
ANTARA DENDAM DAN CINTA
Polisi Sang Penakluk Hati Season2.
☡Selamat Membaca☡
"Aw___,"
Rintih Arfa lirih, setelah tadi mendapat amukan dari Tito dan Dimas, banyak pukulan yang di daratkan, baik di perut ataupun wajah, hingga wajah Arfa memberu semua.
"Kita ke rumah sakit,"
"Tak perlu. Antarkan aku pulang saja!"
"Baik,"
Nayla menuruti apa yang Arfa katakan, ia memacu kendaraan menuju ke rumah pria yang telah merenggut ke sucianya. Ada hal yang membuat ia tak bisa marah meski sebenarnya Nayla kecewa atas perlakuan Arfa kepadanya.
"Pelan-pelan!"
Si cantik membantu Arfa turun dari mobil, lalu membawa pria muda itu masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri," ujarnya ketus, yang tentu membuat wanita itu tertunduk.
Nayla mengikuti langkah Arfa, dari belakang dan tentu saja teriakan histeris ia dengar saat Arfa sudah masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu babak belur begini?" panik Airin lalu meminta Arfa duduk di sofa.
Secepat kilat si mami mengambil air hangat untuk mengompres, lebam di wajah anaknya. Pelan-pelan Airin membersihkan darah yang sudah mengering di bagian bawah bibir Arfa.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu berkelahi di jalanan?" kini Arfi yang bertanya lalu menatap tajam wajah adiknya.
"Tanya saja ke dia!" Arfa menunjuk wajah Nayla.
"Siapa dia?"
"Namanya Nayla, papahnya yang sudah menghajarku,"
Arfa tak perduli, bahkan ia di hajar oleh Tito karena membela wanita yang kini ada di hadapanya.
"Memangnya dia siapa?"
"Pacarku," jujurnya.
"Haaah, pacarmu? Lantas kenapa kamu di hajar papahnya?"
"Papah dia kejam mi, jangankan aku, anaknya saja di tampar,"
__ADS_1
"Lho kok bisa?"
"Karena, Nayla mencintaiku tapi si tua bangka itu tidak setujuh,"
"Huus, kamu ini! Bagaimana pun, itu orang tua Nayla," Arfi menepuk pundak adiknya.
"Awww, sakit bogo," grutu Arfa kemudian.
Malam itu Arfa mengatakan semua hal dan siapa Nayla? Namun meski wanita itu anak dari orang yang telah membunuh kedua orang tua sang papi, tapi Arfa tetap menyukai Nayla. Satu hal yang belum ia katakan, jika sore tadi ia telah mereggut kesucian Nayla.
"Hah," lirih Airin menatap Nayla penuh selidik.
"Maaf tante! Meski aku anak dari orang yang sangat Arfa benci, tapi aku tak tau sama sekali, prihal kelicikan papa," jujurnya lalu menunduk.
Airin menarik nafas kasar, ia memandangi Nayla dalam-dalam, bahkan wanita paruh baya itu, menangkap jika Nayla anak baik-baik.
"Tidurlah, hari sudah larut malam!"
Meski tak menunjukan wajah ramah, Airin menerima kehadiran Nayla di rumahnya, karena ia sedih, gadis itu di usir dari rumah karena telah memilih Arfa.
"Terima kasih, tante," ujarnya.
Malam ini, Nayla tidur di rumah Arfa, namun ia tak bisa memejamkan mata, itu sebabnya dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, ia bisa mendengar percakapan antara Arfa, Arfi dan sang mami.
"Bagimana bisa, kamu mencintai gadis, yang kamu tau, jika papanya pembunuh opa dan oma'mu?" tansya Airin pelan.
"Namanya cinta, mi, kan gak bisa di duga. Awalnya aku berniat hanya untuk membalas dendam saja, tapi justru aku terbawa rasa dan jatuh kepada Nayla," ungkapnya.
"Jangankan Arfa, yang bertemu Nayla setiap hari, aku yang sekali-sekali berjumpa saja, sudah memiliki rasa suka," ujar Arfi dalam hati seraya terus mendengarkan pembicaraan antara Arfa dan sang mami.
"Ya sudah, kamu tidur dulu, biar kakakmu yang antar kamu ke kamar,"
"Ih ogaaah, aku bisa ke kamar sendiri,"
"Ihh, siapa juga yang mau antar kamu,"
Si kembar pun langsung beranjak dan masuk kedalam kamar masing-masing, sementara Airin mendekati sang suami, yang masih melakukan aktifitas seperti biasa. Menatap bintang malam dari jendela rumah.
"Mas, ayo ke kamar!" ajak si mami kepada sang suami. Namun Alvian menggeleng cepat.
Airin pun meninggalkan sang suami sendiri, ia menuju ke dapur untuk membuatkan sang suami teh hangat. Dam saat itulah, Nayla membuka sedikit pintu kamarnya, ia pun memperhatikan pria paruh baya, yang tak lain papi dari Arfa dan Arfi.
Ssssttt.....
Nayla menghela nafas pelan lalu membuang perlahan, kala mendapati pria paruh baya bernama Alvian itu, berkali-keli membenturkan kepalanya di dinding rumah.
"Aaaaaahhh___!"
__ADS_1
Rintih si papi sedikit kasar, ia menarik-narik rambutnya sendiri, dan sesekali menghela nafas berat.
"Mass...,"
5 menit kemudian si msmi pun datang, ia langsung meletakan teh hangat buatanya lalu memeluk tubuh sang suami.
"Sakit,"
Kata-kata itulah, yang keluar dari bibir sang papi, kala sang istri memeluk dan mendekap hangat tubuhnya.
"Jangan di ingat, mas! Jika itu membuat batinmu sakit lagi. Mama dan papa pasti sedih jika kamu terus begini," bisik Airin pelan di telinga suaminya.
Mendengar itu, Nayla yang sedari tadi memang masih memperhatikan mereka, perlahan menutup pintu kamar, ia pun langsung menangis sesenggukan di dalam sana. Nayla merasa sedih luar biasa melihat kekacauan di keluarga Arfa.
"Wajar, Arfa sedendam itu kepada papa. Apa yang di lakukan papa, membuat mental papi Arfa hancur," lirihnya pelan.
Nayla meraih poselnya di atas meja, ia menghubungi salah satu anak buah sang papa yang sudah hampir 10 tahun bekerja untuk keluarganya.
"Hallo mbak,"
"Halo pak Wildan, apa bapak sedang sibuk?"
"Tidak, ada apa, ya mbak? Dan kenapa mbak Nayla tidak berada di rumah?"
Setelah menjawab pertanyaan pak Wildan, Nayla tak mau berbasa-basi lagi, ia pun segera menanyakan, apa yang di lakukan oleh sang papa, untuk membunuh Opa dan Oma dari Arfa dan Arfi, lalu apa alasanya dan penyebab sang papa melakukanya.
"Apa karena perebutan, harta?"
"Bukan, mbak,"
"Lalu?"
Wildan pun akhirnya menceritakan, semua rahasia Tito kepada Nayla. Dan apa yang di lakukan oleh Tito beberapa tahun lalu.
"Lanjutkan pak,"
Wildan mengungkap, hal yang membuat Tito harus membunuh Nyonya Tania dan Pak Reyhan bukanlah karena harta, melainkan karena masalah pribadi.
"Pak Reyhan adalah seorang jaksa, ia menvonis hukuman mati, kepada kakek mbak Nayla, karena melakukan pembunuhan berencana, kepada karyawanya sendiri, kebetulan yang mengungkap kasus itu anaknya Alvian, yang saat itu menjadi seorang polisi. Karena hal itulah, papah mbak Nayla membunuh pak Reyhan dan kebetulan di dalam mobil tersebut ada istrinya, akhirnya mereka meregang nyawa bersama." Jelas Wildan pajang lebar melalui sambungan telepon.
Penjelasan tersebut sudah cukup untuk membuat Nayla paham. Jika sang papah membunuh opa dan oma si kembar karena sebuah dendam. Dan kini dendam itu semakin membesar, sebab pada akhirnya perbuatan Tito, menimbulkan dendam juga pada diri Arfa.
"Pada kenyataanya, dalam kasus ini memang keluarga papah, yang memulai terlebih dahulu. Tapi Arfa tak menanggapi dengan dewasa, hingga ia memiliki dendam pula," ucap Nayla di dalam hati. "Kasus ini harus ada yang mendamaikan, jika tidak akan terus berlanjut sampai kapanpun," tambahnya lagi.
.
.
__ADS_1
.
Terima kasih.