Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 8 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Dalam hidupnya, Cia belum pernah bertemu dengan manusia sesempurna Pak Arfi, pria itu tak memiliki ke kurangan dari segi mana pun. Bahkan menatapnya tanpa berkedip saja, tidak akan membuat Cia bosan. Bukan hanya sekedar tampan, Arfi juga pria mapan. Wanita mana yang tidak akan tergila-gila. Begitu hal nya dengan Cia sendiri. Sejak awal bertemu Arfi ia sudah menyimpan rasa suka, dadanya berdebar tak seirama kala Arfi menatapnya.


"Kamu sukanya Bintang, apa?" Arfi membuka pembicaraan, setelah hampir lima belas menit lamanya suasana terasa sangat hening. Pertanyaanya sukses membuat Cia salah tingkah.


"Aku suka Bintang Kejora."


"Oh...," hanya itu yang keluar dari bibir Arfi.


"Bapak sendiri, suka bintang apa?"


"Saya tidak suka bintang, tapi sukanya planet." jujur Arfi tanpa basa basi. "Terutama planet bumi, karena di atas tanah dan langit yang sama, Tuhan sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk saya." tambahnya lagi.


Cia kepedean, ia mengira Arfi menggombalinya. Padahal dalam pikiran pria itu, hanya ada Sisi, Sisi dan Sisi. Toh Arfi yakin, selama masih di dunia yang sama, banyak hal yang mungkin akan terjadi, terutama prihal masa depan ia dan Sisi.


"Kalau sama aku, Bapak suka, nggak?"


"Haaah?"


Spontan Arfi langsung memutar badan, seketika ia menatap Cia dengan sangat tajam. Karena sikap Arfi tersebut, Cia merasa ada hal aneh yang menyergap perasaanya.


"Kok, haaah sih, Pak?"


Belum sempat Arfi menjawab, keduanya sudah di kejutkan akan ke hadiran Angga dan Adik-adiknya. Ketiga anak itu tanpa ragu langsung ikut bergabung dan duduk bersama Arfi dan Cia.


"Ganggu orang lagi pacaran, aja!" ceplos Cia dengan raut wajah kesal luar biasa.


"Hih, sejak kapan, kamu dan Pak Arfi jadian."


"Harusnya bentar lagi jadian goblok. Gegara kalian bertiga, gagal deh jadinya."


Arfi mangut-mangut dan tertawa kecil. Ia mengangap ucapan dan perkataan Cia hanyalah sebuah candaan. Tapi tidak dengan gadis itu sendiri, karena jujur saja, Cia sangat menyukai Arfi.


Ck


Banyak hal yang Arfi sukai di atas muka bumi ini. Tapi secepat kilat jatuh cinta adalah hal yang mustahil. Jika di pikir-pikir, ia memang sangat setia pada apapun yang sudah menjadi pilihanya.


"Oh iya, Angga, siapa nama Adìk-adikmu? Dari tadi belum kenalan kan?" Arfi mengabaikan Cia yang mukanya tiba-tiba mendadak kusut.

__ADS_1


"Ohh, ini namanya Aldi dan yang ini namanya Ata. Aldi kelas satu SMA dan Ata baru saja akan masuk kuliah. Mereka tampan-tampan kan? Persis Abangnya."celetuk Angga naris, tapi memang begitu kenyataanya, tiga bersaudara tersebut memang tampak lumayan kece.


"Iya, iya.... tampan, kan cowok. Kalau cewek ya cantik,"


"Buhahahaha....!!"


Entah lucu atau tidak, Cia mendadak tertawa mendengar ucapan bosnya. Karena hal itu, Arfi, Angga dan kedua Adiknya, kompak memandangi Cia sedikit curiga.


"Kamu cewek sendiri di sini. Jangan berbuat ulah!" Angga kembali menceluk, kali ini terkesan mengancam.


"Wih, emangnya kalian mau apa? Ngeroyok aku gituh... dih kagak laki sekali, jika berani, ayok lawan satu persatu. Di jamin nggak ada yang kuat ngadepin aku!" Cia berlagak jumawa.


Sontak saja, otak ke empat pria di hadapan Cia, mulai traveling kemana-mana. Maksud Cia apa? Dia bisa dengan mudah tidur dengan empat cowok gitu, atau gimana? Ahh.. Arfi, Angga, Aldi dan Ata kompak menepuk jidat masing-masing


"Hayooo, kalian mikir apa? Pasti otak'nya ngeres, iya kan?"


"Hemmmm, sudahlah, jangan bercanda terus! Hari sudah larut malam, ayo tidur!" pria tampan itu sengaja mengalihkan topik, karena benar tadi otaknya traveling kemana-mana.


"Ya udah, kalian tidur aja dulu! Aku mau nunggu Kakak ku datang," ujar Cia seketika.


Angga memutar bola mata "Aku curiga, jangan-jangan Kakak mu ke sasar, masa sampai jam segini belum datang juga!"


"Kak Sisi dimana? Kok belum sampai?" todongnya Cia sedetik kemudian setelah panggilan teleponya di terima.


"Kakak ke jebak macet nih. Parah banget deh, masa udah tengah malam, kendaraan makin banyak aja. Kamu tidur saja dulu!" jawab Sisi melalui sambungan telepon, ia meminta Cia agar tidak menunggunya.


"Nggak deh, aku belum ngantuk juga. Mending aku nunggu Kak Sisi dulu,"


"Ya terserah kamu, Cia, tapi jangan di paksa kalau kamu udah mau bobok. Oke?"


"Oke Kakak ku."


Setelah mematikan sambungan telepon, Sisi menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia tak lagi mendapati keberadaan Angga dan juga Arfi. Para pria-pria itu sudah masuk ke dalam tenda kemah, tanpa memperdulikan Cia yang sedang menunggu kehadiran Sisi seorang diri.


Hm.


Malam semakin larut, Arfi susah payah memejamkan mata. Karena ia merasa sedikit tidak nyaman tidur di tenda. Ia melirik ke arah Angga dan Adik-adiknya, mereka semua sudah tertidur lelap tanpa ingat dunia sedikit pun. Malam gelap membawa ketiga Adik Kakak itu kian lesap.


Sstt..

__ADS_1


Arfi duduk lalu merebahkan tubuh lagi, hal itu sudah ia lakukan berkali-kali. Tapi sayang matanya tetap tidak mau terpejam.


"Haaah," kesalnya.


Arfi meraih bantal lalu menutup wajah. Ia coba mengingat-ingat kenangan bahagia dengan Sisi saja. Siapa tahu dengan bagitu Arfi bisa terlelap. Sungguh terlalu sulit di lupakan betapa bahagia Arfi memiliki Sisi dulu, tapi Arfi sadar kini semua cerita indah itu hanya akan menjadi masa lalu.


.


.


.


Tiga puluh menit setelah Cia menunggu, akhirnya Sisi tiba juga. Wanita itu tersenyum menatap wajah sang Adik yang tampak menahan kantuk.


"Maaf ya, kamu pasti sudah menunggu lama!"


"Nggak apa-apa, apapun demi Kakak pasti akan aku tunggu."


"Duh, Kakak jadi terharu." Sisi terkesan mengejek. Tapi sumpah demi apa, hadirnya Cia dalam hidup memang membuat Sisi bahagia.


"Ayo Kak istirahat! Pasti Kakak juga lelah,"


Sisi mengangguk. "Bos dan temen-temenmu sudah tidur ya?"


"Sudah Kak."


Wanita cantik tersebut memasamkan wajah. Kenapa mereka semua meninggalkan Cia sendiri menunggunya tadi. Tapi kini ia sudah bersama sang Adik, meski hanya Adik angkat Sisi sangat nyaman hidup bersama anak ini.


"Selamat tidur Kak... dimana pun kamu berada," lirih Sisi sesaat sebelum ia memejamkan mata dan malam ini ia tidur di tenda kemah bersama Cia. Dalam lelap pikiran Sisi masih terisi full akan bayang-bayang Arfi.


Tanpa keduanya sadari, malam ini Sisi dan Arfi berada di tempat yang sama. Hanya beberapa meter saja mereka tidur terpisah. Akankah keduanya segera berjumpa? Malam ini, Arfi dan Sisi sama-sama terlelap dengan membawa bayang-bayang masa ketika mereka bahagia dulu.


.


.


.


L A N J U T

__ADS_1


__ADS_2