
Nino masih terdiam, syarat yang di ajukan Alvian membuatnya merasa sangat kesal, sebab, karena hal itulah ia terpaksa untuk mencabut tuntutanya terhadap Airin.
"Memangnya masih bisa ya? Bukanya Airin sudah di vonis bersalah," ujar Dini dengan menautkan kedua alisnya.
"Entahlah," jawab Nino kesal.
Sementara Alvian kini sudah tiba di rumahnya, polisi tampan itu membawa senyum bahagia karena ia sudah tau titik lemah, pria yang sudah mengkhianati perasaan Airin.
"Al," panggil Tania, saat melihat anaknya sudah tiba.
"Iya mah, aku mandi dan ganti baju sebentar ya, setelah itu aku temui mama," tukasnya lalu pergi masuk ke dalam kamar.
15 menit kemudian, Alvian sudah keluar dari kamar dengan wajah yang lebih segar.
"Mari duduk disini!" titah si mama yang sudah menunggu kedatanganya sejak tadi.
"Ada apa sih, mah? Penting banget ya," ujar Alvian penasaran.
"Iya, penting, sebab ini tentang masa depanmu,"
"Maksud mama?" Alvian semakin penasaran.
"Tadi papamu bilang, bahwa besok kita ada pertemuan dengan salah satu keluarga dari sahabat papamu. Seorang pengusaha ternama," jelas si mama.
"Lalu. Apa hubunganya denganku?"
"Karena, anak gadis dari sahabat papamu itu, kelak akan menjadi calon istrimu, sebab papa sudah menjodohkanmu dengan anaknya," tambah Tania semakin serius.
"Haaaaah.. gila! Aku bisa cari calon istri sendiri mah dan aku tidak mau di jodohkan," tolak Alvian tegas.
"Siapa, yang akan jadi istrimu? Apakah narapidana di kantormu itu?" tanya si papa yang tiba-tiba hadir di tengah pembicaraan Alvian dan sang mama.
"Pah, apaan sih," grutu Alvian seraya menatap nanar ke arah si papa yang juga tengah menatap ke arahnya.
"Lalu, apa alasanmu tak mau, papa jodohkan? Usiamu sudah dewasa, Al, dan kau juga belum pernah memperkenalkan siapapun kepada papa dan juga mama," ungkap pria paruh baya itu.
"Tapi pah," ucapan Alvian terhenti kala Tania menepuk pundaknya.
"Jangan membantah, Al!" larang sang mama pula.
"Mama dan papa, lakuan ini demi kebaikanmu, sebelum kau benar-benar jatuh cinta kepada narapidana itu," ujar sang papa kian tegas.
__ADS_1
"Apa yang salah dengan Airin? Meski dia berada di dalam penjara, bukan berarti di penjahat, Airin tak sengaja melakukanya," jelas Alvian yang benar-benar membela Airin.
"Apapun alasanya, dan bagaimana pun ceritanya, dia tetap narapidana, andaipun dia keluar nanti, Airin tetap akan jadi mantan narapidana," ujar sang papa lagi.
Mendengar itu, Alvian hanya mampu tertunduk lesu, ia sebenarnya belum yakin prihal rasa yang ia punya. Apakah itu benar cinta untuk Airin, atau sebatas kasihan saja, hingga akhirnya polisi muda itu menyetujui, perjodohan yang sang papa ajukan untuknya.
"Semoga, gadis itu menentang perjodohan ini juga," harap Alvian dalam hatinya.
Sementara kedua orang tua Alvian, tersenyum bahagia, karena anak mereka menyetujui perjodohan yang mereka harapkan.
"Cantik, gak pah anak sahabat papa itu?" tanya si mama kepada suaminya.
"Cantik dong mah, anak pengusaha dan dia juga sekarang sedang kuliah di bidang hukum," si papa bercerita dengan begitu bangga.
"Masih kuliah? Apakah dia mau menikah dalam waktu dekat?" tanya si mama sedikit penasaran.
"Kita coba dulu. Anak gadis mana, yang akan menolak anak kita? Sudah tampan, mapan pula," puji sang papa dengan segenap rasa percaya dirinya.
Malam ini, si mama dan si papa bisa tertidur pulas. Namun tidak dengan Alvian, polisi muda itu, tak mampu memejamkan mata setiap menginggat perjodohan yang kedua orang tuanya rencanakan.
"Issss...," Alvian berdecak kesal.
Anak muda itu segara meraih ponsel pintar miliknya lalu menghubungi seseorang.
Benar saja, Alvian kini menghubungi rekan satu pekerjaan denganya, yang malam ini tengah bertugas.
"Masih di mana, Ton?" basa-basi Alvian pada temanya. "Gak suka ya, aku menelponmu malam-malam begini?" tambahnya kemudian.
"Suka dong, Al," jawab Toni bersemangat.
"Baguslah kalau suka. Jadi kamu gak ngantuk, kan aku temenin," ujar Alvian yang membuat Toni tertawa geli.
"Apaan sih, Al." Tawa Toni tak terkendali, entah apa yang lucu baginya, yang jelas ucapan Alvian membuatnya tertawa.
"Ih, kok ketawa sih? Aku mau minta tolong, nih!" Alvian mengutarakan maksud dan tujuanya menelpon temanya prihal apa yang kini tengah mengusik pikiranya.
"Aaah... gila kau, Al," Toni cukup terkejut mendengar permintaan Alvian.
"Ayoolah, Ton! Aku tidak bisa tidur kalau belum melihat wajahnya," pinta Alvian tanpa basa basi.
Bagaimana Toni tidak menggeleng heran, akan permintaan Alvian, sebab temanya tersebut meminta ia untuk memfoto wajah Airin.
__ADS_1
"Kalau ketahuan, gimana?"
"Ya jangan sampai ketahuan dong. Tolong ya!" titah Alvian sedikit memohon.
Dengan sedikit terpaksa, Toni pun segera beranjak dari tempat duduknya, untuk menuruti permintaan Alvian.
Ssssstt....
Toni berjalan pelan, menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan semua penghuni jeruji besi sudah tertidur, hingga tak akan ada yang melihat aksinya.
Ck...
Langkah Toni terhenti sebab ia melihat seseorang masih terjaga dan tengah duduk menyendiri di sudut ruangan tahanan.
"Ria.. kau belum tidur, ini sudah hampir pagi?" tanya Toni pelan, namun cukup terdengar jelas di telinga Ria.
"Aku sudah terbangun, pak. Bukan belum tidur," ujar Ria yang di sambut senyum dari bibir Toni.
"Ohh... begitu ya,"
Toni pun tersenyum penuh arti, ia segera mendekati Ria lalu menceritakan maksud dan tujuanya kepada Ria.
"Apa kau bisa membantuku?" tanya Toni.
"Baik, akan ku coba. Kemarikan ponsel anda!" titah Ria pula.
Ria pun segera mendekati keberadaan Airin lalu memfoto si cantik dalam keadaan tengah tertidur pulas. Setelah berhasil Ria pun memberikan kepada Toni, dan Toni pun mengirimkanya kepada Alvian.
"Katakan pada temanmu itu. Kalau suka jangan gengsi!" cetus Ria kepada Toni agar di sampaikan kepada Alvian.
Toni pun tersenyum penuh arti setelah mendengar ucapan Ria, ia pun benar-benar menyampaikanya ke rekan kerjanya itu.
Sedangkan Alvian menatap kelu, layar ponselnya sendiri setelah membaca pesan WhastApp dari Toni. Bukan hanya prihal kata-kata yang di sampaikan oleh Ria, tapi melihat foto polos Airin yang tengah tertidur.
"Dia benar-benar kelelahan," lirih Alvian.
Namun meski tertidur Airin tetap tampak begitu cantik, hal itu membuat Alvian semakin terpesona, akan keindahan yang di miliki Airin.
"Gadis malang. Bagaimana bisa, keluargamu benar-benar tak perduli terjadapmu, padahal kau selugu itu," batin Alvian sendu.
Setelah puas memperhtikan wajah Airin. Polisi tampan tersebut mencoba untuk memejamkan matanya, namun entah mengapa, bayangan wajah Airin semakin terbayang dalam benaknya, semakin ia coba memejamkan mata, bayangan wajah Airin pun semakin menggila.
__ADS_1
"Ya Tuhaaaan.... apakah aku benar-benar jatuh cinta?" tanya Alvian pada dirinya sendiri.