
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Sepulang dari rumah sakit, Nayla langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Hari ini sungguh melelahkan, mengingat permasalahanya dengan Arfa, terlebih lagi, pria itu seolah tak perduli, saat ia memberitahukan, jika saat ini, Nayla tengah hamil.
Nayla menghela nafas berat, ia tak tau harus melakukan apa, dan seketika saja ia teringat akan ponsel miliknya. Benar saja, ada beberapa notifikasi pesan, yang datang beruntun dan itu semua, ternyata pesan, dari Arfa.
"Nay, dimana?"
"Sudah pulang belum?"
"Kamu lagi apa?"
"Haei, maaf ya! Kalau aku belum bisa jadi yang kamu mau.
"Sayang,"
Nayla mengerjabkan matanya berkali-kali, meyakinkan apa yang ia baca baru saja. Benar pesan dari Arfa yang mengirimnya, sebab bukan tanpa alasan Nayla tak mempercayai itu semua, karena kenyataanya hampir satu bulan ini, Arfa, benar-benar cuek padanya. Jangankan mengirim pesan terlebih dahulu, membalas pesan dari Nayla saja, Arfa seolah enggan melakukanya.
Hal itu, tentu saja membuat Nayla bingung, meski sebenarnya ia sangat bahagia, bila benar Arfa yang mengirim pesan untuknya. Namun, bagaimana, kalau ternyata yang mengirim pesan itu bukan Arfa, melaikan saudara kembarnya, sebab Nayla tau jika Arfi, juga menyukainya.
"Hmmmm...,"
Nayla berniat untuk membalasnya, tapi ia tak akan menunjukan sikap, senang dan bahagia, karena pada akhirnya, Arfa mau mengirim pesan padanya terlebih dahulu, bahkan dari pesan singkat itu, Arfa menunjukan rasa perdulinya kepada Nayla.
"NAYLA____!!"
Arfa mengirim pesan lagi.
"Apa??"
Balas Nayla bersemangat.
Tapi nyatanya, sejak pesan itu ia balas, Nayla tak kunjung mendapatkan jawaban, hingga membuatnya membuang nafas pelan.
Dan, 20 menit kemudian barulah Arfa membalas pesan Nayla tadi, pipinya langsung merah merona, senyumnya mengembang. Tapi senyum itu seketika berubah, kala ia membaca balasan pesan dari Arfa, yang membuatnya kembali kesal.
("Gpp," ) jawab Arfa singkat.
"Ihhhh," balas Nayla singkat pula.
("Kenapa?") Kembali Arfa bertanya singkat saja.
Nayla diam sejenak, ia tak berniat membalas pesan singkat itu. Karena nyatanya sikap cuek Arfa, membuat Nayla lelah, dan seperti itulah, menjadi bagian hidup Arfa memanglah tak mudah.
"Ih, kok cuma di baca sih?"
"Kenapa?"
"Marah, ya,"
"Kata mami, jangan sering marah-marah, nanti cepat tua lho!"
Nayla benar-benar tidak mengerti akan sikap Arfa, apa yang di lakukan pria muda itu membuat mood Nayla, tiba-tiba saja berubah.
"Apaan, sih.... gak jelas banget," balas Nayla spontan.
("Dih, beneran cepet tua, nanti,") goda Arfa lewat pesan singkatnya lagi.
"Terserah!"
__ADS_1
("Kamu masih marah?")
"Nggak___!"
("Ya, terus kenapa?"")
"Gapapa," balas Nayla singkat pula.
("Cewek itu, memang gini ya! Ribet banget perasaan,")
"Kalau cewek ribet, kenapa kamu pacaran dengan cewek?" balas Nayla lagi dengan decak kesal.
("Ya... karena sayanglah,") ketik Arfa lagi, dan seketikaa saja, ketikan Arfa tadi, membuat Nayla tersemyum membacanya.
"Gak tau," jawabnya sok jutek.
("Jangan marah lagi dong! Hm, kamu mau ku mau ku ajak, melihat bintang, tidak?")
"Eh, liat bintang dimana, lagian, hari sudah cukup malam?" Nayla bertanya.
("Apanya, yang dimana?")
Ya, tadi katanya mau, ngajak aku, liat bintang,"
("Ih, pede banget sih, siapa juga yang mau ajak kamu liat bintang, aku hanya bertanya. Kamu mau atau tidak?")
"Oh,"
("Oh.... doang?")
"Ya terus, maumu apa?"
("Terserah! Asal ada, kata sayangnya!")
"Dih... apaan sih? Ini Arfa atau bukan, aneh banget perasaan." decaknya heran.
("Kenapa? Aku makin romantis ya?") goda Arfa lagi, yang masih betah mengirim pesan melalui WhastApp.
("Dih, Nayla baper...... ya sudah. Cepat kedepan! Aku sudah pegal nih, sedari tadi berdiri di depan rumahmu!")
DEEEEG!
"Bagimana ini? Ini bener gak sih?" Nayla masih bingung, sebab ia tak yakin, jika benar ada Arfa di depan rumahnya, tapi ia tetap berusaha untuk memastikan.
Nayla pun langsung beranjak untuk menuju pintu utama rumahnya, berharap jika Arfa memang tidak berbohong kepadanya. Namun ketika ia sampai dan membuka pintu, ia tak mendapati siapapun di teras rumahnya.
"Huuuuf_____,"
Nayla pun membuang nafas berat, karena telah merasa di bohongi oleh Arfa.
"Cukup, Nay! Jangan lagi tertipu kepadanya, Arfa sudah berbeda, dia tidak menyayangimu lagi," harapnya di dalam hati, menguatkan diri sendiri.
Nayla masuk kembali ke dalam rumah, dan melangkah masuk. Ia berniat untuk merebahkan tubuh dan berusaha melenyapkan harapanya untuk Arfa.
"Laki-laki itu, memang sulit di percaya," grutunya.
Dan tiba-tiba saja, ponselnya yang sedari tadi ia genggampun, kembali berdering. Dan tentu saja Arfa yang mengirim pesan kepadanya.
("Percaya banget sama aku, yank. Sampai langsung turun kebawah,") pesan dari Arfa lagi.
Membaca pesan dari Arfa itu, membuatnya marah, kesalnya kian bertambah. Namun 5 menit kemudian, ponselnya kembali bergetar dan pengirimnya masih saja, orang yang sama.
*"Ya sudah, masuk kamar lagi sana! Lagi pula, akunya juga tidak ada,") pesan Arfa lagi.
Nayla mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak membalas pesan dari Arfa, ia langsung kembali menuju kamarnya, yang tinggal beberapa langkah lagi. Tak ada semangat lagi bagi Nayla, membuka pintu kamar saja, rasanya enggan luar biasa, Nayla berjalan gontai karena ia masih lemas, sebab nyatanya ia kini memang sedang tak baik-baik saja.
Sssstt...
Si cantik mengeryitkan wajahnya, kala melihat sesuatu di atas meja kamarnya, Nayla pun penasaran dan segera membukanya, dan isinya satu porsi bubur ayam dan masih hangat.
__ADS_1
("Ke balkon!") titah Arfa lagi melalui pesan singkat.
Meski kesal, Nayla tetap mengikuti arahan pesan dari Arfa, ia pun perlahan membuka pintu balkonya, dan Nayla pun terkejut sesaat sudah berada di balkon, sebab ia melihat kehadiran pria, yang sedari tadi, membuatnya kesal luar biasa. Arfa tengah duduk santai di balkon yang berada di kamarnya.
"A_Arfa," panggilnya gugup dan bercampur tak percaya, jika Arfa benar ada di hadapanya.
Arfa pun menoleh.
"Apa? Sudah belum kesalnya?" ujar Arfa seraya tersenyum manis.
Nayla masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Ka_kamu, benar Arfa, kan?" Nayla memastikan.
Arfa pun tertawa pelan, mendengar pertanyaan dari Nayla. "Menurutmu, aku penyusup gitu.
"Em, ma_mau ngapain?"
"Temenin kamulah,"
"Bagaimana caranya, kamu bisa ada di sini?"
Karena benar saja, Nayla sendiri bingung, bagaimana bisa, Arfa tiba-tiba sudah ada di balkon kamarnya
"Sudah, jangan bawel dan banyak tanya, daripada kamu bingung mikirin, gimana aku bisa ada di sini. Mending kamu makan saja bubur hangatnya, mumpung aku sedang baik hati,"
"Eh, tapi duduk dimana? Kursi di sini hanya ada satu,"
"Duduk di pahaku, sini!"
"Ih, ga deh! Lagi pula, badanku berat,"
"Gapapa, hitung-hitung persiapan setelah nanti kita menikah," jawab Arfa serata meyunggingkan senyum.
Nayla masih menahan senyumnya, ia berusaha untuk tidak luluh akan semua perlakuan Arfa yang tiba-tiba, meski sebenarnya ia sudah ingin sekali beteriak.
"Hei, ini sebenarnya, Arfa atau bukan, beda sekali, sikapnya?"
"Kamu ga perlu tahu siapa, aku! Soalnya, aku berbahaya, bisa bikin orang jatuh cinta," ucapnya percaya diri. "Lagi pula, aku bukan Arfa, tapi tukang kebunmu yang baru,"
"Mana ada, tukang kebun kayak kamu,"
"Lah, memang aku kenapa?"
"Em, eh... hmm... ya, ya itu____ Cakep," Nayla gugup bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
"Adalah... aku orang cakep pertama, yang berprofesi sebagai tukang kebun," canda Arfa lagi.
"Kalau gitu, aku siap deh jadi ARTnya, kalau tukang kebunya kamu."
"Bagus, memang cocok sih. Tapi kalau begitu aku yang berhenti jadi tukang kebun."
"Yaaah... kenapa?"
"Bahaya, mana ada yang tahan, kalau ARTnya, semanis dan secantik ini,"
Dan, ya.... akhirnya Nayla tertawa juga, runtuh sudah benteng pertahananya untuk tidak tersenyum apa lagi tertawa. Rasanya sikap cuek dan menyebalkan yang Arfa lakukan, seolah sirna dalam waktu sekejab, Nayla berharap Arfa akan terus bersikap seramah ini.
Meski sebenarnya Nayla heran, sebab sikap dan cara Arfa, memang sulit untuk di tebak. Namun ia tetap bahagia, mensyukuri perhatian yang Arfa beri untuknya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai kak, jika berkenan, tinggalkan like, komen dan hadiah... Karena pembacaku lebih dari 37 ribu perhari, tapi likenya kok kagak ada yak😆😆❤.
Terima kasih.