
šSelamat Membacaš
Meski cuaca saat ini, tengah cerah dan matahari pagi bersinar indah tengah menyambut datangnya hari, namun tidak dengan suasana hati Alvian, rasa cemburunya terhadap Dipta, telah menutup cara pikirnya.
"Awas kau," geramnya seraya memukul setir mobil berkali-kali. Alvian melajukan kendaraanya menuju rumah Dipta.
Di sisi lain, Airin pun berpikir cepat, ia segera menghubungi no ponsel milik pria, yang dulu pernah sangat menyukainya.
"Hallo, Rin," suara Dipta bersemangat saat mengetahui bahwa Airinlah yang menghubunginya.
Airin menarik nafas panjang, lalu membuang pelan, sebelum ini, menucapkan sesuatu kepada teman satu kampusnya dulu.
"Kuberitahu padamu. Jangan pernah sekalipun kau menghubungiku! Karena pesan singkat yang kau kirim kepadaku, kini Alvian marah besar, dan pasti dia akan menemuimu," jelas Airin kesal dan tanpa basa basi ia langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak.
Sejenak Dipta terdiam seteleh mendengar apa yang Airin sampaikan melalui sambungan telpon. Dan benar saja, kini Alvian sudah berada di depan rumahnya.
"Pak Al," sapa Ridho penasaran sebab melihat Alvian datang ke rumahnya dengan raut wajah tak ramah. "Ada perlu apa pak? Pagi-pagi sekali sudah berkunjung ke rumah?" tanyanya lagi.
"Pagi dari mana? Ini sudah jam delapan," jelasnya kemudian lalu masuk ke dalam rumah tanpa di persilahkan. "Dimana Dipta?" tambahnya lagi
"Aku di sini....,"
Dipta hadir lalu mendekati keberadaan Alvian, anak muda itu meranik tangan si tampan dan mengajaknya keluar.
"Kalau mau marah, jangan di rumah! Ada mama dan papaku, mereka pasti terkejut karena abang datang tanpa di undang," ujar Dipta setelah keduanya sudah berada di teras rumah.
"Ciiih sial! Apa menurutmu, aku datang ke rumahmu harus di undang dulu,"
"Harus,"
"Tapi, sikap kurang ajar'mu, sudah cukup mengundangku untuk datang ke rumahmu,"
"Siapa yang kurang ajar, bang?"
"Kamu....!" Alvian menujuk wajah Dipta, ia kesal luar biasa karena Dipta bersikap seolah tidak tahu apa-apa. "Apa maksudmu, mengirim pesan singkat seperti itu kepada istriku?"
"Bercanda bang," jawab Dipta santai.
Plaaaak!
"Bercanda katamu," Alvian sudah tak bisa menahan rasa kesalnya, ia mendaratkan tamparan tepat di wajah putih Dipta.
"Ya memang bercanda bang, aku tidak punya niat untuk merebut istrimu," balasnya seraya mengelus-elus pipinya yang lumayan sakit karena tamparan yang Alvian daratkan.
"Kau yakin, tidak memiliki niat untuk merebut Airin?"
"Iya yakin," jawab Dipta datar. "Kalau gak khilaf sih," tambahnya lalu masuk kedalam rumah, dan segera menutup dan mengunci pintu rumahnya.
"Dipta________________!!"
Pekik Alvian sekuat tenaga, ia menendang pintu rumah, berkali-kali, setelah itu ia memilih untuk pergi.
"Awas kau, bertemu denganku. Akan ku patahkan kedua kakimu," grutu si tampan lalu masuk ke dalam mobil.
Sementara Dipta di dalam rumahnya, di marah habis-habisan oleh sang papa. Ridho takut, jika sikap Dipta akan berpengaruh di tempat ia bekerja, sebab seperti yang semua tau, jika Ridho kini tengah di percaya oleh Alvian untuk mengurus perusahaan miliknya.
"Kalau papa di pecat, terus jatuh .miskin. Bagaimana?"
__ADS_1
"Cari kerjaan lain, lha pah,"
"Kerjaan apa?"
"Jualan di pasar, atau bakso keliling. Kan gampang, asal ada kemauan, semua urusan mudah terselesaikan," jelasnya seolah menggurui si papa.
'"Anak setan_____!" Ridho berteriak kesal.
"Kalau aku anak setan. Berarti, papa dong setan'nya," Dipta justru menhadapi emosi si papa dengan bercanda.
"Sialan!" umpat pria paruh baya itu lagi, namun nyatanya Dipta sudah menjauhi keberadaanya.
Ridho baru kali ini, melihat Dipta bersikap layaknya anak TK, usil dan menyebalkan, sebab sejauh ia mengenal anaknya, Dipta anak yang pendiam jika berada di rumah.
Sssssttt...
Saat Alvian, akan melajukan mobil untuk menjauh dari rumah Dipta, ia di kagetkan karena bĆØrtemu dengan Amira, adik dari Airin.
"Al, kok di sini?"
"Kamu sendiri, ngapain di sini?"
"Dih kakak ipar, di tanya kok balik nanya sih," canda Amira seketika. "Aku mau ke rumah Dipta, dia itu temenku," jelasnya lagi.
"Ohhhh, jadi Ridho itu temenmu. Jagain sana! Biar gak jadi perusak rumah tangga orang!"
"Eeeh kakak ipar apaan sih,"
"Heeii Dipta itu suka kakakmu. Jaga itu si sialan, bila perlu pacarin sana! Biar gak goda-goda Airin!"
Alvian berucap kesal; ia langsung pergi dari hadapan Amira tanpa permisi, sedangkan Amira menggeleng pelan, ia seketika menarik sudut bibir, sebab sikap Alvian sedikit alay menurutnya.
Sedangkan Alvian memacu kendaraanya secepat kilat, ia berencana untuk masuk ke kantor terlebuh dahulu.
"Huuuuuf, ada ya, sikap kakak dan adik beda banget gitu. Toni dan Dipta bagaikan langit dan bumi, awalnya, aku berpikir jika melihat Dipta rasa rinduku kepada Toni akan terobati, tapi nyatanya, tidak sama sekali. Bertemu dengan Dipta hanya membuatku darah tinggi!!' omelnya di penuhi rasa benci, Alvian kini sudah berada di kantor polisi tempat ia bertugas.
"Woy, kok melamun pak," ujar Rama saat mendapati Alvian masuk kedalam ruangan tak menyapa siapa pun yang ada di hadapanya.
"Eh, Ram... aku abis ada masalah sedikit nih,"
"Masalah apa pak?"
"Ini, ada orang laporan, kalau di sekitar kompleks perumahanku, banyak warga yang kehilangan sendal. Dan aku berpikir, kira-kira, siapa ya yang mencurinya?" jelas Alvian sangat mengada-ada, karena ia tak mungkin menceritkan jika baru saja melabrak Dipta.
"Anjing kali pak! Karena setauku ada beberapa anjing yang hobby mengoleksi sendal warga,"
Ditpa menanggapi cerita bohong Alvian dengan sangat serius, ia bahkan mengusulkan diri untuk menyelidiki hal ini.
"Ah sudahlah, Ram! Nanti aku bisa selidiki sendiri," larangnya lalu melangkah pergi.
Rama pun menggaruk-garuk kepalanya, karena merasa aneh dari sikap Alvian baru saja.
"Ah bodo amat," ujar Dipta lalu segera pergi juga.
Selama berada di kantor, pikiran Alvian bercabang-cabang, ia memikirkan kedua anaknya dan juga memikirkan kelakuan Dipta, hal yang paling mengusiknya adalah, ia takut jika Dipta akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan Airin.
"Bengong pak,"
__ADS_1
"Heh, Rin.. kok ada di sini?"
Meski terkejut, Alvian sedikit lega saat melihat sang istri berdiri tepat di hadapanya. Airin sendiri berada di kantor polisi karena ada hal yang akan ia laporkan.
"Kau serius, Rin?"
"Serius, mas,"
"Kok bisa sih?"
"Mana aku tahu mas,"
Alvian membuang nafas panjang prihal laporan sang istri yang mengatakan, bahwa mobil milik Airin raib, dan hilang dari temparnya semalam. Awalnya Airin merasa mobilnya telah aman, karena dari tempat mobilnya mogok, ia meminta beberapa orang untuk membawa mobil tersebut ke bengkel.
"Lantas. Siapa yang kau minta, menderek mobilmu untuk di bawa ke bengkel?"
"Orang-orang bengkel kepercayaanmu," jawab si cantik kepada sang suami.
Secepat kilat Alvian beranjak dari tempat duduknya, lalu mengajak Airin pergi untuk menemui orang-orang bengkel yang selama ini sangat Alvian percayai.
"Mas, pelan-pelan dong,"
"Ihh, nanti keburu orangnya kabur,"
Kini keduanya sudah berada di tempat parkir mobil milik Alvian.
"Pak, mau kemana?" Rama berdecak heran karena melihat Alvian pergi dengan tergesa-gesa.
"Mobil istriku hilang," jawabnya lalu masuk kedalam mobil.
"Ya ampun si bapak, masalahnya banyak banget sih. Belum perkara sendal warga yang banyak hilang, eh.... sekarag malah mobil bininya yang hilang," ujar Rama spontan yang langsung membuat Alvian menautkan kedua alisnya.
Tak mau berlama-lama, ia tak memperdulikan ucapan rama, Alvian langsung memacu mobil untuk menjauhi kantor polisi.
"Mas, sendal siapa yang?" Airin ternyata mendengar ucapan Rama meski sedikit tak jelas.
"Owh, itu sendalnya pak Kapolsek. Bisa-bisanya hilang saat pak Egi berada di warung untuk membeli sesuatu,"
"Serus?"
"Iya,"
"Ihh hebat ya malingnya, berani lho dia, maling sendalnya pak Egi, tu maling tau apa gak ya? Kalau sendal yang dia curi, itu milik seorang kepala kepolisian," tukas si cantik seraya memanyunkan wajahnya.
Mendengar itu, Alvian langsung menggigit kecil bibirnya sendiri; karena merasa ia banyak salah hari ini.
"Ya Tuhan, ampuni aku, karena aku sudah berbuat banyak dosa hari ini. Melabrak Dipta, berbohong kepada Rama, dan kini berbohong pada istriku sendiri," sesalnya mengutuki sikapnya sepanjang hari ini.
Sementara Airin, masih sibuk memikirkan. Siapa pemaling hebat, yang berani mencuri sendal petinggi polisi.
"Keren lho dia," tambah Airin lagi, yang tentu saja membuat Alvian menepuk jidatnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIKā¤š¤