Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Rencana Pernikahan


__ADS_3

🌺Selamat Membaca🌺


Malam menyapa dengan udara yang begitu dingin hingga menusuk tulang, namun di luar sana bulan dan bintang tengah bersinar terang. Seindah perasaan Airin yang sedang berbunga-bunga.


"Rin, sudah selesai?" tanya Tania dari balik pintu kamar yang kini di gunakan oleh Airin.


"Sudah tante," jawabnya seraya membuka lebar pintu kamar.


Saat ini, ada hal yang ingin Tania katakan, kepada gadis cantik yang kini tinggal di rumahnya.


"Kau lelah?"


"Tidak," Airin menggeleng. "Apakah, ada yang perlu ku bantu?" tanyanya kemudian.


"Hemmmm...," Tania membuang nafas panjang lalu menatap wajah si cantik penuh arti.


Wanita paruh baya itu, kini tengah memberikan selamat atas kebebasan Airin dan meminta Airin untuk merawat anaknya.


"Dengan senang hati, aku akan menjaga Alvian sepenuhnya," janji Airin.


"Bagus, kau harus membuat anak tante, memiliki semangat hidup lagi, dan jika kau berhasil membuat Alvian bisa berjalan. Tante akan memberimu sejumlah uang,"


"Maaf, aku ingin merawat Alvian bukan karena uang, perasaanku benar-benar tulus, tapi jika tante mau memberiku uang setelah aku menikah, akan ku gunakan untuk mendirikan perusahaan. Dengan ilmu yang ku miliki, aku yakin bisa mendapatkan banyak patner kerja,"


"Kau yakin?"


"Yakin tante," jawabnya tegas.


"Nanti, akan tante pikirkan,"


"Baiklah tante, tapi..." ucapan Airin tertahan.


"Tapi apa?"


Airin pun mengutarakan rasa takutnya atas sikap Reyhan. Apakah pria paruh baya itu akan memberi restu atas hubunganya dengan Alvian.


"Serahkan semua kepada, tante. Itu urusan tante, tugasmu hanya merawat anakku setulus dan sepenuhnya, tapi Rin, andai kau nanti memiliki perusahaan yang akan kau dirikan, apa kau bisa merawat dan menjaga Alvian?"


"Akan ku usahakan, dan membawa Alvian kemanapun aku pergi, walau mengurus perusahaan nanti, dia akan ku bawa hidup dengan senormal mungkin," ujar Airin.


Janji demi janji, ucapan demi ucapan, Airin lakukan untuk meyakinkan Tania. Tujuanya tetap sama agar sukses, karena ingin memberi pelajaran terhadap keluarganya, namun di sisi lain, ia juga ingin menikah dengan Alvian atas dasar cinta, bukan karena ia memiliki tujuan tersendiri.


"Temuilah Alvian, ajak dia makan malam!" titah Tania seraya berlalu dari hadapan si cantik.


"Baik tante,"


Airin pun segera beranjak dari duduknya lalu menatap ke "Kaca" dan memandangi wajahnya dengan seksama.


"Berhias, Rin," lirih Airin pada dirinya sendiri.


Kebetulan di atas meja rias yang ada di dalam kamarnya, memang ada make up yang sudah tersedia di sana.


"Lumayanlah, biar wajahku gak kusut-kusut banget,"

__ADS_1


Airin segera merias wajahnya dengan make up, yang kini ada di hadapanya, setelah hampir 4 bulan lamanya, ia tak pernah menyentuh barang-barang tersebut.


Dan... 15 menit kemudian gadis itu keluar kamarny lalu masuk ke dalam kamar Alvian.


"Permisi, apakah ada orang?"


Canda Airin sesaat akan memasuki kamar si tampan.


"Heleh, preet," jawab Alvian dengan bercanda pula.


Ssssssssstttt...


Seketika Alvian terbelalak tak percaya saat menatap Airin yang kini berdiri tepat di depanya. Gadis itu lebih cantik dari biasanya, dress pendek sederhana dengan polesan make up sederhana pula, namun memancarkan kecantikan yang paripurna.


"Wooy, apa liat-liat?"


Spontan saja Alvian mengusap wajahnya yang sejak tadi terpesona akan kecantikan Airin.


"Ihh, apaan sih, Rin?"


"Aku tau, kamu pasti terpesona dengan kecantikanku. Iya, kan?"


"Ihhh, pede banget, ya!"


"Udah deh, ngaku aja!" todong Airin lagi.


"Iya deh, ngaku... kamu memang cantik banget malam ini, Rin," jujur si tampan kemudian.


"Jadi, kemarin-kemarin, aku nggak cantik ya?"


"Ehh.. kok sewot sih, pak?"


"Ya kamuuu, alay banget sih,"


Buhahahaha... Airin pun tertawa sejadi-jadinya saat melihat exspresi wajah Alvian yang tak biasa.


"Makan malam yuk!" ajak si cantik kemudian.. setelah menghentikan tawanya. Gadis itu segera mendorong kursi roda milik Alvian untuk menuju ke meja makan.


Senyum.... Kini senyum di wajah Tania mengebang, saat melihat Airin membawa anaknya untuk makan malam bersama. Sebab ini kali pertama, Alvian makan bersama lagi, setelah 3 bulan memilih makan hanya di dalam kamar saja.


"Al," haru sang mama.


"Malam, mah," sapanya.


Suara Alvian pun terdengar berbeda dari biasanya... wajahnya memancarkan kebahagiaan, senyum mengiringi setiap hela'an nafas. Hadirnya Airin di rumah mereka, seolah menjadi penyemangat untuk Alvian.


"Lihatlah!" titah Tania kepada suaminya, sebab sejak tadi Reyhan memilih untuk diam saja.


"Apaan sih, mah, biasa aja, deh," kilah Reyhan malu-malu.


Pria paruh baya itu sebenarnya bahagia saat melihat senyum di wajah anaknya yang sudah sekian lama tak pernah Alvian tunjukan.


"Al... ini pizza ke sukaanmu. Setiap malam papa pasti membelinya, meskipun tak kau makan," ujar sang papa dengan raut wajah yang benar-benar bahagia.

__ADS_1


Dengan sigap Airin pun mengambil pizza tersebut dan memberikanya kepada Alvian.


"Enak nih, Al, aku sudah 4 bulan tidak pernah makan ini," ujarnya.


"Benarkah? Mau aku suap?" tanya si tampan tanpa ragu.


Airin tersipu malu, ia tak menyangka jika Alvian akan bersikap sedemikian manis kepadanya. Bukan tanpa alasan pria tampan itu bersikap sebaik mungkin di hadapan sang papa, sebab Alvian tau jika papanya itu, tidak menyukai kehadiran Airin di rumahnya.


"Pah, bolehkah, aku miminta izin?"


Reyhan menautkan kedua alisnya, sejujurnya ia sudah tau apa yang akan Alvian sampaikan padanya.


"Apa... katakanlah!"


Dengan segenap keyakinan yang Alvian punya, pria muda itu meminta restu agar bisa menikah dengan Airin secepat mungkin.


"Apakah ini tidak terlalu cepat, Al? Kan, Airin baru saja keluar dari penjara,"


"Menurutku, semakin cepat semakin baik," tegas Alvian pula.


Tania dan Airin yang juga berada di sana, memilih untuk diam saja dan membiarkan Alvian berbicara kepada sang papa.


"Boleh.. tapi, siapa yang akan menjadi wali nikah Airin?" tanya Reyhan seraya menatap tajam wajah Airin.


DEG!


Pertanyaan tersebut seolah mengoyak luka yang sudah menganga dan membuat luka tersebut semakin parah. Airin hanya mampu membisu dan tertunduk lesu.


"Kedua orang tua Airin, sudah tidak menganggap dia anaknya, menurutku, meski di paksa, mereka tak akan mau untuk hadir di pernikahan Airin nanti. Jadi, kesimpulanya, Airin akan menikah dengan wali hakim yang nanti akan di siapkan," jelas Tania kepada suaminya.


Hingga terjadi perdebatan yang amat panjang antara Reyhan dan Tania, namun akhirnya sang papa yang mengalah dan membiarkan anaknya menikahi mantan penghuni tahanan tersebut.


"Jadi kapan kita bisa menentukan tanggal pernikahan?"


"Terserah, Alvian dan mama. Aku ikut saja," jawabnya pada sang istri.


Alvian pun meminta, hari pernikahanya dengan Airin di lakukan 1 bulan lagi. Bahkan si tampan meminta hari pernikahanya di lakukan semewah mungkin.


"Undang semua sahabat dan rekan-rekan papa, tanpa terkecuali!" titah Alvian.


Ada maksud dan tujuan dengan pernikahan mewah yang Alvian inginkan. Ia berharap sang papa akan mengundang keluarga besar kedua orang tua Airin yang tak lain sahabat dari Reyhan.


"Aku ingin melihat, keterkejutan mereka, saat melihat bahwa Airinlah yang akan menjadi istriku, anak yang sudah mereka sia-siakan," lirih Alvian dengan semua keinginan dan rencanaya.


.


.


.


.


JANGAN LUPA BAHAGIA BUAT SEMUAā¤

__ADS_1


Dan... maaf ya kalau jarang bales komentaršŸ˜­ā¤ā¤ā¤.


TERIMA KASIH


__ADS_2