Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Sok Cuek


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Arfa modar-mandir, duduk tegak, duduk lalu tegak lagi, begitulah yang ia lakukan berkali-kali, tapi sudah 1 jam ia berada di sana, dokter belum juga keluar dari ruang UGD untuk memberi tahukan, keadaan Nayla.


"Fa, kok bisa, Nayla masuk rumah sakit?" Airin panik, baru beberapa hari Nayla di rumahnya, gadis itu kini justru harus menjalani perawatan yang cukup serius.


Jika sang mami menunjukan kepanikanya, karena Nayla tiba-tiba jatuh sakit, berbeda dengan Arfi, pria muda itu justru menatap wajah sang adik dalam-dalam.


"Katakan padaku! Apa kamu yang membunuhnya?"


"Heei, jaga ucapanmu! Mana mungkin aku akan membunuh kekasihku sendiri,"


"Mungkin saja, karena kamu menyimpan dendam kepada keluarganya,"


"Iya, tapi aku tak pernah memiliki niat untuk melenyapkan Nayla," jujurnya lirih anak muda itu langsung menundudukan tubuhnya di kursi.


"Tapi... tadi aku menemukan banyak darah di kamar Nayla, dan saat itu yang ada di rumah hanya kamu dan papi. Bisa jadi kamu tersangkanya, mana mungkin papi," jelas Arfi lagi.


"Haaah,"


Arfa tertunduk, ia memilih untuk diam sejenak, daripada berdebat dengan sang kakak. Yang ada dalam pikiranya kini, hanya Nayla dan terus Nayla.


"Tolong Tuhan, selamatkan dia! Sungguh aku menyesal, telah membuatnya terluka," lirih Arfa lagi, di dalam hati.


Dan 30 menit kemudian, barulah dokter keluar , dari dalam ruangan, ia menunjukan raut wajah sedih seraya menghapus peluh yang menetes di wajahnya.


"Bagaimana dok?" Arfi justru lebih sigap bertanya daripada Arfa.


'"Sepertinya, Nayla perlu di rawat sedikit lama, karena ia banyak mengeluarkan darah, karena goresan, luka di urat nadinya, untung tak sampai merenggut nyawa," pria tua berbaju putih itu pun menjelaskan, ia juga meminta agar memberi dukungan penuh terhadap Nayla sebab ia pun memberi tahu, jika gadis itu mendapatkan takanan batin yang amat dalam, karena sepertinya, dia menjadi korban p*l*c*h^n.


"Apa maksud anda? Nayla belum menikah," Arfi dan sang mami bingung tapi Arfa memilih untuk diam saja.


"Sepertinya, gadis itu menjadi korban pel*c*han s*xsual, itullah sebabnya dia berniat bunuh diri, karena batin dan mentalnya terluka." Tambah dokter itu lagi. Ia mengulang ucapanya.


"Haaah...,"


Arfi dan sang mami terperajat tak percaya, banyak tanya yang memenuhi benak keduanya. Arfi seketika langsung menatap wajah Arfa, sebab adiknya itu tak bergeming, saat dokter menjelaskan apa yang terjadi kepada Nayla.


"Ssyang," Airin menepuk pundak Arfa, yang seketika membuat anaknya itu terkejut.


"I_iya, mi. Ada apa?" gugupnya bahkan Arfa tampak gemetaran.


"Kamu kenapa diam saja?"


"A_aku;" Arfa menundukan wajahnya, sebab seketika saja ia tak sanggup untuk berbicara.

__ADS_1


"Fa.... jangan-jangan, kamu yang sudah merenggut kesucian, Nayla?" geramnya, Arfi menarik tubuh saudara kembarnya itu lalu meminta Arfa untuk menatapnya. "Katakan...!! kamulah yang membuat Nayla depresi, kan??" todong Arfi tanpa basa-basi, sebab sikap dan diam yang Arfa lakukan cukup menjawab pertanyaanya, karena Arfi paham adiknya akan membantah dan marah, jika dia di tuduh tapi tidak bersalah.


"Sayang, katakan yang sebenarnya!" kini si mama yang meminta.


"Sudahlah, mi! Jika dia diam, artinya IYA."


"Fa_____!!" kini nada bicara si mami meninggi.


"I_iya, mi. A_aku yang melakunya, dan aku menyesal,"


Arfa semakin tertunduk malu, ia tak berani menatap wajah sang mami dan juga Arfi.


PLAAAAK!


Sebuah tamparan mendarat keras di wajah Arfa. Si mami sungguh kecewa mendengar pengakuan anaknya, bukan hanya sang mami saja, Arfi pun menggeleng-geleng pelan, tak menyangka, jika adiknya yang sempat di bully culun dan cupu, nyatanya memiliki keberanian menhamili wanita, tanpa ikatan pernikahan.


"Kalau sampai Tito tau, kamu menghamili anaknya, sudah pasti akan jadi perselisihan besar lagi, dia akan mencari cara untuk melenyapkanmu,"


"Tito sudah tau, jauh sebelum kalian mengetahui, tapi aku sudah jujur sesaat setelah melakukanya," Arfa kini sedikit mengangkat kepalanya.


"Haaah, lantas?"


"Lantas, karena itulah, Tito mengusir Nayla, sebab anaknya lebih membelaku, bukan berpihak pada kedua orang tuanya. Nayla menyerahkan haknya kepadaku, tanpa ku paksa. Sebagai pria normal, siapa yang tidak tergoda, sebab kenyataanya Nayla memang semenggiurkan itu,"


Buuugh!


"Lalu, apa alasan Nayla menyerahkan harga dirinya kepadamu?"


"Karena dia merasa bersalah, atas sikap papanya yang telah membunuh opa dan oma kita, maka ia mempersilahkanku melakukan apapun! Asal aku tak sakit hati dan dendam lagi," ungkap Arfa lagi.


"Gila_____!"


Arfi menepuk pelan keningnya sendiri, karena sang adik selancar itu menceritkan kejadian dan kronologinya.


"Apa aku bersalah?"


"Tentu saja, meski tidak sepenuhnya,"


"Apakah aku akan di penjara?" tanyanya polos.


"Tidak, asal Nayla tak menuntutmu,"


"Tak ada alasan untuk dia menuntut. Seba dia sendiri yang mempersilahkan aku, melakukan semua itu,"


"Haaah!"


Lagi, Arfi menepuk berkali-kali pundak sang adik, bahkan ia tak segan menendang kaki Arfa juga.

__ADS_1


"Sakit begok!"


"Mana sakitnya dengan batin Nayla,"


Sementara itu si mami mendudukan tubuhnya di kursi, wanita yang usianya tak lagi muda itu, merasakan kepalanya pusing luar biasa. Karena tak menutup memungkinan, apa yang Arfa lakukan akan menimbulkan kembali api permusuhan.


"Silahkan, jika ada yang mau menemani mbak Nayla, tapi tolong bergantian ya!" seru seorang perawat.


"Baik,"


Dan kini, Arfa yang meminta untuk menjenguk Nayla lebih dulu, karena Arfi memilih untuk mengalah dari adiknya.


"Nay,"


Arfa duduk di samping Nayla, yang saat ini memang sudah membuka mata.


"Mau apa kamu ke sini? Harusnya kamu membiarkan saja, aku mati!"


"Aman, mau kamu bunuh diri 100x. Tapi, jika Tuhan belum menakdirkanmu mati, ya percuma, kamu gsk akan mati juga, tapi... namun kalau takdir matimu sudah tiba, sembunyi dimana pun, ya kamu tetap akan mati," ujar Arfa terkesan menasehati.


"Duh, ceramah! Kalau aku mati, kamu yang menanggung dosanya, karena aku terluka karena perlakuanmu,"


"Maaf, Nay!"


"Ohh, ada kemajuan ya! Bisa minta maaf juga rupanya!" tukas si cantik, seraya membuang muka, tak semudah itu baginya untuk memaafkan sikap Arfa.


Benar, jika beberapa hari lalu, memang ia yang mempersilahkan Arfa untuk melakukan apapun. Tapi tidak dengan pagi tadi, pria muda itu memperlakukanya bak boneka, yang tentu saja membuat batin Nayla terluka.


"Keluarlah! Aku muak melihat wajahmu!" usir Nayla.


"Ogah, aku tidak mau keluar,"


"Lalu, mau apa kamu di sini?"


"Memastikan, jika kamu tidak akan bunuh diri lagi;" jawab Arfa tulus.


Nayla melihat raut penyesalan dari wajah Arfa, bahkan binar matanya mengisyaratkan kesedihan, namun ia tetep bersikap acuh kepada wanita yang kini ada di hadapanya. Bukan karena tak cinta, tapi kini Arfa memiliki sifat gengsi yang cukup luar biasa.


"Jangan melukai dirimu lagi! Atau aku akan mengikat kedua tanganmu, agar kau tak bersikap bodoh dan berniat untuk bunuh diri lagi!"


Sebuah harapan, dari Arfa untuk Nayla, tapi ia mengatakan keinginanya itu, dengan nada bicara yang ketus, seolah acuh tak acuh.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH🤗


__ADS_2