
šSelamat Membacaš
Suasana saat ini benar-benar kacau, semua orang beteriak dan berhamburan. Bahkan efek ledakan bom tersebut menimbulkan kehancuran yang sangat parah. Tangisan karena ada beberapa orang yang di pastikan meninggal di dalam sana, sungguh membuat Alvian kalut luar biasa.
"Toni____!"
Polisi muda itu berlari, dan berusaha masuk ke dalam Mall, namun beberapa rekan kepolisian mencoba untuk melarangnya.
"Ada Toni di dalam sana, kita harus menolongnya!" ujar Alvian dengan mata memerah.
"Sebentar Al, kita pastikan kondisi benar-benar aman!"
"Mati, jika kita menunggu nanti, kita pasti akan kehilangan Toni,"
"Tapi Al, aku rasa.. kita sudah kehilangan dia," lirih seseorang tersebut.
Aaaaa....!
Alvian beteriak sekuat tenaga, ia tak mampu menahan sesak di dada, membayangkan jika Toni benar-benar sudah pergi. Polisi muda tersebut mendudukan tubuhnya yang lemas, berharap semua akan baik-baik saja.
Sementara bayi yang sebelumnya di gendong Alvian, kini sudah di evakuasi di tempat yang aman. Sebenarnya, apa yang terjadi saat ini, bukan Alvian saja yang sedih, tak ada tanda-tanda kemunculan Toni, sangat membuat hati rekan-rekan kepolisian begitu hancur.
"Sebaiknya, kita sedikit berjarak dari tempat ini!"
"Baik pak,"
Alvian dan rekan-rekanya, merasakan sakit menyerang telinga dan kepala. Kuatnya bunyi ledakan Bom tersebut benar-benar berdampak negatif bagi kesehatan.
"Bawa semua orang yang tadi berada di sini, ke rumah sakit!" seru Alvian lagi.
"Sudah pak, mereka semua sudah mendapatkan penanganan dari pihak medis," jelasnya
Meski kacau dan batinya hancur, Alvian tetap berusaha untuk tegar, ia melaporkan secara menyeluruh kepada petinggi kepolisia, bahwa sebelumnya memang ada seorang pria yang sengaja meledakan Bom.
"Jadi dia meninggal, bersama ledakan bom itu?"
"Ya," jawab Alvian datar
Jam 19.30... semua sudah terpantau aman, meski kerusakan Mall sungguh parah, dan hampir semua hancur tak tersisa, sebab ledakan bom tersebut menimbulkan kebakaran yang amat luar biasa.
"Bagaimana, apa semua korban sudah di evakuasi?"
"Sudah pak, sebaiknya anda istirahat dulu!" seseorang itu, berucap sendu, binar matanya menatap Alvian penuh perasaan.
"A_apakah, salah satu di antaranya itu, Toni?"
Rekan Alvian tertunduk, ia tak mampu menatap wajah Alvian.
"Katakan!!"
"Pak, jika melihat kondisi kerusakan, sungguh tidak mungkin, ada yang selamat," jelasnya gemetar.
"Haaaaah,"
__ADS_1
Dada Alvian yang sejak tadi memang berdebar tak karuan, kini terjawab sudah, sebab Toni sahabatnya, menjadi korban ledakan Bom beberapa jam lalu. Polisi muda itu menyentuh dadanya sendiri, ia tak bisa memungkiri, hati dan perasaanya sungguh kacau detik ini.
Sementara para polisi dan semua pihak keamanan, sudah berada di sana, mereka bahu membahu, mengevakuasi orang-orang yang menjadi korban. Bahkan kondisi mereka saat ini, belum bisa di kenali.
"Kita harus membawa jenazah ini ke Rumah Sakit dulu, untuk besok kita cocokan DNA mereka dengan keluarganya," ujar Egi yang langsung di laksanakan oleh jajaran kepolisian.
Hingga jam 8 malam lebih, Alvian belum juga melihat kehadiran Toni, yang akhirnya ia baru menerima, jika nyatanya, sahabatnya menjadi salah satu korban ledakan.
"Aaaaaaaaaa_____!!"
Teriaknya sekencang-kencangnya, semua orang yang ada di sana, hanya bisa menatap Alvian dengan berlinang air mata.
"Mas...,"
Suara itu terdengar lembut, aroma tubuhnya sungguh menenangkan Alvian, tanganya segera mendekap tubuh si tampan, ia mencoba menguatkan, pria yang baru saja kehilangan sahabatnya.
"Rin,"
Alvian coba untuk menahan air mata, saat melihat sang istri ada di hadapanya. Pria muda tersebut bersikap sok tegar, meski Airin sendiri, sudah melihat sang suami menangis tadi.
"Jangan tutupi, menangislah, Al!" seru si papa lalu menepuk pelan pundaknya.
Ck...
Alvian semakin marasakan, tengah di kepung kesedihan, kini tak mampu menahan air matanya, saat ia melihat kedua orang tua Toni tiba, bahkan mereka langsung menangis histeris, tak kuasa menahan kenyataan yang ada.
"Al, kita duduk di sana, ya!" ajak sang mama.
Tapi Alvian menggeleng cepat. "Aku, mau di sini mah, aku berharap Toni akan hadir dan tersenyum kepada kita semua, dia harus memberitahuku, jika saat ini dia masih ada, dia masih bernafas,"
"Iya mas, ayo kita menepi di sana, kamu harus menenangkan perasaan'mu!" kini Airin yang berbicara.
"Hmm, Al.... dengarkan apa kata istrimu. Kasihan dia, di sini masih tercium aroma menyengat, akibat ledakan. Dan jika Airin berada di sini, tidak baik untuk kesehatanya dan juga calon bayimu,"ucap si papa lagi.
Mendengar itu, Alvian pun mengangguk setujuh, ia berjalan pelan mengikuti langkah kedua orang tuanya dan sang istri. Sedangkan kedua orang tua Toni, memastikan kebenaran, apakah sang anak benar-benar sudah tiada.
"Kalian di sini sebentar, papa cari air minum dulu!"
Pria paruh baya itu, mencari air mineral, untuk di berikan kepada anaknya, sementara Airin dan Tania setia mendmpingi Alvian.
"Huuuf," decak si tampan pelan.
Ia mengingat beberapa jam yang lalu, masih berdiri dan berlari-lari bersama Toni, bahkan siang tadi, ia masih bisa melihat senyum dan tawa sahabatnya.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sesak sekali?" tanyanya lirih di dalam hati, namun Alvian tetap tak meneteskan air mata, ia tak mau tampak lemah di hadapan Airin.
Namun, sorot mata Alvian yang memancarkan kesedihan, tak bisa di sembunyikan, Airin cukup paham, jika suaminya sedang tidak baik-baik saja.
"Mas, kemarilah!"
Dengan langkah gontai, Alvian menuruti sang istri, ia beranjak lalu duduk di samping Airin.
"Ada apa, Rin?" suaranya terdengar parau.
__ADS_1
"Masih sedih?"
"Iyalah, masa harus tertawa," jawabnya seraya menatap nanar wajah sang istri.
"Sini.. sini... letakan kepalamu di pundakku! Lalu menangislah sepuasmu, meski aku tidak bisa menghiburmu, mungkin dengan begitu, kamu merasa sedikit lega," ucap Airin lalu menyungingkan senyuman.
Sungguh, senyum sang istri selalu berhasil membuat Alvian tersenyum pula, walau kini ia kacau luar biasa, tapi setidaknya ada Airin yang selalu menguatkanya.
"Ini...!"
"Apa itu?"
"Coklat, sebab... setiap kali aku merasa sedih, aku selalu makan coklat, dan sedikit demi sedikit sedihku akan berkurang," jelasnya.
"Ehh, apa hubunganya? Memang coklat bisa menghibur, hati yang sedang gundah?" Alvian menautkan kedua alisnya.
"Buktikan saja!"
Dengan bodohnya, Alvian benar-benar menuruti apa yang di ucapkan oleh Airin.
"Ga... berubah, hatiku tetap sakit tuh," cetus Alvian heran.
Dan... Airin pun tertawa sejadi-jadinya, ia seolah bersikap bahwa keluguan Alvian benar-benar lucu, hal itu si cantik lakukan demi mengalihkan dari hal yang membuat suaminya bersedih.
"Ihh, Rin... kok tertawa sih?"
"Kamu lucu, mas... di bilang begitu kok percaya sih," ujarnya di sertai senyum.
Alvian menautkan kedua alisnya, ia melihat senyum keterpaksaan dari wajah sang istri.
"Sini,"
Alvian meminta tangan Airin agar menyentuh tanganya, lalu pria muda itu mengecup pelan tangah si cantik.
"Terima kasih, karena sudah berusaha untuk menghiburku," ucap Alvian tulus.
Sendu, Airin menatap pria di hadapanyan dengan raut wajah sendu.
"Jangan sedih mas, hatiku sakit melihat wajah murungmu," jujurnya.
Alvian langsung mendekap tubuh sang istri, ia coba menguatkan diri dengan memeluk Airin.
"Hai Ton, saat kau hadir dalam hidupku, aku merasa kau selalu perduli, kau selalu ada untukku dan kau selalu mengerti keadaanku. Hmmm... tapi kini perpisahan menjauhkan raga kita, tak bisa lagi bertatap dan bercanda seperti dulu, namun aku berharap, jiwa kita akan selalu bersama. Bahkan, aku akan terus berdo'a, agar kita bisa segera berjumpa, walau hanya dalam dimensi mimpi yang tak pasti." Sebuah harapan dari Alvian, untuk seseorang yang ia sebut sahabat.
"Selamat jalan kawan!"
.
.
.
.āŗā¤ā¤
__ADS_1
šTerima Kasih kakak-kakak baikš