
❣Selamat Membaca❣
Sisi masih menatap tajam ke arah Jeni, seseorang yang menjadi guru di tempat ia sekolah. Bukan hanya Sisi saja, Jeni pun, menatap tajam ke arah gadis mungil tersebut.
"Kalian saling mengenal?" si Mami penasaran ia meminta Jeni dan Sisi untuk duduk.
"Si, ayo keluar, tidak sopan!"
Jeni justru menarik tangan Sisi dan meminta muridnya itu untuk keluar dari rumah Arfa. Tapi di halangi oleh Arfi dan membawa Sisi untuk duduk di sampingnya.
"Apa-apaan ini?"
"Anda yang kenapa?" Arfi mendengus kesal, seraya menggenggam tangan Sisi.
"Fi, bicaralah sedikit sopan, kamu seorang polisi bukan?" si Mami mengertak.
"Lantas, kenapa dia berani menarik-narik tangan Sisi dan mengusir. Belum menjadi istri sudah tidak sopan."
"Maksud kakak apa?" Sisi terkejut saat Arfi mengatakan jika Jeni akan menjadi istri.
"Nanti biar saya yang menjelaskan. Kamu jawab dulu pertanyaan tante!" Airin bicara sepelan mungkin agar tak menyentak perasaan gadis yang si mami ketahui hanya pacar pura-pura anaknya.
"I-iya, tadi tante bertanya apa padaku? Maaf aku sedikit pelupa?" Sisi gugup.
"Apa kamu mengenal Jeni dan bagaimana bisa kalian berkenalan?"
Sisi tersenyum getir, ia menatap dalam-dalam wajah Jeni yang duduk tepat di samping wanita bernama Airin itu... yang tak lain ibu kandung dari Arfi kekasihnya.
"Bu Jeni adalah guru di sekolahku, itu sebabnya kami saling mengenal," jelas Sisi kemudian.
"Dan Sisi adalah siswi yang paling tidak aku sukai." Jeni pun membuka suara.
"Haaaah?"
Si mami terdiam sejenak, Arfa dan Nayla yang sedari tadi memilih diam, juga merasa terkejut, bukan hanya itu saja, Arfi pun merasakan hal yang sama.
"Aku lebih tidak menyukai Bu Jeni karena sudah tua tapi suka tebar pesona ke murid-murid pria, di tempat aku sekolah. Bu Jeni terlalu lebay menurutku," Sisi menjelaskan, kenapa ia tidak menyukai wanita itu.
"Aku juga membencimu. Karena kamu siswi yang paling bebal di sekolah," Jeni bicara pula.
"Karena anda suka menyudutkanku dan menghinaku. Anda bahkan suka mengusirku keluar, ketika jam pelajaran anda,"
__ADS_1
Perdebatan antara Sisi dan Jeni terus terjadi, saling menyudutkan dan menjatuhkan. Tapi dari perdebatan yang terjadi Arfi dan si mami bisa menilai, mana yang tulus dan mana yang bulus.
"Baik... kalian diam dulu! Biar saya yang berbicara."
Si mami pun menjelaskan siapa Jeni dan kenapa dia ada di sini bersama mereka. Karena selama Airin mengenal anak dari sahabatnya itu, Jeni di kenal sebagai anak yang sopan dan baik hati, tidak seperti tadi yang berani mengusir Sisi meski di hadapan Arfi dan keluarganya.
"Jadi... saya dan suami saya berencana menjodohkan Jeni dan Arfi. Usia anakku sudah dua puluh tiga tahun bahkan sebentar lagi akan berusia dua puluh empat tahun, seharusnya sudah menikah dan memiliki tambatan hati."
DEEEG!
Penjelasan wanita paruh baya itu, sepontan membuat Sisi terdiam, hatinya sakit... batinya hancur. Seketika air matanya pun jatuh, karena merasa akan kehilangan Arfi, sebab kedua orang tua pria itu ingin menjodohkan Arfi dengan Jeni.
"Si- kenapa kamu menangis?" kini Nayla yang bertanya.
"Iya. Bukankah kamu dan Arfi hanya pacar pura-pura... jadi saya punya hak untuk mencarikan anakku jodoh,"
Ck...
Air mata di wajah Sisi kian deras saja, karena orang tua Arfi mengatakan, jika ia hanya pacar pura-pura... padahal dua bulan yang lalu Arfi sudah menyatakan cinta dan menjadikan hubungan mereka pacaran yang sebenarnya bukan pura-pura.
"Aku menolak perjodohan ini dan tidak bisa menerima Jeni!"
"Iya mi.. aku tahu jika aku sudah dewasa, tapi aku tidak mungkin menerima Jeni, karena aku dan Sisi bukan pacaran pura-pura. Kami sudah meresmikan hubungan sekitar 2 bulan yang lalu tapi aku lupa menjelaskan kepada Mami dan juga Papi," ujarnya.
Jeni yang merasa kesal, karena mendengar semua penjelasan Arfi baru saja, membuat ia hilang akal dan spontan menendang meja yang ada dihadapannya... Jeni merasa perasaannya dipermainkan karena nyatanya dia sudah jatuh cinta kepada Arfi, meski hanya melihat lewat foto saja.
"Lihatlah! Apa wanita seperti itu yang Mami pilih untuk menjadi pendamping di hidupku?" Arfi menunjuk Jeni yang melangkah jauh dan keluar dari rumah.
Si mami menggeleng cepat, Ia tidak menyangka jika gadis pilihannya tak memiliki sifat sopan santun juga bersikap baik dan benar. Sikap Jeni baru saja cukup menjawab tabiat gadis itu yang sebenarnya.
"Jadi kalian bukan pacar pura-pura? Lantas kapan kalian akan menikah, jika Sisi saja masih duduk di bangku SMA?' todong si mami tiba-tiba dan membuat Sisi diam tanpa kata.
Sisi kian tertunduk malu ia tak menjawab sedikitpun pertanyaan yang wanita paruh baya itu ajukan saat ini, sepertinya.. diam lebih baik. Begitu pikir Sisi.
Ssssttt....
Kembali tanpa ragu sedikitpun, Arfa meraih tangan Sisi lalu menggenggam erat tangan gadis itu menggunakan jari-jemarinya Arfi mengatakan jika ia akan menikah, saat Sisi sudah lulus sekolah.
"Haaah? Berapa bulan lagi Sisi lulus?"
'Dua bulan lagi tante,"
__ADS_1
"Kamu siap, menikah dengan anak tante di usia yang sangat muda?"
"Si-siap, aku percaya, kak Arfi pria baik dan akan menjagaku sepenuhnya,"
"Oke.... kalau begitu, besok saya dan suami saya, akan datang ke rumahmu dan bertemu dengan kedua orang tuamu.. untuk memintamu bertunangan terlebih dahulu dengan Arfi." Si mami menegaskan.
"Haaah?"
Lagi.. air mata diwajah Sisi pun tumpah dan ia menangis sesenggukan, setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh Airin.
"Kamu kenapa, kok menangis?"
Bukan hanya sih mami saja yang heran, tapi Arfa dan Nayla juga, keduanya yang sejak tadi memilih diam, tapi mendengarkan baik-baik percakapan antara si mami, Sisi dan juga Arfi.
"A-aku,"
Sisi semakin tertunduk, ia tak mampu mengangkat kepalanya, karena air mata di wajahnya terus tumpah karena merasa sedih. Arfi yang melihat hal itu, spontan mendekap tubuh kekasihnya dan menenangkan sebisa mungkin.
"Jangan menangis... mami dan papiku, juga anggota keluargaku, pasti akan menerimamu! Kami terlahir dari keluarga baik-baik dan memiliki toleransi besar terhadap status sosial setiap orang," Arfi meyakinkan.
"Tunggu-tunggu! Apa maksud dari ucapanmu? Mami tidak mengerti?" Airin menggeleng pelan karena penasaran.
Arfi menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, polisi muda itu menceritakan dan menjelaskan siapa Sisi.
"Sisi yatim piatu, dia sudah tidak memiliki kedua orang tua , termasuk keluarga. Sisi hanya sendiri, dia menjadi gadis yang tegar dan kuat, bahkan mempunyai pendirian yang hebat. Itulah sebabnya. Aku jatuh cinta meski usianya masih sangat muda," ujar Arfí seraya terus menggenggam erat jari jemari Sisi.
Arfi pun mengungkap hal, yang membuat Sisi kehilangan kedua orang tuanya dan menjadikan dia yatim piatu. Hal itu sungguh membuat si mami, Arfa dan Nayla yang mendengar, menjadi terharu.
"Kemarilah...!"
Si mami meminta Sisi untuk mendekat. Airin langsung memeluk gadis mungil itu, yang telah membuat anaknya jatuh cinta.
.
.
.
.
Terima Kasih
__ADS_1