Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
kPSPHS2: Harta dan Tahta Bukan Segalanya.


__ADS_3

🌸S e l a m a t ~ M e m b a c a🌸


Sisi dan Arfi masih terus menikmati sarapan pagi, seraya mengobrol hal-hal yang sebenarnya tidak penting.


"Kak... aku ikut ke kantor ya?"


"Haaah.. tumben mau ikut?"


"Iya. Gaa apa-apa, pokoknya aku ikut ya!"


Arfi mengangguk. Ia senang jika Sisi mau ikut ke kantor bersamanya, karena dengan begitu, Arfi tak di sergap rasa takut setiap detik, prihal kesehatan istrinya yang menang tidak baik-baik saja.


"Aku ganti baju sebentar."


Sisi berlari masuk kedalam kamar, untuk mengganti baju tidurnya dengan baju biasa. Bukan tanpa alasan ia memaksa untuk ikut ke kantor, tapi hal itu sengaja ia lakukan demi menghindari pertemuanya dengan Fadil, yang Sisi tahu, tinggal satu apartemen denganya.


"Astaga, Sisi...... kamu mau ka kantor atau ke pasar? Masa pakai celana pendek dan kaos begini!"


"Sudahlah! Kakak tidak perlu bawel! Kalau aku pakai make up terus cari baju yang cocok Bisa kesiangan kakak ke kantor."


Dengan menghela napas berat, akhirnya Arfi membiarkan Sisi memakai baju sesukanya. Karena ia sudah tidak memiliki banyak waktu, untuk menunggu, sebab jam 9 pagi, Arfi ada meting bersama rekan kerja. Meski ia harus menggeleng kepala, karena Sisi menggunakan kaos polos berwarna biru dan celana jeans pedek, padahal ia sedang hamil, tapi berpakaian seperti itu, Sisi terlihat sangat nyaman.


***


Keduanya sudah tiba di kantor. Arfi berjalan masuk dengan gagahnya sementara Sisi berjalan santai seraya memainkan ponsel, ia tak perduli meskipun menjadi sorotan banyak pasang mata..


"Pak, rekan kerja anda sudah berada di jalan untuk menuju kesini!"


"Okeh.. siapkan semuanya!"


"Siap, pak"


Arfi masuk keruang kerjanya, namun sebelum itu ia nemasukan beberapa lembar uang di saku celana Sisi. "Kakak nanti lama meting, kamu kalau bosan, bisa beli makanan di depan!" Arfi berbisik.


"Oke." Hanya itu yang keluar dari bibir Sisi, seraya teeus fokus menatap layar ponsel. Ia mendudukan tubuhnya di sofa lalu dengan santainya ia merebahkan badan. Bahkan Arfi memperlakukan Sisi seperti anak kecil.


Bisik-bisik dari banya karyawan kantor pun tak terelakan. Mereka membicarakan Sisi, mulai dari hal yang baik sampai yang buruk.


"Itu adiknya pak Arfi, kan?"


"Sepertinya iya."


"Lihatlah, perutnya buncut. Sepertinya dia sedang hamil."

__ADS_1


"Aku pikir juga begitu, kasihan ya pak Arfi punya adik tapi tidak memiliki etika!"


Ucapan mereka semakin liar, ya... seperti yang di kertahui, mereka mengira Sisi adalah adik dari atasan mereka. Hingga menganggap, Sisi hamil di luar pernikahan.


"Mas... mas!"


"Iya mbak."


"Ambilkan aku air dingin dong!"


"Oke.. siap!"


Dengan santainya, Sisi meminta kepada OB kantor, hal itu membuat banyak karyawan semakin memperhatikanya.


Wusssh!


Sayup-sayup Sisi memejamkan mata, tertidur di sofa. Sementara Arfi yang akan masuk keruang meting, tersenyum melihat istrinya tertidur.


"Astaga Sisi, masih pagi kok sudah tidur!" decak Arfi pelan.


Tapi melihat Sisi yang tertidur dengan lelap, membuat Arfi tak tega untuk membangunkan. Si tampan melepaskan jas'nya untuk menutup tubuh sang istri. Celana jens pendek yang di gunakan Sisi, membuat paha mulus wanita itu terpampang nyata, membuat Arfi berinisiatif menutup dengan jas berwarna hitam miliknya.


"Riska.. kamu gak usah ikut kedalam! Jaga Sisi baik-baik, jangan sampai dia jatuh!"


"Siap pak!" jawab karyawan bernama Riska tersebut.


***


"Menurutmu, si Sisi itu hamil gak, sih?"


"Hamil... lihat saja perutnya terlihat membuncit!"


"Masih kecil kok hamil, jangan-jangan dia hamil di luar pernikahan, tapi cowok yang hamili dia kabur, jadi dia sering di ajak pak Arfi ke kantor biar gak strees!" ucap karyawan bernama Riska itu, yang tampak berbicara sesukanya dan menebak-nebak hal yang salah.


Sisi geram luar biasa, mendengar karyawan kantor Arfi memburukanya, terlebih saat Sisi sedang hamil seperti ini, kondisi hati dan perasaan sangat sensitif.


Ssstt...


Sisi menangis sesenggukan, seraya menatap dua karyawan yang sebenarnya di perintahkan Arfi untuk menjaga.


"Mbak Sisi sudah bangun? Kok, tiba-tiba menangis?" bingung Riska.


Tapi Sisi tak menjawab, ia mendorong tubuh Riska setelah itu berlari menjauh dan masuk kedalam ruang meeting Arfi, hal itu membuat semua orang yang ada didalam sana, menatap Sisi penuh tanya, karena Sisi terlihat menangis tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Hei, kamu kenapa? Jatuh dari kursi, ya?" Arfi mendekati sang istri tapi Sisi menggeleng capat saat sang suami bertanya. Kenapa ia menangis?


"Bu-bukan."


"Lalu... kenapa?'


Sisi pun menceritakan, apa yang ia dengar tadi. Prihal karyawan sang suami, yang membicarkan, jika ia hamil sebelum menikah.


"Haaah...? Riska__________!!" pekik Arfi sekuat tenaga, Dan dalam waktu sekejab Riska sudah berada dihadapanya.


"I-iya, pak. Ada apa?" gugup karyawan itu karena suara atasanya, seperti tengah marah saat memanggil.


Dengan badan tegap, Arfi mengumpulkan semua karyawan kantor, untuk memberi tahu, jika Sisi tidak mengandung di luar pernikahan.


"Sisi istriku... dan janin di dalam perutnya itu anakku. Siapa yang mencaci Sisi, akan ku pecat hari ini juga!!'


Para karyawan saling menatap, karena dugaan mereka salah, sebab selama ini mengira Sisi adalah adik dari atasan mereka, tapi ternyata Sisi berstatus istri.


"Maaf pak! Maaf bu Sisi!" gugup Riska.


Sementara Sisi masih menangis, tapi kali ini tangisnya sedikit reda. Karena para karyawan itu meminta maaf sebab telah salah menilai Sisi.


"Pak, anda menikahi anak kecil?" seorang rekan kerja bertanya kepada Arfi.


Sisi pun menjelaskan, alasan ia dan Arfi menikah cepat. "Karena kak Arfi tak mau aku hidup sendiri, ia menikahiku sekitar 6 bulan yang lalu, dan kini usia kandunganku baru masuk 4 bulan, artinya... kami menikah karena cinta bukan karena hamil di luar pernikahan!"


Diam. Mereka hanya bisa diam, sementara beberapa orang yang menjadi rekan bisnisnya, menepuk pundak Arfi pelan.


"Kamu hebat.. menikahi seseorang tanpa memandang status sosialnya. Karena dulu, aku juga pernah mencintai seseorang, hanya karena dia tidak kaya, orang tuaku menentang mati-matian, tapi kamu dan keluargamu berbeda! Bisa menerima istri kecilmu ini dan menerimanya sebaik mungkin."


Arfi tersenyum datar, ia pun menepuk pria yang menjadi rekan bisnisnya itu. "Hidup itu bukan tentang harta dan tahta, karena saat nanti kita semua mati, harta tidak akan kita bawa. Orang tuaku mengajarkan... bahwa di atas muka bumi ini, tidak ada yang namanya perbedaan, karena pada kenyataanya, miskin atau pun kaya, statusnya sama di mata Tuhan. Hidup lalu mati!" ucap Arfi tegas dan membuat siapapun terdiam.


Arfi menarik tangan Sisi dan membawa istrinya keluar dari kantor.


"Meeting hari ini selesai. Jika ada pertanyaan, kirim ke e.mail ku saja!" titahnya sebelum pergi dari hadapan mereka semua.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2