
🕊Selamat Membaca🕊
Dengan langkah tergesa-gesa, Airin dan Alvian pergi meninggalkan rumah milik Wijaya Bratayuda, sebab pria yang selama ini Airin anggap sebagai seorang papa, tak menyukai kehadiranya di sana.
"Hih, bisa aja dong, ga usah pakai bentak-bentak segala!" celoteh Alvian kesal, saat mendengar omelan dari mulut Yuda.
"Ih ayooo!"
Airin menarik tangan suaminya, yang sejak tadi justru mendengarkan omelan yang Yuda berikan.
"Ga usah di denger, ntar sakit kepala!"
Lagi-lagi Airin justru menanggapi sikap sang papa dengan bercanda, walau sebenarnya batinya sakit luar biasa, namun wanita cantik bersikap seolah baik-baik saja.
"Rin,"
Rio, berpapasan dengan keduanya, saat baru saja tiba di rumah, pria muda itu menatap Airin dan Alvian sedikit heran.
"Ada perlu apa, kau datang kemari?"
Rio menunjukan sikap tak sukanya saat bertatap muka dengan Alvian.
"Bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
Alvian tak memperdulikan Rio sedikitpun, ia segera masu ke dalam mobil, lalu memacu kendaraan dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Hati-hati, Al! Aku belum mau, mati konyol di jalanan," Airin memperingatkan suaminya.
"Iya,"
Sepontan Alvian pun memelankan laju kendaraanya, karena sejujurnya ia sendiri sudah taruma, mengendarai mobil dengan cepat di jalan raya, Kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan lalu, membuatnya sangat berhati-hati jika berada di jalanan.
"Tadi, aku khilaf, Rin.. karena bertemu dengan kakakmu,"
"Iya... iya, paham,"
Airin menghela nafas berat, lalu membuangnya perlahan. Si cantik sektika terbayang wajah sang papa, yang ia lihat di selembar foto tadi.
"Benar, aku seperti pernah melihatnya," ucap Airin.
"Apa kau, yakin?"
"Yakin sekali,"
"Ah, sayang! Kenapa tadi, aku tak melihat dulu wajah papa kandungmu di foto itu," Alvian berdecak kesal.
"Ya... karena kita pergi terburu-buru. Sebab suami mamaku, tiba-tiba datang dan marah-marah tak jelas," ujar Airin seraya menautkan kedua alisnya, ia terbayang wajah sangar Yuda saat, sedang marah-marah tadi.
Drrrt... Drrrrrt!
Ponsel milik Alvian pun berdering, tertera nama Toni di layar handpone miliknya, secepat kilat, ia segera menerima panggilan tersebut.
"Halo, Ton,"
"Hay, Al... aku dan beberapa rekan-rekan kepolisian, tengah melakukan pengintaian, kepada seseorang yang telah mengirim, paket-paket misterius pada istrimu." Jelas Toni, melalui sambungan telponya.
"Oke, lakukan dengan sebaik mungkin! Jangan sampai dia lolos dari pengejaran kalian!"
"Siap laksanakan!" jawab mereka tegas, meski melalui sambungan telpon saja, Alvian bisa merasakan betapa semangat teman-teman di kepolisian untuk memecahkan kasus aneh ini.
Alvian pun mengatakan apa yang sudah Toni sampaikan.
"Aku tidak akan memenjarakanya. Hanya saja, aku perlu tahu apa motif dia, melakukan itu? Dan apa tujuanya, selalu mengirim paket kepadaku," jelas Airin kemudian.
Alvian mengangguk setujuh, karena kasus ini tidak merugikan siapapun, sebab orang itu selalu memberi kado berharga untuk istrinya. Hanya saja, hal itu sungguh mengganggu kenyamanan Airin dan Alvian.
***
__ADS_1
Sesampainya di rumah, kedua pasangan muda tersebut segera masuk ke dalam kamar, untuk merebahkan tubuh.
Tok Tok Tok!
"Al... Rin...!"
Panggil si papa dari balik pintu, pria paruh baya itu, sedikit penasaran dengan apa yang tadi Airin dan Alvian lakukan di rumah Yuda.
"Ada apa pah?"
"Makan siang dulu! Mamamu sudah menunggu," ajak Reyhan.
Alvian segera keluar dari kamar, mengajak Airin untuk makan bersama kedua orang tuanya.
"Apa yang di katakan, mamamu, Rin?"
"Mama menunjukan foto, papa kandungku. Dan seketika, aku seolah pernah melihat wajahnya, hanya saja aku lupa, kapan dan dimana," ungkap Airin pada si mama mertua.
Reyhan menautkan kedua alisnya, ia menarik sudut bibir saat mendengar cerita Airin.
"Apa kau membawa serta foto itu?"
"Tidak pah,"
"Astaga, Rin. Harusnya kau minta, agar mudah kau mengenalinya,"
"Baiklah, besok.. aku akan meminta foto tersebut kepada mama,"
"Bagus,"
Alvian menggeleng pelan, ia menepuk jidatnya sendiri, karena ia pun tak berpikir seperti apa yang sang papa katakan. Tapi itu semua bukan tanpa alasan, sebab saat ia dan Airin akan menelisik lebih dalam, tiba-tiba saja Yuda datang dan mencaci maki keduanya.
***
Aktifitas makan siang pun usai, Airin memutuskan untuk mengajak Alvian berbicara empat mata, di taman belakang rumah.
Seketika mata Airin tertuju pada bayangan hitam tak jauh dari tempat ia berdiri. Namun saat akan ia dekati bayangan itu seketika menghilang.
Dan...
"Aaaaaaaa......!"
Teriak si mama sekuat tenaga, karena terkejut luar biasa saat ada seorang pria yang tengah berusaha keluar dari halaman rumah, memalui pagar rumah mereka yang tinggi.
"Wooy... maliing....!!"
Si satpam ikut berteriak, namun nyatanya pria itu sudah berhasil kabur dari rumah Alvian.
"Kejar pak!" titah Alvian pada kedua satpam rumahnya.
Heboh seketika menyeruak hingga ke telinga tetangga, dalam waktu sekejap orang-orang pun berkumpul di rumah Alvian.
"Yakin buk, ada maling?" tanya salah satu tetangga.
"Iya buk.. karena dia menggunakan penutup wajah, dan keluar melalui pagar rumah, ia memanjat di sana!" Tania menunjuk ke salah satu pagar dimana tadi orang misterius itu memanjat lalu keluar.
"Nekad sekali ya, malingnya. Masuk ke rumah orang, siang bolong begini," tambah salah satu ibu-ibu.
Ya.. Alvian pun setujuh dengan apa yang di katakan si ibu tadi, pria muda itu yakin, jika tadi bukanlah maling, seperti apa yang di pokirkan sang mama.
"Ya sudah bu, kalau begitu kami permisi dulu ya!"
Para tetangga itu pun, berpamitan untuk pulang, sementara Alvian, Airin dan kedua orang tuanya segera kembali masuk ke dalam rumah.
Bruuuk!
Alvian menjatuhkan tubuhnya di sofa, sementara Airin menyiapkan jus segar untuk suami dan kedua mertuanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Rin!"
"Sama-sama,"
Airin pun tersenyum simpul, ia pun ikut duduk bersama mereka.
"Cakep banget sih, Al," puji Airin seketika.
Karena saat ini, Airin kembali melihat album, semasa Alvian kecil.
"Iyalah," balas Alvian bangga.
Meski sempat di hebohkan dengan adanya sosok misterius yang masuk rumah, tapi keluarga kecil Alvian menikmati sore ini dengan cukup senang. Tertawa dan bercanda.
"Dulu, saat Alvian masih kecil, dia lengket dengan kakeknya. Karena mama dan papa sibuk kuliah," cerita Tania tiba-tiba saja.
"Hemmm,"
Alvian menghela nafas panjang, ia tersenyum simpul mendengar cerita si mama.
"Andai kakekmu masih ada, dia pasti bahagia memiliki cucu setampan dan sesukses dirimu," ujar Reyhan pula.
Sssstt..
Lagi-lagi si tampan, hanya mampu menghela nafas, sungguh ia selalu sedih saat kedua orang tuanya, mengingat masa lalu sang kakek.
Dan... spontan saja, mata Airin menatap nanar, selembar foto seseorang yang berfoto bersama, kakek si Alvian.
"Kenapa, Rin?"
"Foto ini, mirip papaku," ucapnya gemetar.
"Kau yakin, Rin?" Alvian memastikan.
"Iya, Al... aku yakin."
Secepat kilat, Airin pun meraih ponsel miliknya, ia meminta si mama memfoto. Foto ayah kandungnya.
"Untuk apa, Rin?" tanya Anita penasaran melalui pesan singkat.
"Tidak mah, aku hanya ingin menyimpanya," balas Airin berbohong.
Dan... si cantik pun mencocokan foto yang di kirim si mama, dengan foto seseorang yang ada di album, bersama kakek sang suami.
Ck...
"Seratus persen mirip," ucap Airin dengan bibir begetar dan dada berdebar.
"Kau yakin, Rin?"
Alvian dan kedua orang tuanya pun mendekati, mereka pun ikut memastikan. Benarkah, papa kandung Airin adalah anak angkat sang kakek.
"Benar-benar mirip," ujar Reyhan pula.
"Jika benar, artinya papamu sudah meninggal, Rin!" Tania spontan saja berucap.
"Haaaaah.....!!"
.
.
.
.
Nah... giaman kira-kira?😊 Bukan ayah kandung Airin dong pengirimnya😉❤
__ADS_1
🕊Terima kasih kakak-kakak baik🕊