
🌸Selamat Membaca🌸
2 tahun sejak pasca keguguran, Sisi tetap belum hamil juga. Kini usianya menginjak 20 tahun, dan ia mulai paham arti menjadi dewasa itu apa? Sisi mulai mengerti untuk mengambil keputusan dalam setiap langkah.
"Si- kakak ke kantor ya! Kamu tidak perlu masak banyak-banyak, karena kakak pulang agak malam!"
Setelah meng*cup kening sang istri, Arfi langsung melangkah pergi. Hampir setiap hari ia pulang larut malam. Sementara Sisi mencoba untuk tidak perduli prihal apa saja yang di lakukan sang suami.
"Mbak Sisi, bibi sudah siapkan sarapan dan setelah ini bibi pamit pergi sebentar ya! Ada yang mau bibi beli!"
"Iya bi," jawab Sisi lembut.
Bi Ira, adalah satu-satunya teman yang hampir setiap hari menemani Sisi, bi Ira adalah pelayan di rumahnya yang sudah 2 tahun ini setia bersama mereka.
"Bi, sebelum pergi ambilkan ponselku dulu, ya!"
"Siap mbak."
Secepat kilat bi Ira masuk kedalam kamar dan setelah itu langsung kembali memberikan ponsel kepada Sisi.
"Saya permisi ya, mbak."
"Oke bi,"
Setelah bi Ira pergi, Sisi langsung menghubungi Nayla, ia selalu bercerita dan bercanda tawa kepada saudara iparnya itu. Tapi Sisi tak pernah bercerita, prihal kesedihanya, ia selalu bisa menyembunyikan masalah rumah tangganya. Ia sudah dewasa dan Sisi paham mana yang perlu di ceritakan dan mana yang harus menjadi rahasia. Jika dulu setiap masalah Sisi adukan kepada Nayla, tapi tidak lagi untuk akhir-akhir ini.
"Bagaimana, kamu dan Arfi? Ada masalah tidak?"
"Tidak, kami baik-baik saja." Sisi tersenyum simpul.
"Ah syukurlah kalau begitu."
"Iya." jawabnya datar. "Mbak Nayla tahun ini kan pulang ke Indonesia?"
"Iya Si- akhir bulan ini mudah-mudahan. Do'akan semuanya lancar ya!"
"Pasti. Aku juga rindu dedek Acha."
Percakapan pun selesai, Sisi selalu begitu dan tak pernah menceritakan apapun yang ia rasa.
***
Jam menunjukan pukul delapan malam, Arfi belum juga pulang dari kantor. Dan Sisi memang selalu berusaha untuk tak perduli, membiarkan Arfi pulang jam berapapun sesukanya.
Ck...
Sisi membuka lemari baju dan memilih beberapa baju untuk di coba, ia berencana untuk keluar malam ini.
"Ini cocok." ia memilih baju berwaran biru, gaun pendek mewah tapi sedikit terbuka.
__ADS_1
Hampir 1 tahun ini, Sisi dan Arfi sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Arfi ke kantor dan akan pulang jika sudah jam 10 malam, sementara Sisi, suka menonton dan juga sibuk bermain posel.
Belum hamil.
Menjadi awal masalah di rumah tangga keduanya, Arfi berusaha sabar dan menerima tapi tidak dengan Sisi, ia lebih mudah tersinggung dan satu ucapan bisa saja membuatnya sakit hati.
"Si- kakak pulang jam 11 malam ya. Kamu tidur saja dulu!" Arfi menelepon.
Sisi tak menjawab, ia langsung mematikan sambungan telepon dan melempar ponsel miliknya ke atas ranjang.
"Gaa usah pulang sekalian!" decak Sisi seraya mengomel sesuka hati.
Hal yang membuat Arfi sedikit tidak betah di rumah, adalah Sisi sendiri. Sebab istrinya itu suka cemberut tak jelas, menangis tanpa sebab, tersinggung padalah Arfi hanya bercanda. Namun tidak ada niat sedikitpun terbesit di pikiranya untuk bercerai dari Sisi, ia hanya perlu menghindar agar tak sering bertengkar, Arfi paham kini perasaan Sisi sedang tidak baik-baik saja, karena Sisi sedih sampai detik ini tak kunjung berbadan dua.
***
Gaun pendek dengan polesan make up di wajah, membuat Sisi sangat cantik malam ini. Ia tak pernah keluar rumah terlebih saat malam hari, tapi kejenuhan membuat ia berani dan memutuskan untuk pergi ke Cafe.
Ssssttt....
Dengan anggun ia berjalan, cantik parasnya membuat banyak pria yang menatap terpana. Sisi duduk sendiri di sebuah kursi lalu menatap kesekelilingnya. Sisi sadar hanya ia'lah yang duduk tanpa siapa-siapa, hanya ia sendiri yang tak berkawan di Cafe ini.
"Hmmmm...!!"
Memesan satu porsi makanan dan air minum hangat, Sisi menikmati seraya memperhatikan beberapa wanita yang duduk tepat di depanya. Mereka sepertinya seumuran dengannya yang tampak ceria dan sangat bahagia. Mereka saling tertawa lepas seolah tak memiliki masalah. Berbeda dengan Sisi meski usianya baru menginjak 20 tahun, ia sudah di terpa badai kehidupan yang sungguh melelahkan.
"Berapa porsi mbak?"
"Lima... satu untukku dan empat untuk mereka."
"Oke.. siap, tunggu sebentar ya mbak!"
Setiap bulan, Sisi memang mendapatkan uang 4 sampai 5 juta dari Arfi, khusus untuk ia saja, uang tersebut beda dengan uang bulanan untuk makan. Tapi uang tersebut jarang Sisi gunakan dan kini sudah membengkak di tabungan. Ia bisa membeli apa saja sesukanya.
"Lho mas.. kita gak pesen makanan. Kok di tarok di meja kami, sih?" salah satu dari wanita-wanita itu bingung.
"Oh iya mbak... yang pesankan makanan ini semua, mbak yang ada di sana!" si pelayang cafe menunjuk ke arah Sisi, yang tampak sibuk memainkan ponselnya.
"Oh gitu ya. Terima kasih, mas!"
Mereka semua menatap heran ke arah Sisi dan berinisiatif segera mendekati. "Bawa-bawa! Kita makan bareng dia aja!" seru salah satunya.
"Hei.. kamu yang pesen makanan untuk kami?"
"Iya. Kenapa, kalian tidak suka ya? Kalau tidak suka, silahkan pesan menu yang lainya!" tanya Sisi bersemangat.
"Ah.. tidak-tidak. Kami sangat suka makanan ini. Hem... boleh kami gabung denganmu!"
"Boleh, silahkan! Perkenalkan, namaku Sisi!"
__ADS_1
"Aku Siska, dan ini Nani, yang baju merah itu namanya Mia dan sebelah sana namanya Olvi."
"Haai, salam kenal Sisi."
Tak butuh waktu lama, Sisi pun langsung akrab dengan mereka. Lagi pula mereka memang tidak sombong sama sekali dan berbicara kepada Sisi seolah sudah lama saling mengenal.
"Aku pulang dulu ya! Jika kalian mau bertenan denganku, silahkan main ke rumah! Ini alamatku!" Sisi menyodorkan selembar kartu nama dan alamat rumah, ia pun langsung pergi sebab kini jam sudah menunjukan pukul 12 malam.
Mereka saling menatap dan mengangguk senang, rasanya bertemu dengan Sisi sangatlah menyenangkan.
"Dia orang kaya, atau pura-pura kaya?"
"Sepertinya pura-pura, Lihatlah, dia bahkan tidak tau makanan paling mahal di cafe ini." sahut Nani.
"Nanti kita buktikan, kalau sudah main ke rumahnya!"
"Betul...!!" ujar mereka bersamaan dan sangat semangat.
Sementara Sisi baru saja tiba di rumah dan melihat mobil sang suami sudah terparkir di teras, ia masuk ke dalam dan lampu ruang tamu sudah di matikan.
Ck...
"Dari mana kamu, Si?" tanya Arfi seraya menghidupkan lampu dan menatap Sisi sangat tajam.
"Mainlah." jawabnya ketus.
"Tumben main. Main sama siapa kamu?"
"Temen dong. Memang kakak doang yang punya temen."
Mendengar jawaban-jawaban Sisi yang sangat ketus, tentu membuatnya sedikit emosi, tapi Arfi coba bersabar sebab ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan pernah bersikap kasar lagi kepada sang istri.
"Bersihkan tububmu setelah itu beristirahat!"
"Hmm iya, iya ku besihkan. Nanti kakak tidak mau menyentuh tubuhku jika aku bau!"
"Haaah?"
Ucapan demi ucapan yang Sisi lontarkan, memang sungguh membuat dada Arfi sesak. Tapi, ia berusaha bersungguh-sungguh agar tidak emosi.
"Ya Tuhan, ada apa denganya?" lirih Arfi lalu masuk kedalam kamar.
.
.
.
TERIMA KASIH
__ADS_1