Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Mengakui


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Arfa memacu mobil secepat kilat, ia menarik sudut bibir dan menggigit tipis bibirnya sendiri, pria itu memukul stir kendaraanya berkali-kali seraya menyeka air mata yang tak terasa jatuh membasahi pipi.


"Huuuuf,"


Ia memutar balik kemudi mobilnya, sebab mengingat tangis Nayla tadi, membuat dadanya terasa sesak, ia berusaha tega, tapi nyatanya ia tetap tak bisa. Cinta dan dendam di hati sama besarnya.


Tap... tap.. tap...


Arfa berjalan pelan menuju ke kamar hotel, dan ternyata Nayla masih ada di saja.


Ck.


Langkah Arfa terhenti sebab, ia mendengar Nayla tengah menangis histeris.


"Bang sat____! Aaaaaa_____!"


Teriak Nayla sekuat tenaga, ia mengutuki apa yang terjadi baru saja, tapi sugguh ia tak membenci apa yang sudah di lakukan oleh Arfa kepadanya, karena saat ini Nayla membenci sang papa. Tak di sangka dari sikap berwibawa yang si papa punya, nyatanya menyimpan berjuta kelicikan.


Hizk!


Tangisnya tak kunjung reda, nafas Nayla terasa terengah-engah, suaranya seolah tak lagi ada, hanya air mata yang terus membasahi wajah.


"Nay...,"


Perlahan Arfa mendekati Nayla, dan duduk tepat di samping si cantik. Ia tersentak karena nyatanya Nayla belum juga memakai bajunya. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas, tubuh putih wanita itu di penuhi warna merah, bercak darah yang ada sprai, memperlihatkan jika Arfa sudah merenggut paksa, kehormatan wanita itu.


"Ayo pulang! Aku akan bertanggung jawab,"


Mata si cantik berkaca-kaca, namun pipinya seketika memerah, entah mengapa ucapan Arfa cukup membuatnya lega.


"Mendekatlah! Aku akan membantumu memakai baju;"


Nayla mengangguk cepat, ia langsung mendekat, namun tiba-tiba air matanya kembali tumpah, bagaimana pun, kini nyatanya ia memang sudah hancur.


"Aku yang menghancurkanmu, maka aku juga bertugas untuk menata kembali,"


Ck


Peluk. Si cantik mendekap erat tubuh gagah Arfa, dekapan hangat, sejenak membuatnya nyaman. Terlepas dari salah atau benar, toh pria yang ia dekap kinilah, yang telah menjajah kesucianya.


"Jangan tinggalkan aku!"


"Tidak, karena aku melakukan ini, agar kau seutuhnya menjadi miliku,"


"Janji! Kau akan bertanggung jawab!"


"Iya, pasti."


***


Jam menunjukan pukul 9 malam, keduanya sudah tiba di depan rumah Nayla, bahkan sejak tadi ponsel Arfa berdering berkali-kali sebab Arfi tengah bingung saudaranya belum juga pulang.


"Kau dimana?"

__ADS_1


Arfi tak basa-basi, langsung bertanya, karena ia takut terjadi apa-apa terhadap Arfa.


"Aku baru saja makan malam bersama, Nayla. Jadi aku pulang agak terlambat,"


"Baiklah, tapi jaga dirimu baik-baik!"


"Siap....,"


Entah mengapa, Arfi merasa gelisah malam ini, tapi ia mampu bernafas lega, karena sang adik ternyata baik-baik saja.


***


"Ayo turun!"


Arfa membuka pintu mobil, lalu menggandeng tangan Nayla, agar masuk ke dalam rumah beriringan denganya. Tapi saat masuk ke dalam rumah, keduanya berdecak heran, sebab banyak orang yang tengah bertamu di rumah Tito, di antaranya, ada Dimas dan kedua orang tua pria tersebut.


"A_ada apa ini, pah?" tanyanya gugup, tapi tanganya semakin erat menggenggam tangan Arfa.


"Sayang, ayo duduk! Dimas dan kedua orang tuanya datang ke sini untuk melamarmu, dan besok siang, akan ada acara pertunangan antara kamu dan Dimas," jelas Tito bersemangat.


Namun ucapan tersebut, membuat Nayla semakit erat dan merapat mendekati Arfa, namun sorot matanya berkaca-kaca. Ia seolah meminta agar Arfa akan mengatakan, jika ia miliknya.


"Lepaskan tangan anakku!" Tito melotot lebar.


'Maaf pak Tito dia siapa?" tanya kedua orang tua Dimas.


"Dia bukan siapa-siapa," ucap Tito tegas.


Arfa tersenyum getir, mendengar ucapan Tito tersebut, ia maju selangkah lalu mengulurkan tangan kepada kedua orang tua Dimas.


"Perkenalkan! Namaku Arfa, aku calon suami yang "SAH" yang nantinya akan menikahi Nayla secepatnya," ungkap Arfa jujur.


"Jaga bicaramu! Karena sampai kapan pun, aku tak sudi menerimamu menjadi menantuku,"


"Owh benarkah? Lalu bagaimana, jika aku sudah meniduri Nayla, apakah anda masih mau melarangku untuk menikahinya? Terus, apakah Dimas mau, menerima Nayla yang sudah tidak ting-ting lagi?" ujar Arfa mengungkap dan berucap sesantai mungkin.


"Haaaah, apa maksud perkataanmu?"


Dimas mendekat dengan emosi yang seolah membuncah.


"Aku sudah meniduri, Nayla,"


Pengakuan Arfa, membuat semua mata tertuju ke arah Nayla, dan saat itu juga si cantik langsung merapat dan medekati Arfa.


"Nay_____?!"


"I_iya, aku dan Arfa melakukanya."


PLAAAAAK. PLAAAK!


Dua tamparan mendarat cepat di wajah Nayla, setelah membenarkan apa yang di ucapkan oleh Arfa. Mata Tito berkaca-kaca, ia siap kembali mengayunkan tamparan ke wajah anaknya lagi. Dan Nayla mendapatkan murka sang papa.


"Berhenti, jangan tampar Nayla, lagi! Karena aku yang memaksanya!' jujur Arfa tak ragu sedikit pun.


"Kurang ajar!'


Baaag___ Buuuug___ Baaaag___ Buuuug.

__ADS_1


Dimas dan Tito menghajar pria yang telah menodai Nayla, bahkan sejenak Arfa membiarkan mereka memukulinya, hingga darah segara keluar dari hidup dan bibirnya.


"Kurang ajar!" pekik Tito lagi.


Ia sudah siap menerjang Arfa dengan kakinya, namun saat itu juga Nayla menghalangi. Hingga kaki Nayla'lah yang terkena terjangan si papa.


"Aaww___," rintihnya spontan.


Melihat Nayla kesakitan, membuat Arfa marah.


"Anak bodoh, kenapa menghalangi aksiku," cerca Tito.


"Anda yang laknat, dasar bang sat____!"


Kemarahan Arfa tak bisa di tawar lagi, ia berbalik melawan Dimas dan Tito seorang diri, karena ia memiliki ilmu bela diri yang mumpuni, membuat Arfa mampu mengalahkan keduanya.


"Mas,"


Seorang wanita paruh baya, menangis tersedu-sedu, meminta Arfa untuk menghentikan kemarahanya, sebab Tito dan Dimas sudah tak berdaya, meski dì sana banyak orang. Tak ada satupun yang berani melawan Arfa.


"Nay, kenapa kau diam saja? Papamu hampir mati?"


"Ma_maaf, ma!" ucap Nayla di sertai isak tangisnya.


"Bodoh, anak tidak berguna! Kenapa kamu tega membiarkan papa'mu di hajar si sialan ini!" omel wanita itu lagi.


"Mah, ini tak sebanding dengan apa yang keluarga Arfa rasa,"


Dengan tangisnya, ia menceritakan kejahatan sang papa, yang sudah melenyapkan nyawa kedua orang tua Alvian, yang tak lain papi dari Arfa kekasihnya.


"Haaaah___!!"


Kedua orang tua Dimas menatap nanar ke arah Tito.


"Apa benar, yang di ucapkan Nayla, mas?"


Tito memilih diam sejenak, saat istrinya bertanya.


"Mulai detik ini, aku tak sudi berniat menjadi besan anda, bahkan aku tak mau menikahkan anakku dengan anakmu yang sudah tak memiliki haraga diri itu!" cerca kedua orang tua Dimas lalu mengajak anaknya untuk pulang.


Namun hal itu bukan membuat Tito menyesal, ia justru semakin membenci Arfa.


"Pargi kau dari rumahku!" pria paruh baya itu mengusir anaknya sendiri.


"Aku akan pergi, karena aku juga tak sudi satu rumah dengan pembunuh seperti anda."


Nayla meminta Arfa membawanya pergi kemanapun, sementara Tito semakin di buat geram karena hal ini.


"Kurang ajar____! Tidak kakeknya, papanya dan sekarang anaknya, sama-sama menyusahkan hidupku. Awas, kalian pasti akan ku hancurkan lagi," geram Tito yang di balut emosi.


.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih🤗


__ADS_2