Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Egois dan Kasar


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sisi terus diam, meski Arfi memaksa ia untuk berhubungan badan, pria itu mencium seluruh tubuh si cantik dan membuat gadis itu seketika terpejam. Ada yang aneh menyerang tubuhnya membuat ia seolah tak berdaya, hanya sentuhan-sentuhan kecil dan kecup berkali-kali yang Arfi beri, tapi Sisi merasa seluruh tubuh nya terasa begitu panas.


"Hm... dasar____!"


Ada kata kasar yang ingin Arfi katakan, tapi ucapanya terhenti, karena nyatanya ia tak tega untuk mengumpat Sisi dengan kata-kata yang tak pantas. Gadis di hadapanya terpejam dalam diam tak memberontak sedikit pun.


Ck..


Arfi menarik selimut lalu menutup tubuh mulus istri kecilnya. Tak ada yang ia lakukan malam ini, kecuali melucuti baju dari tubuh sang istri dan menciumnya tanpa henti, sepanjang malam, Arfi tak memberi izin sang istri menggunakan pakai, ia bak orang gila yang terobsesi akan keindahan tubuh Sisi yang sungguh sempurna.


Ssstt...


Dalam heningnya malam, Sisi tak kuasa menahan rasa kantuk, ia terpejam bak boneka yang siap di kec^p kapan saja.


"Emmm...,"


Senyum penuh Arfi keluar dari bibirnya,, ia tersenyum melihat Sisi terpejam dengan wajah seolah mengharap belas kasihan.


"Selamat malam," bisik Arfi pelan seraya meng*cup kening sang istri dan tidur di samping gadis tersebut.


Sejak kecil, Arfi memang memiliki cara pikir yang tak bisa di tebak oleh siapapun. Ia selalu bersikap kejam dan tak perduli.... padahal ia sungguh menyanyangi siapapun yang sudah bisa masuk kedalam hati dan perasaan si tampan. Kali ini, ia membawa Sisi dalam hidup nya, tapi perasaan ia untuk Nayla tetap ada, dalam hal ini seiring berganti hari, Arfi berharap Sisi mampu meluluhkan perasaanya seutuhnya


***


Keesokan paginya, semua orang sudah berada di meja makan untuk menikmati sarapan. Sementara Arfi sibuk menyusun baju-bajunya untuk membawa sang istri pindah dan tidak tinggal bersama si mami dan si papi.


"Si- kenapa bibirmu bengkak?" telisik si mami karena bibir atas menantunya terlihat memerah dan membengkak.


"I-ini, mi... semalam aku sakit gigi, jadi bengkak deh," ujarnya berbohong dan sorot matanya menatap wajah Arfi.


"Jangan pindah dulu, tunggu besok saja. Antarkan aku dan Nayla ke bandara!" pinta Arfa pada sang kakak.


"Maaf, Fa! Sebenarnya sejak lama aku sudah memiliki apartement dan berencana tinggal di sana setelah menikah."


"Besok saja kan, bisa!"


"Arfa, kakakmu baru saja menikah, mungkin dia akan berbulan madu tanpa ingin di ganggu." si papi berbicara seraya tersenyum simpul ke arah Arfi.


Sebenarnya, Sisi belum mau pindah rumah, karena ia tahu, Arfi hanya berniat membuat hidupnya susah. Tapi ia tak bisa menolak, apapun yang Arfi rencanakan ia di wajibkan untuk setujuh.


"Ya Tuhan, kenapa aku harus terjebak rasa dan jatuh cinta, pada pria yang masih mencintai masalalu nya?" lirih Sisi dalam hati.

__ADS_1


Arfi sudah berjanji kepada sang adik, jika esok ia akan tetap mengantar Arfa dan Nayla ke bandara. Tapi niatnya pindah tak bisa di cegah, kini ia dan Sisi sudah berada di apartement.


"Si- akhirnya kamu kembali, tolong dong cucikan bajuku!"


Seorang wanita paruh baya dengan menggunakan baju kurang bahan, yang kamar nya bersebelahan dengan kamar yang selama ini di tinggali Sisi, meminta gadis itu untuk membantunya mencuci baju.


"Maaf bu, aku tidak bisa! Karena aku sedang tidak enak badan." tolak Sisi sesopan mungkin.


"Apa kau sudah tidak mau membantuku lagi? Apa kau lupa, jika malam itu aku menolong dari seorang pria yang hampir memperk*s^mu?!" si ibu ini tampak emosi karena Sisi menolak untuk membantunya.


"Maaf bu! aku tidak lupa, tapi untuk kali ini saja, aku tidak bisa membantu anda."


Wanita paruh baya itu, siap melayangkan tamparan ke wajah mulus Sisi. Tapi langsung di tepis oleh Arfi, karena sedari tadi ia memang ada disana dan mendengar semua pembicaraan Sisi dan si ibu tua tersebut.


"Jangan pernah menyentuh tubuh istriku!" tegas Arfi lalu menghempas kuat tangan si ibu sebut saja namanya Herni.


"Huuuh... asal kau tahu, kalau bukan karena aku, kamu pasti akan menikahi gadis yang sudah tak peraw^n!" ucap bu Herni berteriak. bahkan suaranya mambuat Arfi kian kesal.


"Satpam..... usir ibu ini dari hadapanku!" titah Arfi tanpa ragu.


"Siap pak."


Dua orang satpam meminta baik-baik kepada bu Herni untuk pergi tanpa pemaksaan. Sementara Arfi menarik tangan Sisi dan membawa istrinya masuk kedalam kamar.


"Katakan padaku! Apa benar kamu hampir menjadi korban pe____?" ucapan Arfi tertahan seketika karena Sisi langsung menjawab IYA.


"Haaah?" Arfi terkejut mendengar cerita istri kecilnya. "Kapan kejadian itu terjadi?"


'Malam setelah kakak, khilaf dan saat itu kakak juga memperlakukan aku layaknya boneka." Sisi tertunduk, ia mengutuki apa yang terjadi dalam hidupnya.


Dunia ini kejam, dunia ini keras, terlebih untuk gadis sepolos Sisi, yang terpaksa untuk hidup mandiri. Selama itu juga berbagai macam kejahatan, silih berganti menerpa Sisi.


"Alasanku mau menikah cepat. Agar kakak meniduriku dengan halal, menyiksaku sesukamu juga terserah! Tapi aku takut hidup sebatang kara di luar sana," Sisi berujar gemetar seluruh badanya tergetar. Sejahat itu dunia bagi nya.


"Haaaah?"


Lagi, hanya itu yang keluar dari bibir Arfi, ia menatap kelu, wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


"Terserah kakak mau meniduriku berapa kali dalam sehari. Tapi hanya kakak dan cukup kakak yang menyentuh tubuhku, karena aku di tiduri oleh suamiku sendiri bukan orang lain." tambah Sisi lagi.


Gadis cantik yang sudah menjadi istri Arfi itu, menjatuhkan tubuhnya di lantai. Ia hanya menangisi takdir hidupnya yang sungguh kejam. Sisi memohon agar ia tak lagi di biarkan hidup sendiri, karena takut dan trauma, jika akan di paksa oleh banyak pria bejad di luar sana.


"Bangun!" titah Arfi.

__ADS_1


Tapi Sisi masih terduduk dan menangis, tubuhnya seolah terasa lemas.


"Berdiri, Sisi! Berdiri!" kini Arfi berteriak kencang, dan membuat Sisi spontan berdiri karena takut.


"I-iya, maaf kak!" tanpa ada salah, Sisi selalu merendahkan diri dihadapan Arfi.


"Kakak tanya. Apakah kamu masih suci? Apa kamu masih peraw^n?!" tanya Arfi terkesan menodong.


"I-iya kak, aku masih suci. Sungguh!" jujur Sisi dengan berlinang air mata.


"Aku tidak percaya."


"Buktikan saja! Jika kakak tak percaya!"


"Kamu menantangku?" geram si tampan seketika, lalu manarik tangan Sisi dan menghempaskan ke atas ranjang.


"Sa-sakit, kak." lirihnya karena Arfi mencengkram kuat-kuat ruas tangan Sisi.


"Kamu, tahu.. hanya aku yang boleh menyiksamu, hanya aku yang boleh menyentuh tubuhmu! Kamu milikku."


Suara itu terdengar lantang dengan tangan yang kian erat mencengkram tangan Sisi, membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Terserah!" Sisi menjawab.


"Kamu...!"


Tapi kali ini, Arfi justru melepaskan cengkramanya, Sisi membuang wajah, karena meski kesakitan ia tak bergeming sedikit pun.


"Kalau kakak mau membuktikan, aku masih suci atau tidak. Lakukan!"


"Haaah!"


Arfi merasa tertantang, ia melepas semua baju yang melekat di tubuh istri kecilnya. Dan Sisi tak melawan sedikit pun. Cantik, putih mulus, itu yang kini Arfi pandangi, gadis berusia 18 tahun tersebut, Arfi gendong dan membawa tubuh Sisi ke sofa. Diatas sofa itulah, si tampan membelai tubuh Sisi dan merengguh nikmatnya surga dunia. Karena ia penasaran, istrinya masih suci atau tidak, Arfi tak memberi jeda walau sebentar, ia langsung menerabas benteng pertahanan gadis tersebut.


"Awas sampai kamu tidak peraw^n lagi. Akan ku hempaskan tubuhmu dari lantai 7!" ancamnya, namun Sisi membalas dengan tersenyum.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH, MAAF AGAK ALAY DAN😭. YA ELAAH, KOK OTAK GUE GINI AMAT TOLONG😭


__ADS_2