Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Curiga dan Heran


__ADS_3

Kaulah jawaban do'aku. Kau diutus Tuhan tuk temani hidupku. Dikala hati ini rapuh. Hadirmu sembuhkan Lukaku. Kau hapus Lelahku dengan senyummu. Ku percaya kamu, kaulah cinta terakhirku.(Lagu Bagasran, cocok buat Alvian untuk Airin).


🕊Selamat Membaca🕊


Airin menutup mata kala Alvian kini benar-benar mendekati dirinya, keduanya sudah berada di atas ranjang untuk menikmati waktu siang yang sudah keduanya rancang.


"Aku duluan atau kamu duluan?" tanya Alvian polos.


"Ya kamulah, masa istri mendahului suami, dosa tau,"


"Masa sih? Baiklah, kalau begitu kita mau ngapain dulu nih?"


"Terserah.. kamu mau, apa!"


"Serius?"


"Ya seriuslah,"


Dengan malu-malu, Alvian menanggalkan baju sang istri, sementara Airin hanya diam dengan mata, satu terpejam namun satu lagi terbuka.


"Sudah belum?" Airin memastikan.


"Belum.. sabar dong Rin!"


"Telat nanti Al, ini sudah jam setengah dua, sebentar lagi sore,"


"Jangan terburu-buru, Rin!"


"Kenapa?"


"Gak seru tau," canda si tampan, seketika membuat Airin membuka sebelelah matanya, yang sejak tadi terpejam.


"Yang seru itu begini,"


Tanpa aba-aba, Airin menarik tubuh suaminya yang dalam waktu sekejam, mereka berdua pun berpelukan, hal itu spontan membuat Alvian terdiam.


"Eh,"


"Kenapa? Katanya tadi mau yang seru,"


"Iya juga sih, tapi tak ku sangka, ternyata istriku, luar biasa agresif ya,"


"Itu pujian, atau cacian?" si cantik menautkan kedua alisnya.


"Ya pujianlah.. lagi pula, kalau kamu agresif, aku hanya butuh diam saja, lalu kau yang bekerja,"


"Sialan..!"


Airin menepuk kening Alvian, hingga si tampan di buat gemetaran, sebab si cantik kini mendekatkan bibir tepat di depan wajahnya.


"Huuuf,"


Nafas Alvian berlomba-lomba, detak jantung tak seirama, dadanya berdebar luar biasa. Baru saja si cantik memegang bagian dadanya, si tampan sudah tak berdaya, rasa geli menyergap seluruh tubuhnya, yang spontan membuat Airin tertawa sejadi-jadinya.


"Aduh Al, belum apa-apa, kamu sudah kepanasan," goda Airin.


"Ga usah ngejek deh!"


Mendengar itu Airin justru tertawa sejadi-jadinya, yang tentu saja memancing rasa gemas yang amat luar biasa, spontan saja Alvian mencium bibir sang istri, hingga Airin menghentikan tawanya.


"Naahh, diamkan," balas Alvian saat Airin menghentikan tawanya.

__ADS_1


Di siang ini, sepasang pengantin baru tersebut pun melakukan olah raga cina, hingga Alvian dan Airin merengguh nikmatnya surga dunia.


"Lelah?" bisik Alvian di telinga istrinya.


Tak ada jawaban, si cantik hanya terdiam, jangankan menjawab tersenyum saja ia sudah tak mampu lagi.


"Selamat tidur," bisik si tampan pelan.


Alvian menarik selimut lalu menutup tubuh sang istri, ia berjalan menuju kamar mandi tanpa kursi roda setelah memastikan Airin terlelap.


"Luar biasa,"


Decak kagum Alvian tunjukan pada dirinya sendiri, saat tubuh putih mulusnya di penuhi tanda memerah.


"Airin pintar juga, melukis hasil karya di badanku," lirihnya lagi seraya menahan tawa geli.


Gemercik air membasahi tubuhnya, membawa hanyut rasa lelah yang ia rasa, Alvian menikmati tetes demi tetes guyuran yang ia lakukan untuk membersihkan tubuh.


"Al......," teriak Airin dari atas ranjang namun terdengar jelas di telinga Alvian, meski kini ia berada di dalam kamar mandi.


"Mampus....... aku masuk kamar mandi, tak membawa kursi roda," cetusnya pelan.


Alvian menunggu Airin memanggilnya lagi, namun suara sang istri tak terdengar kembali, hingga ia memutuskan keluar dari dalam kamar mandi.


Ssssssttt...


Menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan Airin benar-benar sudah terbangun atau belum.


"Ahhh... syukurlah! Dia hanya menginggau,"


Alvian mengelus pelan dadanya sendiri.


"Kalau sampai dia benar-benar bangun, bisa-bisa dia tau, kalau aku hanya pura-pura lumpuh," gumam Alvian lagi.


***


"Ahh sial... kenapa anda menagih hutang secepat ini?" tanya Yuda kepada Ridho manager oprasiolan di kantor milik Alvian.


"Maaf pak! Bukan hanya anda saja yang kami tagih, tapi ada beberapa perusahaan lain juga, karena direktur utama kantor ini, atau pemilik kantor kami, meminta untuk siapapun mengembalikan hutang, tanpa sisa dan tidak boleh di cicil," jelas Ridho agar membuat Yuda semakin kebingungan.


"Tapi, bagaimana bisa.. aku mengembalikan uang itu dalam waktu 1 bulan, sementara perusahaan kami, sedang dalam fase kesulitan, sebab semua rekan bisnisku, banyak yang beralih dan kariawanku saja, belum di gaji bulan ini," curhat Yuda, agar Ridho memiliki rasa iba padanya.


"Maaf... itu masalah anda, bukan urusan saya. Hutang harus tetap di bayar, sesuai perjanjian. kembalikan saat kami membutuhkan. Jika anda tidak mau membayar dalam waktu cepat, maka saya akan membawa anda ke jalur hukum, atau mengambil alih perusahaan anda," ujar Ridho lagi, yang semakin membuat Yuda ketar ketir.


"Tidak semudah itu dong.. enak saja anda mau ambil alih perusahaan saya,"


"Ya sudah, kalau begitu hadapi kami di jalur hukum," ancam Ridho tak main-main.


Dannn.... Braaaaakkk!!!


Karena terlalu emosinya, sebab marasa di permainkan oleh perusahaan yang di manageri oleh Ridho membuat Yuda tak bisa menahan amarahnya. Ia segera berlalu dari dalam ruangan rekan yang kini menjadi musuhnya itu, setelah menendang keras, meja kerja milik Ridho.


"Hmmm," senyum simpul, tersungging jelas di wajah Ridho yang tak lain papa kandung Toni, sahabat dari Alvian sendiri.


Sementara di rumah, Alvian pun tertawa puas, setelah mendapatkan kabar, bahwa Yuda tak bisa membayar, hutangnya di perusahaan.


"Kok tertawa Al?" tanya Airin yang sedang berdiri bersama sang mama.


"Eeh ini.. aku nonton kartun Upin dan Ipin, comel sangat... karena lucu jadi aku tertawa deh," jelas si tampan mengada-ada.


Airin dan Tania saling berpandangan, antara percaya dan tidak.

__ADS_1


"Sejak kapan, suamimu suka kartun Upin Ipin?" bisik Tania di telinga menantunya.


Airin membalasnya dengan menggeleng, tanda tak paham.


"Ah sudahlah, ayooo!"


Tania menarik tangan Airin dan mengajaknya pergi.


"Maah, Rin... kalian mau kemana?"


"Mau ke Mall sebentar, apa kau mau ikut?"


"Ah... tidak, terima kasih, aku di rumah saja bersama papa," jawab si tampan seraya menggaruk-garuk kepalanya.


Alvian tersenyum simpul, dengan menatap langkah si mama dan Airin yang pergi keluar rumah.


"Huuf, hampir saja," lagi-lagi, Alvian mengelus dada.


Sedangkan Airin dan Tania, kini sudah dalam perjalanan untuk menuju ke mall.


"Mah... ada yang mau aku tunjukan?" ucap Airin pada si mama mertua.


"Apa?" Tania menatap heran menantunya.


"Ini....!"


Si cantik menunjukan bekas bungkus obat tidur kepada Tania.


"Apa maksudnya, Rin? Kau mengkonsumsi obat tidur, kah?"


"Bukan mah,"


"Lalu?"


"Aku menemukan ini di kotak sampah, yang terletak di belakang rumah," jelas si cantik lagi.


"Haaaah.....?!!"


"Iya mah, aku yakin, jika malam itu ada yang memberikan obat tidur ini kepada kita,"


"Maksudmu, Alvian?"


"Iyaaaa,"


"Apa motifnya? Kau jangan berprasangka, Rin!"


"Aku tak berprasangka, mah. Tapi aku yakin sekali, jika ini milik Alvian,"


"Hmmmmmm,"


Tania menarik nafas dalam-dalam, ia tak membantah insting menantunya, sebab malam itu, memang Alvianlah yang memberikan jus buah kepadanya dan juga sang suami.


.


.


.


.


JANGAN LUPA BAHAGIA, BUAT SEMUA, I LOVE YOU PULL BUAT YANG MAU BACA AIRIN DAN ALVIAN, SEMOGA TETAP BETAH YA🤗.

__ADS_1


🕊Terima Kasih🕊


__ADS_2