Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 29 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Emosi tak terkendali yang kini memenuhi perasaan Arfi membuat ia sedikit kehilangan akal sehat. Tanpa sadar ia berbuat kasar dan di saksikan banyak pasang mata. Sisi sendiri tidak memberontak sedikit pun, ia hanya diam meski Arfi memperlakukanya sangat kasar.


"Dimana perasaanmu, haah? Kenapa kamu tak punya empati sedikitpun kepadaku? Aku sakit karena mencintaimu tapi tidak bisa memiliki?" suara Arfi meninggi, sampai membuat Sisi gemetar. Kini keduanya sudah berada di ruang kerja Arfi.


Tapi Sisi masih memilih diam.


"Aku sudah berusaha, melupakanmu dan menerima kenyataan jika kamu tidak mencintaiku lagi. Tapi akhir-akhir ini aku bisa paham jika kamu hanya pura-pura dan kamu masih mencintaiku." tambah Arfi lagi.


"Terkadang mencintai tak harus memiliki, karena sadar jika kamu masih bersamaku, selama itu kamu akan di liputi kesedihan dan harapmu tidak terkabulkan. Aku tidak bisa menjadi wanita seutuhnya dan istri yang baik untuk kamu." dengan bibir tergetar Sisi memberanikan diri untuk bersuara.


"Bodoh! Ini bukan sinetron yang katanya cinta tak selalunya memiliki. Semua hanya omong kosong dan aku benci dengan sikap sok taumu itu."


Sisi menghela napas jengah, ia memejamkan mata sejenak dan berpikir kenapa ia bisa mencintai manusia sekasar Arfi. Nyatanya pria ini tidak berubah masih bersikap kasar saat sedang marah.


"Kamu sekarang sedang memiliki hubungan dengan Adikku, dia sangat mencintaimu."


Mendengar ucapan itu, Arfi kian melotot lebar dan menatap nanar, ia mendorong tubuh Sisi hingga bersandar pada dinding dan mengunci tangan Sisi hingga sulit bergerak.


"Jika itu alasanya, maka nanti malam aku akan memutuskan, Cia."


"Ja-jangan! Dia menaruh harapan besar padamu, Cia sangat mencintaimu dan dia berharap kamu bisa melepaskannya dari belenggu kedua orang tuanya." mata Sisi berkaca-kaca.


"Lalu, apa kamu membiarkan aku terperangkap dalam ikatan tanpa perasaan."


"Nanti setelah menikah, kamu bisa belajar mencintai Cia."


"Lantas bagimana dengan perasaanmu?"


"Aku rela terluka, asal Adikku bahagia. Dia yang sudah membantuku selama ini, dia yang membangkitkanku saat aku terpuruk."


"Bagus. Jika kamu siap terluka karena dia, jangan tanggung-tanggung!"


"Ma-maksudmu?"


"Aku akan menikahi Cia tapi kamu harus menjadi simpananku, kamu harus ada setiap aku butuh!" Arfi menatap Sisi sinis.


"AKU TIDAK MAU!" Sisi memberontak.


"Aku tidak suka penolakan."

__ADS_1


"Tapi aku tidak mau kamu jadikan simpanan. Itu namanya sama saja mengkhianati Cia."


"Baiklah, jika kamu tidak mau. Setelah menikah aku akan membuat Cia lebih menderita dan menjadikan dia boneka malamku saja. Bagaimana?"


"Ja-jangan!"


Sisi menangis, ia tidak menyangka Arfi bisa lebih arogant dari yang ia tahu. Ia tidak menyangka Arfi akan memberinya pilihan sulit. Sisi kira bertemu denganya tidak akan membuat ia menderita. Dugaanya salah, Arfi yang saat ini lebih tidak punya hati.


"Ba-baik, aku akan menuruti apapun yang kamu mau, tapi tolong jangan sakiti Cia!"


"Oke, setujuh!"


Dengan penuh kemenangan Arfi melakukan aksinya, ia mendaratkan ke cup an kasar ke bibir Sisi, sampai wanita itu sedikit sulit bernapas. Arfi sebenarnya sangat merindukan aroma tubuh Sisi yang selalu membuatnya tenang. Seperti saat ini, ia memeluk dan mencium penuh ke rinduan. Tadinya ia bersikap kasar namun perlahan Arfi melakukanya penuh kelembutan.


"Aku merindukan kamu, Si." bisiknya pelan di telinga sang mantan istri.


Sementara Sisi masih gemetar, terlebih Arfi meninggalkan bekas memerah di lehernya, pria ini masih sama, jika marah akan melampiskanya dengan berhubungan. Tapi beruntung, kini mereka masih berada di kantor, Sisi yakin Arfi tidak akan berani melakukanya.


"Keluarlah!" titah Arfi tiba-tiba, ia merapihkan baju Sisi yang sempat terbuka.


Sisi pun sama, ia merilekskan diri, merapihkan baju dan rambut serta bersikap tidak terjadi apa-apa. Padahal para karyawan kantor sudah merasa curiga, pasalnya Sisi hampir satu jam berada di dalam sana.


"Sisi, apa yang terjadi?" tanya salah satu karyawan saat Sisi keluar ruangan tanpa ekspresi.


Tapi tatapan mereka semakin mengintimidasi terlebih saat Cia terus menutupi bagian leher dengan tangan. Dan sedetik kemudian wanita itu benar-benar keluar dari kantor, Sisi masuk ke dalam mobil pemberian Cia lalu menangis sejadi-jadinya di dalam sana.


"Bang sat- kenapa kamu tidak pernah berubah? Kenapa kamu selalu mempermainkan harga diri wanita? Kenapa kamu masih sama?" tanya Sisi berkali-kali meski tahu tanya itu tanpa jawab.


.


.


.


Di dalam ruanganya, Arfi mendudukan tubuh di lantai dengan badan tersandar ke dinding. Sesekali ia memukul kepalanya sendiri mengutuki apa yang ia lakukan tadi. Tapi sungguh Arfi sangat merindukan Sisi, ia tak bisa mengendalikan diri setiap kali emosi.


"Maafkan aku Si!" lirihnya perih.


Tiga puluh menit kemudian, Arfi baru keluar dari dalam ruang kerjanya. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak menemui keberadaan Sisi.


"Dimana, Sisi?" ia bertanya kepada karyawan kantornya.

__ADS_1


"Dia keluar Pak, setengah jam yang lalu." jawab salah satu karyawan.


Secepat mungkin Arfi langsung keluar dari kantor dan bertanya kepada Angga, ke arah mana Sisi pergi.


"Mbak Sisi tidak pergi, Pak- dia ada di dalam mobil itu, sudah setengah jam lebih, tapi nggak keluar juga!" Angga menunjuk ke arah mobil yang mengantar Arfi tadi pagi. "Oke, terima kasih."


Dengan langkah cepat Arfi mendekat, ia mengetuk pintu mobil berkali-kali tapi tak kunjung Sisi membukanya. Sampai pada akhirnya ia memilih untuk membuka paksa pintu mobil dengan meminta bantuan beberapa orang yang ada di sekitar sana.


"Kita pecah kacanya saja, Pak."


"Nggak- nggak... nanti kacanya mengenai Sisi."


"Terus gimana dong, Pak? Saya yakin jika ada orang di dalamnya masa nggak di buka juga pintunya, padahal sudah dari tadi anda ketuk berkali-kali."


Benar juga, hingga akhirnya pikiran buruk pun menyergap perasaan Arfi, ia takut Sisi kenapa-kenapa di dalam sana.


"Ga.. kamu yakin, Sisi masuk ke dalam mobil?" Arfi memastikan dan menanyakan kepada Angga lagi.


"Yakin Pak... dan Mbak Sisi nggak keluar-keluar."


Tak ada pilihan kecuali memecahkan kaca mobil menggunakan alat. Dan benar saja, Arfi mendapati Sisi tak sadarkan diri di dalam sana.


"Si-Sisi, bangun! Kamu kenapa? Apa yang terjadi?" panik Arfi tak terhindarkan. Ia mengguncang-guncang tubuh Sisi setelah berhasil membawanya keluar. "Angga tolong ambilkan mobil saya, kita harus ke rumah sakit."


"Siap Pak!'


Angga segera menuruti titah Arfi, sementara Arfi menggendong tubuh Sisi, napas wanita ini naik turun dan tidak membuka mata. Arfi menjadi takut karenanya.


"Maafkan aku, Si- tolong buka matamu!" panik Arfi setengah mati.


Angga yang kini mengemudi mobil, merasa yakin jika ada hubungan special antara Pak Arfi dan Sisi. Tapi ia tak berani menanyakan lebih, ia hanya memantau apa yang di lakukan bosnya.


"Apapun yang kamu lihat, cukup kamu saja yang tau!" Arfi bersuara.


"Ba-baik Pak!"


Dan, Angga semakin yakin jika memang kedua orang ini, memiliki hubungan serius. Entahlah ia lebih baik diam, sesuai perintah Arfi baru saja.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2