
🕊Selamat Membaca🕊
Seperti biasa, sejak ia memutuskan untuk kembali bertugas di kepolisian, Alvian memang lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat kerja. Pergi pagi, biasanya pulang sudah malam, belum lagi, jika ada kasus yang harus segera di tuntaskan, ia bisa 24 jam bekerja, barulah pulang ke rumah.
Ck...
Jam menunjukan pukul, delapan malam, dari sebuah tempat, Alvian segera bergegas menuju mobil, namun saat dalam perjalan ia harus di hadapkan dengan kemacetan yang cukup panjang.
"Aah sial__!!" Alvian berkali-kali, memukul kemudi mobil miliknya, ia kesal luar biasa.
Drrrrttt.... Drrrttt.....
Ponsel Alvian bergetar, sebuah pesan masuk untuknya dari Airin. Tanpa pikir lagi, Alvian coba membacanya.
"*Mas, aku tadi ke rumah mama, tapi mobilku tiba-tiba saja macet, tapi di sini tak ada kendaraan yang lewat, Jadi, kalau ka**mu* sudah pulang dari kerja, tolong jemput aku ya!!"
Begitulah, pesan singkat yang Airin kirim, namun dengan segenap rasa bersalahnya, Alvian mengatakan jika ia tak bisa, sebab kini ia sendiri tengah terjebak macet, bahkan belum tahu kapan bisa terbebas dari kemacetan yang sangat parah.
"Aku sudah meminta pak Boby untuk menjemputmu!" balas Alvian melalui pesan singkat juga.
Si tampan, masih menunggu jalanan lengang dengan harap-harap cemas, ia takut jika pak Boby tak membaca pesanya untuk menjemput sang istri. Sementara di sebuah tempat Airin menunggu kedatangan orang yang di printahkan Alvian untuk menjemputnya.
"Ih, pak Boby kemana sih?" grutunya kesal, ia menatap jam di tanganya, waktu sudah menunjukan hampir jam sembilan malam.
Airin bolak-balik, masuk mobil lalu keluar lagi dari mobil, ia mulai gelisah, karena teringat akan Arfi dan Arfa di rumah, yang sudah ia tinggalkan, hampir 4 jam lamanya.
"Pasti mereka lapar,"
Si cantik menendang mobil miliknya, ia berharap, akan ada orang baik yang mau menolong.
"Nih, mobil, kenapa harus macet di sini sih, mana sepi, dan semakin malam," omelnya lagi, seraya menatap layar ponselnya berkali-kali.
Alvian mulai tak bisa di hubungi, karena handpone milik pria tampan itu, kehabisan batrai. Sedangkan si cantik mulai ketakutan, sebab pak Boby yang ia harapkan tak kunjung datang juga.
Ssssstttt_____
Jam menunjukan pukul 21.30 malam, seketika rasa takutnya Airin tadi sedikit berkurang, karena ia melihat sebuah mobil menuju ke arahnya.
"Kalau itu pak Boby syukurlah,. Tapi jika orang lain, lalu mau menolongku.... aku berjanji akan menuruti apapun yang orang itu butuhkan," ucap Airin berjanji pada dirinya sendiri karena terlalu paniknya, ia sudah bingung memikirkan kedua anak kembarnya. "Arfa, Arfi.. jangan menangis ya! Mami sebentar lagi pulang," ujarnya penuh harap.
Benar saja, melihat Airin berdiri di tepi jalan, mobil itu pun segera menghentikan lajunya. Dan turunlah, seorang pemuda, yang tak asing lagi bagi Airin.
"Rin," pria itu menatap tak mengerti, kenapa Airin berada di jalan malam-malam begini.
__ADS_1
"Dipta," suara Airin gemetar, saat melihat orang yang pernah sangat menginginkanya kini berdiri tepat di hadapan si cantik.
"Hei Rin, kenapa kau ada di sini?"
"Mobilku mogok,"
"Lalu, kemana suamimu?"
"Tugas, belum pulang, jadi tak bisa menjemput," jelasnya berbohong.
"Lantas, apa ada orang yang akan menjemputmu?"
Airin menggeleng pelan, ia langsung tertunduk lesu.
"Kalau tidak keberatan, mari aku antar!"
"Ta_tapi,"
Airin pun di landa kebingungan, ia tak tahu harus bagaimana, sebab takut jika Dipta akan meminta imbalan yang aneh-aneh padanya. Karena tadi Airin sendiri berjanji, akan memenuhi permintaan, siapapun orang yang akan menolongnya, tapi jika ia menolak, Airin takut, jika tidak akan ada orang lain lagi yang mau membantunya.
"Bagaimana, Rin?"
"Ba_baiklah,"
"Kau darimana, Rin?" basa basi Dipta karena selama dalam perjalanan Airin memilih untuk diam saja.
"Dari rumah, mama," jawabnya singkat.
"Bagaimana keadaan anakmu? Aku sudah memiliki kado yang akan ku berikan untuk si kambar,"
"Kabar anakku baik, prihal kado, aku ucapkan terima kasih."
Melihat sikap cuek dan jutek Airin, membuat Dipta tersenyum tipis, ia menggigit pelan bibirnya sendiri, karena Dipta sadar, wanita yang sudah menjadi istri dari sahabat, abangnya sendiri itu, takut kepada'nya. Maklum saja, Dipta memang pernah memperlakukan Airin tidak secara baik-baik.
Akhirnya, anak muda tersebut pun memilih diam juga, bahkan sampai keduanya tiba di rumah.
"Terima kasih," ucap Airin pelan dan segera turun dari mobil.
Ternyata, saat keduanya tiba, nyatanya Alvian juga baru tiba di rumah, yang akhirnya si tampan melihat istrinya keluar dari mobil milik Dipta.
"Wooy_______ apa yang kalian kau lakukan?!" Alvian turun dari mobil lalu mendekati keberadaan Dipta dan Airin.
"Bang," meski Alvian tampak emosi namun Dipta berusaha bersikap setenang mungkin.
__ADS_1
"Mas, kau sudah pulang?"
"Kenapa kau pulang bersamanya?" Alvian menunjuk wajah Dipta ia tak menjawab pertanyaan sang istri.
Airin pun menceritakan semuanya, kenapa ia bisa pulang bersama Dipta.
"Awas kau____ berani mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ia menunjuk wajah Dipta dengan suara tingginya.
"Mas, apaan sih, dia gak ngapa-ngapain juga. Kalau bukan karena Dipta. Siapa yang mau menolongku tadi? Pak Boby di tunggu gak datang-datang," Airin menjelaskan, ia mengajak Alvian masuk ke dalam rumah, namun mata kirinya berkedip ke arah Dipta, tanda menyuruh anak muda itu pulang saja.
Tapi Alvian yang sejak tadi emosi, berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah.
"Boby________ dimana kau?" pekiknya sekuat tenaga, yang tentu saja membuat Reyhan dan Tania terkejut luar biasa.
"Mas, pelankan suaramu! Nanti Arfa dan Arfi terkejut karena teriakanmu itu!"
"Haaah!" si tampan justru menghela nafas kasar.
"Ada apa, Al? Kenapa pulang langsung marah-marah?" kesal si papa.
"Dimana Boby? Mulai hari ini, dia ku pecat!!"
"Lho, kenapa?" si papa dan si mama saling tatap.
"Tadi, aku meminta pak Boby untuk menjemput Airin, tapi dia tidak melakukanya. Dan akhirnya istriku pulang di antarkan oleh si sialan Dipta," jelasnya terbata-bata, karena emosi yang tak terkendali.
"Lho, mobilmu kemana, Rin?"
"Macet mah,"
"Owh," Tania menautkan kedua alisnya.
"Dan kau Al, jangan sering emosi tak jelas begini! Jika kau ulangi lagi, papa tampar wajahmu berkali!" ancam Reyhan kemudian karena kesalnya melihat emosi sang anak yang meledak-ledak. "Pak Boby bukan mengabaikan tugasnya, tapi beliau tengah tertimpa musibah, anaknya jatuh dari tanggah, hingga di larikan ke rumah sakit, bahkan karena paniknya, dia melupakan ponselnya yang dia letak di atas meja," jelas si papa secara seksama.
Wajah memerah karena marah, kini berubah di penuhi rasa bersalah. Sejujurnya, karena melihat Airin di antarkan oleh Diptalah, yang membuatnya emosi tak terkendali.
.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT SEMUA, SEMOGA TETEP BETAH YA❤🤗. LOVE YOU PULL!!❤