
Alvian tersenyum kelu, setelah mendapati kenyataan bahwa Amira gadis yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya adalah adik kandung Airin.
"Huuuh...," polisi muda itu membuang nafas pelan lalu mendudukan tubuhnya di sofa yang terletak tak jauh dari sisi ranjang dimana Airin berada.
"Al.. kau kenapa?" tanyanya heran sebab ia melihat raut wajah Alvian yang seketika memerah.
"Tidak ada, Rin, aku hanya sedikit lelah," jawabnya berbohong.
"Benarkah?"
"Iya," Alvian tersenyum ke arah gadis yang kini tengah berbaring.
"Jika kau mempunyai masalah, ceritakanlah padaku! Siapa tau aku bisa memberimu solusi," titah Airin.
"Adikmu itu masih kuliahkan?" tanya Alvian kemudian.
"Iya, dia masih kuliah baru semester satu, dia anak kesayangan papa dan mama, karena Amira cerdas luar biasa, beda denganku, meski kata orang-orang aku cantik, tapi tidak membuat mama dan papaku bangga, karena otakku tak secerdas Amira," jelasnya dengan binar mata yang memancarkan kesedihan.
Alvian pun segera mendekati keberadaan Airin, polisi muda itu menghapus air mata di wajah cantik Airin yang tiba-tiba saja membasahi pipi. Karena seperti yang kini terjadi kepada Airin, kedua orang tuanya memang tak perduli sama sekali.
"Maafkan aku, Rin! Jika pertanyaanku tadi, membuatmu sedih?" lirih Alvian.
"Tidak masalah, pak," jawab Airin datar lalu menatap wajah Alvian," Hm, apakah kau menyukai Amira?" tambah Airin kemudian.
"Tidak, aku bahkan tak mengenalnya, lalu jadi tidak mungkin aku menyukainya," jawab Alvian spontan.
"Benarkah? Jadi, kalau nanti bertemu, kemungkinan kau akan jatuh cinta dong,"
"Ya tidak juga," Alvian berucap tanpa expresi wajah sama sekali, polisi tampan itu kini duduk di samping Airin.
Entah bagaimana ceritnya? Sebuah rasa tiba-tiba hadir dalam diri keduanya. Yang pasti semakin lama Alvian dan Airin semakin nyaman jika selalu bersama.
"Rin, aku ke kantor dulu ya, karena ada beberapa kasus yang terjadi hari ini, maka aku harus menyelesaikanya dan mengurusnya," ujar Alvian kemudian seraya beranjak dari tempat duduknya.
"Hati-hati!" lirih Airin untuk pria muda yang baru saja keluar dari ruanganya, namun ucapan itu hanya miliknya sendiri.
Sementara Alvian sudah berada di luar ruangan, ia di sibukan dengan tugas kepolisian yang memang sudah menjadi kewajibanya.
"Jaga Airin! Malam nanti, ada mamaku yang akan menjemputnya, beri dia izin, tapi tetap jaga seketat mungkin, sesuai prosedur pihak kepolisian!" titah Alvian kepada beberapa orang rekan kerjanya yang memang di tugaskan untuk menjaga Airin.
"Siap komandan...!" tegas mereka bersamaan.
Saat Alvian berada di halaman rumah sakit, ia bertemu dengan Nino dan Dini yang baru saja keluar dari mobil mereka. Nino cukup terkejut saat bertemu Alvian tanpa sengaja.
__ADS_1
"Mau kemana kalian?" sapa Alvian kepada keduanya.
"Mau cek up ulang pak," jawab Dini gugup.
"Baiklah, semoga lekas sehat," ujar Alvian santai, namun sorot matanya begitu tajam menatap keduanya. "Oh.. iya Nino, tolong segera tutup semua akses pekerjaan harammu itu, sebab polisi sudah menangkap beberapa rekan kerjamu dan tidak menutup kemungkinan, kau juga yang akan segera di tangkap. Maka sebelum itu terjadi, akhiri semua pekerjaan harammu, itu!" tambah Alvian tanpa ragu dan segera pergi dari hadapan keduanya.
"Aaaaahh.. sialan!" umpat Nino berkali-kali karena rasa kesal yang sangat luar biasa menyergap batinya.
"Jangan emosi! Masalah tak akan selesai hanya dengan marah-marah, berpikirlah sejenak, bagaimana caranya agar kau tak terancam lagi?" ujar Dini menenangkan kekasihnya.
Nino diam sejenak, kini ia tengah memikirkan sesuatu, agar pekerjaanya tak terancam tutup.
"Habisi. Iya, aku harus menghabisi polisi sialan itu,"
Ide gila kini terpikirkan dalam benak Nino, pria itu berencana untuk melenyapkan Alvian.
"Apa kau yakin?" Dini menatap Nino penasaran.
"Apa boleh buat, karena selama dia hidup selama itu juga hidupku akan terancam," tukas Nino tegas.
Dini mengangguk setujuh dengan apa yang di rencanakan oleh Nino. Karena rasa takut yang di miliki keduanya, jika Alvian akan membongkar rahasia besar Nino. membuat cara pikir mereka terlalu picik, kini Nino tengah merencanakan cara agar Alvian lenyap dari muka bumi.
Di sisi lain, Alvian berharap, Nino akan sadar dan segera menutup pekerjaan kotor yang di jalankanya selama ini.
"Apakah Airin tau, jika Nino memiliki pekerjaan haram selama ini?" lirih Alvian dalam hati.
"Dimana mereka?"
"Ada di ruangan sebelah, pak,"
"Baik, sebentar lagi aku kesana," ucap Alvian lalu segera membuka jacket yang sejak tadi membalut tubuhnya.
Kini Alvian sudah barada di hadapan 4 orang tersangka yang usianya masih sangat remaja, mirisnya mereka semua sudah pecandu narkoba.
"Berapa usiamu?" tanya Alvian dengan nada tinggi pada tersangka yang menggunakan baju berwarna hitam.
"16 tahun, pak," jawabnya gemetar lalu menundukan wajahnya.
"Gila... 16 tahun, kau sudah pecandu narkoba? Parah!"
Mereka berempat semakin ketakutan sebab polisi di hadapanya, kini terlihat sangat emosi.
"Apa kalian sudah tidak waras? Otak kalian di mana, apa untungnya menggunakan narkoba?!" emosi Alvian semakin berapi-api.
__ADS_1
"Maaf pak! Kami terpaksa," jawab salah satunya.
"Terpaksa katamu? Lalu hal apa yang membuat kalian terpaksa melakukan itu?!" todong Alvian lagi.
Salah satu tersangka yang masih terbilang remaja itu pun bercerita panjang lebar, prihal sesuatu yang membuat mereka terjerumus dalam dunia haram narkoba.
"Kedua orang tuaku, hanya memberi uang jajan yang sangat fantastis setiap hari, tapi mereka tak memiki waktu untuk memperhatikanku, hingga aku berusaha mencari cara agar aku lupa, betapa aku tidak di perdulikan kedua orang tuaku. Hingga akhirnya aku terjerumus dalam dunia narkoba, karena di sana, aku bertemu dengan teman-teman yang bernasib sama denganku," curhat dan ungkap salah satunya yang seketika membuat batin Alvian tersentuh.
Polisi muda itu menatap satu persatu, wajah anak-anak remaja yang kini menjadi tersangka.
"Mereka anak-anak baik, tapi keadaan membuat mereka tertekan. Mereka perlu bimbingan dan harus di rehabilitas," lirih Alvian seraya terus menatap sendu wajah anak-anak remaja itu.
Alvian meminta rekan sesama polisinya untuk membawa mereka ke sebuah tempat khusus.
"Panggilkan Dokter Psikolog, untuk menasehati mereka dan juga memperbaiki batin mereka!" titah Alvian kemudian.
Dan.. keempat anak remaja itu di bawa ke sebuah ruangan untuk menjalani rehabilitasi.
***
"Pak Alvian, ada seseorang mencari anda?"
"Siapa?"
"Entahlah, seorang gadis, dia mengatakan bahwa dia calon istri anda," ungkap pria itu.
"Haaaaah.... Amira," ceplosnya dan segera berlalu untukmenemui gadis itu.
"Al,"
Sapa gadis cantik yang benar saja Amira, ia tersenyum sumringah lalu mendekati keberadaan Alvian.
"Maaf ini tempat kerja, jadi jaga sikapmu!" larang Alvian seketika sebab Amira kini memeluk tubuhnya.
Bahkan semua rekan-rekanya dari kepolisian pun, melihat hal itu, seraya menahan tawa, sebab Alvian benar-benar malu saat Amira memeluk tubuhnya di hadapan mereka.
"Menjauhlah!" titah Alvian kesal.
"Tidak mau," jawab Amira sok manja.
Hal itu membuat Alvian semakin salah tingkah dan malu atas sikap Amira padanya.
********************
__ADS_1
TERIMA KASIH, BUAT SEMUA YANG SUDAH MAU MAMPIR DI KARYA AMBYARKU. SEMOGA BETAH YA. DAN MAAF BILA BANYAK KETIDAK NYAMANAN DALAM TULISAN SAYA.
Terima kasih