
🕊Selamat Membaca🕊
Mood Airin benar-benar hancur, semenjak hamil perasaanya benar-benar sensitif, ia lebih mudah menangis dan perasa, di colek sedikit di pastikan akan sedih berhari-hari, maklum wanita hamil memang hormon sedang tidak stabil.
"Pulang," ajaknya pada sang suami, dengan terus menangis sesenggukan.
Alvian merasa sedikit kasihan, namun di buat geli akan sikap istrinya, ia pun segera menuruti apa mau sang istri, untuk cepat pulang ke rumah.
"Iya pulang, tapi jangan menangis lagi dong!" ucap Alvian lembut seraya mengecup kening sang istri berkali-kali.
Airin mengangguk, ia segera menghapus air mata yang membasahi wajahnya. Keduanya pun berjalan untuk keluar dari ruangan, yang seketika saja, mendapat banyak sorotan dari para karyawan.
"Jangan ada yang membully Airin lagi! Atau kalian akan di pecat tanpa hormat," ucap salah satu karyawan berbisik pelan.
Sementara Airin dan Alvian sudah menghilang dari pandangan mereka. Keduanya sudah berada di dalam mobil untuk segera pulang.
***
"Ada apa Al, kenapa wajah dan mata Airin memerah?" Tania panik saat melihat wajah menantunya sembab.
Alvian menceritakan apa yang baru saja terjadi, hingga spontan Tania pun merasakan kesal pula.
"Berarninya, dia menghina menantu mama?" decaknya geram.
"Aman mah, sudah ku pecat. Sebab ini bukan kali pertama ia membully, tapi sudah berkali-kali, bukan hanya Airin saja yang dia hina, tapi ada karyawanku yang lainya juga," Alvian menjelaskan.
Si mama menghela nafas kasar, antara marah dan lega, Tania tak menyangka jika ada karyawan yang berani mencaci istri bosnya sendiri.
"Kamu jangan sedih, Rin! Semua orang hamil, pasti akan mengalami kenaikan berat badan," ujar si mama pula.
Airin tersenyum penuh arti, setidaknya kini ia merasa lebih lega, karena si mama mertua dan sang suami, selalu ada dan bisa menenangkan hatinya, tiap kali ia merasa tersudutkan.
"Sudahlah.. mandi, makan lalu istrirahat sana! Jangan terlalu berpikir yang membuatmu sedih! Ingat, ada mama, Alvian dan papa, yang akan selalu ada untukmu," Tania menguatkan lagi.
"Iya mah," jawabnya tulus.
Airin dan Alvian segera masuk ke dalam kamar, keduanya pun mandi secara bergantian.
"Kamu mandi dulu, Rin! Aku mau cuci mobil sebentar,"
Airin mengangguk, ia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh, sedangkan Alvian membersihkan mobilnya yang sudah terlihat kotor.
30 menit kemudian, Airin sudah bersantai dengan menghabiskan waktu menonton televisi di dalam kamar, sementara Alvian baru saja masuk kedalam, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya yang basah.
"Rin," suara itu terdengar lembut, meyadarkan Airin yang sejak tadi fokus menonton televisi.
"Haaah," Airin terpaku pada sang suami yang terlihat benar-benar tampan sore ini, ia sampai tak berkedip saat memandangi Alvian.
Sebab, sore ini... kadar ketamapanan Alvian soolah bertambah, ia tengah menyandarkan tubuhnya yang atletis di tembok kamar, dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian pinggangnya. Bahkan jika khilaf sedikit saja, handuk itu bisa saja lepas, dan pasti akan menampakan sebuah pemandangan tak biasa untuk Airin.
"Hei Rin, kok bengong sih?" Alvian menautkan kedua alisnya, ia segera beranjak lalu mendekati keberadaan sang istri.
"Eh, siapa yang melamun?" Airin menggeleng seraya berusaha menjaga jarak dari Alvian.
__ADS_1
Entah mengapa, semenjak hamil Airin pun merasa lebih agresif. Bahkan, aroma harum tubuh Alvian membuat dadanya berdebar-debar tak biasa.
"Ih, Rin.. kok menjauh sih?" Alvian berpura-pura sedih, saat Airin menjauhkan tubuh darinya. Sebenarnya Alvian tau, apa yang kini tengah istrinya itu pikirkan.
"Gak.. kok, aku tidak menjauh. Sudah sana, pakai baju!" titah Airin. "Tidak malu, kah.. hanya menggunakan handuk begitu?" tambahnya kemudian.
"Lho.. kenapa harus malu, bukankah kamu sudah pernah, melihatku tanpa menggunakan apapun?" tanya Alvian yang seketika saja membuat pipi Airin memerah karena tersipu malu.
"Ihh, Al. Udah sana, pakai baju!"
"Ga.. mau," jawab Alvian nakal.
Pria muda itu menggeleng pelan, seraya semakin mendekatkan tubuhnya pada sang istri.
"Oh..... astaga Tuhan, kenapa Alvian semakin mendekat? Kenapa tubuhnya semakin terliat menggemaskan?" lirih Airin dalam hati.
Alvian yang paham, apa yang tengah Airin rasa, segera membuat kejutan.
"OMG.... kemana, handuk Alvian tadi?" gugup Airin tak terkendali saat melihat tubuh **** sang suami secara sempurna.
Tanpa aba-aba, Alvian mendaratkan serangan berkali-kali, baik di bibir pipi hingga keleher, yang tentu saja membuat Airin gemetaran di buatnya. Sore itu, keduanya saling berpeluk mesra, dan saling menghangatkan, hingga keduanya benar-benar kelelahan, tanpa sadar langsung tertidur pulas karena pertempuran yang amat luar biasa.
***
Perlahan Airin pun membuka mata, netra indahnya menyipit setelah sebuah cahaya lampu yang seolah menyerang matanya. Rupanya hari sudah mulai malam.
Setelelah semua nyawanya di rasa terkumpul sepenuhnya, Airin menatap sang suami yang masih tertidur pulas,
Sssstt
"Efek hamil, kali," lirih si cantik pelan.
Melihat wajah tampan Alvian, terlelap dengan damai membuat jantung Airin berdesir, bibirnya perlahan menyunggingkan senyuman.
"Aku akan selalu mencintaimu, Al," bisiknya pelan di telinga Alvian.
Airin segera beranjak, lalu meraih baju-bajunya yang berserak di atas tempat tidur. Namun saat akan melangkah, Alvian seketika menarik tanganya
"Hei, Al," grutunya, karena nyatanya Alvian sudah terbangun.
"Mau kemana, Rin?"
"Mandilah, badanku rasanya pegal semua," jujur Airin.
"Tapi, aku masih mau,"
"Mau apa?" si cantik menautkan kedua alisnya.
"Maaauu,"
"Heeeh,"
Airin bergidik geli, saat Alvian memajukan bibir merahnya, sementara satu matanya berkedip.
__ADS_1
"Apaan sih Al?"
"Heleh, sok polos. Ini adiku bangun lagi, kamu gak mau nidurin gitu?"
"Haah, Alviaaaan______ Gila....!" pekiknya sekuat tenaga hingga suaranya seolah memenuhi rongga telinga Alvian.
"Ihhh, sakit Rin, suaramu mengalahkan, panduan suara saat hari kemerdekaan tiba," ucap Alvian seraya menyentuh kedua telinganya.
"Bodo amat," balas Airin.
Lalu segera melangkah masuk kedalam kamar mandi, namun tanpa ia sadari sany suami mengikuti lanykahnya.
"Woy, ngapain lu ngikutin gue, pak?!" kesalnya sampai ubun-ubun, Airin melihat senyum nakal tersungging dari bibir Alvian.
Ck..
"Teriak saja, tidak akan ada yang mau menolongmu," ucapnya santai.
Alvian mendorong tubuh sang istri hingga menempel ke dinding. Hal itu semakin membuat Airin panas dingin.
"Hih, si bapak nantangin," Airin berucap demi kian yang tentu saja membuat suaminya tertawa.
"Iya, nantangin. Yuk tempur lagi!" ajaknya tanpa basa basi.
"Ihh... ogah!"
Airin menundukan tubuhnya, lalu menerobos melalui bawah kaki sang suami, yang sejak tadi tegak dengan kedua kakinya yang di lebarkan.
"Haah, Airin," seketika Alvian menggeleng sebab meski hamil, Airin tetap luar biasa lincahnya.
Ssssst... Ck....
Alvian yang akan mendekati Airin, seketika saja mendapat hadiah. Sang istri menyiramnya dengan air, hingga tubuhnya basah semua.
"Heh, Airin nakal,"
Ia lalu mengambil air juga, dan siap akan membalas untuk menyiram tubuh istrinya. Tapi hal itu urung Alvian lakukan.
"Kamu sedang hamil, Rin. Jangan mandi malam, ya!" ucapnya.
Alvian pun segera meraih handuk lalu menutup tubuh sang istri, seketika membuat Airin tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Al," bisiknya tulus.
.
.
.
🤗🤗🤗
Jangan lupa bahagia buat semua, terima kasih atas segala hal❤. Lope kakak-kakak baik💪
__ADS_1
Oh iya kak, yuk mampir di karya temenku, siapa tau suka❤🤗