matanya sembab dan membengkak.


"Kamu pikir, dengan nangis begini. Itu perusahaan keluargsmu bakal balik. Nggak akan," ucapan Sisi spontan membuat Cia semakin menangis histeris.


"Terus aku harus apa? Bunuh yang beli perusahaan itu apa gimana?" tanya Cia tak masuk akal.


"Ya nggak gitu juga kali... pake cara alus, mulus dan halus."


"Gimana caranya, Kak?"


"Kata kamu yang beli tadi, cowok cakep banget. Ya udah pacarin aja sana! Kamu kan cantik," Sisi memberi saran.


"Idih gila lu, Kak." gadis itu memanyunkan bibir sedetik kemudian mengerutkan dahi. "Tu cowok biar pun cakep, kayaknya udah punya istri deh." tambahnya lagi.


"Masa?"


"Ihh Kak Sisi nggak percaya banget!"


"Kamu cek aja dulu, cari tahu. Tu orang jomblo apa udah punya istri. Kalau jomblo baru kamu pepet sampe dapet!"


Saran dari Sisi benar-benar di terima oleh Cia. Gadis itu mangut-mangut seraya memikirkan sesuatu. Besok dia akan ke salon dulu sebelum masuk ke kantor. Jujur ssja, si pembeli perusahaan keiuarganya, memang tampan, cetar membahana menurut Cia.


"Malam ini aku nginep di kosan, Kakak ya!" gadis itu memohon.


"Boleh, assl besok pagi, kamu bantu Kakak nyuci baju. Oke!"


Tak ada pilihan, Cia akhirnya mengiyakan permintaan Sisi, meski ia sedikit ngeri, nanti tanganya akan kasar dan kukunya kussm. Tapi apa boleh buat, ia tak mau pulang malam ini. Ngambek titik.


.


.


.


***


Setelah makan malam bersama Mami dan Papi, Arfi langsung berpamitan masuk ke dalam kamar. Bsnyak yang harus ia kerjakan dan di susun, untuk persiapan masuk ke kantor besok. Ini kali pertama ia menjadi pemimpin, Arfi merasa sedikit gugup dan canggung, karena selama ia, hanya melihat cara Arfa saat menjadi atasan. Hingga Arfi berpikir, ia memang harus bersikap seperti saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Ck....


Saat Arfi baru saja menghadap ke layar laptop. Seketika ia teringat akan bayangan Sisi yang ia lihat siang tadi. Arfi sadar itu bukan mimpi, tadi siang benar-benar Sisi.


"Aaaggrrhhh..,"


Ia kesal sendiri seraya sesekali mengacak-acak rambutnya sarkas. Arfi tak mau percaya, jika tadi siang mamang ia melihat sang mantan Istri.


"Apa karena aku terlalu rindu dia, sampai-sampai tak sadar. Orang lain seakan terlihat seperti, Sisi?"


Arfi meyakinkan dirinya sekali lagi. Jika apa yang ia lihat siang tadi, hanyalah halu sinasi. Karena ia mendengar kabar, jika Sisi pergi meninggalkan kota setelah bercerai darinya. Wanita itu pernah berbicara, ingin melanjutkan hidup di desa saja.


"Astaga.. andai waktu itu aku ikutin kemana dia pergi. Pasti aku tahu dimana, Sisi tinggal."


Sekali lagi Arfi mengacak-acak rambutnya. Ia kesal karena dulu tak berpikir demi kian. Karena setelah bercarai, Arfi merasa dunianya runtuh, itu sebabnya ia meninggalkan Negara ini secepat mungkin, dan menyusul Arfa ke Jerman. Orang patah hati memang gegabah.


"Selamat malam, Si... dimana pun kamu berada!"


Urung menyusun pekerjaan kantor. Arfi memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Setelah bersusah payah, akhirnya ia pun tidur juga. Arfi harus mempersiapkan diri untuk esok hari. Malam ini ia tertidur di temani rasa penasaran. Apakah yang ia lihat tadi siang benar Sisi atau bukan. Setidaknya Arfi selalu berdoa, agar takdir mempertemukanya kembali dengan wanita itu. Ia berjanji akan menuruti apapun yang di inginkan Sisi, asal wanita itu bahagia.


.


.


.


***


"Fi, tadi Arfa telepon. Katanya Acha kangen kamu," Mami memberi tahu seraya menyiapkan sarapan di atas meja makan. "Pi, ayo makan dulu!" ajak Airin pada sang suami.


"Iya Mi, Papi otw ke meja makan." canda Papi kepada sang istri. Spontan membuat Arfi tertawa geli.


"Moon maap ni ya. Mi, Pi.... pagi ini aku nggak ikut sarapan, karena buru-buru. Aku makan di kantor saja," setelah berucap, Arfi meminun susu coklat yang sudah Mami sediakan untuknya.


"Memang mau kemana, Sih?" Mami penasaran.


"Astaga Mami, masa lupa anaknya udah jadi pengusaha. Bos muda ini, Mi!" Arfi berlagak jemawa, sementara Papi hanya mengembungkan pipi melihat sikap anaknya. Entah kenapa Alvian biasa saja, saat tahu Arfi menjadi pengusaha dan bos besar di usia muda.


"Ih Papi, anaknya jadi orang sukses kok nggak bahagia," decak Airin kesal.


"Iya iya.. Papi bahagia, selamat ya sayang. Semoga kamu menjadi pemimpin yang amanah dan rajin bersedekah." Alvian menepuk pelan pudak Arfi, membuat anaknya mengerutkan wajah.


"Ya udah deh, makasih Pi, doanya." ucapnya di sertai senyum tulus, meski Arfi tahu Papi tak ihklas mendoakanya.


Bukan tanpa alasan, Alvian tak menyukai Arfi menjadi pengusaha. Karena ia berharap, anaknya menjadi polisi. Tapi karena rumah tangga Arfi berantakan, anaknya itu memilih untuk mengundurkan diri, dari kepolisian.

__ADS_1


.


.


.


***


Waktu masih menunjukan pukul tujuh pagi. Tapi Arfi sudah tiba di kantor. Kehadiranya membuat dua satpam yang berjaga, menggeleng kepala berkali-kali.


"itu bos baru kita bukan, sih?" tanya Pak Suki penasaran.


"Iya kayaknya." jawab Angga yang juga kepo.


"Bahaya jika bosnya kayak dia."


"Kenapa?" Angga berlaga lemot.


"Liat aja tuh. Jam baru pukul tujuh, si bos udah dateng aja. Di jamin kita nggak bakal bisa datang telat, kalau begini ceritanya." Pak Suki menjelaskan.


"Iya ya, Pak.. duh bahaya ini. Padahal besok aku mau izin cuti, nganter Neng Bunga pulang kampung." ujarnya mendadak gusar.


Pak Suki tertawa geli. Angga masih muda tapi dia sudah bekerja menjadi Satpam. Status Angga sebagai Kakak dari tiga bersuadara, harus rela banting tulang untuk menghidupi Adik-adiknya.


"Jangan macem-macem, Ga! Kamu mau jadi pengangguran di usia dua puluh tiga tahun?"


"Ya tidak mau lah, Pak." sahut Angga polos.


"Mangkanya kerja yang bener."


Angga menghela napas jengah, mendengar Pak Suki menasehatinya. Tapi belum hilang kekesalanya, ia sudah di buat kesal lagi, karena Cia anak pemiilik kantor sebelumnya, menabrak tubuh Angga sampai ia berguling kelantai.


"Matanya di pake Mbak, kalau jalan!"


"Jalan tuh pake kaki, Ga... bukan mata!" sahut Cia membuat Angga kian kesal.


"Ihh nyebelin."


Meski kesal, Angga tetap di buat terpaku akan penampilan Cia yang beda sekali hari ini. Tentu saja Cia sengaja berdandan secantik mungkin, demi bertemu dengan Arfi.


.


.


.

__ADS_1


LANJUT


__ADS_2