Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Berusaha Bersikap Bijaksana


__ADS_3

ANTARA DENDAM DAN CINTA


☡Selamat Membaca☡


Sebagai mahasiswa sekaligus sudah menjadi suami, membuat Arfa cukup sibuk, belum lagi tugas-tugas kantor yang wajib ia kerjakan, menjadikan waktu istirahat Arfa semakin sedikit.


"Yank, makan yuk!" ajak Nayla pada sang suami yang sedari tadi fokus menghadap layar laptop.


"Sebentar lagi, Nay. Aku sedang menyelesaikan tugas,"


Mendengar itu seketikan raut wajah Nayla berubah sendu, ia sedikit kesal karena sang suami kini tak memiliki banyak waktu untuknya padahal semakin hari perut Nayla semakin membuncit dan ia cukup sulit untuk banyak bergerak.


"Faa___!"


"Sebentar, Nay!"


"Sebentarnya berapa jam yank? Sudah dari 2 jam yang lalu aku mengajakmu makan bersama, tapi jawabmu, sebentar.. sebentar dan sebentar," omelnya kesal, Nayla berajak dari tempat duduknya lalu masuk ke dalam kamar.


Omelan sang istri membuat Arfa langsung menutup laptopnya dan menyudahi pekerjaan hari ini. Ia menatap meja makan dan semua hidangan Nayla sudah terlihat dingin dengan piring dan sendok yang tak beraturan.


"Astaga,"


Arfa menepuk jidatnya sendiri dan langsung menemui sang istri. Di dalam kamar Nayla tampak diam saja seraya menatap ke luar jendela.


"Nay, maaf!" ucap Arfa tulus.


Namun si cantik membuang muka, bahkan ia menepis tangan Arfa yang berusaha menyentuh wajahnya.


"Ayo makan!"


Arfa berusaha menarik tangan Nayla tapi istrinya itu tak bergeming hanya tetes demi tetes yang jatuh membasahi wajah.


"Aku sesalah itu ya? Sampai kamu menangis,"


Nayla masih tetap diam, ia justru beranjak dari duduk lalu menuju ranjang dan segera merebahkan tubuh. Si cantik menarik selimut dan menutup seluruh badanya.


Kali ini Arfa benar-benar merasa bersalah ia bahkan bingung menghadapi sikap Nayla yang sedari tadi memilih untuk diam saja. Bukan tanpa alasan istrinya itu marah, karena nyatanya akhir-akhir ini Arfa selalu telat pulang ke rumah dan jarang menikmati makanan yang sudah di sediakan oleh Nayla.


"Nay, aku janji! Besok aku libur kerja dan janji tidak akan menatap laptop, aku hanya akan kuliah saja, selebihnya kita habiskan waktu berdua, membayar semua waktuku yang sangat singkat untukmu," bisik Arfa lirih dan spontan Nayla langsung memutar badan.


"Janji....?!" Nayla menyodorkan jari kelingkingnya dan di sambut baik oleh kelingking Arfa.


"Iya... janji. Tapi malam ini kita makan dulu ya!"


Si cantik mengangguk setujuh, ia pun menarik tangan sang suami dan mengajaknya menuju meja makan. Semenjak hamil Nayla memang semakin manja dia bahkan bertingkah layaknya anak-anak. Tapi hal itulah yang di rindukan Arfa jika ia sedang fokus bekerja, karena sebenarnya Arfa sangat ingin menghabiskan waktu bersama istrinya itu, namun Arfa sadar kedepan ia akan lebih memiliki tanggung jawab yang sangat besar, itulah sebabnya ia bekerja keras demi Nayla dan calon dedek bayi nanti.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Sisi yang semakin hari semakin dekat dengan Arfi, merasakan ada hal yang berbeda setiap kali bertemu dengan pria itu. Sikapnya yang sok cuek tapi perhatian semakin membuat Sisi kian terbayang-bayang.


"Hm... hm...!"


Suara itu membuyarkan lamunan Sisi dan seketika ia menjadi gugup kerena ada Arfi yang berdiri tepat di hadapanya.


"Kak Arfi, ngikutin Sisi ya?"


"Dih kepedean.. aku temenin mami'ku!" Arfi menunjuk ke arah Airin, sang mami tengah membeli sesuatu di mini market dimana Sisi bekerja.


"Ohh," Sisi menggaruk-garuk kepalanya sendiri karena merasa malu.


"Kamu... sejak kapan kerja di sini?"


"Sejak tadi... dan mulai hari ini aku sudah memiliki pekerjaan tetap setelah pulang sekolah," jelasnya bangga.


Arfi tersenyum simpul, ia pun bergegas pergi menjauhi keberadaan Sisi dan setelah semua urusan sang mami selesai, polisi muda itu langsung mengajak Airin pulang


"Mau hujan, mi. Jangan lama-lama di luar!"


Airin mengangguk dan menuruti titah sang anak. Arfi berdecak riang karena si mami tak pernah menolak apapun yang di ucapkanya.


Dan... benar saja, sampai sore menyapa hujan tak kunjung reda. Arfi bolak balik modar mandir karena terpikirkan wajah Sisi.


"Sudah pulang belum dia, ya?" batinya lirih.


"Aku pulang dulu, Si," ucap seseorang teman di tempat kerja Sisi yang baru.


Gadis itu mengangguk, ia menoleh kekanan dan kekiri berharap akan ada Taxi yang lewat. Tapi karena hujan tak kunjung reda tak ada siapapun yang melintas di jalanan.


"Ayo pulang!"


Seseorang datang dengan membawa mobil mewah tersenyum ke arah Sisi yang sudah tampak pucat karena kedinginan.


"Kakak," gadis cantik itu berdecak bahagia, karena pangeran impianya datang menjemput.


"Sudah, jangan lebay! Ayo masuk!"


Secepat kilat Sisi melangkah, ia pun langsung masuk ke dalam mobil milik Arfi, gadis itu mengosok-gosok telapak tanganya, karena tadi merasa sangat dingin.


"Pakai ini!"


Arfi melepaskan jacket yang sedari tadi menempel di tubuhnya. Melihat Sisi kedingian ia pun menjadi tak tega.


Ssssttt____


Keduanya sudah sampai di apartemant dan langsung masuk ke dalam kamar. Sisi pun membersihkan tubuh dan Arfi membuatkan teh hangat untuk gadis itu.

__ADS_1


"Kakak gak tugas?" tanya Sisi yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk saja.


Arfi terperanjat, ia menelan salivanya susah payah. Andai handuk itu terlepas, pasti akan tampak semua tubuh polos Sisi.


"Kak, kok gak jawab?"


"Li_libur, besok pagi pagi aku baru tugas lagi," jawab Arfi gemetaran, ia memalingkan wajah agar gak memandangi keberadaan Sisi.


Si tampan berusaha menahan gejolak di dalam tubuhnya. Kesalahan Arfa yang menghamili Nayla sebelum menikah, membuat Arfi sedikit dewasa.


"Aku keluar,"


"Kakak mau kemana? Di luar sana masih hujan,"


"Pakailah dulu bajumu! Nanti aku masuk lagi,"


"Haaah,"


Sisi terperangah, ia baru sadar jika Arfi sengaja menghindar karena ia hanya menggunakan handuk saja.


"Untung pak Arfi baik, kalau hidung belang, habislah masa depanku," si cantik mengeryitkan wajah dan sesigap mungkin memakai baju tidur untuk menutupi tubuh.


Ck..


Di luar kamar, sesekali Arfi mengusap wajah, ia masih terbayang tubuh Sisi yang tampak putih dan mulus tadi.


"Sial... kendaliankan pikiranmu, Arfi!" ia menepuk pelan keningnya karena terus berandai-andai.


Arfi teringat, ucapan teman sekolah Sisi beberapa waktu lalu, yang mengatakan jika Sisi wanita panggilan. Tapi sikap dan tingkah polos Sisi tadi, Arfi yakin sekali jika gadis itu, wanita baik-baik.


'Kak, ayo masuk! Aku sudah selesai," Sisi membuka pintu dan tersenyum ke arah Arfi.


"Ba_baik,"


Si tampan berjalan pelan, kembali masuk ke dalam kamar Sisi, gadis mungil itu nampak tengah bernyanyi-nyanyi seraya memasak mie kuah, untuk di santap berdua.


"Kak, bagaimana kasus keluargaku? Siapa yang menyabotase semua harta mama dan papaku?" Sisi bertanya seraya meletakan 2 mangkuk mie kuah di atas meja.


"Besok siang ku jelaskan. Ayo makan dulu!"


Arfi menarik tangan Sisi dan meminta gadis mungil itu duduk di sebelahnya... yang seketika saja, Sisi pun salah tingkah karena sikap Arfi malam ini.


.


.


.

__ADS_1


TERIMA KASIH BUAT SEMUA YANG MASIH SETIA, SEMOGA SELALU SEHAT YA❤❤❤


__ADS_2