Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Bab 31 : ISTRI UNTUK MANTAN SUAMIKU


__ADS_3

🌸Selamat Membaca🌸


Angga benar-benar hilang akal. Karena sikap Arfi yang semakin membuatnya brutal. Ucapan demi ucapan yang Arfi lontarkan justru membangkitkan api kemarahan.


"Santai dong, saya tahu kamu cinta Cia, tapi bodohnya kamu diam saja. Cinta dan rasa itu di ungkapin, bukan di sembunyiin."


"Bacot lu, Arfi!" pekik Angga meninggi, ia bahkan tak memiliki sopan santun sama sekali. Sedangkan Arfi sendiri hanya tersenyum lirih seraya mengusap wajah yang keuar darah segar dari hidung dan bibir. Rasanya jangan di tanya, perih luar biasa.


"Saya bukan hanya bicara, tapi semua sesui fakta. Cia mencintai saya, karena saya lebih menunjukan dengan perbuatan, bukan diam dan tidak di ungkapkan. Memangnya Cia Malaikat yang akan paham tanpa kamu beri tahu. Hidup ini realistis Angga, jangan goblok!!"


Mata Angga berkaca-kaca, rahangnya mengeras, tanganya terkepal, emosinya sudah memuncak. Ia kembali mendaratkan tinjuan, tapi sayang Arfi bisa menepisnya kali ini dan berbalik meninju wajah Angga.


"Gimana, sakit nggak? Atau mau di tambahin?"


Arfi benar-benar mengejek dan saat ini pandangan orang-orang di Rumah Sakit tertuju kepada mereka berdua. Bahkan pihak ke amanan langsung meminta keduanya pergi.


"Ini Rumah Sakit bukan lapangan, kalau mau ribut di luar sana!" Pak Satpam RS mencibikan wajah.


Wajah Angga mendadak pias. "Saya juga Satpam, jadi nggak usah sok usir saya!" cowok itu berteriak setelahnya ia pergi meninggalkan rumah sakit.


Arfi sendiri sontak mengerutkan dahi terlebih rasa sakit di wajahnya terasa kian perih. "Hm, nggak usah repot-repot usir saya!" ujar Arfi sarkas setelah itu ia juga memilih pergi.


Pak Satpam rumah sakit dan beberapa orang yang ada di sana, seketika menggelengkan kepala, karena sikap gila Arfi dan Angga. Mereka berasumsi jika keduanya ribut karena merebutkan perempuan.


.


.


Cia yang kini berada di ruangan, menatap Sisi penuh kasih, ia sudah sering melihat sang Kakak bolak balik masuk rumah sakit karena kelelahan. Asma akut yang Sisi derita sering kali membuatnya tak berdaya.


"Kakak mau apa?"


Sisi menggeleng, ia hanya tersenyum ke arah Cia berada.


"Kalau ada yang sakit bilang ya! Terus nanti cerita ke aku, kenapa Kakak bisa sampai pingsan di dalam mobil!"


"Kamu nggak pulang? Nanti orang tuamu mencari," Sisi mengalihkan pembicaraan karena ia tak mungkin memberi tahu Cia, jika sebenarnya ia sakit seperti ini karena Arfi.


"Nanti aku pulang, sekarang mau jaga Kakak dulu."


"Kalau Mama dan Papamu marah gimana?"


"Ya biarin deh, udah sering di marah juga, jadi bodo amat."

__ADS_1


"Kok gitu, gimana pun mereka orang tuamu, Cia."


"Tapi mereka tidak pernah menganggap aku anak. Bagi mareka aku hanya investasi yang menguntungkan." jalas Cia lesu.


"Ma-maksudmu?" Sisi tau apa yang di maksud Cia, tapi ia ingin mendengar lebih jelas lagi dari bibir Adik angkatnya itu.


Cia menghela pelan sebelum menceritakan apa yang ia rasa. Jika Mama dan Papa' nya selalu bersikukuh ingin menikahkan Cia dengan orang yang kaya raya, prihal umur tak jadi masalah, asal orang yang mempersunting Cia harus banyak uangnya. Berkali-kali gadis itu msnolak tapi Mama dan Papa nya, justru menantang. Apakah Cia bisa mendapatkan pria kaya raya tanpa harus di jodohkan."


"Jadi aku pikir, Pak Arfi orang yang tepat Selain aku memang jatuh cinta, Pak Arfi juga tampan dan kaya, meski perbedaan usia hampir sembilan tahun, tapi Pak Arfi masih sangat pantas menjadi suamiku." jelasnya jujur, mata Cia berbinar bahagja setiap kali menyebut nama Arfi.


Dan kini Sisi sendiri di sergap rasa dilema. Bingung harus sedih atau bahagia. Pasalnya meski ia mengharpakan Cia dan Arfi menikah, rasanya munafik sekali jika Sisi tidak patah.


"Kak Sisi kenapa, kok diam?"


"Nggak, Kakak hanya membayangkan betapa serasinya, jika nanti kamh dan Pak Arfi bersanding."


Beberapa hal yang membuat Sisi tidak bisa membawa Arfi kembali dalam dekapanya iyalah, dirinya sendiri... karena Sisi merasa tidak akan pernah memberikan Arfi keturunan. Begitu pun dengan Cia, gadis itu terlalu berjasa dalam hidupnya, selama ini Cia lah yang dengan setia merawatnya ketika Sisi sakit, itu sababnya Sisi tak akan sampai hati merebut Arfi kembali


.


.


.


***


"Terima kasih Pak, sudah mau menjemput Kakak'ku." Cia benar-benar polos.


Arfi hanya menjawab nya dengan senyuman, tak ada sepatah katapun yang terucap, dalam hati ia merasa sedikit bersalah, karena merasa mengkhianati Cia.


CK!


Tak lama kemudian, Angga pun tiba di kos-kosan, tatapannya sinis ke arah Arfi. Entahlah ia benar-benar sedang di liputi rasa benci, karena menurutnya Arfi manusia serakah.


"Mbak Sisi, ini saya belikan bubur ayam, di makan ya supaya lekas membaik!" titah Angga ramah. Sisi mengangguk lalu meraih apa yang sudah Angga bawakan untuknya.


Sementara Arfi, merasa sedikit cemburu. Ia meraih bubur di tangan Sisi lalu berkata sesuka hati. "Em, biar saya cicip dulu dan memastikan jika bubur ini aman di konsumsi dan terbebas dari racun," ucapnya tanpa rasa bersalah. Angga kian kesal di buatnya.


"Kalau bukan atasanku, sudah tak pites-pites ini mahluk. Nyebelin banget!" umpat Angga dalam hati.


Sadar ada yang tidak beres, Sisi meminta Cia pergi membelikan buah-buahan untuknya. Dan ia meminta Arfi yang menemani sang Adik.


"Huuh!" Arfi berdecak sebal, karena merasa Sisi sengaja membuat pergi.

__ADS_1


Cia sendiri justru sangat antusias dan bahagia sebab ia memiliki waktu berdua saja dengan pria yang katanya sebentar lagi akan melamarnya.


.


.


Sedangkan kini, Sisi hanya berdua saja dengan Angga. Wanita itu menatap lekat-lekat wajah anak muda yang duduk tepat di hadapannya kini.


"Angga," panggilnya lembut seraya memasukan sesendok bubur ke mulut nya.


"I-iya, Mbak." Angga justru merasa gugup karenanya.


"Jangan panggil Mbak. Panggil Kakak aja!"


"Ba-baik," Angga justru semakin gugup.


"Ga...boleh saya tanya?"


"Tanya apa, Kak?" ia pun penasaran, terlebih raut wajah Sisi seketika mendadak serius.


"Apakah, ada yang kamu ketahui tentang saya dan Pak Arfi?" Sisi sedikit gemetar menanyakan ini. Tapi ia penasaran atas sikap Angga yang tampak benci saat menatap Arfi.


Angga diam sejenak, ia bingung sendiri kenapa Sisi bertanya demi kian. "Iya Kak, saya tahu... karena beberapa hari lalu saya melihat sikap Pak Arfi yang aneh sekali ketika memperlakukan Anda. Saya pikir kalian memang pernah punya hubungan yang seriuw." jujur Angga sesuai apa yang ia tahu saja.


"Lalu apa kamu memberi tahu, Cia... jika kamu merasa aneh dengan kami?"


"Belum Kak, rencananya malam ini ingin ku ceritakan."


"Jangan tolong! Saya tidak mau Cia kecewa!"


"Tapi sampai kapan kalian akan berbohong demi Cia? Cepat atau lambat Cia pasti akan tahu dengan sendirinya."


"Cia pasti tahu, tapi tidak sekarang."


"Baik saya akan diam.*


"Te-terima kasih Angga!"


Anak muda itu hanya melebarkan senyum di wajah untuk menjawab ucapan Sisi, setelah itu memilih pergi dari hadapan wanita ini.


.


.

__ADS_1


.


B E R S A M B U N G


__ADS_2