Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Pembelaan Arfi dan Panik Arfa


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Sisi yang merasa kesal, menjambak rambut Lili berkali-kali, hingga hal itu membuat ia di panggil oleh kepala sekolah.


"Berapa kali kamu membuat masalah di sekolah ini?" tanya pak Surya emosi, Surya adalah kepala sekolah Sisi.


"Maaf pak! Saya khilaf,"


"Selalu khilaf... apa kamu sudah lupa? Cara bersikap yang baik dan benar?"


Sisi mendapat omelan dan kemarahan kepala sekolahnya, bahkan banyak kata-kata yang Surya ucapkan dan sangat melukai batin gadis tersebut. Mulai dari tak tahu diri hingga pembuat onar.


"Kamu gratis bersekolah di sini. Setidaknya, jaga etikamu!"


Sisi hanya diam saja, meski ia tak terima akan semua ucapan kepala sekolah untuknya. Gadis itu memilih untuk membisu dam membiarkan Surya mengucapkan apapun kepadanya.


"Sekali lagi, kamu buat rusuh. Maka tak segan aku akan mengelurkanmu!!' ancamnya.


BRAAAAAK!


Seseorang menendang pintu ruangan dimana Sisi di marahi habis-habisan... dan dialah Arfi yang kini menatap tajam ke arah Surya.


"Saya juga, bisa menuntut anda. Karena telah tidak adil meperlakukan siswa-siswanya di sekolah!" ancam Arfi pula.


"Hei, siapa kau? Beraninya mengancamku!" emosi Surya pun kian menggila.


"Namaku Arfi dan aku seorang polisi. Tadi.. sebelum masuk ke ruangan ini, aku bertanya kepada beberapa siswa, tentang duduk perkara kasus ini. Dan mereka mengatakan jika Sisi hanya emosi, karena siswa anda yang bernama Lili telah menghina dan merendahkaya!!" tegas Arfi lalu meraih tangan Sisi untuk berdiri di sampingnya.


"Ma_maksud anda?" Surya seketika gugup.


"Banyak saksi, mereka semua mengatakan yang sejujurnya. Karena.. jika ada yang memberikan keterangan palsu, maka siap-siap akan masuk ke dalam penjara." Tegas Arfi lagi.


Karena hal itulah, membuat Surya ciut nyalai dan dengan terpaka ia meminta maaf kepada Sisi, bukan itu saja, Surya memerintahkan Lili untuk meminta maaf juga.


"Maaf, Si!" pinta Lili terpaksa, namun dalam hati ia sudah memiliki rencana untuk mecelakai Sisi.


Si cantik pun tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sisi menarik tangan Arfi lalu mengajak polisi itu untuk keluar.


"Kak, terima kasih,"


"Sama-sama," jawab Arfi singkat.


"Hmm, kakak tau aku ada masalah, dari siapa?"


"Satpam sekolah, selepas mengantarmu tadi, aku memberikan no penselku padanya, jadi jika ada apa-apa denganmu, dia bisa menghubungiku," jelasnya.


"Haah? Perhatian banger sih, kak," goda Sisi seketika.


"Dihh, apaan,"


Polisi muda itu berjalan menjauhi keberadaan gadis itu dan Sisi pun langsung mengejarnya, ia mengikuti kemana pun Arfi melangkah.

__ADS_1


"Aku harus kembai bertugas," ujar Arfi seraya mendekati mobil miliknya.


"Ikut dong,"


"Aku kerja, bukan jalan-jalan! Ngapain ikut?"


"Jam sekolahkan sudah usai, antar aku pulang saja, jika kakak tak mengijinkan aku ikut,"


"Ya sudah. Masuk!"


Lagi, sepanjang perjalanan keduanya memilih untuk diam saja. Sisi sibuk memainkan ponsel pintar miliknya.


"Chat siapa? Pacarmu, ya?"


"Haah, pacar? Gaaak lah... aku jomblo sejati," ujar Sisi tersenyum.


"Masa...?"


"Iya'lah," Sisi berucap jujur.


Penegasan Sisi yang mengatakan jika dia masih sendiri. Entah mengapa membuat Arfi bahagia, bahkan sesekali ia memperhatikan gadis mungil itu yang sibuk dengan handpone'nya.


"Sampai!' seru Arfi lalu turun dari mobil.


"Sampai dimana, kak? ini bukan rumah kos'ku;" decak Sisi heran.


"Semua bajumu, sudah pindah ke apartteman ini, aku meminta anak buah Arfa memindahkanya,"


"Haaah, kok bisa?"


"Ihhh, kakak mau suruh aku pindah, tapi kenapa gak bilang aku dulu?"


"Gaaak penting, karena kamu harus ikuti semua perkataanku, jika ingin ku bantu memecahkan kasusmu!"


"Ba_baik,"


Tak ada pilihan baginya, kecuali memenuhi semua permintaan Arfi. Lagi pula Sisi tak di sulitkan hidupnya, karena nyatanya Arfi justru memfasilitasi semua kebutuhanya.


"Ayo masuk!"


Arfi menarik kasar tangan Sisi.


"Santai dong, kak!"


Namun Arfi tak perduli, ia menarik tangan Sisi lalu membawa gadis itu masuk ke dalam kamar apartemant.


"Woow, kamar princes," kagum Sisi kala menlhat dekorasi kamarnya. Seketika ia teringat saat dulu orang tuanya masih hidup, Sisi selalu di manjakan, semua peralatan yang ia miliki, pasti memiliki gambar princes. Baik kamar, peralatan sekolah, sampai mobil untuk menjeputnya pun berdekorasi princes.


"Kak, terima kasih!" ucapnya senang seraya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Sementara Arfi tak menjawab ucapan Sisi, ia justru langsung melangkah pergi dan membiarkan gadis itu beristirahat.


"Jika ada apa-apa dengan Sisi atau ada yang menemuinya, tolong hubungi aku!" titah Arfi pada kedua satpam yang berjaga.

__ADS_1


"Siap, pak!"


***


Sementara itu, di rumahnya, Nayla mengistirhatkan tubuhnya yang lelah, setelah sepanjang hari ini ia banyak pekerjaan rumah dan belum lagi harus kuliah. Nayla menghela nafas berat seraya menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Lelah ya, Nay?" tanya Arfa iba. "Ini, ku buatkan jus buah mangga untukmu!"


Arfa menyodorkan segelas jus buatanya untuk Nayla.


"Terima kasih, sayang!'


Dengan semangat, Nayla pun meraih jus yang berada di tangan Arfa dan secepat kilat ia menghabiskanya.


"Waaah, segar!" ucapnya lalu memberikan gelas kepada Arfa.


"Tidurlah, Nay!"


"Temeni!" pinta Nayla manja.


"Nanti aku temeni ya! Tapi kamu masuk kamar dulu, karena ada beberapa berkas yang harus ku tanda tangani. Kalau sudah selesai, aku langsung ke kamar!"


Senyum datar Nayla tunjukan, ia langsung melangkah untuk masuk ke dalam kamar.


"Sudah jadi orang sibuk, sampai tidak punya waktu untuk menemaniku," grutunya kesal.


Yaa... begitulah, semenjak ia hamil... Nayla memang sensitif dan mudah marah, emosinya tak jelas, ia bahkan mudah menangis tiba-tiba.


Ck...


Bolak-balik putar memutar, berkali-kali Nayla lakukan, merebahkan tubuh lalu duduk lagi dan selalu di ulangi. Tapi Nayla tak kunjung memejamkan mata, entah mengapa ia marasa sangat gelisah.


"Mau apa sih, sayang? Kok gak mau di ajak bobok," Nayla bertanya pada perutnya yang sudah tampak membuncit, berharap sang calon anaknya, tak lagi merasa gerah.


Keringat terus mengucur, padahal AC kamur pun sudah Nayla fullkan, ia tetap merasa gerah karena rasa sakit yang mencengkram perutnya.


Ya.... rasa sakitlah, yang sedari tadi membuat Nayla merasa gerah, meski awalnya ia tak memperdulikanya, namun lama-lama rasa sakit itu kian menjadi.


"Sayang!.... Sayang! Arfa!" berkali-kali Nayla memanggil suaminya dan Arfa pun datang dengan sangat tergesa-gesa.


"Nay, apa yang terjadi sampai kamu berkeringat begini?!" panik Arfa karena baju Nayla sudah basah akibat keringat yang banyak luar biasa.


"Perutku, sa_sakit," gugupnya.


"Ayo kita ke rumah sakit!"


Nayla mengangguk, karena rasa sakit di bagian perutnya kian menjadi-jadi, membuat ia tak tahan lagi. Dan Arfa dengan langkah tergesa-gesa memapah tubuh sang istri dan membawanya masuk ke dalam mobil, secepat kilat ia memacu kendaraan untuk menuju ke rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH KAKAK-KAKAK BAIK❤


__ADS_2