Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
5 Tahun Kemudian


__ADS_3

🐧Selamat Membaca🐧


Airin dan Alvian kini sudah tiba di sebuah bengkel mobil, tanpa basa basi si tampan langsung menanyakan prihal keberadaan mobil milik sang istri.


"Ini sedang kami selidiki pak, karena kemarin tiba-tiba saja, ada anak buah saya yang berhenti bekerja cukup mendadak,"


"Pasti dia pencurinya," geram Alvian.


"Bagaimana kalau kami yang selidiki dulu?" usul si pemilik bengkel.


"Setujuh. Mohon kerja samanya, jika dalam waktu 24 jam, mobil istriku tidak kembali, akan ku pastikan, polisi menangkap kalian semua!" ucap Alvian terkesan mengancam.


"Ba_baik pak," jawab beberapa orang itu sedikit gugup.


Karena mereka tau, Alvian tak pernah main-main jika mengancam, itulah sebabnya si pemilik bengkel dan beberapa anak buahnya harus sesegera mungkin bearaksi untuk menemukan mobil Airin.


"Kalau begitu aku dan istriku permisi dulu,"


"Siap pak, hati-hati di jalan+"


Meski tak mempercayai sepenuhnya apa yang, orang-orang itu katakan, prihal mereka yang akan mencari tahu keberadaan mobil Airin, tapi setidaknya Alvian tetap berharap, pemilik bengkel akan bertanggung jawab dengan kejadian ini.


***


Kini keduanya sudah tiba di rumah, Alvian menemui si papa untuk mencertikan apa yang sudah terjadi kepada istrinya, sementara Airin langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui kedua anaknya.


"Kau sudah pulang, Rin?"


"Kak Rio, kenapa kakak ada di sini?" Airin cukup terkejut saat mendapati Rio berada di dalam kamarnya.


"Maaf Rin! Kakak hanya ingin bertemu dengan Arfa dan Arfi,"


"Be_begitu ya," gugup Airin seketika namun sorot matanya melirik kesalah satu anaknya yang kini berada dalam dekapan Rio.


"Aku bawa Arfi keluar ya. Takutnya, nanti Alvian berpikir yang bukan-bukan jika melihatku berada di sini,"


"Baguslah, jika kakak sadar," ucap Airin spontan lalu menutup mulut dengan kedua tanganya. Ssssttt... "Maaf kak! Keceplosan," tambahnya lalu memalingkan wajah.


Rio menggeleng pelan, ia paham akan sikap adiknya, meski Rio merasa Airin bersikap sangat berlebihan.


"Tenang saja, aku tak akan mengganggu hubungan kalian," lirih Rio dalam hati, lalu keluar dari kamar serta membawa Arfi bersamanya.


Sementara Airin kini sudah bersama Arfa, lalu segera memberi anaknya asi. Sebab ia sadar sudah hampir 1 jam lebih ia meninggalkan kedua anaknya.


"Tadi bu Tania menitipkan Arfa dan Arfi kepada mas Rio, mbak," ucap si bibi tiba-tiba saja.


"Memang, mama kemana, Bi?"


"Ada kerja dadakan, mbaak... jadi ga bisa jaga si kembar," jelasnya.


"Oh begitu. Baiklah, terima kasih, bi!"


Si bibi pun segera pergi setelah menyampaikan apa yang perlu ia katakan, karena tadi Tania berpesan agar ia memberitahu Airin, kenapa Rio yang menjaga Arfa dan Arfi.


"Rin, di depan ada kakakmu," ujar Alvian seraya membuka baju dinasnya untuk menggantinya dengan baju biasa.


Airin pun menjelaskan, sesuai dengan apa yang si bibi sampaikan.


"Ohhh," desuhnya pelan.


Alvian tak menyapa Rio sedikitpun meski tadi keduanya bertatap muka, padahal ia tahu jika Rio sudah berubah.


"Mau kemana, mas?"


"Menemui kakakmu,"


"Jangan bertengkar, ya!" Airin mengingatkan.


"Siap bu bos,'

__ADS_1


Secepat kilat, ia melangkah ke ruang tamu, dan segera menemui kakak iparnya. Alvian berniat akan mengajak Rio berbicara dari hati ke hati.


"Al...," sapa Rio ramah.


"Iya, ehh kemarikan Arfi, pasti om'nya lelah, karena menggendong anak papi, cukup lama," ujar Alvian basa basi.


"Ah tidak juga, lagi pula aku memang sangat menyukai anak kecil," jawab Rio pula.


Saat ini Arfi sudah berada dalam dekapan Alvian, seraya meminum susu yang sudah si bibi siapkan, karena salah satu anak kembar Alvian memang mimun susu bantu, sebab asi Airin tak mencukupi untuk kedua anaknya.


"Al, ini data keuangan kantor, Airin!"


Rio menyodorkan sebuah kertas kepada Alvian dan meletakanya di atas meja.


"Oke, nanti aku cek, semoga cara kerjamu tidak mengecewakan,"


"Mudah-mudahan, karena, aku bisa menaikan pemasukan keuangan, 2 kali lipat dari sebelumnya,"


"Woow benarkah,"


"Iya," jawab Rio tegas.


Alvian tersenyum puas, ia berharap Rio memang tidak akan mengecewakanya. Bahkan mulai hari dimana Alvian menyerahkan sepenuhnya semua urusan perusahaan milik Airin, hubungan di antara keduanya semakin membaik. Baik Alvian atau pun Rio, akhirnya sama-sama saling membutuhkan dan saling melengkapi.


***


Malam pun tiba, Airin dan Alvian menghabiskan waktu di balkon atas rumahnya. Dari atas sana keduanya bisa melihat pemandangan indah dari kendaraan yang lalu lalang, sinar lampu baik dari motor atau pun mobil seolah saling bertaut-tautan.


"Al, ada tamu di depan," ujar si mama seraya menimang Arfa.


"Siapa mah?"


"Mama tidak tahu, tapi mereka datang sepertinya membawa mobil istrimu," jelas Tania lagi.


Mendengar itu, Alvian segera beranjak dari tempat duduknya, ia langsung menemui orang-orang tersebut. Dan benar saja, orang yang datang adalah pemilik bengkel kepercayaan Alvian.


"Ini kontak mobilnya pak! Maafkan atas keteledoran saya!"


"Siap pak!"


Alvian tersenyum puas, ia bersyukur karena mobil Airin kini sudah kembali di tanganya, karena nyatanya, anak buah dari pemilik bengkel kepercayaanyalah yang hampir saja mencuri mobil milik sang istri, namun beruntung, saat di temui mobil tersebut belum di jual oleh si pencuri.


.


.


***


5 Tahun kemudian.


Waktu terus berlalu, hari-hari terus berganti, kini usia Arfa dan Arfi sudah memasuki 5 tahun, banyak suka dan duka yang di lalui Airin dan Alvian untuk merawat kedua anak kembarnya. Bahkan seiring dengan berjalanya waktu Airin dan Alvian pun mulai paham, karakter dari kedua anaknya.


Arfi lebih pendiam, bahkan selalu menuruti apapun yang kedua orang tuanya mau. Sedangkan Arfa lebih jahil dan usil bahkan banyak ulah, ia lebih aktif daripada Arfi saudara kembarnya.


"Mami, aku mau makan," pinta Arfa manja, dengan suara ciri khas anak balita.


"Mami ambilkan dulu ya,"


Arfa mengangguk, ia terus melanjukan aktifitas bermainya, sementara Arfi sibuk menoton televisi.


"Opa, kenapa, rambut opa tumbuh di sekitar mulut?" tanya Arfi penasaran saat Reyhan tiba-tiba duduk di sampingnya, bahkan pertanyaan itu membuat si kakek tertawa sejadi-jadinya.


"Arfi, ini bukan rambut, tapi kumis," jelas Reyhan pada cucunya.


Sejenak Arfi terdiam, ia menela'ah penjelasan sang kakek. Anak kecil itu memandangi kumis tipis dan brewok tebal yang tumbuh subur di wajah Reyhan.


"Ya sudah, biar Arfi gak aneh ngeliat Opa... nanti sore Opa hilangkan semua rambut-rambut ini ya!" ujar Reyhan lagi.


Arfi menggangguk, meski ia sebenarnya belum paham, apa yang di katakan olek sang kakek.

__ADS_1


"Opa, kenapa papi belum pulang juga?" Kini Arfa yang bertanya.


"Papi'mu sedang bertugas sayang, nanti sore pasti pulang,"


"Lama. Padahalkan, aku mau minta beliin mainan," ujar Arfa manja.


"Nanti, kalau papimu sudah pulang, baru ajak beli mainan ya!"


Arfa pun membalasnya dengan tersenyum. Setelah itu Reyhan beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi untuk membersihkan wajahnya yang mulai di penuhi brewokan tebal. Sedangkan Arfa dan Arfi menikmati santap siang, dengan di suapi oleh Airin.


***


Sore pun menyapa, Arfa dan Arfi menyambut bahagia kedatangan Alvian dengan membawakan mereka mainan, selepas pulang dari bekerja.


"Papi, ini punya aku,"


"Iya, ini untuk Arfa. Dan yang ini untuk Arfi!"


Alvian pun memberikan mainan mobilan yang berwarna kuning untuk Arfa dan berwarna biru untuk Arfi.


Ngeng... ngeeng!


Si kembar langsung asik bermain bersama di teras rumah, sedangkan Alvian masuk ke dalam rumah, karena di depan pintu sudah ada Airin yang berdiri untuk menyambut kepulanganya.


"Main sama-sama ya! Jangan bertengkar!" seru Airin pada kedua anaknya, lalu masuk ke rumah bersama sang suami tercinta


Jam 17.30


Hampir jam enam Reyhan baru saja tiba di rumah, ia turun dari mobil dengan senyum penuh makna, karena melihat kedua cucunya tengah asik bermain bersama. Pria yang sudah lanjut usia itu, menyentuh pipinya yang sudah licin, tanpa kumis dan brewok tebal.


"Aku mau kasih kejutan kepada Arfa dan Arfi. Tanpa ada rambut-rambut di pipiku lagi, apakah mereka masih mengenaliku?" lirih Reyhan dengan senyum-senyum sendiri.


Ia pun segera melangkah, mendekati keberadaan kedua cucunya.


"Sore nak, permisi. Apakah ini rumahnya pak polisi Alvian?" tanya si kakek tanpa basa basi.


Arfa dan Arfi saling berpandangan, ia menatap dalam-dalam, pria tua yang kini ada di hadapanya.


Lari.......!!"


Teriak si kembar sekuat tenaga, Arfa dan Arfi menemui kedua orang tuanya, sementara Reyhan tertawa pelan di luar rumah, karena ia yakin Arfa dan Arfi tak mengenali dirinya.


"Sayang, kenapa kalian lari-lari?" tanya Alvian seraya menikmati segelas kopi yang kini ada di tanganya.


"Papi...," panggil keduaya dengan nafas ter'engah-engah.


"Iya, ada apa, sayang?"


"Itu....!!'


"Itu apa? Bicara yang jelas!" seru Alvian pada kedua anaknya.


"Opa lupa ingatan, setelah di cukur rambutnya!!"


Ck.


Ssssssttt


Alvian langsung menyeburkan spontan, sedikit kopi yang berada di dalam rongga mulutnya.


"Kalian ini, mengada-ada,"


"Tidak pi. Masa tadi, opa bertanya kepada kita berdua, dimana rumah pak polisi Alvian," jelas keduanya polos.


"Heeeh..??????"


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa bahagia buat semua. Makasih ya yang masih mau baca karyaku☺❤.


__ADS_2