
Alvian mendudukan tubuhnya di kursi, menunggu sang mama yang tengah bericara empat mata dengan Airin di dalam ruangan.
"Aku harap, mama tetap bisa membantu gadis itu," lirih Alvian di dalam hati.
Sementara Tania kini memang berbicara cukup serius dengan Airin.
"Apa yang membuat kedua orang tuamu, tak perduli sama sekali?" tanya wanita paruh baya itu penasaran.
"Mereka memang tak menyukai hubunganku dengan Nino, sejak awal mama dan papa memintaku untuk menjauhi Nino. Tapi aku tak perduli, sebab selama aku bersama denganya, Nino benar-benar baik dan perhatian kepadaku, namun kenyataanya setelah 4 tahun bersama, dia justru berselingkuh dan tegasnya selingkuhanya itu tengah hamil, karena mereka melakukan hubungan terlarang sebelum menikah," jelas Airin panjang lebar.
"Astaga, jadi orang tuamu kecewa, itu sebabnya mereka benar-benar abai dengan nasibmu,"
"Iya," Airin tertunduk sendu.
"Sesalah apapun seorang anak, seharusnya orang tua tak berhak menghakimi separah ini," ujar Tania.
"Mereka pasti malu tante, karena aku mendekam di dalam penjara. Papaku takut jika reputasinya buruk, dalam dunia bisnisnya," tambahnya.
"Ya ampun... aku makin membenci orang tuamu, karena lebih perduli harta dan nama baik, daripada anaknya sendiri," kesal Tania setelah mendengar cerita Airin.
Kini gadis itu hanya membisu dan tertunduk malu, tak seharusnya ia menceritakan aib dan keburukan kedua orang tuanya, namun keadaan harus memaksa Airin bercerita, sebab Tania berhak tau, hal yang membuat kedua orang tua Airin tak perduli sama sekali.
"Rin, tante bisa membantumu, tapi bukan untuk membebaskanmu, sebab walaupun kau tak sengaja, tapi kau tetap bersalah dan mengakibatkan orang terluka bahkan anak dalam kandungan Dini meninggal," jelas Tania membuat Airin semakin terpukul.
"Maaf!" ucap Airin pelan.
"Tenanglah! Aku bisa membantumu untuk miringankan masa hukuman," Tania menenangkan.
"Terima kasih tante, semoga kebaikan anda mendapat imbalan sebanyak-banyaknya dari Tuhan," Airin berucap tulus.
Tania tersenyum simpul, ia benar-benar tulus membantu Airin, tapi menerima gadis itu menjadi menantu, adalah hal yang sangat mustahil. Alvian polisi sedangan Airin narapidana, hal itu sungguh sulit untuk di persatukan, terlebih lagi tak ada restu dari sang papa.
"Rin, tante keluar ya, kau cepat sembuh dan pulih lagi, jangan banyak pikiran!" titah Tania lalu keluar dari ruangan.
Airin mengangguk pelan seraya menatap langkah Tania yang keluar dari ruanganya di rawat.
"Pulang, Al, jangan terlalu lama di sini!" ajak Tania pada sang anak.
"Aku harus kekantor dulu, mah," jawab Alvian tegas.
"Baiklah kalau begitu. Jangan terlalu dekat dengan gadis itu, sebab kalau papamu tahu, itu justru membahayakan Airin," jelasnya.
"Iya mah, aku akan lebih jaga jarak,"
__ADS_1
Alvian berbohong, meski ia berucap demikian pada sang mama, namun nyatanya ia tetap ingin selalu ada untuk gadis itu.
***
"Rin,"
"Iya,"
"Aku pergi ya, kalau kau butuh apa-apa suruh polisi di depan untuk menghubungiku!"
Titah Alvian sebelum pergi, dan Airin mengangguk mengerti.
"Aku bersyukur di pertemukan denganmu," batin si cantik sendu.
Sementara Alvian sudah berada di jalan untuk menuju ke kantor, polisi muda itu tak lupa, jika ada pertemuan dengan kepala kepolisian.
Ssssstt....
Alvian menghentikan laju mobilnya sebab ia sadar ada mobil yang sejak tadi mengikutinya.
"Siapa kalian?"
Alvian menatap heran, karena benar saja mobil itu terhenti setelah ia menghentikan mobilnya. Dan turunlah 4 orang pria yang kini mendekati keberadaanya.
"Benar. Kalian siapa?"
Alvian memundurkan langkahnya sebab 4 orang yang berwajah sangar dan berbadan kekar itu semakin mendekati keberadaanya.
"Ternyata anak pak jaksa, seorang polisi," cetus salah satunya lagi dengan tatapan benci ke arah Alvian.
"Maksud kalian apa?" Alvian mulai memasang ancang-ancang untuk mengeluarkan senjata yang berada tepat di pinggangnya.
"Aku membenci orang tuanmu, sebab papamu sudah menuntut papaku untuk di tahan seumur hidup," jelas seorang pria yang usianya setara dengan Alvian.
"Papaku jaksa, dia tak mungkin menuntut siapapun dengan sembarangan, pasti ada kesalahan yang tak bisa termaafkan, hingga papamu di penjara seumur hidup," jelas dan jawab Alvian pula.
"Sok tau...," jawab pria tersebut spontan lalu memerintahan teman-temanya untuk menyerang Alvian.
BUUGH!
Sebuah tinjuan mendarat aman di wajah Alvian, hingga darah segar pun keluar dari hidungnya.
"Ah... sialan!"
__ADS_1
Emosi Alvian pun tak terkendali, hingga terjadilah perkelahian sengit di antara mereka. Bahkan tangan Alvian pun berdarah karena goresan benda tajam yang salah satunya hujamkan.
"Berhenti... atau kalian ku habisi!" ancam Alvian tak main-main, polisi muda itu mengarahkan pistol tepat ke arah mereka berempat.
"Sial... beraninya mengancam," ceplos mereka kesal, setelah itu memilih pergi dan meninggalkan keberadaan Alvian.
"Awas kau... urusan kita belum selesai!" ucap salah satunya terkesan mengancam. Dan mereka pun segera berlalu dan melajukan mobil dengan kecepatan tak biasa.
"Kalian salah berurusan denganku," grutu polisi muda itu.
Alvian pun mencatan plat mobil para pengancam itu dan meminta rekan-rekanya untuk bertindak.
"Jadi mereka berniat membunuhmu?" tanya Toni setelah Alvian tiba di kantor.
"Sepertinya begitu. Dari apa yang dia jelasankan, masalah mereka dengan papaku, tapi berniat menghabisiku dulu,"
"Ya ampun, ini harus cepat di selesaikan," tambah Toni.
"Benar, karena bukan aku saja yang terancam, pasti mama dan papa juga akan menjadi target mereka,"
Toni pun terdiam, ia segera mengajak rekan-rekan kepolisian untuk segera bertindak. Sementara Alvian masuk kedalam ruangan untuk bertemu dengan kepala kepolisian.
Di dalam sana, ada beberapa hal yang di bahas antara Alvian dan beberapa temanya bersama kepala kepolisian. Mereka sedang membicarakan prihal penangkapan gembong narkoba dan para pengedarnya.
"Aku sudah mengetahui salah satu sindikatnya. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melakukan penangkapan," jelas Alvian.
Beberapa rekanya menatap lekat wajah Alvian, mereka penasaran dengan sindikat yang di maksud dengan Alvian itu.
"Nino Aditia, dia adalah salah satu sindikat terbesar dan ternama," ungkap Alvian kemudian.
"Haaaah... Nino...?!" mereka menatap Alvian tak percaya.
"Iya, Nino, pelapor saudari Airin, aku sudah menyelidikinya diam-diam, maka tinggal kalian yang harus menyelidiki dan bertindak juga,"
Kepala kepolisan dan rekan-rekanya semakin lekat menatap wajah Alvian. Polisi muda itu memang sudah berkali-kali memecahkan kasus besar.
"Lakukan penyelidikan secara menyeluruh, dan tangkap mereka di saat dan waktu yang tepat!" perintah kepala kepolisian kepada jajaranya yang kini berada di dalam ruangan.
"Siaaap.. laksanakan." Tegas mereka bersemangat.
"Laksanakan....!!"
Mereka pun menyusun setrategi untuk menyekidiki kasus ini dan bebepa pihak penyelidikpun di turunkan. Kasus ini bukan kasus kecil, tapi kasus yang sudah meresahkan dan merusak anak-anak bangsa, mereka harus di brantas dan di tuntaskan sampai akar.
__ADS_1
"Harapku tetap sama, agar Nino segera di tahan, supaya dia merasakan dinginya lantai jeruji besi," lirih Alvian dalam hati.