Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 53 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌺 Selamat Membaca 🌺


Setelah tiga hari lamanya Sisi berada di rumah sakit, kini ia pun sudah di izinkan pulang. Tapi kali ini perasaanya justru tak menentu sebab dari cerita Angga, sudah dua hari ini Arfi tak masuk ke kantor. Bukan itu saja, Sisi juga berusaha untuk menghubungi Cia, tapi Adik angkatnya itu tak pernah menjawab panggilan telepon darinya.


"Dua hari yang lalu, Ata bilang dia bertemu Cia yang sedang menangis sesenggukan." Angga membuka suara seraya fokus mengemudi mobil untuk mengantarkan Sisi pulang


"Apa yang terjadi, kenapa Cia sampai menangis sesenggukan?" nyatanya Sisi memang tidak tahu sama sekali apa yang sudah terjadi.


Angga pun menceritakan hal apa yang mungkin saja terjadi, karena menurutnya ada sesuatu antara Cia dan Arfi.


"Kamu yakin?"


"Ini hanya pikiran ku saja, karena mungkin malam itu, Cia melihat kamu dan Pak Arfi bermesraan. Pegangan tangan misalnya,"


Malam itu Arfi memang memegang tangannya seolah enggan melepaskan. Jika di ingat-ingat mungkin benar Cia salah paham pada akhirnya.


.


.


.


Sisi meminta Angga mengantarkannya ke rumah Arfi dan Cia tinggal, sesampainya di sana, mereka tak mendapati siapapun. Sisi sendiri mendadak bingung, ia coba menelepon Arfi dan juga Cia tapi keduanya sama-sama tidak ada menjawab.


"Kita harus kemana lagi? Menurut saya, sebaiknya kamu pulang dan istirahat saja dulu sebab kamu baru saja pulang dari rumah sakit!" usul Angga seraya menatap wajah Sisi yang masih tampak pucat.


Sisi pun mengangguk setujuh, karena ia memang merasa jika tubuhnya sangat lah lelah, karena memang seharusnya saat ini ia mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu.


.


.


Sementara itu, Mami dan Papi sama halnya, di buat bingung karena Arfi hilang mendadak. Bukan hanya kantor yang terbengkalai, tapi hal ini membuat Cia ikut panik.


"Coba cari di rumah Angga!" seru Cia kepada satpam rumah Mami dan Papi.


"Telepon aja dulu, Angganya itu!"


"Udah Mi, tapi nggak di angkat. Mungkin saja Arfi melarang Angga untuk memberi tahu,"


Mami dan Papi setujuh, mereka pun bergegas pergi ke rumah Angga. Dan sesampainya di sana, Angga justru menatap heran dan merasa aneh.

__ADS_1


"Kalau Pak Arfi ada di sini, saya juga tidak bingung dan tidak akan mencari tahu kalian," Angga berdecak sebal.


Benar saja, Angga lah yang memberi tahu mereka jika Arfi tak masuk kantor tiga hari ini dan setelah di cari ke rumahnya, bosnya itu juga tak ada.


"Hm," Papi hanya mengkerutkan dahi seraya berpikir keras. "Hubungi polisi saja dulu!"


Setelah melaporkan ke polisi, keberadaan Arfi tetap saja tidak di temukan, terlebih saat mengetahui ponsel Arfi di tinggal di rumahnya.


Cia panik sekaligus merasa bersalah, ia mengingat saat itu Arfi memohon agar ia tetap bersamanya. Karena hati masih terlalu sakit, tentu saja Cia tak mengindahkan permintaan sang suami.


Ck...


Dengan rasa yang kian lelah, Cia dan kedua mertuanya pulang ke rumah. Namun saat mereka masih berada di halaman, ketiganya di kejutkan oleh hadirnya Sisi yang tampak mondar mandir di teras.


Sisi pun sama terkejutnya, ia tidak tahu jika Cia ada di rumah Mami dan Papi. "Dek, Kakak telepon kamu kok nggak di angkat?" sesuai dugaan Angga, jika Cia saat ini sedang marah.


"Jangan mendekat! Aku lagi males banget mau ngobrol sama kamh," ucapnya ketus.


"Kenapa?"


"Nggak usah sok polos deh! Aku tahu semua rahasia yang Kak Simpan,"


"Maksud kamu?" dada Sisi berdebar tak karuan.


"Kakak hanya mau kamu bahagia, bukan berniat membohongimu."


Sisi pun menjelaskan alasan kenapa ia berhobong, bukan bearti ia tak menyanyangi Cia dan tak menghargai Adiknya.


"Aku rela patah hati demi kamu bahagia."


"Kalau rela, kenapa masih coba merebut Arfi dariku. Mataku masih sehat dan bisa melihat dengan jelas jika Kak Sisi dan suamiku bermesraan hari itu."


Sisi hanya menghela napas kasar, menjelaskan sesuatu kepada orang yang tengah emosi dan marah adalah hal yang percuma, karena apapun alasanya Cia tetap tidak akan menerima.


"Kita kenal, bukan hanya sehari dua hari saja, Aku yakin kamu pasti tau seperti apa sikapku. Jika sampai hari ini kamu masih marah apa lagi berpikir yang bukan-bukan itu hak dan semua terserah kamu."


Setelah berpamitan dengan Mami dan Papi, Sisi pun langsung melangkah pergi. Kedua orang tua Arfi itu lebih memilih diam dan tak ikut campur urusan mereka, karena mereka yakin, jika Cia dan Sisi bisa menghadapi masalah ini dengan bijak.


.


.

__ADS_1


Polisi sendiri, menghentikan pencarianya, bahkan tak memberi penjelasan kenapa mereka tak melanjutkan.


"Ada apa? Kenapa berhenti?"


"Pak Alvian, kami harap anda tenang! Tak ada hal buruk yang menimpa anak anda. Saya sudah bertemu dengan Arfi, tapi beliau meminta untuk tidak memberi tahu kalian, prihal keberadaanya."


"Haaah?"


Papi tak bisa berkata-kata lagi, rupanya Arfi memang sengaja menghilang. Alvian sendiri tak mengerti apa yang tengah di pikirkan oleh anaknya itu.


Bagaimana dia tega, menelantarkan Cia yang tengah hamil, meninggalkan kantor yang sedang membutuhkanya? Entahlah yang pasti ada alasan besar Arfi melakukan semua ini.


Kring kring!


Telepon rumah pun berdering, secepat mungkin Cia mengangkatnya. Untuk beberapa saat tak ada suara dari seberang sana, hening dan hanya terdengar hembusan napas yang seperti tengah berderu hebat.


"Hallo, ini siapa ya?"


"Cia."


"KAK ARFI." Cia yakin sekali, jika yang menghubungi kini adalah sang suami, ia terus memanggil tapi tidak ada jawaban. "Kak Arfi dimana, kenapa tidak pulang? Aku minta maaf, aku tidak akan marah lagi! Tolong pulang Kak, aku butuh kamu!" Cia terus berbicara sekalipun tak ada jawaban.


Lima menit kemudian, panggilan telepon pun di matikan. Cia panik karennya, ia balik menghubungi no tersebut tapi panggilanya terabaikan.


"Cia ada apa?" Mami bingung melihat Cia yang tampak panik.


"Kak Arfi menghubungiku, tapi dia tidak berbicara bahkan saat ku telepon kembali, dia justru tak mengangkatnya." tak terasa air mata di wajahnya pun berderai. Sebenarnya ada apa dengan suaminya?


Cia berujar, jika sampai dua hari kedepan Arfi tak kunjung kembali, ia akan mengajukan gugatan percerainya. Menurutnya Arfi tak memiliki hati, karena meninggalkanya di saat ia sedang marah.


Begitu pun Sisi, ia merasa sangat kesal dan emosi. Kenapa Arfi pergi meninggalkan Cia? Padahal Cia sedang mengandung anaknya?


Merasa di permainkan, baik Sisi dan juga Cia, tak akan pernah memaafkan jika sampai Arfi tak kembali dalam kurun waktu dua kali dua puluh empat jam.


Sementara Mami dan Papi merasa ada yang tidak beres dengan anaknya. Karena setau mereka, Arfi bukan tipe orang yang menghindar dari masalah.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2