
Huwaa, hari ini Authornya lagi bahagia, karena dua "A" pembacanya, naik drastis❤. Makasih kakak-kakak baik😊.
🕊Selamat Membaca🕊
Lemas, Airin merasakan tubuhnya begitu lemas, setelah mendengar, apa yang sudah Rio katakan, prihal ia bukan adik kandung pria itu.
Sementara Alvian, mengejar mobil Rio, berharap kakak Airin tersebut, mau menjelaskan. Mengapa Rio berkata demi kian?.
"Ah... sial!" grutunya kesal seraya memegangi perutnya yang seketika rasanya sakit luar biasa. Wajar saja, sebab baru kemarin, ia keluar dari rumah sakit.
"Al... kau kenapa? Apa perutmu sakit?" panik Airin.
"Maaf, Rin! Aku tak bisa mengejar kakakmu," Alvian berujar, ia tak menjawab pertanyaan istrinya.
Airin paham, jika Alvian kini tengah kesakitan. Tanpa pikir panjang lagi, ia membantu suaminya untuk masuk ke dalam mobil.
"Kenapa harus kamu kejar, Al?"
"Rio harus bertanggung jawab atas ucapanya tadi, dia harus menjelaskan kenapa tadi mengatakan, jika kau bukan adik kandungnya,"
"Tapi Al, kita bisa menanyakan hal ini langsung ke rumahku, jadi kamu tak perlu lari-lari seperti tadi. Karena kamu kan, baru saja keluar dari rumah sakit," omel Airin karena terlalu khawatir.
"Hmmmm," Alvian membuang nafas pelan.
"Buka bajumu!"
"Haaah... kita sedang berada di jalan, Rin," pria muda itu tersenyum.
"Heh, maksudmu apa? Kau kira, aku mau apa? Aku hanya ingin melihat kondisi luka di tubuhmu, bukan macam-macam," dengusnya semakin kesal.
"Hahahaha,"
Alvian pun tertawa sejadi-jadinya, meski sebenarnya ia tengah menahan sakit di bagian perut.
Melihat itu, Airin sesegera mungkin melajukan mobil untuk menuju ke rumah sakit.
"Pulang Rin!"
"Kerumah sakit dulu, kita perikasa keadaan lukamu,"
"Ga... aku mau pulang!"
"Haaaah!"
Airin menepuk kemudi mobil, lalu membuang nafas kasar, karena nyatanya ia kini dalam perasaan yang teramat kacau, belum lagi sikap Alvian yang tak mau menuruti, keinginanya.
***
Setibanya di rumah, Airin langsung mengompres luka suaminya, dan meminta Alvian untuk segera beristirahat.
"Kamu, istirahat juga, Rin! Biar bosok kita, ke rumahmu, pagi-pagi sekali,"
Airin tersenyum, ia pun berjalan menjauhi keberadaan Alvian, si cantik memilih duduk menyendiri di lantaran teras rumahnya. Ucapan Rio tadi, masih terngiang-ngiang dalam pikiran.
"Siapa sebenarnya aku? Siapa sebenarnya keluargaku?"
__ADS_1
Banyak tanya kini, berputar-putar di dalam pikiran Airin. Semangat yang mulai tubuh, setelah banyaknya ujian yang ia hadapi, kini semangat itu pun runtuh kembali, Alvian pria yang telah menjadi suaminya, adalah orang yang membantu ia berdiri, setelah jatuh sejatuh-jatuhnya.
"Aku, akan membantumu semampuku, Rin," suara itu terdengar pelan, namun cukup terdengar jelas di telinga Airin.
"Al," lirihnya, lalu tertunduk lesu.
Airin memiliki Alvian, pria yang selalu berusaha membuatnya bahagia, dan selalu ada saat ia butuh dukungan.
"Sabar ya, Rin! Kita akan menyelesaikan masalah ini, besok.. kita tanyakan hal ini kepada kedua orang tuamu,"
Kalimat itu, mengukir seulas senyum di wajah cantik Airin, meski senyum tersebut terkesan hambar.
"Ayo istirahat, Rin!" ajak Alvian seraya menggapai lembut tangan istrinya.
Alvian tau, hati wanita itu tengah di rundung kesedihan, tak ada yang bisa Alvian lakukan kecuali, memberi semangat semampunya untuk sang istri.
Dalam sayup heningnya malam, Airin tertidur dengan tenggelam dalam kesedihan, ia berharap saat terbangun nanti, semua ucapan Rio hanyalah mimpi.
Peluk. Alvian memeluk erat tubuh istrinya, memberikan kehangatan dan ketenangan, karena memang benar adanya, dekapan Alvian selalu membuat Airin merasa aman.
***
Pagi pun tiba, si mama dan si papa saling menatap, sesaat melihat Airin sudah rapih dengan dress pendek berwarna putih.
"Baru jam, setengah enam, Rin... masa iya sudah mau ke kantor?" tanya Tania lalu mendekati sang menantu.
"Iya... lagi pula, Alvian juga belum bangunkan?" kini Reyhan yang bertanya.
Tap.. tap.. tap!
Turunlah Alvian dari lantai atas, si tampan pun sama rapihnya, sudah menggunakan kemeja berwana putih dengan setelan celana dasar berwarna hitam, hingga menambah pesona kegagahanya.
"Ih, mama apaan sih?" ia tertawa geli saat mendengar ucapan dari si mama tadi.
"Mau kemana sih, kalian? Ini masih pagi lho, udah rapih aja."
Si mama dan si papa, sama-sama heranya.
"Ada sesuatu yang harus kami lakukan hari ini," jelas Alvian.
"Apa?"
"Adalah, nanti aku dan Airin ceritakan, sekarang kami pergi dulu, ya,"
Lagi-lagi, Reyhan dan Tania saling menatap, sikap aneh Alvian dan Airin membuat mereka berdecak heran.
"Pasti ada masalah,"
"Masalah kantor, kali mah."
Kedua orang tua Alvian, menebak-nebak apa yang akan di lakukan, anak-anaknya.
"Ah sudahlah, nanti mereka pasti cerita," Putus keduanya, yang tak mau ambil pusing.
***
__ADS_1
Alvian dan Airin kini sudah tiba di rumah, Wijaya Bratayuda. Tanpa basa basi, mereka pun langsung menemui kedua orang tua Airin.
Tampak seorang pria paruh baya, tengah menikmati santap pagi, bersama istri dan anak-anaknya. Tentu saja Rio dan Amira.
Airin berhenti sejenak, ia menatap sebuah kursi yang pernah ia duduki, selama tinggal di rumah ini.
"Aku, selalu duduk di sana, setiap menyantap makanan yang sudah, bibi siapkan," lirihnya pelan.
Alvian yang mendengar pun, seketika membelai lembut rambut lurus istrinya.
"Kita kesini, bukan untuk merenungi kursi, Rin.. tapi menanyakan hal yang sejak kemarin membuatmu kacau,"
Airin mengangguk lalu tersenyum simpul, ia segera melangkah, lalu mendekati kedua orangtua dan saudara-saudaranya.
"Rin,"
Anita segera mendekati anaknya, si mama tak menyangka jika anaknya akan pulang juga kerumah.
"Ada perlu apa kau, kemari? Menertawakaku, atau mau menghinaku, karena kau berhasil menghancurkan, perusahaanku," sambut Yuda dengan amarah, belum apa-apa, pria tua itu sudah marah-marah.
"Pikiran papa selalu buruk tentangku, sejak dulu... aku selalu salah," Airin berucap dengan berlinang air mata. Alvian menepuk pundak istrinya berusaha untuk menguatkan.
"Iya... memang benar, kau selalu salah, bahkan hadirmu di sisi hidupku adalah sebuah kesalahan!"
Yuda benar-benar tak mengontrol ucapanya, ia seolah berlomba mencari cara, agar batin Airin hancur sehanur-hancurnya. Meski Anita sang istri, berusaha menenangkan, agar pria itu tak banyak bicara, namun nyatanya, rasa benci di hati Yuda, tak bisa membuatnya untuk berpikir jernih saat berbicara.
"Pah.. sudahlah! Jangan katakan apapun lagi!" kini Rio yang melarang.
"Aaahh... aku tak bisa diam, apa yang harus ku jaga, karena nyatanya, dia memang pembawa bencana. Sejak dia ada, selalu saja banyak masalah yang menimpa," emosi Yuda lagi.
Anita tertunduk, Rio dan Amira memilih diam.
"Pak Yuda, aku dan Airin datang, dengan baik-baik. Tapi kenapa anda justru marah-marah, seperti orang gila?!"
"Diam kau anak muda! Aku muak melihat wajahmu!!" Yuda berteriak.
"Kalau boleh jujur, aku lebih muak, melihat wajah anda, sudah tua tapi hobbynya marah-marah saja," Alvian menanggapi sikap Yuda dengan santai.
"Huuuh... mau apa kalian kesini? Kalau bukan mau menghina dan mencaci maki,"
Airin pun maju selangkah, ia menatap wajah Yuda dalam-dalam, si cantik menanyakan hal, yang sudah dari kemarin membuatnya galau.
"Pah... benarkah? Aku dan kak Rio bukan saudara??"
Menoleh, Anita menoleh saat Airin menanyakan hal itu padanya, sedangkan Rio memilih untuk diam saja.
"Katakan, sejujurnya, pah!"
Yuda manarik tegap tubuhnya, sebelum ia berbicara.
Daaaannnn.................
.
.
__ADS_1
.
Ketemu besok ya😭😭... makasih kakak-kakak baik hati, lope you pull❤❤❤❤❤❤.