
🌸Selamat Membaca🌸
Arfa dan Nayla menghubungi Sisi dan Arfi, mengatakan jika mereka akan pulang ke Indonesia sekitar 5 bulan lagi.
"Cocok... saat kalian pulang, aku satu bulan lagi persalinan." sorak Sisi riang.
"Benar juga, ya. Sisi, mau kado apa?" tanya Nayla.
"Aku mau lahiran mbak, bukan ulang tahun." Sisi menautkan kedua alisnya.
Arfa dan Nayla tak kuasa menahan tawa. "Hm, melahirkan juga perlu di kasih kado, Si."
"Gak lah... yang penting kalian datang saja!"
Arfi yang sedari tadi hanya mendengarkan, tersenyum ke arah istri kecilnya. Sisi benar-benar polos, baik hati dan tidak banyak menuntut ini dan itu. Arfi tak menyesal menikahinya.
***
"Selamat hari libur........!!"
Teriak Sisi senang, setiap hari sabtu dan minggu menyapa. Ia naik-naik ke atas tempat tidur dam membuat Arfi menggeleng pelan.
"Sisi.... duduk! Kamu sedang hamil, jangan loncat-loncat begitu!"
Arfi menarik tangan Sisi dan langsung memeluk tubuh sang istri. "Ka-kakak... sekarang sudah jam delpan, ayo kita bangun!"
"Mau jam delapan, sembilan, sepuluh, terserah! Hari ini kakak libur kerja, jadi mau berduaan sama kamu di kamar."
"Tapi kak...!"
"Tapi apa, hem?"
"Laper tau.. kan belum sarapan."
"Oh iya, hahaha!"
Arfi tertawa datar, melihat wajah menggemaskan Sisi saat mengatakan, jika dia lapar. Arfi langsung beranjak lalu menelepon pak satpam untuk membelikan keduanya sarapan.
"Ini pak... nasi kuning dan ayam geprek!" sarapan pun tiba, pak satpam meletakan di atas meja.
"Bapak sudah makan belum?"
"Sudah pak." ia tersenyum.
"Kalau begitu, ambil ini!" Arfi memberikan satu lembar uang berwarna biru.
__ADS_1
"Te-terima kasih, pak!"
Di apartemen mewah ini, Arfi memang paling akrab dan di kenal oleh banyak satpam. Gaya Arfi yang kasar tapi baik hati, memang sangat melekat di ingatan mereka, saking baiknya, salah satu satpam, istrinya melahirkan tapi tak ada biaya untuk persalinan, Arfilah yang membayarnya tanpa meminta imbalan. Arfi berharap para satpam itu mau menjaga Sisi sebaik mungkin saat ia sedang berada di kantor.
"Ke Mall yuk kak!"
"Ngapain ke Mall?"
"Main selancar.. ya shoping'lah!" Sisi berdecak kesal.
"Jangan ke Mall deh, sayang. Ke pantai aja yuk!"
"Gak mau.. panas."
Perdebatan panjang berlangsung cukup lama, dan akhirnya mereka memutuskan untuk main ke taman kota saja. Untuk menikmati hari santai di akhir pekan.
Wuuuuush!
Jalan-jalan, naik motor menikmati indahnya alam lepas, memandang langit luas, hal yang tak bisa di lakukan, jika bepergian menggunakan mobil.
"Burung-burung terbang di alam bebas, mereka gak takut kepanasan, apa ya?"
"Bego!" umpat Arfi mendengar celotehan sang istri.
"Dih, aku kan hanya bertanya. Kok kakak sewot sih?"
"Ya ampun... kakak jadi ceramah!"
Seketika Arfi menautkan kedua alisnya. Prihal pendapat keduanya selalu bertentangan, adu pendapat dan di pastikan selalu berdebat, tapi ujung-ujungnya tetap Arfi lah yang mengalah.
Ck....
"Heh!"
Sisi bergumam lirih, saat melihat sebuah mobil berwarna merah mengikuti laju kendaraan yang di kemudi oleh Arfi.
"Fadil..!"
Ya, Fadil memang mengikuti mereka berdua, hari ini ia berencana membuat Arfi cemburu, Fadil sudah memasang taktik licik untuk mencapai tujuanya. Ia sungguh tergila-gila, dari dulu perasaanya untuk Sisi tak pernah berubah, hanya saja saat dulu ia masih kecil dan tak bisa menentang ucapan kedua orang tuanya. Kini ia sudah dewasa dan bisa menentukan, pilihanya sendiri. Gilanya.. ia tak perduli, kalaupun Sisi sudah menikah.
***
Setibanya di taman, Sisi langsung berlari mengejar penjual es krim, ia tak perduli jika tingkahnya jadi sorotan banyak orang.
Ck...
__ADS_1
"Hati-hati, Sisi!" seru Arfi seraya menghela napas berat.
Sisi tak perduli, ia berlari-lari seperti anak kecil, membeli ea krim, bercanda ke banyak penjual dan membeli apa saja yang ia suka. Arfi hanya tersenyum melihat tingkah istrinya, lagi pula Arfi harus sadar, jika Sisi kehilangan masa remaja dan hal inilah yang membuat Sisi kini, seperti anak-anak.
Wuuush!
"Haaaah? Fadil?"
Saat ia akan terjatuh, tiba-tiba datanglah Fadil dan langsung menolongnya, pria ia tersenyum simpul menatap tajam wajah Sisi.
"Hati-hati, cantik!'
Arfi yang sedari tadi hanya duduk saja, langsung berlari cepat ke arah sang istri. Dan memandangi Fadil penuh benci, ia menatap sinyal-sinyal mencurigakan, dari pergerakan pria muda tersebut.
"Santai bang. Aku hanya menolong istrimu! Kenapa anda marah?" Fadil bersikap menyebalkan.
"Huuuh. Aku baru ingat! Jika kamu teman sekolah Sisi dulu, kan?"
"Kalau iya. Kenapa? Masalah buat and"
Jari jemari Arfi mengeras, ingin sekali menarik tubuh si sialan itu lalu melemparnya jauh-jau.
"Sudahlah, kak! Ayo kita pergi!"
"Takut sekali, Si? Katakan saja, jika kamu masih menyukaiku. Kamu dulu kan, mengejarku!"
"Jaga ucapamu!" Sisi geram.
"Sudahlah, jangan perdulikan dia, ayo!"
Arfi mengajak sang istri menjauhi Fadil dan tiba-tiba saja Sisi kembali terjatuh dan kali ini benar-benar jatuh.
"Sisi...!!"
"Aw... perutku sakit kak!"
Dan benar saja, karena jatuh lumayan parah, membuat Sisi mengeluarkan darah. Posisi jatuh yang terduduk, membuat rasa sakit seolah sampai ke jantung. Melihat kondisi sang istri yang cukup parah, Arfi tak mau berpikir panjang lagi, ia langsung memapah tubuh Sisi dan membawanya kerumah sakit.
.
.
.
.
__ADS_1
.
TERIMA KASIH