Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Marah dan Mengancam


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Raut wajah Alvian seketika saja memerah, sorot matanya nanar luar biasa, emosi dan amarah, kini seolah menyergap seluruh batin dan perasaanya.


"Rin, apa yang kau lakukan? Lihatlah, pak Alvian marah besar, karena kau membuat kegaduhan di sini!" Julian spontan memarahi Airin, yang memecahkan gelas kaca hingga berantakan di lantai.


"Ma_maaf pak!" gugup Airin namun tatapanya mengarah ke wajah sang suami, yang nampak jelas tengah menahan emosi.


"Bersihkan!" titah Julian kemudian.


Tanpa pikir lagi, Airin pun segera membersihkan, pecahan gelas kaca yang berserakan di hadapanya.


"Berhenti!"


Alvian meraih tangan si cantik sebelum menyentuh remukan gelas tersebut, sementara si tampan pun segera memunguti, satu persatu, pecahaan gelas yang tak sengaja di jatuhkan oleh istrinya.


"Pak... apa yang anda lalukan?!" Ridho dan Julian menatap heran, sikap tak biasa yang di lalukan Alvian.


"Apa kalian buta? Bahwa aku tengah memunguti pecahaan kaca.. cepat, bantu aku membersihkanya!" titah Alvian spontan.


Dan... tak ada pilihan bagi Ridho dan Julian, untuk kemudian segera membersihakan ruangan, sementara Airin diam tanpa kata, ia masih bingung kenapa Alvian ada di dalam ruangan ini.


"Apa kau di sini bekerja sebagai, OB?"


"Ti_tidak,"


"Lalu, kenapa kau membawa gelas-gelas berisi air minum ini kemari?"


Si cantik pun menceritakan semua hal yang sudah terjadi, hingga ia harus di beri sangsi, untuk menggantikan tugas "OB" yang sedang libur kerja.


"Katakan padaku! Siapa yang memintamu melakukan ini?"


Airin pun menjuk wajah Julian, yang seketika menatap kesal ke arahnya.


"Ohhh anda..? Apa hak anda meminta dia menjadi pembantu di sini?" kekesalan Alvian tak bisa di tawar lagi.


"Maaf pak! Dia sudah membuat gaduh beberapa hari ini, hingga para karyawan tak bisa bekerja dengan fokus," jelas Julian pada atasanya.


"Ohh begitu...," Alvian pun berjalan pelan, menuju tempat duduknya, seraya menarik tangan si cantik untuk mengikuti langkahnya. "Tolong, tunjukan rekaman CCTV untuk beberapa hari ini! Aku mau melihat, siapa saja yang sudah menghina dan mencaci "ISTRIKU"!" tegas Alvian dengan semua pengakuan dan kejujuranya.


"Haaaah.... istri...!!"


Hampir semua orang yang berada di ruangan tersebut, menatap tak percaya ke arah Alvian yang kini menggenggam erat tangan Airin.


"Iya, istri... Airin memang istriku!" jujur Alvian lagi tanpa ragu sama sekali.


Sssttt... Ck....

__ADS_1


Mereka semua diam tanpa kata, tak ada yang berani berbicara, yang mereka lakukan hanya tertunduk malu, terutama orang-orang yang telah menghina dan mencaci maki Airin.


"Saya bukan tidak tahu.. apa yang terjadi kemarin, yang membuat kalian menyudutkan Airin!!"


Si tampan mulai buka suara.


"Apakah, sikap dan sifat kalian adalah menghakimi orang lain, tanpa tau... apa yang sebenarnya terjadi. Asal kalian tau, wanita yang kemarin mencaci maki Airin, itu adalah Amira, adik kandung istri saya, dan itu artinya, Airin adalah anak kandung pemilik perusahaan yang berdiri tepat di depan perusahaan saya ini," kesal Alvian kian membara.


Pria tampan itu, mengungkap kebusukan orang tua Airin, dan mengatakan hal apa yang sudah mereka lakukan terhadap putri kandung mereka sendiri.


"Sesakit dan sesulit itu hidupnya, hingga aku menjadikan dia istriku, dengan satu alasan, agar tak ada satu orang pun, yang akan merendahkanya! Tapi, nyatanya... aku melihat karyawan-karyawan kantorku sendiri yang membuat batin Airin terluka lagi."


"Ma_maaf pak!" pinta mereka lirih.


Mereka menahan malu, yang amat luar biasa, karena ternyata wanita yang beberapa hari ini mereka "Bully" nyatanya istri dari pemilik perusahaan dimana mereka bekerja kini.


"Catat.. nama siapa saja, yang kemarin merendahkan istriku!" titah Alvian pada Ridho.


"Ba_baik, pak,"


"Aku akan membawa, masalah ini kejalur hukum, karena perbuatan yang benar-benar tidak menyenangkan!!" ancam Alvian tak main-main.


"Haaaah...,"


Para karyawan yang merasa, menghina Airin pun saling berpandangan, mereka benar-benar takut akan ancaman yang Alvian layangkan.


"Pak, kami minta maaf! Sungguh, kami tidak tahu, jika Airin adalah istri anda," salah seseorang pun memberanikan untuk buka suara.


Tertunduk dan menunduk, hanya itu yang bisa mereka lakukan.


"Al... maafkan mereka! Beri mereka kesempatan untuk merubah, sikap buruk yang mereka punya," kini Airin pun ikut berbicara, namun ada senyum kemenangan yang tersungging di wajah cantiknya.


Sungguh, ia tak menyangka, jika Alvian memiliki kejutan tak terduga untuknya, sebab Airin benar-benar belum mengerti, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Alvian ada di sini, bahkan suaminya itu memperkenalkan diri sebagai pemilik perusaan dimana Airin bekerja kini.


"Nasib kalian, ada di tangan istriku!!" tegas Alvian lagi dan para karyawanya itu segera meminta maaf kepada Airin.


Melihat itu, si cantik seolah tak perduli, ia justru menarik tangan sang suami, dan mengajak Alvian keluar dari ruangan.


"Heei, Rin... apa yang kau lakukan?"


Si tampan menatap heran, sikap Airin yang membuat Alvian menggeleg pelan.


"Katakan padaku! Dimana kursi rodamu?!!"


"Di rumah," jawab Alvian seolah tanpa rasa bersalah.


"Bagaimana, bisa, kau berdiri dan tegak sendiri saat ini, sedangkan tadi pagi, kau masih duduk di kursi, bahkan... dengan sangat mengejutkan, kau mengatakan, bahwa kau pemilik perusagaan ini," Airin benar-benar keheranan.

__ADS_1


"Yang mana nih, mau ku jawab dulu? Pertanyaamu, terlalu banyak, cintaku," Alvian justru menggoda istrinya.


"Al........!!" pekik Airin dengan sorot mata yang kian menajam, seolah bak singa yang siap membunuh mangsanya.


"Santai dong, Rin... jangan teriak-teriak!" Alvian tetap bersikap sesantai mungkin.


Si tampan menceritakan, semua hal yang sudah ia rancang, semua Alvian lakukan demi sang istri.


"Ja_jadi, kau....?" seketika saja mata Airin pun berkaca-kaca.


"Heeei, jangan menangis dong! Aku melakukan banyak hal, berpura-pura lumpuh, lalu mendirikan sebuah perusahaan, itu semua demi dirimu, agar kau tak pernah menangis dan bersedih lagi," jujur Alvian dengan segenap rasa tulus dan cinta yang ia punya.


"Haaah, Al...,"


Tanpa pikir lagi Airin pun segera memeluk tubuh suaminya, dan mendekap erat, tubuh pria yang sudah "SAH" menjadi suaminya.


"Sebentar lagi, perusahaan papamu, akan jatuh ketanganmu,"


"Bagaimana bisa, kau melakukan semua ini?"


"Bisa... sangaaaaat, bisa, sebab aku sudah berjanji, akan membalas, setiap tetes air mata yang jatuh melalui pipimu."


"Haaah,"


Dekapan rasa haru, seolah tak mau Airin lepaskan, ia bersyukur pada Tuhan, karena telah mengirim Alvian dalam hidupnya, untuk selalu ada dan mencintai si cantik setiap detik.


"Al... apa yang kau lakukan, untuk merebut perusahaan, papa?"


"Hmmm.... papamu itu sudah di ambang kehancuran, hutangnya padaku sudah setengah dari harga jual perusahaan, miliknya,"


"Woow, benarkah?"


"Iya... dengan begitu, aku bisa mengambil alih perushaan papamu, atau ku beli setengahnya lagi, untuk mengakuisi semua saham agar menjadi milikku, sebab sudah di pastikan, keluargamu tak akan mampu membayar hutangnya padaku," jelas si tampan pada istrinya.


"Luar biasa, kau sehebat itu, ternyata ya. Aku kira, kau hanya tau cara menangkap penjahat, tapi nyatanya... kau bisa memusnahkan siapapun yang kau mau,"


"Ohhh.. tentu," jawabnya si sertai tawa sejadi-jadinya.


Hari ini, adalah hari bahagia yang kesekian kalinya Alvian berikan... dan tak akan terlupakan. Cinta si tampan untuk istrinya, tak bisa di lukiskan dengan luasnya samudra, dan tingginya langit di angkasa. Luas, lebar dan tak terkira, itulah cinta Alvian untuk sang istri tercinta.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa bahagia buat semua, kalian semua luar biasa, semoga tetap betah, baca dua "A" ya🤗❤.


🕊Terima Kasih🕊


__ADS_2