Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
PSPHS2: Arnay Anindacha (Anak Arfa)


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Menjadi pribadi yang terpaksa mandiri, membuat mental Sisi belum setangguh itu, ia merasakan luka yang amat dalam, karena dikecewakan oleh pria yang amat dicintai nya, seseorang yang disebut Cinta Pertama.


"Maafkan kakak, Si!"


Berkali-kali ucapan itu keluar dari bibir Arfi, tapi Sisi tetap diam tak bergeming, ia hanya menyampaikan luka, melalui tetes demi tetes air mata.


"Si--."


Tak ada pilihan, karena nyatanya... air mata yang membasahi wajah Sisi, membuat batin Arfi juga terluka, ia bertekuk lutut di depan gadis itu dan meminta maaf berkali-kali, Arfi berharap Sisi mau memaafkanya.


"Kak,"


"Iya,"


"Kenapa, kamu menodai kepercayaanku? Kenapa kakak membuatku merasa di rendahkan. Apa karena kakak tau, jika kakak merebut paksa kesucianku, tak akan ada orang yang menuntutmu? Karena aku sadar, hidup tanpa siapa-siapa."


Emosi Sisi tidak bisa ditawar lagi, ucapan demi ucapan ia lontarkan, bahkan pemberontakannya membuat Arfi semakin merasa bersalah.


"Aku pria normal, yang memiliki n^fsu seperti pria lain pada umumnya. Tapi aku sadar, jika melakukan hal itu sebelum menikah adalah sebuah kesalahan." Arfi tertunduk malu.


Sejenak keduanya saling berdiam. Hanya sorot mata yang sama-sama menatap tajam, Sisi dan Arfi seolah mengungkapkan, bahwa keduanya sama-sama sudah jatuh cinta. Karenanya nyatanya, sebesar apapun kesalahan Arfi.... Sisi tidak ingin kehilangan pria itu, begitu halnya dengan Arfi, meski Sisi berusaha untuk membuatnya pergi, tapi Arfi tidak bisa melakukannya. Sayang dan cinta di hati tidak bisa di ganggu gugat.


"Kakak minta maaf ya! Janji, tidak akan melakukan ini lagi kepada Sisi!" ujar nya tulus.


Sejak hari itu, Sisi dan Arfi membatasi pertemuan mereka, keduanya tidak pernah bertemu di dalam ruangan lagi. Sisi meminta Arfi menemuinya. Jika ia sedang makan di luar atau jalan-jalan di sebuah wahana, hal itu sengaja dilakukan, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


***


Hari terus berganti waktu terus berlalu, kini usia kandungan Nayla sudah memasuki 9 bulan. Arfa sudah harap-harap cemas, untuk menantikan lahirnya anak pertama ia dan Nayla.


"Biasanya dalam ilmu kedokteran, melahirkan paling cepat 10 hari sebelum 9 bulan atau paling lama 10 hari setelah 9 bulan, jika lebih dari 10 hari, dari 9 bulan si bayi belum menunjukkan tanda-tanda akan keluar, maka dokter harus mengambil tindakan cepat atas persetujuan orang yang bersangkutan. Mau melakukan operasi secara cesar atau tidak?"


"Kini usia kandungan Nayla 9 bulan lebih 2 hari, tapi belum ada tanda-tanda jika Nayla akan melahirkan. Lantas saya harus bagaimana?" tanya Arfa spesifik mungkin.


"Anda sebaiknya mengurangi pekerjaan atau berpergian, di kondisi-kondisi usia kandungan 9 bulan... istri anda harus mendapatkan perhatian lebih!"


"Siap dok." jawab Arfa tegas.


Kini kedua nya, tinggal menunggu waktu hari baik dan bahagia itu akan tiba.


.


.

__ADS_1


"Yank, perutku sakit!"


Keluh Nayla, dan hampir seperti itu setiap hari. Arfa bolak-balik mengantarkan istrinya ke rumah sakit. Dan menurut dokter karena seringnya Nayla naik kendaraan, itulah penyebab perutnya sakit.


"Jadi kalau sakit harus bagaimana?" Arfa panik.


"Panggil bidan terdekat, di sekitar rumah kita saja yank!" usul Nayla seraya meringis menahan rasa sakit.


Arfa sudah berkonsultasi kepada si mami dan juga Nayla. Bagaimana jika istrinya melahirkan secara cesar saja.


"Tidak mau... Aku mau melahirkan secara normal saja, agar aku bisa merasakan betapa nikmatnya perjuangan menjadi wanita yang seutuhnya!' tolak Nayla lembut.


Karena merasa, tak bisa melakukan banyak hal, lagi pula Nayla sendiri yang merasakan sakit dan Nayla sendiri yang bersikukuh ingin melahirkan secara normal, Arfa hanya bisa menuruti nya.


"Fa.. minggu depan kita wisuda, kamu harus mengajak keluargamu, agar wisuda menjadi nikmat dan penuh kenangan!"


Seorang teman Arfa di kampus memberitahu. Ya... benar saja, karena Arfa sudah mendapatkan nilai terbaik saat kelulusannya. Bahkan ia di anggap mahasiswa paling cerdas di kampusnya karena nilai kelulusan Arfa di atas rata-rata.


"Kalau istriku sudah melahirkan dan dia serta bayiku sehat... maka, aku akan membawa seluruh anggota keluarga, saat nanti Wisuda." jelas Arfa.


***


Hari yang ditunggu pun tiba, Nayla dinyatakan sudah memasuki pembukaan 9 dalam fase melahirkan, artinya sebentar lagi anak didalam perut wanita itu akan lahir ke dunia.


"Fuuuh...!"


Kini di rumah sakit, bukan hanya ada Arfa saja, tapi ada si mami dan Papi, juga Arfi dan Sisi. Mereka bersama di sana untuk menemani Arfa, agar tidak merasakan panik yang berlebihan.


"Mas Arfa.. mari masuk, temani persalinan istrimu!" salah satu dokter memanggil Arfa dan meminta pria itu menemani Nayla.


Dan.... 30 menit kemudian suara tangisan seorang bayi membuat Nayla tersenyum haru. Rasa sakit yang mencekat selama menjelang persalinan terbayar sudah.


"Selamat mas Arfa... anaknya perempuan!"


Setelah di mandikan, si dokter memberikan bayi cantik itu kepada Nayla agar mendapat dekap pertama sang wanita yang telah melahirkanya. Arfa berdecak haru, ia tak henti-hentinya mengucap syukur saat melihat Nayla dan juga anak nya dalam keadaan sehat.


"Sayang,"


Arfa membelai lembut kening anak perempuan nya dan menatap wajah bayi itu dengan penuh cinta, ia merasa sudah menjadi seorang ayah dan suami yang sesungguhnya.


"Hai, keponakan om Arfi,"


Bukan hanya Arfa dan Nayla saja yang merasa bahagia, akan hadirnya bayi perempuan itu. Tapi.... Arfi pun merasakan hal yang sama, ia meminta izin agar bisa menggendong si kecil yang kini berada dalam dekapan Arfa.


"Dedek Arnay, ini om....!"

__ADS_1


"Haaah, Arnay?"


Semua mata menyorot tajam kearah Arfi yang memanggil bayi itu dengan nama Arnay.


"Iya.. Arfa dan Nayla. Jadi, Arnay'kan?"


Mereka semua menarik sudut bibir, seraya saling menatap dan bertanya. Apakah bayi itu akan diberi.


"Arnay Anindacha, di panggil Acha!"


Arfa meminta nama anaknya dengan nama Arnay Anindacha. Mengabung pemberian nama dari Arfi dan juga ia pribadi.


"Acha... cantik,"


Arfi lebih excited, saat Acha keluar dari perut Nayla, sejak masuk ia tak mau melepaskan si kecil dari dekap nya.


"Hm...,"


Sisi membuang napas pelan, bahkan nyaris tak terdengar, ia sedari tadi juga berada di sana. Sisi tersenyum kelu melirik Arfi yang bersikap seolah tak perduli.


"Om.. tante! Aku pulang dulu, ya!"


Sisi berpamitan pulang, tapi sayang Arfi seolah tak perduli.


"Hati-hati di jalan, Si!" titah Nayla seketika.


"Siap. Mbak Nayla juga, cepat pulih dan segera pulang ke rumah bersama dedek Acha!"


"Aamiin, terima kasih, Si!"


Sisi mengangguk pelan, ia berjalan keluar dari ruangan, seraya sesekali menoleh kebelakang berharap jika Arfi akan mengantarnya, tapi ternyata percuma, pria itu tak nampak batang hidungnya.


"Sepertinya, kak Arfi tidak serius denganku, lebih baik, aku tidak terlalu berharap kepada nya!" ucap Sisi pelan, seraya menunggu Taxi lewat.


"Apa aku harus menikahimu dulu? Agar kamu yakin, jika aku... tidak main-main, memiliki perasaan padamu. Jika menikah adalah salah jalan, untuk membuktikan perasaanku, maka... lusa? aku akan menikahimu secara agama."


"Haaaah...?" Sisi tercengang antara terkejut atau senang. Setelah mendengar penuturan Arfi baru saja.


.


.


.


.

__ADS_1


.


TERIMA KASIH


__ADS_2