
🕊Selamat Membaca🕊
Alvian melajukan mobil dengan kecepatan tak biasa, ia sudah tak sabar ingin segera tiba di kantor polisi.
"Menurutmu, apakah pria misterius itu pengirimnya?" tanya Airin seraya mentap Alvian yang fokus di kursi kemudi.
"Ya... menurutku, pria misterius itu pelakunya,"
Airin menghela nafas pelan, ia benar-benar penasaran. Apa alasan orang itu mengirimkan uang, baju-baju bahkan berlian, yang tentu saja menimbulkan banyak tanya di benaknya.
~
Kini tibalah keduanya di kantor polisi, dengan langkah terburu-buru Alvian segera masuk kedalam.
"Dimana dia?" tanya Alvian tanpa basa-basi.
"Itu...!"
Toni menunjuk ke arah seorang pria, yang usianya tak lagi muda, duduk di kursi dengan kepala tertunduk.
"Hai," sapa Alvian pelan, ia tak mau marah-marah kepada pria itu.
Ssssttt....
Ia mulai berani menampakkan wajahnya, tatapan mata menajam ke wajah Airin, entah apa arti dari tatapan itu, yang nampak hanyalah sendu dengan bola mata yang berkaca-kaca.
"Maaf pak! Barang-barang ini, milik anda?"
Kini Airin yang bertanya, ia menyodorkan kembali, barang-barang yang sudah pria itu kirim untuknya.
"Apa tujuan anda, memberi semua ini, kepada istriku?"
Alvian masih berusaha, bersikap setenang dan sesabar mungkin, terlebih lagi usia.pria itu tak lagi muda
Diam. Pria itu masih memilih diam, ia kembali menundukan kepala, entah mengapa ia tak kuasa menatap wajah cantik Airin.
"Setiap peket yang anda kirim, selalu terdapat surat di dalamnya, anda seolah ingin menyampaikan sesuatu." Lagi-lagi Alvian coba mendesak pria paruh baya tersebut.
Hampir 30 menit mereka berada di dalam sana, pria itu tatap memilih diam tanpa kata, dan seketika membuat Alvian cukup geram.
"Jangan emosi, Al!"
Airin berbisik di telinga suaminya, sebab nampak jelas betapa Alvian menahan marah sejak tadi.
"Tolong, jelaskan! Apa alasan anda melakukan ini semua?!" sergah Alvian lagi.
Melihat Alvian sudah tak mampu menahan emosi, hingga memaksa Toni juga ikut berbicara, yang akhirnya pria paruh baya itu, mulai membuka suara.
"Jangan memperlambat perkerjaan kami, katakan semuanya tanpa ada yang di tutupi sedikit pun!" titah Toni.
"Namaku, Bima Prastio... aku kakak kandung dari Bayu, yang tak lain ayah kandungmu," pria itu mulai beebicara dan menjelaskan semuanya pada Airin dan Alvian, namun sorot matanya, menatap sendu wajah si cantik.
__ADS_1
~Dulu~
Sekitar beberapa tahun yang lalu, dimana saat itu "Anita" Ibu kandung Airin tengah hamil empat bulan. Namun sejak di dalam kandunga, Airin terpaksa harus kehilangan papa kandungnya, di karenakan, Bayu Pratio, meregang nyawa karena di lenyapkan dengan sengaja oleh sesorang, dan dialah Bima Prastio, kakak kandung Bayu sendiri. Pembunuhan itu terjadi karena di sebabkan rasa benci akibat iri.
Ya.. Iri.
Sebab, pada saat itu, Bima adalah orang yang selalu setia menemani Arman kemanapun pergi. Arman adalah kakek dari Alvian, salah satu orang yang paling di hormati pada saat itu. Arman menginginkan anak laki-laki, hingga dia mutuskan untuk mengganggap Bayu sebagai anaknya dan memberi fasilitas apapun terhadap Bayu. Sementara... selama ini Bima'lah yang selalu setia dan menemani Arman kapanpun dan di manapun. Hal itu memicu api kebencian dan dendam yang tak ter'elakan. Bima memutuskan untuk menghabisi keduanya.
Ya... pembunuhan itu memang Bima rencanakan, dan akhirnya baik Bayu atau pun Arman, mereggang nyawa di tanganya. Padahal saat itu, Anita, wanita yang sangat Bayu cintai, tengah mengandung empat bulan.
"Haaaaah....!!"
Tangis Airin pacah, sakitnya tak mampu di lukiskan oleg kata-kata. Bagaimana bisa, seorang kakak tega membunuh adiknya sendiri?
"Artinya, papamu bukan sengaja pergi atau tak bertanggung jawab, Rin. Tapi karena ia sudah meninggal dunia, namun mamamu tidak tahu. Hingga ber'asumsi, bahwa papamu pergi, karena tak mau betanggung jawab, atas kehamilan mamamu pada saat itu," ujar Alvian spontan.
Lemas, seketika saja tubuh Airin gontai, ia tak mampu berdiri... dengan sigap Alvian segera mendudukan tubuh istrinya di kursi.
Buuugh... Buuuugh!
Alvian melayangkan pukulan berkali-kali, hingga pria paruh baya itu, meringis kesakitan.
"Maaf, aku khilaf!" pinta pria itu lirih.
"Klilaf katamu,"
Plaaak.. plaaak!
Kini Alvian mendaratkan tamparan, yang spontan membuat pria itu semakin gemetaran.
Emosi.... Ya emosi Alvian tak bisa di tawar lagi, sebab pembunuh kakek sekaligus pembunuh ayah kandung Airin, kini ada di hadapanya. Orang yang bertahun-tahun ini ia cari, karena Alvian berencana membuat perhitungan denganya.
"Gila... kau bagikan ular yang bisa bersembunyi di mana saja, begitu sulit di cari dan di temui, aku sudah lama ingin membuatmu masuk ke dalam penjara." Omelnya panjang lebar, dengan tatapan yang amat nanar.
Buuuugh!
"Al," Toni berusaha menghentikan aksi Alvian, yang berkali-kali memukul pria itu.
"Biar ku buat dia mampus, hari ini!"
"Jangan gila! Karena nanti, kau yang akan di pidana," Toni mengingatkan.
"Aaah... sial! Bawa dia pergi dari hadapanku! Sebelum aku membunuhnya," titah Alvian dengan mengepal jari-jarinya
"Bawa semua uang dan apapun yang ku beri padamu, anggap untuk membayar waktumu, yang hidup tanpa tau siapa ayah kandungmu!" ucap pria paruh baya itu lirih, bahkan ia nampak begitu kesakitan, karena pukulan yang tadi Alvian layangkan.
"Apa kau kira, uang 500 juta dan semua hal yang kau beri padaku, akan menghidupkan kembali nyawa papaku, hal itu tak akan membayar rasa rinduku yang tak akan pernah terwujud." Emosi Airin pula ikut tersulut.
"Maaf!"
"Haaaaaah!!"
__ADS_1
Airin berteriak, ingin sekali rasanya, ia menarik rambut pria itu, lalu menjedotkanya ke tembok berkali-kali, namun ia berusaha menahan emosinya, sebab pria di hadapanya ini sudah lanjut usia, dia tak lagi muda, itu sebabnya Airin tak tega untuk melangsungkan niatnya.
Ssssttt....
Pria tua itu sudah di bawa ke ruang tahanan, sebelum akan di tindak lanjuti, lebih lanjut lagi. Awalnya Airin dan Alvian tak berniat memenjarakan pria tersebut, namun setelah mendengar semua pengakuanya, tanpa aba-aba di pastikan polisi akan tetap menangkap lalu menahan, sebab kejahatan Bima di masa lalu, tetap harus di pertanggung jawabkan.
"Al, ini sesuatu dari pak Bima untuk istrimu!" Toni menyerahkan sebuah kotak kepada Alvian.
"Apa ini?"
"Buka saja!"
Alvian menyerahkan kotak itu kepada sang istri, lalu meminta Airin untuk segera membukanya.
Dan... Lagi-lagi, Airin di buat gagal paham, akan isi di dalam kotak tersebut.
"Apa, Rin?"
"Ini....!"
Airin menunjukan isi di dalam kotak yang di berikan Bima untuknya, kepada Alvian, yang spontan membuat si tampan menggeleng pelan, sebab isi kotak tersebut adalah sebuah dokumen, yang Airin sendiri tak tahu dokumem apakah itu.
"Dia memberikan semua hartanya padamu, Rin!" ucap Toni kepada istri sahabatnya itu.
"Haaah,"
Airin terperanjat tak mengerti, apa maksud dari semua ini.
"Pak Bima, merasa bersalah padamu, maka dari itu, ia memberi semua harta yang dia punya, dan dokomen-dokumen ini, beliau minta untuk di serahkan padamu,"
Alvian menghela nafas pelan lalu membuang secara perlahan.
"Huuuf!" tak ada kata yang bisa ia ucapkan.
"Dan, padamu Al, pak Bima juga menyampaikan maafnya, terutama untuk keluarga besarmu, yang tentu saja kecewa dan marah, atas hal yang menyebabkan hilangnya nyawa kakekmu," tambah Toni lagi.
Sesak sekali rasanya, namun marah dan emosi pun percuma, karena hal itu tak akan merubah kenyataan yang ada.
"Takdir memang tak ada yang tau," lirih Airin sendu.
Ya benar... siapa yang menyangka, jika nyatanya Tuhan menakdirkan Airin untuk menjadi pendamping hidup Alvian, yang akhirnya Airin ketahui, jika Alvian adalah cucu dari ayah angkat, dari papa kandung Airin sendiri. Sama halnya dengan Alvian, karena nyatanya, ia menikahi anak dari adik angkat mamanya sendiri.
Dunia memang tak sesempit daun talas, tapi takdir Tuhan dekat sedekat-dekatnya, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, jika Tuhan sudah campur tangan.
.
.
.
😊
__ADS_1
Maaf ya! Kalau tulisan dan karyaku tak sesuai keingian kalian, tapi tulisan ini, sesuai dengan apa yang sudah di rencanakan sejak awal. Setiap karya yang di tulis oleh para Author, pasti sudah melakukan riset sebelumnya🤗❤
🕊Terima kasih kakak-kakak baik🕊