Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Selalu Bertemu.


__ADS_3

🌸S e l a m a t ~ M e m b a c a🌸


Kabar rusuh yang terjadi di kantor, terdengar sampai ke telinga si papi. Pria paruh baya itu meminta Arfi untuk menjelaskan.


"Kalau misal, harga diri mami di injak-injak. Apa papi akan diam saja?"


"Haaah?"


Arfi menceritakan, kelakukan beberapa karyawanya, prihal menjelekan Sisi karena di anggap hamil sebelum menikah. Hal itu membuat si papi meradang juga.


"Pecat saja, karyawan yang memiliki muluf tajam!"


"Tadinya mau ku pecat, pi. Tapi Sisi melarang."


Si papi tersenyum, karena dulu istrinya juga begitu. Meski sudah di jatuhkan, di burukan, tapi Nayla tak mau orang yang menghina itu, kehilangan pekerjaan.


"Ya sudah, jaga istrimu baik-baik!"


Obrolan melalui sambungan telepon pun selesai. Sisi tersenyum datar kearah Arfi seraya menikmati es krim di tanganya.


"Kurang gak es krimnya?'


Sisi menggeleng. "Apa kakak mau membelikanku lagi?"


"Besok saja, untuk hari ini... jajanya cukup ya!"


"Baik'lah." sahutnya terpaksa.


Arfi dan Sisi berjalan pelan masuk kedalam apartemen. Arfi sibuk mengotak-atik handpone, sementara Sisi, masih berkutik dengan es di tanganya.


Ck...


Saat berjalan, keduanya berpapasan dengan Fadil, Sisi tampak kesal dan mencoba tak perduli, padahal tadi Fadil menyempatkan untuk menyentuh pinggangnya.


"Kenapa, Si?" Arfi yang fokus menatap layar ponsel tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Tapi ia menggeleng pelan, kala melihat Sisi menghentakan kaki ke lantai berkali-kali.


"Gak apa-apa kak.. baru saja aku bertemu kucing kepalanya hitam." Sisi menjelaskan.


Fadil yang belum jauh keberadaanya, mendengus kesal, mendengap penjelasan Sisi kepada suaminya. "Enak saja, dia anggap aku kucing." decaknya pelan lalu pergi meninggalkan apartemen secepat mungkin.

__ADS_1


***


Malam pun tiba, Sisi dan Arfi menikmati makan malam, di restoran. Dan kebetulan, si cantik melihat keberadaan Fadil lagi, yang juga tengah makan malam di tempat yang sama.


"Njir... kenapa ada dia, dimana-mana?" grutunya kesal.


Dan Fadil pun sangat senang, saat melihat Sisi juga. "Hai...!' ia melambaikan tangan ke arah wanita pujaanya.


"Iyuuh." dengus Sisi kesal.


"Kenapa Si? Perutmu sakit atau kamu mau makan apa?"


"Ti-tidak sakit kak. Hanya saja aku sedikit hau, karena jus pesananku belum datang juga."


"Begitu... sabar ya! Sebentar lagi sampai!"


Sisi coba untuk tak perduli, meski ada Fadil memandangi ia saat ini. Sisi justru memperlihatkan sikap manjanya ke Arfi. Minta di suap dan meminta sang suami untuk menggenggam tanganya.


"Tumben...!!"


"Anaknya lagi ngidam, di suap papanya." Sisi mencari alasan.


"Kalau di genggam tanganya, permintaan anak kita juga ya?"


Keduanya tampak sangat romantis. Yang tentu saja, membuat Fadil kesal luar biasa. "Huuuh, sial... dia pasti sengaja membuatku emosi." grutu Fadil seraya mengepal kelima jarinya.


"Ayo ke kamar! Hari sudah cukup malam, nanti kamu dan dedek bayimu kedinginan!" ajak Arfi dan Sisi pun mengangguk.


Keduanya lewat, tepat di samping meja makan Fadil. Pria itu berniat mencolek tangan Sisi, tapi usahanya gagal, sebab saat akan meluncurkan aksinya, Sisi sudah menginjak kakinya lebih dulu, yang sebenarnya Fadil ingin membuat Arfi terjatuh.


"Aaawww... sakit!" decak Fadil spontan seraya memegangi kakinya yang terasa nyeri.


"Ehh ada apa ini?" Arfi cukup terkejut.


"Maaf kak. Aku tidak sengaja menginjak kakinya!" ucap Sisi sambil menahan tawa.


"Maafkan istriku ya! Mungkin dia terlalu lelah, jadi tidak melihat ada kakimu!"


"Ahahaha.. ti-tidak masalah, bang!" Fadil tertawa terpaksa.

__ADS_1


"Eh... sepertinya, aku pernah melihatmu? Tapi diaman ya?" Arfi berpikir sejenak.


Tapi, belum ia menemukan jawabanya, Sisi sudah menarik tanganya lebih dulu. "Ayo kak! Aku sudah lelah dan ngantuk berat!" ujar si cantik berbohong. Ia mencebikan wajah ke arah Fadil.


"Awass kamu, Si!" Fadil mengarahkan kepalan tangan, tapi di balas Sisi dengan menunjukan ibu jarinya namun di arahkan ke bawah.


Hal itu membuat Fadil kian geram dan gemas. Sikap Sisi yang berani kepadanya justru membuat Fadil jatuh cinta, dulu saat di sekolah, ia berkuasa dan melakukan apa saja sesukanya, tidak ada yang berani melawan, kecuali Sisi.


***


"Katanya lelah, tapi kok main ponsel?" Arfi berbisik di telinga Sisi saat keduanya sudah berada di kamar.


"Hahaha... sekarang tidak lagi kak. Aku mau main game dulu, biar mataku lelah terus tidur." Sisi mencari alasan.


"Hmmm.. kenapa, gak kita saja yang main game, jadi yang lelah bukan matanya saja?" Arfi berbisik lalu


"Heeeh... maksud kakak apa?" si cantik sok polos.


"Haduh, istri kecilku, kamu benar-benar tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu? Haah!"


Mendengar nada bicara Arfi yang meninggi, Sisi pun tertawa sejadi-jadinya, dan tentu saja membuat Arfi mengerutkan wajah.


Haaaap!"


Sisi mendaratkan, kec*pan berkali-kali di bibir sang suami, ia tak takur sama sekali kepada Arfi, karena sang suami sudah berjanji, tidak akan menyakitinya lagi.


"Duh... Sisi sekarang nakal, ya!"


Arfi yang gemas, langsung membawa sang istri dalam dekapanya. Ia memang tak pernah marah lagi, dan meniduri Sisi sewajarnya sebagai istri. Arfi pun berusaha membuat istri kecilnya nyaman saat bersama.


Ck...


Meski sudah sering kali melakukan hubungan, tapi Sisi masih saja gemetar, setiap kali Arfi melakukanya. Sikap Arfi yang pernah membuatnya pemuas n^fsu saja, memang sulit Sisi lupakan, meski kini, Arfi sudah berubah sekali pun. Trauma itu masih ada, dan tugas Arfilah, yang harus membuktikan.. jika ia benar-benar sudah menjadi suami yang baik.


.


.


.

__ADS_1


.


T E R I M A ~ K A S I H


__ADS_2