
❣Selamat Membaca❣
Banyak sekali hal-hal yang tak Arfi sukai di muka bumi ini, tapi situasi seperti saat ini lebih-lebih lagi, sangat ia benci. Kondisi di mana, ia sudah menjadikan Cia kekasihnya, tapi Sisi kembali tiba-tiba, sementara hati Arfi sepenuhnya milik wanita itu.
"Pak sudah pulang belum? Tadi makan jam berapa? Sekarang Pak Arfi lagi ngapain?"
Pesan singkat yang Cia kirim berturut-turut, sontak membuat kening Arfi berkerut. "Ya ampun, gini nih akibatnya, kalau pacaran sama anak-anak," celoteh Arfi berkali-kali, ia bukan marah tapi merasa geli atas sikap dan perhatian yang Cia beri.
"Saya sudah makan, tapi belum pulang karena ada jadwal bertemu rekan kerja malam ini. Cia, masih di rumah orang tuamu, ya?" nada bicara Arfi lembut, halus dan menghanyutkan, karena kini ia sedang menghubungi gadis yang baru saja resmi menjadi kekasih.
Karena benar-benar bahagia, sebab ini kali pertama Arfi menghubunginya melalui sambungan telepon. Bukan hanya wajah saja yang tampan, suara pria itu juga terdengar sangat menawan. "Iya, Pak... aku masih di rumah Mama dan Papa," ucap Cia sangat gugup.
"Lalu, apa kabar dengan, Mama' mu? tanya Arfi lagi.
"Tadi siang sakit perutnya kambuh, tapi malam ini Mama sudah lebih baik," Cia menjelaskan, meski awalnya ragu untuk bercerita kepada pria itu.
"Syukurlah, sampaikan salam dariku untuk mereka,"
"Baik Pak,"
Sambungan telepon pun teputus, lima belas menit kemudian. Arfi segera melangkahkan kaki menuju sebuah tempat di mana rekan kerjanya sudah menunggu.
''Anda sendirian?" orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri, rupanya Arfi benar-benar datang sendiri.
"Saya Arfi, maaf membuat anda menunggu lama," ujar si tampan sangat sopan.
"Ah tidak masalah, silahkan duduk, Pak! Perkenalkan nama saya Andre."
"Oke, Pak Andre salam kenal!" Arfi mengulurkan tangan. "Hem, ngomong-ngomong.... hal apa yang mau anda tawarkan kepada saya?"
Pria bernama Andre itu menghela napas pelan lalu tertawa kecil. Tampak sekali jika pria yang duduk di hadapanya kini, adalah tipe-tipe manusia yang tidak memiliki tingkat ke sabaran sedikit pun.
"Begini Pak Arfi, saya memiliki tanah yang sangat luas dan sudah di bangun juga beberapa perumahan di atas tanah tersebut. Niat saya ingin menjual tanah itu kepada anda," jelas pria itu tampan ekspresi.
"Boleh, tapi saya ingin melihat dulu dimana letak tanah itu!"
"Baik Pak, besok saya akan mengajak anda ke sana."
Arfi hanya membalasnya dengan anggukan, tanpa menjawab sepatah katapun. Yang jelas dia memang ingin membeli tanah sebanyak-banyaknya untuk masa depan di kemudian hari.
.
.
__ADS_1
.
***
Setelah urusan pekerjaan selesai, Arfi langsung bergegas pulang ke rumah. Ia memacu kendaraan sepelan mungkin, karena jujur saja kini ia sedang tidak fokus menyetir.
Dan benar, hampir saja ia menabrak seseorang. "Maaf- maaf!" pintanya. Arfi langsung turun dari mobil, ia berniat menolong lalu meminta maaf.
"Kamu-
Nada bicara keduanya langsung meninggi. Arfi memasamkan wajah, sementara Sisi menggigit bibirnya sendiri.
"Ngapain malem-malem begini masih di luar?" todong Arfa berkedok tanya.
"Kepo sekali anda ya!" tukas Sisi tanpa ragu.
"Ini sudah malam, kamu keluar hanya pakai sepeda saja, nanti napasmu sesak gimana? Aneh banget, malam-malam keluyuran."
"Suka-suka aku dong. Aku lagi keliling nih buat cari brondong ganteng di pinggir jalan, siapa tahu ketemu."
"Wih, sejak kapan Sisi suka brondong?"
"Sejak tadi, kamu saja bisa jadian dengan Cia yang masih bocah. Kenapa aku nggak?" ucapnya tanpa sadar, sedetik kemudian Sisi menutup mulut dengan telapak tanganya.
"Ngomong apa tadi?"
"Sisi- mau kemana, sih?"
Tubuh Arfi yang tingga, dengan sangat mudah mengejar laju sepeda wanita itu. Sisi pun menyerah dan memilih mematung dan diam tanpa kata.
"Jadi, intinya.... kita mau saingan, nih? Aku dapet anak kuliahan, kamu mau cari brondong gitu?" Arfi menggoda mantan istrinya.
"Dih, apaan sih!" Sisi berdecak sebal. "Kakak mau apa, sebenernya?"
"Kakak?" telisik Arfi penasaran. "Perasaanku, kamu sudah lama nggak panggil aku dengan sebutan itu, bahkan kemarin pake, Fa, Fi, Fa, Fi, aja!'
"Maaf kemarin aku khilaf!"
Malam ini untuk kali pertama mereka bisa berjalan berdua, setelah dua tahun lamanya mereka berpisah. Ada rasa canggung, malu dan tak enak hati menyergap perasaan masing-masing
Tapi jujur saja, sangat munafik jika Arfi dan Sisi tidak bahagia, karena kenyataanya selama ini, mereka sama-sama memendam rasa, sama-sama memendam rindu. Tapi di situasi saat ini, tidak memungkinkan terutama bagi Sisi, untuk mengatakan jika ia masih sangat mencintai.
"Pulangnya aku anterin, ya!"
__ADS_1
"Nggak ngerepotin, nih?" basa basi Sisi.
"Nggak dong,"
Keduanya berjalan menuju mobil. Arfi berniat mengantarkan Sisi pulang, saking bahagia dan nyaman, mereka seakan lupa, jika ada perasaan Cia yang harus di jaga.
"Jadi sebenernya, kita sangat dekat sejak awal. Tapi setiap kali aku mengantarkan Cia pulang ke sini, aku tak pernah melihatmu." ujar Arfi setelah keduanya sudah tiba di halaman kos-kosan milik Sisi.
"Mungkin, kemarin-kemarin.... Tuhan belum menakdirkan kita bertemu." jawab Sisi kemudian.
"Mungkin." jawab Arfi singkat. Sorot matanya kini memfokuskan pada sosok wanita yang sangat ia rindukan. Kali ini Arfi tidak ingin ke hilangan Sisi lagi.
"Aku masuk ya, terima kasih sudah mengantar aku pulang!"
"Sama-sama." lagi-lagi Arfi hanya menjawab sedemikian singkat.
Dengan hati berbunga, malam ini Arfi pulang ke rumah dengan sangat bahagia. Berbeda dengan apa yang kini di pikirkan Sisi, ia tentu saja sangat bahagia, tapi Sisi merasa ia telah mengkhianati Cia.
"Nggak- nggak- aku bukan pacaran atau jadian, tadi hanya tidak sengaja bertemu," Sisi bermonolog sendiri.
.
.
Dan Arfi yang kini sudah berbaring di atas ranjang, masih tebayang-bayang manisnya senyum Sisi tadi. Wanita itu tak berubah sama sekali, meski usianya kini sudah dua puluh lima tahun.
Ck
Saking tenggelamnya di dalam perasaan bahagia, Arfi sampai melupakan ponselnya yang sejak pulang dan masuk kamar, benda pipih itu ia letakan di atas nakas.
DAN!
Betapa terkejutnya ia, saat mendapati dua puluh tujuh panggilan tak terjawab dan beratus rentetan pesan singkat yang semua di kirimkan oleh Cia. Secepat mungkin, ia balik menghubungi gadis itu.
"Cia, tadi saya sedang di jalan. Ada apa, sampai kamu menghubungi sebanyak ini?" tanya Arfi juga penasaran.
"Nggak ada sih, Pak... aku hanya takut, jika anda kenapa-kenapa. Karena di telepon tak di angkat, pesan WhastApp pun tak berbalas." ungkapnya jujur.
Seketika Arfi merasa sedih dan merasa bersalah. Prihal ia tadi yang jalan-jalan bersama Sisi. Sementara Cia merasakan kepanaikan dari jauh sana, takut terjadi apa-apa pada pria yang kini sangat Cia sayangi.
"Maafkan aku, Cia!" lirih Arfi dalam hati.
.
__ADS_1
.
B E R S A M B U N G