Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 26 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

❣Selamat Membaca❣


Sepanjang pertemuan antara kedua orang tuanya dan Sisi, Arfi memilih untuk diam saja, seraya memperhatikan mereka berbicara. Dalam hati ada harap besar yang menyelimuti pikiran Arfi.


"Ah," ia berdecak lirih lalu mengusap wajah berkali-kali, saat ia mengharapkan Sisi kembali seketika Arfi teringat jika kini statusnya menjadi kekasih Cia.


Setelah hampir satu jam mereka melepas rindu dan bercerita apa saja, kini waktunya mereka berpisah. Mami berharap Sisi sering-sering mengunjunginya di rumah, jika pun tak berstatus menantu lagi, kedua orang tua Arfi sangat berharap Sisi menjadi anaknya.


.


.


.


***


"Sering-sering'lah berkunjung ke rumah, Mami sangat berharap kalian bertemu setiap hari!" ucap Arfi sesaat setelah mengantarkan Sisi pulang.


"Iya." jawabnya singkat


"Satu lagi, jangan dekat-dekat dengan Angga!"


"Kenapa? Angga anak baik, aku nyaman di dekat dia."


Mendengar penuturan Sisi, Arfi seketika memasamkan wajah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia langsung pergi dari hadapan Sisi.


"Kenapa dia nggak peka, sih? Kalau aku sebenarnya cemburu." omel Arfi kesal seraya terus memacu kendaraan miliknya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sisi bukan tidak tahu, tentang Arfi yang cemburu setiap kali ia dan Angga berdekatan. Tapi Sisi hanya pura-pura tidak tahu dan membiarkan mantan suaminya itu bergelut dengan rasa cemburu. Sisi tidak mau egois karena Arfi kini berstatus sebagai ke kasih Cia. Dan Sisi juga sadar, jika ia lah yang dulu menceraikan Arfi, jadi sungguh Sisi sadar ia tak boleh mengharap lebih dari pria itu lagi.


.


.


Ck


Saat Arfi masih berada di jalan, ponselnya berdering berkali-kali, ia melirik ke layar handpone miliknya dan tertera nama Cia di sana.


Merasa kasihan, Arfi pun memilih untuk mengangkat telepon dari Cia. "Hallo, selamat sore menjelang malam," Arfi bersuara sangat lembut.


("Pak Arfi masih di mana?") suara Sisi berderu, napasnya terengah-engah. "Tolong aku, Pak... tas ku di jambret dan sekarang aku di jalanan sendirian, untung hp ku, nggak ikut kejambret juga?") Cia menjelaskan, bahkan suaranya seperti tengah menahan tangis.

__ADS_1


Arfi cukup terkejut mendengarnya. "Oke, oke saya jemput kamu, tolong share lokasi dimana kamu saat ini!" titahnya kemudian.


("Baik, Pak,")


Dengan berbekal informasi dari alamat yang di kirim Cia, Arfi lagsung bergegas menuju ke tempat gadis itu berada.


DAN!


Sampai lah Arfi di sana, di mana Cia kini berdiri seorang diri, gadis itu tampak gemetar dan ia menangis sampai bahu tergetar.


"Cia, kenapa?"


Spontan Arfi langsung melepas jacket di tubuhnya dan memberinya kepada Cia yang tampak ke dinginan. Hari sudah menjelang malam cuaca sekitar sudah hampir gelap


"Ayo pulang!"


Ajak Arfi pelan, tapi Sisi masih diam membatu dengan tangis yang semakin tersedu-sedu. Ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun


Ck.


Berisisiatif sendiri, Arfi menggendong tubuh Cia lalu membawa gadis itu masuk ke dalam mobil. Cia justru semakin mengencangkan tangisnya.


"Tolong dong, jangan nangis histeris begini! Aku bingung tau," jujuf Arfi dan berhasil membuat tangis Cia sedikit reda "Nanti, saya belikan kamu dompet baru dan saya isi uang'nya penuh-penuh, sudah ya jangan menangis lagi!" nyatanya merayu Cia lebih sulit dari pada merayu anak TK.


"Hah?" Arfi hanya terpaku dan heran, pasalnya ini baru pertama kali Cia membentak kasar.


"Maaf, Pak!" ucap Cia semenit kemudian, kini ia hanya mampu menunduk malu. "Di dalam dompet itu ada foto Almarhum Adik ku, Pak dan itu penting banget, karena foto dia di rumah nggak ada lagi, Mama dan Papa menyimpannya dan aku nggak tahu dimana." ungkap Cia jujur.


Arfi pun menghela napas pelan, ia akhirnya paham kenapa Cia menangis sehisteris tadi dan kini ia akhirnya merasa bersalah. "Maafkan saya Cia!"


Gadis itu menjawabnya dengan senyuman, ia tahu tipe manusia seperti Arfi adalah manusia yang jarang sekali menyadari ke salahan, tapi malam ini Arfi meminta maaf dengan sangat tulus kepada Cia.


"Saya antar kamu pulang, ya!"


Cia mengangguk, kini ia tidak menangis lagi meski rasanya masih sangat sedih, karena kenangan satu-satunya yang ia punya, hilang di ambil orang.


"Pak aku butuh sesuatu," pinta Cia malu-malu.


"Apa?"


"Tadi rencanya aku keluar rumah untuk membeli pem ba lut, karena aku sedang datang bulan. Tapi belum sempat aku membeli dompet suduh di curi orang." Cia berkata jujur meski harus menahan rasa malu.

__ADS_1


Arfi hampir saja tertawa beruntung ia bisa menahanya. Tapi jujur ia juga ikut malu sendiri dengan cerita Cia baru saja.


"Ya sudah, ambil ini! Beli apa saja yang kamu mau!" Arfi menyodorkan kartu kredit ke arah Cia.


"Te-terima kasih, Pak!"


Dengan malu-malu Cia pun keluar dari mobil saat Arfi menghentikan laju kendaraan tepat di depan super market. Ia tak menyangka jika musibah yang datang tiba-tiba kini seketika membawa berkah, Cia akhirnya tahu sebaik apa pria bernama Arfi itu dan tentu sikapnya membuar Cia semakin jatuh cinta dan secinta-cinta. Ia tidak sadar jika rasa cinta yang sangat tinggi, suatu saat bisa menjatuhkanya ke dasar yang paling bawah


Ssatt..


Lima belas menit kemudian, Cia kembali ke dalam mobil, ia tersenyum simpul karena Arfi sesabar itu menunggunya. "Terima kasih, Pak, ini kartu kredit anda!"


Arfi mengambinya tapi sorot matanya mengarah ke benda yang di beli Cia. Gadis ini benar-benar hanya membeli pem ba lut saja dan Arfi menggeleng karenanya. "Coba beli minuman atau snack tadi!"


"Hehe- Maaf Pak, aku nggak berani," ujar Cia polos.


DAN!


Saat Arfi akan memacu kendaraanya, Cia melihat orang yang tadi mencuri dompetnya, ia masih mengingat wajah orang itu dan kini berdiri tepat di depan mobil Arfi.


"Pak, itu orang yang mencuri dompetku tadi, aku masih mengingat jelas saat dia mengambil paksa dari tanganku."


Arfi langsung mengerutkan dahi, matanya melotot menahan kemarahan. Dan ia pikir si pencuri adalah manusia tergoblok semuka bumi, karena berani sekali menjambret dompet orang tanpa menutup wajahnya, sehingga Cia masih bisa mengenali


"Anda saya tankap atas tuduhan pencurian!" Arfi belagak seakan ia Polisi, toh nyatanya dulu ia memang bertugas di kepolisian.


Pria yang usianya masih sangat muda itu pun seketika gemetaran, ia coba untuk berlari tapi Arfi sudah lebih dulu mengunci tanganya. Pernsh menjadi seorang Polisi tak cukup sulit untuk melumpuhkan pria ini.


Sontak, apa yang terjadi kini langsung menjadi pusat perhatian banyak orang. Dan benar saja, saat Arfi geledah di dalam jacket pria ini ada dompet milik Sisi dan dua lagi milik orang lain.


"Kamu saya tangkap!"


"A-ampun, Pak!"


Tak ada pilihan, pria muda itu memilih pasrah dan menyerah, toh begini lebih baik dari pada ia di hajar oleh masa.


.


.


.

__ADS_1


B E R S A M B U N G


__ADS_2