Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Melamar Pekerjaan


__ADS_3

šŸ•ŠSelamat MembacašŸ•Š


Airin menghela nafas berat, saat ia tiba di rumah dan masuk ke dalam kamar dan mendapati Alvian sudah tertidur, sementara ia sudah tak sabar, ingin menanyakan, priahal kotak obat tidur yang ia temukan di kamar.


"Aku yakin sekali, jika obat tidur ini milik suamiku sendiri," ucapnya lirih.


Si cantik segera membersihkan tubuh setelah meletakan hasil belanjanya bersama sang mama mertua, dan Airin pun berbaring di samping sang suami setelah memastika tubuhnya sudah bersih.


"Hmmmm," gumam Alvian dalam hati, pria itu sengaja pura-pura tertidur.


Tadi siang, Alvian memang mencari bekas obat tidur yang ia gunakan malam itu, mendapati obat tidur itu, tak ada lagi di kotak sampah, membuat Alvian yakin bahwa ada yang menemukanya. Benar saja, bahwa istrinya sendirilah yang menemukan obat tidur tersebut.


"Ayoooo Al... berpikir!" ucap Alvian pada dirinya sendiri.


Alvian bepikir susah payah untuk mencari alasan, jika nanti istrinya akan menanyakan, perihal kepemilikan obat tidur tersebut.


"Hemmm, aku tahu, harus apa," ucapnya lirih, Alvian segera beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil sisa obat tidur yang masih ada di dalam lemari, ia pun meletakkannya di atas meja.


***


Pagi pun tiba, Airin dan Alvian, berlomba-lomba untuk bangun lebih dulu, jika Airin sudah tak sabar ingin menanyakan. Siapa pemilik obat tidur, yang ia temukan? Sementara Alvian sudah tidak sabar ingin menjawab pertanyaan dari istrinya.


"Kau," si cantik terbelalak tak percaya melihat Alvian memegang obat tidur di tangannya.


"Kenapa Rin?" si tampan pura-pura bersikap sok polos dan tidak tahu apapun.


"A_apa, kau... memang mengkonsumsi obat tidur?"


"Iya, karena aku kesulitan untuk tidur, dan aku, meminta Pak satpam membelikan obat ini di apotik, beberapa waktu yang lalu,"


"Kenapa? Apa yang membuatmu sulit untuk tertidur, apa kau sudah lama mengkonsumsi obat ini, kenapa aku baru tahu?" Airin penasaran.

__ADS_1


"Belum lama, tapi sebelum kita menikah, aku memang, sudah mengkonsumsi obat ini, untuk bisa tertidur pulas, di karenakan.. aku selalu teringat hari terakhir dimana aku kecelakaan, dan mengakibatkan kakiku lumpuh seperti ini," jelas Alvian sedikit berbohong.


Antara percaya dan tidak, Airin pun berusaha memahami, susah payah, ucapan dan penjelasan Alvian, hingga Airin mengambil kesimpulan, bahwa apa yang di jelaskan sang suami, memang benar adanya, si cantik pun, tidak berani berpikir yang macam-macam lagi.


"Baiklah,"


"Kenapa?"


"Tidak," jawab si cantik gugup, ia lalu pergi meninggalkan keberadaan Alvian untuk menuju ke meja makan.


"Rin tunggu! Mau sarapan, kok nggak ajak-ajak suaminya, sih," cetus Alvian lalu mendorong kursi rodanya untuk mengikuti langkah sang istri, Alvian tersenyum puas karena bisa mengalihkan kecurigaan Airin, tentang obat tidur yang ditemukan di dalam kotak sampah, yang berada di dalam kamar mereka berdua.


.


Keluarga Reyhan, melakukan sarapan bersama di pagi hari ini, dengan kebahagian yang tak bisa di lukiskan lagi, meski awalanya papa dari Alvian tersebut tak menyetujui pernikahan putra semata wayangnya, dengan Airin yang pernah mendekam di dalam penjara. Namun seiring dengan berjalannya waktu, Reyhan mendapati, bahwa gadis malang yang begitu dicintai Alvian adalah Putri kandung dari sahabatnya sendiri.


"Semoga kalian berdua, akan memberikan Papa dan Mama cucu, sesegera mungkin!" ucap dan harap Reyhan di sela-sela akhir aktifitas sarapan mereka.


Airin dan Alvian pun saling tatap, mereka tertawa kecil, karena harapan keduanya pun sama, jika pernikahan mereka akan segera mendapatkan hasil, yaitu malaikat kecil, yang akan hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka.


***


Dan..... jam 2 siang barulah si cantik kembali pulang dari aktifitas hari ini.


"Huuuuuh," ia membuang nafas pelan, lalu mendudukkan tubuhnya di sofa, Airin menatap langit-langit rumah dengan bayang-bayang yang tidak bisa ditebak oleh siapapun. Entah apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh wanita cantik tersebut.


"Dari mana sih, Rin? Jam segini baru pulang, katanya tadi hanya sebentar, tau-tau, seharian kamu pergi," omel Alvian untuk istrinya, yang seketika membuat Airin merasa bersalah.


"Maaf Al! Aku tak bermaksud meninggalkanmu selamanya itu, tapi tadi aku mengantarkan surat lamaran kerja, ke sebuah perusahaan, yang letaknya tepat di depan kantor Papaku, sepertinya perusahaan tersebut, adalah perusahaan yang telah membuat perusahaan Papaku mengalami kebangkrutan," jelas si cantik yang spontan membuat si tampan terkejut luar biasa.


"Heeeei.... apa kau yakin? Melamar pekerjaan di sana? Lalu, bagaimana hasilnya?"

__ADS_1


"Aku langsung melakukan interview, dan perusahaan tersebut menerimaku tanpa syarat, sebab kata manager perusahaan tersebut, bahwa orang-orang sepertiku, memang dibutuhkan dalam perusahaannya, karena, meskipun sekarang tengah dalam fase kesuksesan, tapi perusahaan itu, baru berdiri beberapa bulan ini, jadi masih butuh orang-orang cerdas, agar perusahaan itu lebih maju lagi," jelas si cantik panjang lebar.


"Ahhh... astaga, bagaimana ini?" Grutu Alvian dalam hati, pria tampan itu *******-***** tangannya sendiri, karena Ridho yang dipercayai, untuk memimpin perusahaan yang ia miliki, justru menerima Airin dengan semudah itu bekerja di kantornya.


"Kau, kenapa Al?"


"Ah, tidak-tidak...," jawab si tampan gugup. "Jadi, mulai besok kau sudah masuk ke kantor? Tapi, kenapa kamu tidak meminta izinku dulu, andai mau bekerja?"


"Maaf Al! Aku tau, kamu pasti akan melarangku, tapi aku benar-benar butuh pekerjaan ini, karena aku harus membantu keuangan mamamu, untuk mendirikan sebuah perusahaan,"


Mendengar penjelasan Airin, membuat Alvian semakin geram, ia menganggap bahwa kedua orang tuanya, tak mampu mendirikan sebuah perusahaan untuk sang istri.


"Tak perlu bersusah payah Rin, aku janji 1 minggu lagi, kau akan memiliki perusahaan atas namamu sendiri," tegas Alvian meyakinkan.


"Apa semudah itu? Karena, papaku dulu, harus susah payah, jatuh bangun, baru bisa sesukses ini,"


"Tapi tidak dengan dirimu, kamu tak perlu melakukan itu, cucup duduk manis saja," ujar Alvian pada istrinya. "Karena aku, sudah melakukanya tanpa kau ketahui, Rin, sebab perusahaan yang kini di jalankan oleh pak Ridho, akan menjadi milikmu," tambahnya dalam hati, ucapan itu hanya milik Alvian sendiri.


Dengan berat hati, si tampan pun mengizinkan sang istri bekerja, dengan syarat, bahwa Airin tak boleh melalaikan kewajibanya sebagai istri.


"Tak masalah, karena di saat dan waktu yang tepat, aku akan hadir di kantorku sendiri. Pada saat itu terjadi, sudah ku pastikan, perusahaan milik Wijaya Bratayuda, sudah jatuh ketanganku," lirih Alvian dengan semua kelicikan yang sudah ia rencanakan.


Nanti, yang akan membuat Airin terkejut luar biasa, bukan hanya perusahaan sang papa yang akan mengalami kebangkrutan secara signifikan, tapi, kantor dimana ia bekerja nyatanya milik suaminya sendiri, dan yang lebih gila, Alvian rela pura-pura lumpuh, sedemikian lamanya, hanya demi mendapatkan perhatian full dari Airin. Dan di balik ke kurangan yang Alvian tunjukan, pria itu justru tengah merencanakan kejutan besar, untuk kado atas rasa sakit yang Airin alami, karena pernah menjadi korban pengkhianatan, masuk penjara, lalu di campakan kedua orang tuanya. Karena itulah, Alvian seolah ingin merenggut semua hak dunia dan akan ia berikan untuk sang istri tercinta.


"Percayalah, satu tetes air mata, yang membasahi wajah, akibat rasa sakit atas sikap dan kelicikan orang lain, akan menenggelamkan, secara perlahan, orang-orang yang telah menyakitimu," ucap Alvian penuh keyakinan, seraya menatap langkah Airin yang masuk ke dalam kamar.


.


.


.

__ADS_1


.


JANGAN LUPA BAHAGIA, MAAF JIKA MASIH JARANG BALAS KOMENTAR YA, KARENA SINYA MEMANG TERAMAT SULIT DI TEMPATKUšŸ˜­šŸ˜­ā¤ā¤


__ADS_2