
🌸Selamat Membaca🌸
"Ciaa...... kamu sudah jadian ya, dengan Pak Arfi?"
Pertanyaan itu menyambut kedatangan Cia saat ini. Beberapa karyawan perempuan menghintarinya, seakan ingin tahu, bagaimana Cia dan Pak Arfi bisa menjalin cinta.
"Abis lulus kuliah, minta Pak Arfi nikahin kamu cepat-cepat! Daripada nanti dia goyah dan nggak cinta kamu lagi." saran salah satunya, bahkan ia bertingkah paling semangat.
Cia menggeleng pelan lalu tersenyum simpul, rasanya malas sekali menjawab pertanyaan mereka. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Sisi. Memilih pergi dan menjauh dari mereka, Cia rasa itu pilihan terbaik untuk saat ini.
"Yaaah, yah... Cia'nya malah pergi, nggak seru banget sih!" grutu mereka kesal.
.
.
Di tengah rasa penasaran mereka semua, ada hati yang tengah hancur dan patah. Dialah Angga, yang menyukai Cia sejak satu tahun terakhir. Pada saat itu, Cia hanya sesekali datang ke kantor tapi Angga sudah menyukainya.
"Ya Tuhan, haruskan perasaanku kandas sebelum aku menyatakanya," lirih Angga dalam hati.
Lagi pula, untuk saat ini, Angga cukup sadar. Statusnya apa di kantor? Arfi bukan tandinganya dan ia sangat sadar hal ini.
"Hey, kok bengong, sih?"
Sosok cantik yang kini duduk di samping Angga, membawa makanan dan minuman di tanganya. Wanita itu tersenyum ke arah Angga dan memberikan apa yang ia bawa untuk anak muda itu.
"Terima kasih, Kak,"
Dengan cepat, Angga meraih makanan yang sejak tadi berada di tangan Sisi. Anak muda itu merasa canggung karena Sisi masih terbilang karyawan baru di sini.
'Kok Kakak nggak makan di luar? Ini kan jam istirahat,"
"Nggak deh, lagi males mau kemana-mana," jawab Sisi singkat seraya memakan makanan yang ia beli tadi.
Angga secepat itu beradaptasi, bahkan ia seolah sudah lama mengenal Sisi. Siang ini saja misalnya, ia dan Sisi saling melempar canda satu sama lain. Tanpa keduanya sadarai, ada yang meperhatikan mereka dari salah satu sudut ruangan. Siapa lagi, jika bukan Arfi.
"Dasar, satpam tengil. Ngapain sih, sok akrab dengan Sisi?' omelnya kesal, Arfi sadar jika ia kini tengah cemburu melihat Angga bercanda dengan mantan istrinya.
Tapi ia tak bisa melakukan apapun, kecuali menahan kekesalanya sendiri. Arfi tak niat makan siang sama sekali, perut yang tadinya lapar mendadak kenyang seketika.
Ceklek!
__ADS_1
Kala Arfi sudah kembali ke dalam ruangan dan mendudukan tubuh di kursi. Ia mendapati pintu ruangan pun terbuka, ada Cia yang kini berdiri tepat di hadapanya.
"Aku beli Ayam Panggang untuk, Bapak, anggap saja, ini bentuk terima kasihku, karena tadi pagi, Pak Arfi berusaha membebaskanku dari belenggu Mama dan Papa."
"Wah, makasih nih, siniin Ayamnya!"
Mendadak perutnya kembali lapar setelah mendengar jika Cia membawakan Ayam Panggang untuknya.
"Hati-hati, Pak makanya!"
"Baiklah, tapi.... kamu kok nggak makan sih?"
"Nggak laper, Pak!"
"Mau saya suap tidak?" Arfi menggoda
"Ihh lebay!"
Tapi bukan Arfi jika tidak melukan apa yang ia ucap. Saat ini ia benar-benar mengarahkan sesuap nasih ke mulut Cia. Dan gadis itu tertegun di buatnya.
"Makan yang banyak, biar badanya nggak kurus-kurus amat!'
Apakah kini Arfi sudah mencintai Cia? Jawabnya belum sama sekali, tapi tak bisa Arfi pungkiri, jika posisi gadis itu kini sedikit mengisi ke kosongan hatinya. Sepuluh persen saja sebab sembilan puluh persen lagi, hati Arfi masih seutuhnya milik Sisi.
"Pak, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya apa?"
"Prihal perkataan anda yang akan menikahiku,"
Sejenak Arfi terdiam, ia memikirkan dulu apa yang akan ia sampaikan. Arfi tak mau jawabanya akan melukai hati Cia, karena kenyataanya hidup gadis itu tak seceria yang banyak orang duga.
"Kita akan bicarakan ini, setelah sama-sama instropeksi diri. Apakah kamu benar-benar mencintai saya atau hanya sekedar suka?" ucap Arfi yang langsung di sambut senyum getir dari wajah Cia.
"Begitu juga anda, yang mungkin memang belum mencintai saya sedikit pun."
Benar saja, Arfi memang sangat sulit mengendalikan hatinya sendiri. Ia ingin sekali mencintai Cia dengan setulus hati, tapi kenyataanya tak semudah itu. Lagi-lagi perasaannya hanya menetap untuk Sisi, tidak ada siapapun yang bisa menggantikan posisi itu di hatinya, termasuk Cia.
"Tolong ambilkan saya minum!"
"Baik Pak,"
__ADS_1
Dengan semangat Cia mengambil segelas air dingin untuk Arfi. Ia bahkan tak mau berpaling sedikit pun, memandangi betapa sempurna mahluk Tuhan yang ada di hadapanya kini. Usianya sudah dua puluh sembilan tahun, tapi muka tak menjelaskan, jika Arfi sebentar lagi akan memasuki kepala tiga.
"Aku keluar dulu, Pak, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan," pamit Cia setelah hampir tiga puluh menit ia berada di dalam ruang kerja Arfi.
"Silahkan, tapi ingat, jangan lupa makan, ya!"
Titah Arfi kepada Cia, ia bahkan geli sendiri atas ucapanya baru saja. Sementara Cia langsung keluar seketika, saat mendengar gombalan Arfi untuknya. Jujur saja, Cia langsung gemetar, kala Arfi mencandainya tadi.
Hm!
Melihat senyum sumringah dari wajah sang Adik setelah keluar dari ruang kerja Arfi. Membuat pikiran Sisi melayang-layang entah kemana. Ia pikir, Arfi baru saja mencium gadis itu lagi, sampai Cia terlihat bak orang orang gila siang ini.
"Hayooo, abis ngapain, kok senyum-senyum gitu sih?" tanya Sisi tiba-tiba sontak membuat Cia terkejut luar biasa.
"Ihh, Kak Sisi ngegetin aku deh," Cia mengerucutkan bibir karena kesal. "Menurut Kakak, aku kenapa, kok bisa sampai sebahagia ini?" gadis itu malah balik bertanya.
"Nggak tahu," sahut Sisi singkat. Tak mau memperbanyak tanya, Sisi langsung segera pergi dari hadapan gadis ini. Tapi Cia malah mengikitu langkahnya. "Kerja, ngapain ikutin Kakak?"
"Aku mau curhat."
"Nanti aja kalau udah pulang!"
"Nggak mau, aku maunya sekarang aja," Cia keras kepala.
"Terserah kamu!" jawab Sisi sangat ketus, karena sebenarnya ia tak mau mendengar cerita apapun tentang Arfi, karena saat Cia selalu memuji ketampanan sang mantan suami, Sisi pasti merasa cemburu.
"Pak Arfi bilang, dia mau nikahin aku, Kak," jelas Cia sedikit berteriak, suaranya pun di dengar karyawan lain.
Saat semua orang merasa sangat bahagia dan senyum sumringah terpancar dari wajah mereka. Tapi tidak dengan Sisi, ia diam seribu bahasa dan senyum pun Sisi tak kuasa, andai bisa.... saat ini, ia ingin menangis karena merasa patah hati. Dan sungguh, jika benar Cia akan menikah dengan Pak Arfi, ini akan menjadi sejarah yang luar biasa. Pasalnya selama ini, gadis bernama Cia itu tak pernah jatuh cinta kepada siapapun.
Sekalinya jatuh cinta, eh sama duda. Dan sekalinya sangat-sangat cinta, tapi ia tidak tahu jika pria yang Cia suka, adalah mantan suami dari Kakak angkatnya Sisi.
.
.
.
.
B E R S A M B U N G
__ADS_1