Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 34 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌺 Selamat Membaca 🌺


Sedari kecil kebiasaan Cia tidak berubah seperti hari ini contohnya, setelah kepergian sang Mama membuat nya masih tidak sadar jika kini ia hanya tinggal bersama Papa.


"Ma... mau makan apa? Hari ini Mama mau aku beliin apa?" tanyanya seraya mengetuk pintu kamar. Hal ini memang selalu Cia lakukan setiap pagi saat berada di rumah.


Ceklek!


Pintu kamar pun terbuka, tegak lah sang Papa dan menatap tajam ke arah Cia. "Otak kamu nggak di pake ya? Atau kamu sengaja mau membuat saya sedih. Haaah?" rentetan pertanyaan itu membuat Cia tersenyum kelu. Ia baru ingat jika Mama sudah meninggal dunia.


"Maaf Pa!" ucap Cia menunduk. "Papa mau sarapan apa? Biar aku yang buatin ya?"


"Gaa, makasih!"


Pak Dana langsung menutup kembali pintu kamarnya. Sementara ia masih membatu, entah kenapa rasanya sakit sekali pagi ini. Cia kehilangan Mama dan sampai hari ini masih di acuhkan Papa. Bagi kedua orangtuanya, Cia bukan anak yang baik karena selalu membantah apa saja yang orang tuanya mau. Terlebih saat di jodohkan, gadis itu memilih meninggalkan rumah daripada menuruti keinginan Mama dan Papa.


Jam sepuluh pagi, Cia mendudukkan tubuhnya di kursi santai yang selama ini menjadi favorit Mama. Ia duduk seraya menatap ke halaman di depan rumah yang membentang indah serta di penuhi bunga warna-warni.


"Cia bersiaplah, sebentar lagi ada orang yang akan melamar kamu."


"Haaah? Siapa Pa?" tanya Cia penuh selidik saat sang Papa memberi tahunya.


Pak Dana tak menjawab dan ia memilih pergi dari hadapan Cia. Sementara anaknya di buat pusing sendiri dan berpikir jika sang Papa akan menjodohkannya dengan orang yang sangat tua lagi.


CK!


Hari ini, Cia ingin menjadi anak baik dan menuruti perintah Papa, prihal sstujuh atau tidak itu urusan nanti. Ia tak mau Papa marah dan kesal, takutnya struk lalu meninggal. Kehilangan Mama sudah sangat menyakitkan. Apa lagi jika harus kehilangan dua-duanya, pasti ia akan lebih dari kacau.


"Hem."


Entah kenapa, Pak Dana bahagia kala melihat Cia menuruti perintahnya padahal Cia belum tahu siapa pria yang akan melamarnya.


"Gimana Pa, aku cantik nggak?" Cia berusaha mencairkan suasana.


"Cantik." jawab Pak Dana jujur, padat singkat dan jelas. Meski singkat, Cia tetap bahagia mendengarnya


Tepat jam dua belas siang datang lah mobil yang sudah sangat familiar menu5 Cia. Dan benar saja Arfi lah yang keluar dan berja6 dengan gagahnya.


"Astaga.... kenapa Pak Arfi ke sini sih? Gawat kalau sampai Papa liat, di jamin pasti emosi. Ohh ya Tuhan... sulit banget ya mau jadi anak baik." omel Cua kesal sendiri, ia pun langsung berlari dan mendekati pria yang amat di cintanya itu.


"Cia ..." Arfi berdecak kagum saat melihat penampilan Cia siang uni. Cantiknya luar biasa, dengan gaun merah muda dan warna lipstik yang senada membuat tampilanya Cia semakin paripurna.

__ADS_1


"Pak, ngapain ke sini? Mau buat bokapku ngamuk ya? Dari tadi di tanya nggak jawab-jawab.


Arfi malah tersenyum manis dan sekali lagi ia hanya memanggil nama Cia lalu masuk ke dalam rumah tanpa di persilahkan. Gadis itu kian kalu secepat kilat ia berlari dan berusaha untuk menghentikan langkah sang kekasih.


HM


Saat Cia menarik paksa tangan Arfi dan memaksa untuk keluar, suara sang Papa yang justru menyapa Arfi lembuat tentu membuat Cia menghentikan aksinya. Semenit kemudian ia pun akhirnya bingung sendiri.


"Selamat siang Pak Arfi. silahkan duduk!"


Arfi pun mengangguk dan segera duduk, siang ini ia bersikap sesopan mungkin. Lalu menyapa Pak Dana ramah.


"Cia, ambil Pak Arfi minum!"


"Ba-baik Pa..."


Pada dasarnya Arfi memang paling hobi membuat orang ke bingungan. Hari ini saja misalnya, ia bersikap sang ramah tentu membuat banyak tanya di pikiran Cia.


"Katanya mau melamar anak saya. Lantas kenapa anda datang sendiri?"


"Saya hanya melamar belum menikahi. Jadi saya rasa datang sendiri tidak masalah " jawab Arfi tak minat.


"Hari ini saya secara resmi menjadi kan Cia tunangan saya. Dan ini anggap saja pengikat resmi antara kami!"


Arfi menyodorkan kan sebuah amplop tebal dan tampak sangat berat kepada Pak Dana membuat pria tua itu seketika menelan Saliva. Sungguh ini di luar prediksi nya, karena ia pikir Arfi akan melamar Cia ala kadarnya. Toh wajah sebab tanpa pesta dan tanpa adanya pertemuan keluarga.


"Anggap saja saya memberi DP... nanti akan saya beri lima kali lipat dari ini, jika saya dan Cia sudah resmi menjadi suami dan istri."


Mendengar itu Cia yang sedari tadi berdiri dengan membawa dua gelas teh hangat di tangannya. Seketika mendadak gugup, rasanya ia ingin selebrasi saat itu juga, bahagianya luar biasa.


"I-ini minumnya."


"Kalian berdua ngobrol saja, saya mau ke atas dulu!". dengan cepat Pak Dana melangkah dan tak lupa membawa amplop yang Arfi beri tadi. Membuat Cia dan Arfi tertawa geli.


"Papa kamu, matre nya.. nggak tanggung-tanggung ya?" ceplos Arfi seketika.


"Hem." hanya itu yang keluar dari bibir Cia.


"Ehh maaf! Bukan maksud menyinggung, tapi saya jujur."


"Iya Pak aku tahu.. emm btw Pak Arfi yakin mau menikahi ku?"

__ADS_1


"Ya nggak juga sih?" Arfi keceplosan lagi.


Cia hanya mampu menghela napas sebal, ia senang karena yang mau melamar siang ini ialah Arfi. Tapi tak bisa di pungkiri ia pun sedih karena sepertinya Arfi belum ikhlas mencintai nya sepenuh hati.


"Pak Arfi, belum bisa move on dari mantan istri anda kan?"


"Memang." sahut Arfi Jujur dan lagi-lagi spontan. Pria itu langsung menutup mulut dengan kedua telapak tangannya.


"Secantik apa mantan istri anda?"


"Cantik banget lah, mangkalnya aku susah move on."


"Terus kalau Bapak masih mencintai mantan istri anda. Lantas kenapa hari ini melamar ku?"


"Karena mantan istri saya yang meminta."


"HAAH!!!!?"


kali ini keceplosan Arfi sangat fatal, ia pun bingung kala Cia menuntut penjelasan. Bahkan nada bicara gadis ini sangat menekan.


"Katakan kepada ku. Siapa mantan istri anda dan dimana dia sekarang?"


"Astaga.... " Arfi benar-benar kehabisan kata-kata.


"Apa mantan istri anda ada di sini? Apa Bapak masih berhubungan dengan dia? Saya perlu tahu siapa masa lalu anda?" rentetan pertanyaan Cia membuat Arfi tersudut kan.


"Belum saatnya kamu tahu,"


"Kenapa?" telisik Cia curiga.


"Nanti kamu pasti akan tahu, cepat atau lambat."


Setelah berucap demikian, Arfi memilih berpamitan untuk pulang dan membiarkan Cia tenggelam dalam rasa penasaran. Meski sebenarnya Arfi mengutuki, mulut nya sendiri yang ceplas ceplos hari ini dan terkesan tidak bisa menjaga rahasia.


.


.


.


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2