Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Rencana Menikah


__ADS_3

🍍Selamat Membaca🍍


Berbeda dengan perasaan Arfa, yang di liputi rasa bahagia saat hari wisuda'nya. Karena di hadiri oleh kedua orang tua dan sang istri tercinta. Sisi justru merasakan sedih yang amat perih, karena ini kali kedua ia menghadapi kelulusan tanpa siapapun, pertama saat ia SMP dan kali ini kala lulus SMA.


"Sisi, kemarilah!"


Kepala sekolah memanggil gadis mungil yang duduk seorang diri. Entah mengapa, kali ini ia merasa kasihan, sebab Sisi berbeda, dia tak di temani siapapun, sementara siswa dan siswi lainya, datang ke sekolah di dampingi kedua orang tua masing-masing.


"Hari ini, kamu diberi prestasi sebagai siswi dengan nilai kelulusan paling baik dari semua siswa dan siswi lain di sekolah ini. Bapak selaku kepala sekolah, meminta maaf jika selama ini ada hal yang membuatmu tidak nyaman!"


"Terima kasih, pak... saya juga meminta maaf dengan sangat tulus, karena sering membuat masalah di sekolah ini." ujar Sisi pula.


Apa yang sudah Sisi lalu'i selama 3 tahun di sekolah ini, tak akan pernah terulang lagi. Kata orang, masa-masa SMA adalah masa paling indah dan sulit terlupakan. Selama 3 tahun ini pula, Sisi di kenal sebagai siswi paling rusuh, tapi terkenal cerdas juga. Ia memiliki banyak teman, tapi tak ada satupun yang membuat Sisi nyaman.


"Selama, berada di sekolah ini, ada banyak pelajaran yang bisa ku ambil. Mana teman yang tulus atau hanya pura-pura tulus, disini juga, aku bisa beranjak dewasa dengan sebaik mungkin. Bully dan caci yang sering ku dengar, membuatku sangat-sangat kebal, jika ada orang yang membicarakanku di belakang. Bukan itu saja, dari sekolah ini aku juga belajar, bahwa tak semua guru itu baik, tapi tetap harus di hormati. Aku secara pribadi berharap, apa yang cacat disini tolong di perbaiki! Namun, aku tetap berterima kasih, karena para guru-guru hebat telah mendidiku hingga menjadi pribadi yang kuat."


Sisi berucap panjang lebar seolah tanpa jeda. Tapi, setiap kata demi kata yang Sisi lontarkan, berbeda dari siswa dan siswi lainya. Jika teman-teman di sekolah mengucapkan, banyak terima kasih kepada guru dan orang tua. Tapi tidak dengan Sisi sebab tak ada siapapun bersamanya kini.


Sssstt....


Seketika, sorot mata Sisi menajam menatap sosok pria yang berdiri tegap seraya menyilangkan tangan ke perut. Pria itu masih menggunakan baju tugasnya hingga membuat ia tampak gagah.


"Kak Arfi....!" teriaknya spontan, karena terkejut bercampur bahagia membuat Sisi seolah mengabaikan, jika kini ia tengah berada di hadapan banyak orang.


Sisi berlari ke arah Arfi dan pria itu juga berjalan pelan ke arahnya. Keduanya berhadapan dan saling menatap.


"Kata kakak, gak akan datang."


Sisi berdecak kesal seraya mencubit perut pria itu, tapi meski kesal ia tak dapat menyembunyikan kebahagiaan, karena Arfi mau menghadiri hari kelulusanya.


"Selamat siang semuanya, perkenalkan namaku Arfi, aku calon suami gadis cantik yang berdiri di hadapanku ini!" Arfi mengacak-acak rambut Sisi lalu mengajak gadis itu duduk.


Semua mata tertuju, kearah pria tampan bernama Arfi itu, mereka tak yakin jika Sisi adalah calon istrinya.


"Di bayar berapa sih, pak? Kok mau-maunya jadi pacar dia." Lili mendegus kesal seraya memasang wajah sinis.


"Hem,"


Hanya itu yang keluar dari bibir Arfi, ia tak memperdulikan ucapan Lili sedikit pun. Karena ia hadir disini, di tempat ini, untuk menemani Sisi bukan berdebat dan membalas celotehan dari mulut anak-anak itu. Berdebat dengan mereka tak sebanding. Malu, jadi Arfi memilih untuk diam saja.


"Kak, terima kasih! Karena kak Arfi hadir hari ini aku tidak sendiri."


"Iya,"

__ADS_1


Hanya itu jawaban dari Arfi, pria itu tiba-tiba saja menggendong tubuh gadisnya, hingga membuat Sisi terkejut.


"Ayo kita rayakan kelulusanmu!" Arfi membawa Sisi jalan-jalan kemanapun gadis mau. Hari ini si tampan ingin memberi Sisi kebebasan sebebasnya, karena esok hari, Arfi berencana menikahi gadis yang bersamanya kini.


"Kak... kok turun di sini?"


Sisi menggeleng pelan, kala Arfi mengajaknya ke sebuah butik untuk membeli baju gaun. Bahkan pria itu memberi Sisi kesempatan memilih baju sesuka nya.


"Kak. yakin?"


"Sangat yakin. Apakan kamu yang tidak yakin?"


Sisi dan Arfi saling bertanya prihal kesiapan keduanya untuk menikah. Jika ada sedikit ragu menggelayuti perasaan si cantik, namun tidak dengan Arfa, ia yakin seyakin-yakinya untuk mengajak Sisi menikah.


"Ayo kerumahku!"


"Hah?"


Setelah mendapatkan baju yang Sisi mau, Arfi mengajak gadis itu untuk pulang ke rumahnya. Disana, ia meminta izin kepada si mami dan si papi, agar bisa menikahi Sisi.


"Secepat ini bahkan dadakan pula. Apa kamu menanam benih dulu di rahim Sisi?" tanya Arfa yang terkesan heran atas sikap sang kakak yang tiba-tiba ingin menikah besok.


Ck.. Stttt...


"Enak saja, kamu kira aku seegois itu!" decaknya kesal seraya melempar bantal ke arah Arfa.


"Sisi yakin? Akan menikah di usia ke-18?"


"Yakin tante, karena aku butuh orang untuk melindungku, menjadi teman sekaligus pacarku dan selalu ada di setiap mataku terpejam atau terbuka. Aku yakin, ka Arfl akan menjagaku baik-baik!"


Sisi menjelaskan alasanya menerima Arfi karena ia sudah bosan hidup sendiri, ia butuh patner dalam hidup nya, untuk bersama-sama melangkah menuju hidup yang lebih indah.


"Bagus'lah, jika kamu ingin menikah cepat. Karena, setelah baby Acha menginjak usia 2 minggu, kami akan terbang keluar negeri," Arfa memberitahu.


"Haaaaaaah?!"


Yang terkejut bukan hanya Arfi saja.


"Kedua orang tua Nayla kini tinggal di Jerman, mereka meminta kami tinggal bersama mereka 3 bulan saja. Jadi, aku belum bisa mengurus perusahaan, dan kalau Arfi mau menikah cepat, itu berita baik bagiku." jelas Arfa seraya mendudukan tubuh tepat di samping Nayla.


Kedua orang tua si kembar, bukanlah orang yang egois, lalu melarang dan menentang setiap keputusan anak-anaknya. Selagi itu dijalan yang benar maka si mami dan papi akan mendukung. Terlebih saat Arfa meminta untuk keluar negeri, agar bisa memiliki hubungan erat terhadap keluarga Nayla. Seperti yang orang bilang, jika mencintai seseorang maka cintailah keluarganya juga, sesalah apapun kedua orang tua Nayla dimasa lalu, yang terpenting kini mereka sudah berubah dan menyadari kesalahanya. Menyimpan dendam tak ada gunanya, karena justru akan menumbuhkan penyakit hati saja.


"Jadi setelah aku menikah, kalian akan pergi?" Arfi menatap sedih Arfa dan Nayla, karena ia akan terpisah dengan baby Acha, keponakan cantik yang baru 1 minggu hadir di dunia.

__ADS_1


"Ya... tapi pergi untuk kembali. Santai!" sahut Arfa seketika.


Mereka saling menatap bahagia dan saling bertanya, prihal apa yang sudah terjadi sepanjang hari ini.


"Wow, jadi Sisi dan Arfa, sama-sama mendapatkan nilai terbaik?" tanya Nayla kagum.


Baik Sisi ataupun Arfa hanya menjawab dengan seulas senyum saja tanpa membalas sepatah katapun.


"Om.. tante, aku pulang ya!"


Sisi berpamitan kepada kedua orang tua Arfi yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Gadis cantik itu pulang dengan membawa rasa bahagia yang tak bisa ia ungkap, harap Sisi masih sama, jika nanti saat Arfi sudah menjadi suami nya, pria itu tak akan membuat ia menderita. Sisi sesayang itu dan secinta itu.


.


.


.


VISUAL SUKA-SUKA SAYA WKWKKWKW🌸


ARFI..




ARFA...




NAYLA...




SISI



__ADS_1


Arfa sama Arfi kan kembar... jadi sama dong visulanya😂😂😂😂😍


TERIMA KASIH


__ADS_2