
🕊Selamat Membaca🕊
Setelah seharian bekerja, Alvian merasakan tubuhnya sangat lelah, belum lagi buah mangga muda segar, yang belum juga di dapatkanya.
"Huuuuf,"
Alvian menghela nafas panjang, lalu memukul setir mobilnya pelan. Si tampan benar-benar kebingungan, harus cari kemana, pohon mangga yang tengah berbuah.
Drrrrrt... Drrrt...
Ponsel Alvian berdering, dan Toni yang mengirimkan pesan singkat padanya.Toni memberitahu ada pohon mangga yang berbuah di suatu tempat, sahabat Alvian itu pun mengirimkan alamat lengkap, dimana si pohon mangga berada.
"Haaah syukurlah,"
Alvian bernafas lega, karena telah menemukan pohon mangga yang sedang berbuah. Secepat kilat ia memacu mobil miliknya agar segera sampai ke tempat yang di kirim Toni tadin
Dan.. sampailah ia, si tampan berdecak bahagia sebuah pohon mangga yang tak terlalu tinggi, namun memiliki buah yang cukup lebat. Pohon tersebut tumbuh tepat di samping rumah kumuh, yang terlihat berserakan karena banyak barang-barang bekas di sekitarnya.
"Permisi bu, saya boleh membeli mangga muda milik anda?"
Alvian coba bertanya, ia bersikap seramah dan sebaik mungkin, pada wanita paruh baya yang terlihat tengah mencuci barang-barang bekas.
"Ambil saja, mas... gak usah beli!" titahnya dengan tersenyum ramah.
Si ibu tersebut, mengusap peluh yang menetes membasahi wajahnya. Ia benar-benar terlihat begitu lelah.
Sssttt....
Dengan sigap Alvian memanjat lalu mengambil beberapa buah mangga lalu memasukanya ke sebuah wadah. Setelah di rasa cukup Alvian segera turun.
"Bu, ini uangnya!"
Alvian menyodorkan selembar uang berwarna merah, namun si ibu tersebut menolaknya mentah-mentah.
"Kan, saya sudah bilang. Ambil saja mas, gak usah bayar!" ucapnya ramah.
Alvian tersenyum simpul, melihat sikap si ibu, pria itu segera mendekati dan bertanya banyak hal. Meski rumah si ibu tampak sangat kotor, tapi Alvian tak ji_jik sedikitpun.
"Jadi, ibu tinggal di sini sama anaknya?"
"Iya, dan dia masuk sekolah sore mas," jawabnya.
"Kok, sekolahnya sore bu?"
"Karena, sekolahnya sedang di renovasi, mas. Jadi sokolahnya, ada yang masuk siang dan ada yang masuk sore. Gantian gitu, sebab ruanganya terbatas," jelas si ibu itu lagi.
"Owh, begitu ya,"
Alvian tersenyum simpul, ia melihat betapa tulusnya si ibu itu, meski dia terlihat hidup dalam kekurangan, tapi dia menolak uang yang Alvian sodorkan, sebab sejak awal, si ibu berucap, jika dia ihklas memberi bukan menjual.
Ck...
Diam-diam, Alvian memasukan beberapa lembar uang, ke dalam tas si ibu, dan berusaha agar si ibu tidak tahu. Setelah uang itu sudah berhasil ia letakan, Alvian segera berpamitan untuk pulang.
"Semoga kebaikan ibu, akan mendapatkan balasan, berlipat-lipat ya!" ucap Alvian sebelum melangkah pergi.
Alvian, benar-benar terenyuh dengan kebaikan si ibu tadi.
***
__ADS_1
Tibalah Alvian di rumah, ia segera memberikan buah mangga kepada Airin, yang seketika langsung di sambut senyuman dari bibir si cantik.
"Terima kasih, Al," ucapnya lembut.
Airin menyantap mangga muda tersebut dengan sangat lahap, bahkan tak merasakan masam sedikit pun.
"Aku sudah masak bubur jagung dan ayam panggang untukmu. Makanlah dulu!" titah Airin kepada suaminya.
"Oke, aku mau mandi dulu setelah itu baru makan," balasnya.
Alvian segera membersihkan tubuh, setelah itu ia langsung menuju meja makan, untuk menyantap makanan yang sudah Airin siapkan.
"Wah enak nih?" si papa dan si mama baru saja pulang dari kerja juga, keduanya pun langsung ikut makan bersama Alvian.
"Wah... enak sekali, Rin. Masakanmu," puji Tania.
"Hehe, sebelum masak nonton Youtobe dulu mah, lalu melihat tata cara, masak dengan baik dan benar,"
"Istri pintar. Tidak ada yang sulit asal kita memiliki niat, semua pasti bisa di lakukan, apapun itu,'
Alvian tersenyum bangga ke arah istrinya, karena meski hamil Airin tak terlihat manja sama sekali, ia bisa melakukan apapun sendiri.
***
Malam pun tiba, semua orang di rumah sudah memejamkan mata, mereka mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Dan, Alvian di kejutkan dengan rengekan sang istri, yang mengguncang-guncang tubuhnya untuk segera bangun.
"Ada apa, Rin?"
Si tampan memihat istrinya, menunjukan wajah sendu penuh harap.
"Anak ayam. Mau cari dimana, Rin? Ini jam satu malam," Alvian berdecak heran.
"Ga mau tau, pokoknya aku mau anak ayam, yang warna warni," rengeknya lagi.
"Astaga,"
Alvian pun menepuk pelan jidatnya sendir, ia langsung beranjak dari tempat tidur dan segera bergegas pergi.
"Jam segini, cari anak ayam dimana lagi?"
Si tampan di buat pusing sendiri, akan kemauan dan keinginan sang istri. Jam satu malam, Alvian berkeliling untuk mencari anak ayam.
"Hahahahahaha!"
Tawa Toni pecah setelah mendengar curhatan Alvian, polisi muda itu segera menanyakan keberadaan sahabatnya.
"Ya udah, tunggu aku! Nanti kita cari sama-sama ya," ucap Toni melalui sambungan telpon.
Akhirnya dengan di temani Toni, si tampan pun mencari kesana kemari, dan berharap akan ada orang yang menjualnya.
"Keliling pasar jam segini, pedagan aja masih istirahat, Al," decak Toni pada sahabatnya.
"Haduuh, terus cari dimana ya?"
Alvian mengerutkan wajah tampanya, ia bingung harus cari kemana.
"Ketemu," spontan Toni membuat Alvian terkejut.
__ADS_1
"Apanya yang ketemu?"
"Orang jual anak ayam, dan itu orang tua temenku, Al. Ayo kita meluncur ke sana!" ajak Toni bersemangat.
Setelah pencarian yang cukup membingungkan, akhirnya Alvian juga menemukan anak ayam warna warninya. Ia pun berterima kasih pada Toni, yang sudah mau menemani.
Ck.
Si tampan menuju jalan untuk pulang dan 5 menit lagi, ia akan segera tiba di rumah.
Derrrt... Derrrt...
Lagi-lagi, ponsel Alvian berbunyi, ia segera menerima karena sang istrilah yang menghubungi dirinya.
"Hallo, Rin?"
"Masih dimana, Al?"
"Di jalan, sebentar lagi sampai. Aku dapet nih, anak ayamnya," jelas Alvian pula.
"Okeh, makasih sayang, Tapi... mumpung kamu lagi di jalan, aku titip Es krim ya, beliin yang rasa Vanila!" titah Airin lagi.
"Astaga, Rin.. ini jam 3 pagi, mana ada toko yang buka," Alvian serasa ingin berteriak tapi si tampan menahan. "Sabar, demi istri dan anakmu, Al," Alvian mengsabarkan dirinya sendiri.
"Ada Al, mini market di ujung kompleks, kan.. buka 24 jam," Airin menjelaskan.
"Baiklah, tunggu ya, aku cari dulu!"
Alvian memutar balik mobilnya, ia sebenarnya sudah tiba di depan rumah. Tapi karena sang istri menginginkan Es krim, ia pun memutar balik kendaraanya lagi.
"Al, jam 3 pagi kok cari, Es krim?"
Pria muda itu bertemu dengan temanya saat ia sekolah dulu, Alvian pun menceritakan jika istrinya tengah hamil muda.
"Jadi istrimu, ngidam ya?"
"Iya, bahkan dari tadi siang sampai malam ini dan mau pagi lagi, ada-ada aja, kemauanya," Alvian menjelaskan.
Seseorang itu yang tak lain, teman di saat Alvian sekolah dulu, tersenyum simpul setelah mendengarnya.
"Sabar Al! Begitulah, kalau istri lagi ngidam,"
"Memang kamu sudah menikah?"
"Sudah, dan sekarang aku memiliki anak dua," jelasnya.
"Haaah, terus dulu istrimu ngidam apa?"
"Banyak Al, ngidam mukul kentongan pos ronda, ngidam gendong anak kucing terus di ajak nonton bola, belum lagi, permintaan makanan yang mengada-ada. Misal, mau empek-empek palembang, dan itu beneran harus di beli dari palembang, mana mau istriku di beliin di sembarang tempat," ungkap teman Alvian itu lagi.
Alvian menarik sudut bibir lalu, lalu tersenyum penuh arti, berharap Airin tak ngidam yang lebih aneh dari saat ini.
.
.
.
Makasih kakak-kakak baik, semoga selalu bahagia, terima kasih atas semua hal, dan apapun itu, semoga selalu baik dan akan lebih baik ya. Love buat semuanya☺ Dan satu hal, Authornya memang kagak sekolah dan buat cerita dk usahain dan berusaha sebaik mungkin. Andai gak suka, lebih baik jangan di baca, daripada koment, yang membuat mentalku jatuh 😐 Terima kasih
__ADS_1