
🕊Selamat Membaca🕊
Semakin hari perut Airin semakin tampak membuncit, namun meski begitu, kecantikan Airin kian bertambah, dan kini usia kandunganya sudah memasuki 5 bulan lebih sedikit.
"Pasti anaknya cewek," ucap salah satu ibu-ibu yang tak lain tetangga Airin sendiri.
"Hedeh, sok tau," grutu Airin dalam hati.
"Sudah di priksain belum, hati-hati lho, jaman sekarang, hamil itu sedikit mengerikan.. karena, ada teman saya, dia di kira hamil, tau-taunya dalam perut dia bukan janjin, melainkan tumor yang sudah membesar,"
Ck... Sssttt
Seketika Airin menautkan kedua alisnya, setekah mendengar cucapan si tengga, telebih Airin merasa, ucapan tersebut terkesan seperti menyumpahi
"Ehh, mau kemana, Rin?"
"Masuk, ke rumah,"
"Gak jadi beli sayur segarnya?"
"Gaaak,"
Secepat kilat Airin melangkah, menjauhi keberadaan ibu-ibu yang tengah berkumpul untuk membeli sayuran. Si cantik masuk ke dalam rumah, dengan melipat wajah cantiknya.
"Kenapa sayang? Katanya tadi, mau beli sayur segar. Mana?"
"Ga jadi mas,"
"Lho?"
"Males aku, sama tetanggamu, mereka nasehatin, tapi kok terkesan menyumpahi," ujarnya kesal.
Si cantik, menceritakan, hal yang membuatnya kesal kepada Alvian, Airin memang terlalu sensitif dalam hal apapun. Pembicaraan yang biasa-biasa saja, terkadang bisa membuat Airin kesal dan marah
"Ya udah, ucapan mereka, ga usah di dengar. Sekatang, kamu sarapan pagi, lalu minum susu ibu hamil, biar kamu kuat, bayinya juga sehat!" titah Alvian namun tatapanya fokus menghadap layar laptop.
"Oke, baiklah," jawabnya datar. "Eh, mas, kamu gak ke kantor hari ini?" tanya Airin sebelum melangkah pergi.
"Ga, aku kerja di rumah saja. Dan... semua urusan sudah ku serahkan kepada pak Ridho,"
"Hmm, begitu,"
Hari ini, Alvian tengah menyeliki sesuatu, yang sejak semalam, Toni sahabatnya. Meminta Alvian, untuk memecahkan sebuah kasus, yang memang akhir-akhir ini mengusik kenyamanan masyarakat.
"Aku sarapan dulu, ya!"
"Iya, makan yang banyak ya sayang!"
Airin melangkah menuju meja makan, sedangkan Alvian masih melakukan percakapan, melalui chating bersama, rekan-rekan kepolisian.
"Kamu ke sini saja, Al!" pinta Toni.
"Ya, nanti siang aku menemuimu, dan juga rekan-rekan yang lain,"
"Okeh,"
Setelah siang datang, Alvian pun meminta izin kepada sang istri untuk bertemu dengan Toni. Awalnya Airin melarang, tapi karena kasus ini cukup penting, si cantik pun memberi izin.
__ADS_1
"Hati-hati mas!" titah Airin untuk Alvian.
"Iya," jawabnya lalu tersenyum penuh makna.
Saat Alvian akan masuk ke dalam mobil, ia bertemu dengan sang papa dan juga si mama, yang baru saja tiba di rumah, karena sejak pagi keduanya bekerja.
"Mau kemana, Al?"
"Ada sesuatu, yang harus ku selidiki pah,"
"Sudah dapat izin, belum, dari istrimu?" Kini Tania yang bertanya.
"Sudah mah,"
"Baiklah, kalau begitu, hati-hati dalam setiap pergerakan!"
"Siap, pah!"
Si tampan, segera masuk kedalam mobil, ia memacu kendaraan miliknya, dengan kecepatan tak biasa, namun Alvian tetap fokus dalam mengemudi mobil miliknya.
Chiiiit____
Tibalah ia di sebuah tempat, dimana rekan-rekanya sudah berada di sana. Alvian melihat kepanikan dan kebingungan dari raut wajah polisi-polisi muda tersebut.
"Aku sudah menyelidiki, tapi tak menemukan apapun," jelas Alvian seketika.
"Sama, Al... aku sudah cek internet dan browsing kemanapun, namun aku tidak bisa menemukan kode yang di kirim seseorang melalui surat kaleng, beberapa waktu ini," njar Toni pula.
"Mungkinkah, mereka adalah orang-orang suruhan Nino, yang mau membuat para polisi kalut,"
"Apa menurutmu itu mungkin? Apa kau yakin, jika para pengedar narkobalah, yang sudah melakukanya?" Toni penasaran.
Alvian, Toni dan beberapa rekan dari pihak kepolisan, kini tengah berkumpul di sebuah tempat, untuk memecahkan kasus, yang sungguh meresahkan. Karena beberapa hari ini, baik warga ataupun polisi, mendapatkan lemparan surat keleng dengan tulisan yang tak bisa mereka pahami. (LDBM122221) Begitu isi tulisan dari setiap surat kaleng yang di temukan.
"Mungkinkah, ini kode... untuk mereka bertransaksi narkoba?"
"Menurutmu bagaimana?"
Pihak kepolisian di buat bingung sendiri karena surat tersebut. Sejenak mereka beristirahat untuk menenangkan pikiran, dengan menikmati segelas kopi dan sepotong roti, yang mereka pesan dari selah satu penjual di sana.
"Hallo, Rin?"
Alvian mengangkat, panggilan telpon dari Airin, yang terlihat seperti baru saja bangun tidur.
"Mas, jam berapa pulang?"
"Nanti aku kabari, Rin. Ada apa?"
"Beliin aku bakso gak pake kuah, gak pake mie!" pintanya pada sang suami.
"Siap, kamu tunggu ya!" titah sang suami.
"Baiklah, Mas'ku,"
Pembicaraan melalui sambungan telpon pun usai, tanpa Alvian sadari, sedari tadi rekan-rekanya yang ada di sana, memperhatikan dan mendengarkan pembicaraanya dengan sang istri.
"Aah cieeee____ romantis banget, sih pak," goda Toni pada sahabatnya.
__ADS_1
"Hadeeeh," Alvian menautkan kedua alisnya, antara malu dan kesal. "Nikah sana! Biar bisa romantis-romantisan!" seru Alvian seraya menarik sudut bibir.
"Yalah, nanti kalau jodohku sudah tiba, so pasti, aku bakal kawin juga," balasnya lalu tertawa yang tentu saja membuat Alvian spontan meninju pelan pudak sahabatnya itu.
Siang menjelang sora, Alvian dan rekan-rekan diliputi canda dan tawa, meski dalam penyelidikan, mereka masih menyempatkan untuk saling bercerita, sebab sudah begitu lama, Alvian tak memiliki waktu dengan rekan-rekanya itu.
"Lantas, bagaimana kita mencari tahu, apa arti dari tulisan di surat-surat kaleng tersebut?" tanya Toni lagi, di sela-sela selesai waktu istirahat mereka.
Sejenak mereka terdiam, polisi-polisi muda tersebut tengah berpikir keras saat ini.
"LDBM122221.....?!"
Alvian menyebutkan lagi, kode tersebut.
"Apa ya, artinya?" decaknya lagi, Alvian kembali meraih kertas yang bertuliskan kode misterius itu.
"Apa ada petunjuk lain, Al?" Toni memastikan.
"Ada,"
"Apa?"
"LDBM122221/Mall/Terbesar." Ungkap Alvian dengan suara bergetar.
"Apa maksudnya, Al?"
Mereka semua untuk sesaat memilih untuk diam, bahkan Alvian sejenak memejamkan matanya.
"Sudah ku cari lewat google, tapi kode tersebut bukanlah sebuah bahasa dari negara manapun," gumamnya lirih.
Surat kaleng misterius yang hampir berhari-hari mereka temui dimana pun, memang sungguh membuat resah. Sebab ada yang melempar sembarangan, hingga akhirnya mengenai kepala beberapa warga.
"Aaah...!"
Alvian di buat kesal sendiri.
"Ayooo Al, berpikir!" ucap Alvian pada dirinya.
Begitupun Toni dan rekan-rekan kepolisian yang lain, mereka sama saja, tengah berpikir prihal kode sialan tersebut.
"Haaaah, aku tahu, artinya," ujar Alvian seketika yang tentu saja, membuat rekan-rekannya cukup terkejut.
"Apa, Al?"
Mereka menatap Alvian penasaran, dengan banyak tanya yang tentu membuat mereka semua berdecak heran.
"LDBM122221... yang artinya, Ledakan Bom di Mall Tebesar pada bulan 12 tanggal 22 tahun 2021...," jelas Alvian spontan yang langsung membuat rekan-rekanya terkejut.
"Haaaah! Kau yakin?"
"Sangat yakin... ini adalah teror segerombol T_E_R_O_R.. IS"
"Ya Tuhaaan!"
.
.
__ADS_1
.
❤Makasih kakak-kakak baik, makasih ya masih mau baca Alvian Airin, dan makasih banyak Tips yang di kasih ke karyaku. Semoga rizki kalian semakin bertambah. Lope you buat semuanya❤🤗💪💪💪