Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 12 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Tidak ada kata yang tepat, untuk melukiskan perasaan Arfi pagi ini. Antara senang atau bingung harus melakukan apa, jika nanti bertemu Cia. Gadis yang kemarin sore mengungkapkan perasaanya. Gadis yang kemarin sore, sukses membuat Arfi sulit terlelap.


"Ya ampun, anak Mami harum sekali pagi ini," goda Airin kepada anaknya. Karena memang benar, tadi tanpa sadar, Arfi menyemprotkan parfum banyak sekali ke bajunya.


"Ihh, masa sih, Mi?" Arfi seketika salah tingkah.


"Udah tidak apa-apa, harum lebih baik dari pada bau busuk. Semangat, semoga berhasil!" kini Papi yang berbicara. Ucapanya terkesan seperti alibi menurut Arfi.


"Papi ngomong apa sih? Lebay banget deh!"


"Lebay dari mana sayang? Papi dan Mami juga pernah muda, kalau mau kemana-mana pake minyak wangi, biasanya sih sedang jatuh cinta."


Arfi mendadak kelu, tak tahu harus membalas apa atas godaan sang Papi baru saja. Pasalnya Arfi sendiri tidak yakin, apakah kini ia sedang jatuh cinta?


"Dah, Mi, Pi... aku ke kantor dulu!" secepat kilat Arfi melesat menjauh dari keberadaan Mami dan Papi. Karena ia merasa kedua orang tuanya itu tak akan berhenti untuk mencandainya.


Ssst. Berkali-kali Arfi mencium tubuhnya sendiri. Ia baru sadar jika kini, badanya memang sangat lah wangi.


"Masa sih, aku suka, Cia? Tapi kayaknya nggak deh." Arfi bertanya sendiri dan menjawab juga sendiri. Tapi memang begitu kenyataanya. Tapi memiliki rasa, namun masih sulit ia artikan. Suka atau Cinta?


.


.


.


***


Jam sembilan pagi, Arfi baru tiba di kantor. Ia sengaja datang lambat hari ini, karena tengah menatrlaisirkan hati, yang ia sendiri tidak mengerti. Bahkan saat ia melihat Cia melangkah mendekat ke arahnya. Jantung Arfi berdegup kencang luar biasa.


"Pak, aku izin ya!" Cia bersikap seolah tak terjadi apa-apa kemarin sore.


Arfi mengangkat kedua alisnya. "Memang mau pamit kemana?"


"Ke kampus sebentar, nanti aku langsung otw ke sini lagi,"


"Oh, hati-hati!" tukasnya spontan. Tanpa sadar ia langsung menutup mulut dengan telapak tangan.


"Makasih, Pak... sudah perhatian!" gadis itu malah menggoda kecil.


Jari jemarinya terkepal keras namun ia tetap berusaha tersenyum. Setelah itu ia melesat pergi dan hilang detik itu juga dari hadapan Cia. Berbeda dengan Cia sendiri, ia sangat bahagia atas sikap Pak Arfi pagi ini.

__ADS_1


"Aku yakin, pelan-pelan, itu duda... pasti bakal buka hati buat aku," lirih Cia percaya diri. Tentu saja ia berkata demikian, contohnya saja pagi ini, sangat jelas sekali kalau Arfi gugup berhadapan dengan Cia.


Ck


Arfi menyandarkan tubuhnya di kursi. Seraya sesekali mengacak-acak rambutnya sendiri. Sekatika ia pun teringat Arfa dan menceritakan apa yang kini tengah ia alami.


"Bagus dong, artinya... kamu bisa move on dari, Sisi," Arfi membuka suara melalui sambungan telepon.


"Bagus apanya? Apa perasaanku ini tidak akan menjadi masalah dan aku juga belum yakin, kalau aku jatuh cinta kepada gadis bernama Cia itu."


"Ooohhhhhh.. namanya, Cia. Imut banget, ya!'


"Gak ada imut-imutnya, tu cewek kelakuanya buat ancur dunia," celoteh Arfi lagi.


"Hiyaaah, tuh kamu paham sifat dia. Artinya diam-diam kamu perhatiin, Cia."


"Ah males banget curhat sama kamu. Bukanya dapet solusi malah di candaain begini." Arfi mendengus kesal, ia langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Sementara Arfa yang kini jauh di sana, tertawa terbahak-bahak..... karena menurutnya Arfi tadi menggemaskan sekali.


Masih dengan rasa kesalnya, Arfi menengelamkan diri dalam lamunan. Bayangan betapa cantiknya Cia, senyum yang mempesona. Aktif dan selalu berpikir positif, adalah sedikit hal yang membuat Arfi menyukai. Ksrena terlalu fokus merenung, ia sampai tak perduli, jika ada karyawan harus minta tanda tangan. Bahkan sampai jam setengah sebelas siang, ia masih terpaku dan membatu.


Ceklek!


Pintu ruangan pun terbuka, siapa lagi jika bukan Cia yang membukanya. Hanya dia yang berani menghadapi Arfi dalam kondisi apapun.


"Muhehehe," Cia malah tertawa pelan. "Aku baru ingat, kalau siang ini... Kakak' ku harus interview."


"Oh iya, ya. Terus dimana Kakakmu itu?"


"Kata Bapak, harus jam sebelas tepat. Nggak boleh terlalu cepat apa lagi lambat." Cia mengulangi titah Arfi kemarin.


Pria itu hanya menghela napas sebal. Kali ini ia memilih diam saja, setelah itu tatapanya menajam ke arah Cia. Entah kenapa, ia ingin sekali mengintrogasi gadis ini.


Arfi ingin memastikan. Apakah Cia benar-benar menyukainya? Hal apa yang membuat Cia jatuh cinta? Apakah Cia siap, harus setia? Apakah Cia bisa sabar menghadapi sikap tempramen'nya? Aaah... bisa-bisanya pertanyaan ini muncul dalam benak Arfi. Yang jelas, ia hanya ingin memastikan.


"Bapak kenapa, kok diem?"


"Kalau kamu jadi pacar saya. Apa kamu akan memanggil saya Bapak-bapak terus?" ia tak menjawab malah balik bertanya kepada gadis itu. Pertanyaan Arfi sukses membuat Cia tersipu malu, pipinya memerah dengan debaran dada tak karuan.


"Memang, Bapak mau'nya di panggil, apa?"


"Terserah!"


"Masa mau di panggil, terserah, sih?" Cia terus bercanda.

__ADS_1


"Maksud saya, suka-suka kamu saja. Mau panggil apa, asal jangan Bapak-bapak!"


Buhhahahahaha! Sungguh, Cia tak bisa menahan tawa, ia geli sendiri mendengar permintaan Arfi. "Tapi, Pak, kita kan, belum resmi jadian, artinya nggak masalah dong, di panggil, Bapak?"


Bak anak kecil yang di nakali anak lain. Arfi spontan menghentakan kaki ke lantai berkali-kali. Runtuh sudah wibawanya di hadapan Cia. Karena kenyataanya, Arfi terlihat seperti anak TK.


"Eeh, Pak- Pak- mau kemana?" Cia sedikit berlari untuk mengejar langkah Arfi yang berniat pergi. "Bapak, marah? Kan aku hanya bercanda."


"Ga lucu!"


"Kalau kita resmi pacaran, aku akan memanggil anda, sayangku, cintaku, kasihku, manjaku dan segala-galanya buat aku." cerocos Cia, semenggemaskan mungkin.


Tak tahan, karena kali ini Cia memang lucu menurut Arfi, apa lagi saat Cia berucap seperti tadi. Arfi seakan mendapatkan hiburan dan ia spontan mengembangkan senyuman.


"Kamu cantik, tetap seceria ini ya!" lirih Arfi ia berbisik pelan di telinga gadisnya.


Bak jarum jam yang berhanti berdetak. Begitulah kondisi jantung Cia saat ini, dalam waktu sekejab, Arfi bisa membuatnya terlena sedalam ini.


"A-apa artinya, kita sekarang pacaran?" tanyanya sangat gugup.


"Menurutmu bagaimana?"


"Aku butuh penegasan!" ucap Cia menekan.


"Kita jalani saja dulu! Kalau nanti kamu merasa tidak nyaman. Saya akan melepasmu!"


"Haah. Semudah itu?"


Tak pernah Cia duga dan tak pernah Cia sangka. Jika Arfi menjawab tanya dengan perbuatan bukan ucapan. Satu ke cupan merdarat aman, di bibir merah milik Cia. Gadis itu membeku dan diam seribu kata. Arfi adalah pria pertama yang berani menyentuh bibirnya.


Ceklek! Di saat bersamaan, pintu rungan pun terbuka.


"Kakak..."


Sisi mematung, Cia pun bingung.


.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2