Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Menyinggung dan Amarah


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Arfi menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, polisi muda itu mengepal jari jemarinya seraya menatap langit-langit kamar. Mengingat tangis Sisi tadi membuat Arfi semakin ingin sekali, mencari tahu, siapa orang di balik hancurnya keluarga gadis itu.


"Fi, boleh papi masuk?"


"Sikahkan, pi!"


Arfi mendudukan tubuhnya dan sang papi pun langsung mendekat. Alvian menatap dalam-dalam wajah Arfi yang nampak berbeda.


"Kamu dari mana?"


"Rumah, Arfa, pi,"


"Ohh, ada acara apa, kamu kesana?"


"Emmm, Arfa ingin berkenalan dengan kekasihku," jawabnya gugup.


"Haaah? Kamu sudah punya kekasih?"


Arfi mengangguk, ia tak mau memberi tahu, jika kekasihnya itu hanya pacar pura-pura, ia berharap.. baik si papi atau pun adiknya akan percaya, jika ia sudah move on dari Nayla.


"Siapa, nama gadis yang mampu membuat anak papi jatuh cinta?"


"Si_Sisi, pi,"


"Sisi?"


"Iya,"


"Nama yang imut," puji si papi seketika.


"Seimut orangnya," ungkap Arfi pula.


"Owhhh, pantas, kamu jatuh cinta," Alvian menepuk pelan pundak anaknya.


Sementara Arfi, tersenyum datar, entah apa yang tengah ia pikirkan kini. Bahkan.. selepas sang papi keluar dari kamarnya, ia enggan menejamkan mata, Arfi menghubungi rekan-rekanya, untuk membatu memecahkan kasus ini.


"Besok, datangi rumah milik Sisi yang dulu dia tinggali, cari tau Bank mana yang menyita rumah itu!!" titah Arfi melalui sambungan telepon.


Arfi, tak sendiri untuk menyelidiki kasus yang telah menyebabkan orang tua Sisi meninggal. Ia yakin, jika kasus ini orang terdekat dari gadis itulah yang melakukanya.


"Sisi masih SMP, saat kedua orang tuanya meninggal, dia pasti bingung. Kemana harus mencari tahu, siapa orang yang telah merampas semua harta keluarganya?" lirih Arfi dalam hati, ia langsung meraih bantal guling miliknya, lalu menutup wajah menggunakan bantal tersebut. Sayup-sayup Arfi pun memejamkan matanya


***


Pagi menyapa, sinar sang fajar mulai tampak dari ufuk timur, Arfi sudah dari 1 jam yang lalu membuka matanya, bahkan kini ia sudah rapih dengan baju dinas kebanggaan miliknya.


"Heeh," ia menautkan kedua alisnya, kala melihat status WhatsApp milik Arfa.


Bagaimana, ia tak mengerutkan wajah, sebab Arfa mengupload, fotonya bersama Sisi tadi malam, dengan caption yang cukup menggelitik hati. (Calon ****kakak**** ipar). Begitulah tulis Arfa di status miliknya. Dan.... bukan itu saja, Arfi menggaruk-garuk kepala yang tak gatal ia rasa, sebab melihat si papi dan juga sang mami, menatapnya dengan senyum penuh arti.


"Ada apa sih, pi... mi?"

__ADS_1


"Ini pacarmu?" Airin menunjukan foto Sisi yang ia minta dari Arfa.


"I_iya, mi," Arfa gemetar.


"Wow, cantik, ya? Tapi, seperti masih kecil," ujar si mami tiba-tiba.


"Iya, Sisi masih SMA... umurnya masih 17 tahun," jelasnya pula.


"Hhaaaaaah... SMA??!" Alvian dan Airin terkejut atas apa yang baru saja Arfi katakan. "Kok masih, SMA sih, nikahnya kapan kalau begitu?"


"Hehe..," tawa Arfi datar. "Nanti saja aku jawab ya, aku mau berangkat kerja dulu! Sudah terlambat," ujar Arfi yang berusaha menghindari pertanyaan kedua orang tuanya.


"Hey, ini baru jam 6 pagi!!" pekik si papi.


"Ada pekerjaan dadakan. Bye mi, dadah papi!!" jawabnya lalu menjauh dari kedua orang tuanya. Secepat kilat ia masuk ke dalam mobil lalu memacu kendaraanya menuju ke suatu tempat.


***


Chiiit! Arfi menghentikan laju mobilnya, lalu turun tepat di depan rumah Sisi.


"Haai, selamat pagi," sapanya, pada gadis mungil yang sudah lengkap mengguakan baju sekolah.


"Pa_pagi." Sisi terkejut bercampur gugup. "Pak, kenapa anda ada di sini?"


"Paaak? Aku sudah setua itu'kah?"


"Ohh iya... kakak. Kok, kak Arfi ada di sini?"


"Menjemputmu,"


"Tidak. Ayo masuk!"


Arfi menarik kasar tangan Sisi, lalu meminta gadis itu masuk ke dalam mobil.


"Aww, sakit. Sabar dong!" cetus si cantik kesal.


"Oke.. oke.. maaf! Silahkan masuk nona Sisi!"


"Haduuh, lebay,"


Sisi segera masuk ke dalam mobil, setelah itu ia menatap dalam-dalam, polisi tampan yang tadi malam, meminta ia untuk menjadi pacar pura-pura. Sisi pun heran, kenapa pagi ini, Arfi datang menjemputnya?


"Apa, hari ini, aku harus jadi pacar pura-pura anda lagi?"


"Kakak!"


"I_iya. Kakak," Sisi menepuk pelan keningnya.


"Tidak,"


"Lantas, ada maksud apa, kakak menjemputku?"


"Jangan banyak tanya!" bentak Arfi seketika.


"Ba_baik," ucapnya, namun dalam hati Sisi kesal luar biasa. "Dasar polisi sinting," batinya seraya memandangi Arfi dari atas sampai ke bawah. Nyatanya pria yang kini mengemudikan mobil tersebut memang tampak tampan dan gagah terlebih lagi Arfi menggunakan baju tugasnya, membuat pria itu semakin terlihat mempesona.

__ADS_1


"Ini, sekolahmu?"


"Iya," jawab Sisi lalu turun dari mobil dan Arfi pun ikut turun juga.


Si tampan, mengantarkan gadis mungil tersebut, tepat di halaman sekolah yang akhirnya banyak mata terpana ke arah keduanya. Terlebih lagi saat melihat Sisi turun dari mobil mewah milik Arfi yang paling mengejutkan pria yang bersama Sisi adalah seorang polisi.


"Waaah? Sekarang, mainanya om-om polisi ya?" cetus seorang siswa dan ucapan itu terdengar jelas di telinga Arfi.


Ck.. Sssttt...


"Apa maksud mereka?" Arfi penasaran.


"Sudahlah, jangan di dengarkan! Lebih baik kakak cepat pergi!"


"Kamu mengusirku?"


"Bukan mengusir, kak. Tapi mereka semua akan terus menggunjingku, jika kak Arfi masih di sini,"


Seketika Arfi memasamkan wajahnya, ia menela'ah susah payah ucapan Sisi.


"Pasti, ada yang tidak beres," gumamnya dalam hati, namun Arfi melangkahkan kaki lalu pergi.


Sedangkan Sisi tersenyum, karena polisi muda itu mau mendengarkan seruanya. Si cantik pun melangkah masuk ke ruang kelas.


"Si.. siapa tadi? Mau dong, yang setampan itu satu, buat kencan satu malam," ucap salah satu siswa sebut saja, namanya Lili.


Sisi diam saja, ia tak menjawab pertanyaan Lili, karena ia tahu, Lili hanya ingin membuatnya kesal.


"Sudah berapa kali, Si? Tidur bersama polisi tampan itu?" tanya Lili lagi.


"Jaga ucapanmu, ya!"


"Jangan berkilah, Si! Semua anak-anak di sekolah ini tau, kalau kamu wanita penghibur. Menjual diri demi mendapatkan uang!!" Lili mempertegas.


"Jangan sok tau!"


"Bukan sok, tapi kenyataan. Kalau seorang Prisilia Lisika, adalah wanita penggoda!!"


Sssssstttt_____


Sisi menarik rambut Lili, lalu mendorongnya ke lantai. Ia tak mampu lagi menahan rasa kesalnya, sebab Lili'lah yang memfitnah namanya hingga ia di benci hampir satu sekolah.


"Aku sudah tidak tahan lagi... karena kamu sudah memburukanku berkali-kali, sampai anak-anak di sekolah ini, memandangku serendah itu." Ucapnya dengan berlinag air mata. "Aku diam saja dan membiarkan siapapun mengejekku, tapi tidak dengan kali ini,"


Sisi menjambak rambut Lili berkali-kali, hingga Lili berteriak histeris. Setelah itu ia pergi dan memilih untuk menyendiri, sebab hampir 6 bulan ini, banyak teman-teman satu sekolah menyudutkanya dan memandang Sisi rendah, bahkan gilanya... ada beberapa cowok-cowok di sekolah, yang meminta Sisi untuk menemaninya tidur dan menganggap Sisi benar-benar wanita penghibur.


"Sabar, Si! 3 bulan lagi kamu lulus," gadis mungil itu menguatkan dirinya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


❤TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK❤


__ADS_2