
🌸Selamat Membaca🌸
Cia beranjak dewasa, usianya kini sudah menginjak dua puluh tahun. Gadis itu sudah paham, mana yang baik dan mana yang salah. Cia juga selalu berusaha menjadi manusia peka terhadap banyak hal. Hanya saja, ketika ia jatuh cinta, semua kepintaran yang Cia punya, luntur begitu saja, tinggal kebodohan yang tersisa.
"Eeeemmmmmuuuuhh!"
Sepanjang itu ia bersuara dan menempelkan bibirnya ke layar telepon. Anggap saja, ia sedang mencium sang pujaan hati. Lega karena tak terjadi apa-apa terdahap Arfi, malam ini ia bersorak sorai seorang diri. Jika bisa, Cia ingin berteriak sekencang-kencangnya dan memberi tahu dunia, jika ia sedang jatuh cinta.
"Cia, boleh Mama, masuk?"
Senyum bahagia Cia enyah seketika, saat seorang wanita yang tampak pucat berdiri di depan pintu kamar dengan membawa secangkir teh untuknya.
"Silahkan!" seru Cia ketus.
"Hm, Cia, tetap di rumah ya, jangan kemana-mana!"
"Kenapa?"
"Mama dan Papa butuh kamu."
"Ooh, butuh juga ya! Aku kira bisa hidup tanpa aku," ujarnya terkesan mengejek. Tapi Cia menenggelamkan wajahnya sangat dalam, ia tak mau menatap wajah Mama sebentar pun.
"Mama tau, semua yang terjadi memanglah ke salahan kami. Tapi Cia, sebagai seorang anak, berbakti kepada kedua orang tua, adalah kewajiban. Sekarang Mama lemah, butuh kamu untuk tetap di rumah!" pinta wanita yang selalu Cia panggil Mama.
Cia anak tunggal di rumah ini, saat ia berusia tujuh belas tahun, Kakek meninggalkanya dengan memberi amanah, agar Cia bisa menjaga Perusahaan turun temurun dan mengembangkan lebih luas lagi. Tapi kenyataanya, perusahaan itu di jual tanpa sepengetahuan Cia.
BUKAN ITU SAJA!
Tepat saat pertama kali Cia masuk Sekolah Menengah Pertama (SMA). Mama dan Papa meminta Cia agar menjaga jarak dari pria mana pun. Sampai akhirnya ia sadar jika Mama dan Papa telah menggadaikan masa depanya pada seorang pria tua tapi kaya raya. Sejak saat itu Cia tak lagi mau menuruti apapun yang orang tuanya mau. Cia yang awalnya di anggap sebagai anak penurut, berubah menjadi pembangkang hebat.
Siapa yang salah?
Tentu saja kedua orang tuanya. Cia bahkan tak habis pikir; bagaimana bisa ada Mama dan Papa segila mereka. Menjodohkanya dengan orang yang sudah tua dan kini menjual perusahaan tanpa sepengetahuan Cia.
__ADS_1
Mereka bilang demi kebaikan Mama.
Cia selalu luluh setiap kali Mama jatuh sakit. Tapi ia bersikap seakan tak perduli, meski dalam hati, ia berharap Mama segera sembuh. Malam ini misalnya, Cia bisa saja pergi dari rumah dan meninggalkan Papa dan Mama. Tapi ia tak bisa, karena jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam. Cia tidak ingin kehilangan mereka, Cia tak mau Mama meninggal dunia, jadilah ia tetap di sini, entah sampai kapan Cia bisa bertahan.
"Kamu anak Mama dan Papa satu-satu'nya. Jadi kamu lah, harapan kami. Jika kamu tidak bisa menuruti, lantas kepada siapa, Mama menggantungkan harapan!"
Perkataan itu selalu terngiang di pikiran Cia, ia bingung luar biasa. Harus patuh atau masa bodoh. Karena menurutnya, Mama dan Papa selalu membuat ia hidup dalam tekanan.
.
.
.
*** *** *** ***
Sudah tujuh hari lamanya, Cia tak tinggal bersama Sisi. Gadis itu berkata, jika dia harus menjaga sang Mama. Meski setiap hari mereka bisa bertemu di kantor, tapi tetap saja, Sisi merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Cia sudah menjadi separuh nyawa. Karena untuk saat ini, gadis itu adalah harta yang Sisi punya.
Tok.. Tok... Tok...
"Kak Arfi," gumam Sisi lirih, ia mundur selangkah untuk menjaga jarak dari sang mantan suami.
"Kok mundur sih? Orang yang bertamu di anggap Raja, sambut dong!" seru Arfi seraya menoleh ke kanan dan ke kiri. Karena ia tahu, Cia tidak ada di kos-kos'an.
"Mau apa Pak Arfi ke sini?" tanyanya dan memanggil pria ini dengan sebutan PAK. Karena memanggil Arfi dengan sebutan KAK biarlah menjadi masa lalu saja.
Setelahnya Sisi hanya mendapati Arfi diam tanpa msnjawab, tapi sorot matanya memancarkan ke kecewaan. Baru satu menit yang lalu, Sisi memanggilnya 'Kakak' tapi sedetik kemudian, Sisi memanggilnya 'Pak'
"Hm, nggak usah kepedean deh! Aku aku kesini mau antarkan berkas-berkas ini untuk kamu pelajari" Arfi menyodorkan maap besar kepada Sisi, meski awalnya ia ingin mengajak wanita ini jalan-jalan, tapi niatnya terurungkan, karena sikap Sisi sangat menyebalkan.
"Loh, kok aku yang ngerjain sih?" Sisi memicingkan mata. Karena tanpa di persilahkan masuk, Arfi sudah melangkah dengan sendirinya dan mendudukan tubuh di sofa.
"Terus aku nyuruh siapa, kalau bukan kamu?"
__ADS_1
"Cia' kan bisa?"
"Cia, hanya karyawan magang, jadi nggak sepatutnya dia semua yang mengerjakan. Lagi pula, kamu ini karyawan baru di kantor saya, tapi berani sekali membantah. Cia, besok tidak masuk kerja, karena harus ke rumah sakit menjaga Mama'nya. Jadi tugas ini kamu yang selesaikan dan saya tunggu hasilnya besok pagi jam sembilan."
Setelah berucap panjang kali lebar, Arfi pergi tanpa permisi dan tak mengucapkan sepatah kata pun lagi. Mood'nya benar-benar hancur malam ini. Sementara Sisi masih mematung sendiri, ia terpaku seraya menatap langkah Arfi yang kian menjauh pergi.
"Rumah sakit? Mama'nya Cia kenapa? Apa kritis lagi?" tanya Sisi berkali-kali pada dirinya sendiri. Penjelasan Arfi tadi sangat mengsik pilkiranya.
Secepat kilat ia melesat, masuk ke dalam kamar untuk mencari kontak motor miliknya. Sisi berencana menemui Cia malam ini.
DAN!
Sesaat ia sudah mengeluarkan kendaraan roda dua miliknya dari dalam rumah. Tapi Sisi urung melangkah, sebab tiba-tiba saja hujan turun dengan sangat derasnya di sertai kilat dan badai. Sisi pun ciut nyali dan kembali masuk ke dalam rumah lagi.
"Kenapa harus hujan sih? Cia, juga kemana, kenapa nggak bales pesan WhatsApp' ku dari sore tadi? Aku takut kamu nggak baik-baik saja," lirih Sisi dalam hati, ia memejamkan mata sesaat.
TAPI!
Sedetik kemudian Sisi membuka mata, tapi ia tetap tidak bisa melihat apa-apa. Ia pun mengerjabkan mata berkali-kali bahwa ia benar-benar tidak terpejam lagi.
"Ah sial! Kenapa harus mati lampu, sih?" omel Sisi seraya bergidik ngeri.
Ia takut gelap, Sisi tak menyukai gelap, ia takut suasana seperti ini. Pasal'nya... asma yang ia derita akan kambuh, jika terus menerus berada di ruangan gelap.
"Ih, hp ku tadi kemana?" ia mulai panik, matanya berkaca-kaca, Sisi berjalan pelan-pelan untuk mencari keberadaan ponselnya.
DUAAAAAR!
Kilat menggelegar seakan siap menyambar. Suaranya menakutkan dan membuat Sisi hampir pingsan. Beruntung, seberkah cahaya tampak mendekatinya dan siapa yang datang sungguh membuat Sisi tercengang.
.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G