Istri Untuk Mantan Suamiku

Istri Untuk Mantan Suamiku
Jatuh dan Bangkit


__ADS_3

🕊Selamat Membaca🕊


Malam ini, hujan turun dengan begitu derasnya. Dunia seolah memahami suasana batin Airin kini, tangisnya kian deras seolah mengikuti derasnya sang hujan yang menerjang bumi.


"Kemana pelangi yang ku harapkan? Yang mungkin akan datang setelah badai, kemana orang-orang yang selama ini, ku hormati? Kenapa aku begitu sulit mendapatkan kasih dan sayang? Mengapa semua ini terjadi padaku? Aku marah. Ya sungguh marah, apakah Tuhan tidak menyayangiku? Apakah Tuhan masih mau mengujiku, agar aku lebih sabar... kenapa Tuhan tak adil padaku?"


Airin terus menangis, dan merintih menahan sakit batinya yang teramat perih.


"Rin,"


Alvian memeluk erat tubuh istrinya, berusaha memberi kenyaman untuk Airin, yang kini tengah bergelut dengan kekacauan.


"Al, kenapa mamaku, tak datang padaku? Kenapa mama tak menguatkanku? Apa mama tak tau, jika hatiku sehancur ini?"


Airin menangisi, nasibnya yang benar-benar di abaikan. Meski ia benar anak kandung Anita, tapi nyatanya si mama tetap tak mau perduli sama sekali.


"Al," panggil Tania pada anaknya yang masih mendekap erat tubuh Airin.


Alvian memadang wajah sang mama, yang berdiri di depan pintu kamar bersama si papa. Keduanya sejak tadi, mendengar semua keluh dan tangisan Airin.


Alvian beranjak, dan Tania yang mendekat, wanita paruh baya itu, memeluk tubuh menantunya dan membelai lembut rambut panjang Airin.


"Setiap masalah pasti ada jalanya, setiap apapun yang menimpa, pasti akan ada hikmahnya. Apa yang terjadi padamu saat ini, adalah cara Tuhan, untuk membuatmu lebih dewasa lagi," lirih Tania pelan di telinga si cantik.


Tangis Airin semakin deras, ia membalas pelukan Tania dengan sangat erat, si cantik meluapkan emosi dan rasa sedihnya, dalam dekapan sang mama mertua.


Apa yang terjadi pada kenyataan hidup Airin, membuat Reyhan dan Tania iba, dan keduanya berpikir, bahwa menjadikan Airin menantu, memanglah sebuah kebenaran. Sebab, meski kini wanita muda tersebut dalam dekap kehancuran, tapi ada keluarga Alvian yang selalu menguatkanya.


Kenyataan pahit yang tak bisa Airin hindari, tugasnya kini, menjalani hidup dengan lebih baik lagi. Apapun yang terjadi, ia tetap harus kuat dan berusaha bangkit dan semangat.


***


Hari-hari terus berganti, waktu pun terus berlalu, Airin menata masa depanya sebaik mungkin, seiring berjalanya waktu ia pun bisa bangkit lagi.


"Rin, makan di luar yuk!" ajak Alvian pada istrinya.


"Bentar, sedang sibuk nih,"


"Sibuk apa sih?"


"Sibuk mikirin kamu," candanya datar, di sambut senyum tipis dari bibir Alvian.


Pria muda tersebut mendekati keberadaan sang istri, lalu melihat apa yang tengah Airin kerjakan.


"Apa itu, Rin?"


"Aku baru saja memiliki ide, untuk membangun, kos-kos'an, di tanah kosong yang tak jauh dari sekolahan, dekat rumah kita," ujarnya.


"Kau yakin?"


"Yakin, sebab... pasti akan banyak yang menyewa, aku sudah melakukan riset, di sekolahan tersebut, anak muridnya rata-rata anak kos semua,"


"Wow, aku setujuh,"


"Dan satu lagi,"


"Apa?" Alvian berujar heran.


"Aku mau buat kolam pemancingan,"


"Ihh... banyak banget sih, Rin, satu-satu aja dulu!" dengus Alvian.


"Kecil aja Al, di samping rumah kita,"


"Heeih, aku kira, itu kolam mau kamu jadikan ladang penghasilan juga."


"Ya ga, lah... cepat kaya kita nanti, bahaya. Satu-satu dulu, lebih baik," Airin bercanda.


"Hahaahahaha... makin kita kaya, semakin ada yang panas juga,"

__ADS_1


"Siapa?"


"Tetangga," jawabnya lalu bergelak tawa.


Keduanya melewati hari ini dengan sangat bahagia, canda selalu menjadi yang terdepan dalam setiap pembicaraan mereka. Alvian selalu berusaha, membuat Airin tertawa, bahkan Alvian juga, tak pernah meninggalkan istrinya sendirian, sebab ia takut, saat sedang sendiri Airin akan mengingat, hal yang sudah membuatnya terluka.


"Pak, ini ada paket untuk bu Airin!" pak satpam menyodorkan sebuah kotak, yang terlihat sangat berat.


"Dari siapa?"


"Entahlah, karena tak ada nama pengirimnya, pak." Jawab si satpam lagi.


Alvian menarik nafas berat, lalu mengambil kotak tersebut, sesegera mungkin ia memberikanya pada Airin.


"Apa ini, Al?" tanya Airin, ia menghentikan aktifitas makan siangnya, lalu membuka kotak yang di berikan Alvian padanya.


"Itu, kotak hadiah untukmu, tapi tidak tahu, siapa pengirimnya," tukas Alvian dengan raut wajah penasaran.


Secepat kilat, si cantik membuka bungkus yang membalut kotak tersebut. DAN.... sorot mata Alvian dan Airin tak berkedip sedikitpun, sesaat melihat isi dari paket yang sengaja seseorang kirim untuk Airin.


"Uang...??"


Keduanya saling tatap tak mengerti.


"Uang siapa, ini? Dan apa maksudnya?" Airin penasaran.


"Ada suratnya," ujar Alvian pula.


Sesigap mungkin, Airin membaca sebuah tulisan yang tertera di secarik kertas, terselip di antara lembaran uang berwarna merah tersebut.


"Semoga, uang ini bisa membayar semua hutangku padamu!"


Begitu isi dari tulisan tersebut.


"Ehh.. apa maksudnya?" Airin semakin heran.


"Tidak ada, dan lagi pula, aku tak pernah meminjamkan uang dengan jumlah fantastis kesiapa pun," jelas si cantik yakin.


"Lalu, siapa kira-kira, ya?"


"Papaku, atau kak Rio?" terka'nya.


"Kau yakin?"


"Mungkin,"


Banyak tanya dalam benak keduanya, Airin dan Alvian benar-benar heran, dengan apa yang di kirimkan sesorang untuk Airin. Sejumlah uang berwarna merah, dan setelah mereka berdua hitung, uang tersebut lebih dari 500 juta.


"Pantes, lumayan berat," Alvian mengeryitkan wajahnya.


"Simpan aja dulu Al, atau lapor polisi. Kok aku jadi takut, ya,"


"Lebih baik simpan dulu, kalau tidak bermasalah, baru kita ke kantor polisi, untuk mencari tahu, siapa pengirim uang sebanyak ini." usul Alvian kemudian.


***


Jam meunjukan pukul 14.30... semua karyawan kantor pun rata-rata sudah pulang. Sementara Airin masih berada di gerbang kantor, untuk menunggu sang suami.


"Hai, Rin,"


Seseorang menyapa, bahkan suaranya tak asing di telinga Airin.


"Kak Rio,"


Terseyum getir, saat ia melihat Rio sedang bersama Amira berdiri tepat di hadapanya.


"Mau pulang, Rin?" Rio coba menyapa.


"Iya," jawabnya datar.

__ADS_1


"Ihh... sombong banget sih, Rin! Udahlah kak, ga usah lagi, sapa-sapa dia!" kesal Amira saat Airin bersikap ketus saat bertemu mereka.


"Lagi pula, aku juga ogah nyapa, kalian bedua,"


"Ya udah, aku ga sudi juga, di sapa dengan anak haram sepertimu." Ceplos Amira dengan nada sinisnya.


DEEGG!


Sakit. Ternyata ucapan itu masih membuat batin Airin sakit.


"Aku bukan anak, haram!!"


"Haram, ya haram saja!"


Amira bersikap menyebalkan, ia menarik tangan Rio lalu mengajak sang kakak untuk pergi dari hadapan Airin.


"Heii... kalian mau, kemana?" teriak Airin sekuat tenaga saat melihat Rio dan Amira berjalan menuju pintu kantor.


"Mau masuk ke kantor, lah,"


"Di larang keras! Kalian tak boleh masuk ke dalam kantor, lagi!"


"Apa urusanmu? Ini kantor papaku,"


"Ini kantorku, ini perusahaanku dan ini miliku! Kalian, tak berhak lagi masuk ke dalam perusahaan ini. Paham?!!!"


"Haaah!"


Rio dan Amira terbelalak tak percaya, saat melihat sikap Airin yang terkesan arogant.


"Pak bawa mereka jauh-jauh dari sini!" Airin memerintahkan satpam kantornya.


Pak satpam pun segera meminta Rio dan Amira pergi baik-baik.


"Maaf pak Rio! Saya hanya menjalankan tugas,"


"Tidak masalah, pak," Rio tersenyum, lalu pergi, sedangkan Amira semakin membenci Airin.


Rasanya tak bisa, semudah itu damai terhadap masalalu. Airin masih menaruh rasa benci, namun seiring berjalanya waktu, ia akan coba untuk berdamai pada kenyataan.


"Ayo pulang!" ajak Alvian tiba-tiba. "Aku sudah melihat, betapa kerenya istriku tadi,"


"Al, apa aku salah?"


"Tidak, semoga suatu saat nanti, semua akan berubah baik-baik saja, ya!"


Sepasang suami istri itu pun, memutuskan untuk segera pulang. Keduanya tak sabar untuk membaringkan tubuh, yang terasa begitu melelahkan.


Dan.. sampailah mereka di rumah, keduanya di sambut senyum ramah dari si mama dan si papa.


"Rin, ini ada paket untukmu! Tapi tidak ada nama pengirimnya," ujar si mama pada menantunya ia segera memberikan sebuah kotak berukuran cukup besar kepada si cantik.


Airin dan Alvian saling menatap heran. Sebab dalam satu hari ini, sudah 2 paket Airin terima, bahkan dua-duanya tanpa nama pengirimnya.


.


.


.


.


Nah lho.. siapa itu😭🤔


Yuk kak mampir di karyaku satunya, bisa bikin nangis bombay dan baper parah.



MAKASIH LAGI KAKAK-KAKAK BAIK,) LOPE YOU PULL, SEMOGA SELALU BAHAGIA DAN DI LANCARKAN RIZKINYA YA. Aamiin❤🤗💪

__ADS_1


__ADS_2