
ANTARA DENDAM DAN CINTA
☡Selamat Membaca☡
Sejak, hari dimana Arfa mengatakan jika ia akan menikahi Nayla, kini hubunganya dengan Arfi, sedikit merenggang. Bukan tanpa alasan sebab bukan menjadi rahasia lagi, jika Arfi juga menyukai Nayla.
"Kok pakai ojek, mobilmu kemana?" tanya Arfa kepada saudara kembarnya.
"Rusak, sekarang sedang di bengkel," jawab Arfi ketus.
"Mau, aku antar gak?"
"Gak perlu, aku bisa jalan sendiri,"
Arfa menarik sudut bibir, kala melihat sikap sang kakak, yang sungguh acuh kepadanya, bahkan setiap ia bertanya, Arfi selalu membalasnya dengan marah-marah.
"Ngeselin banget sih," grutu Arfa seraya menatap langkah Arfa yang kian menjauh.
Arfa pun memutuskan untuk ke rumah Nayla hari ini, dan ia pergi seorang diri... karena ada hal yang harus ia bicarakan prihal, ia yang sudah siap menikahi Nayla.
***
"Selamat siang," sapa Tito yang duduk di kursi roda, dan istrinya yang mendorong.
"Ada perlu apa, kamu kesini?" tanya wanita paruh baya yang tak lain mama dari Nayla.
"Melamar anak anda, karena aku tak mau bayiku lahir, nantinya, tanpa seorang ayah," jelasnya.
Tito diam sejenak, ia menatap lekat, wajah Arfa yang benar-benar berani mendatanginya lalu meminta untuk menikahi Nayla.
"Bukankah, kamu masih kuliah? Mau di kasih makan apa, anakku nanti? Jika menikah denganmu,"
"Tenang! Prihal materi, hidup Nayla pasti akan tercukupi," jawabnya datar.
Meski sedari tadi, Tito tak menunjukan kemarahan saat Arfa menemuinya, berbeda dengan Arfa, meski ia sudah coba untuk berdamai, tapi nyatanya ia tak bisa. Arfa benar-benar masih membenci, Tito. Saat keduanya saling berhadapan.
"Apa yang akan kau kasih, jika menikahi Nayla nanti?"
"Rumah yang nyaman, dan cinta yang tulus,"
"Lalu, apa lagi?"
"Cicin dan sebagainya, bahkan nanti, akan ku beri uang tunai juga,"
"Hanya itu," Tito menyilangkan tanganya di perut.
"Lantas, apa mau anda?"
"Mobil, perusahaan dan masih banyak lagi, seharusnya kau berikan kepada anakku," ucap Tito tanpa ragu.
"Heh.. anda mau menikahkan anak, atau mau menjual anak?"
"Sial! Berani kau berucap seperti itu, kepadaku,"
"Ah sudahlah! Aku tidak mau basa-basi! Jadi, aku di bolehkan menikahi, Nayla atau tidak? Jika iya, besok aku akan datang ke sini membawa kedua orang tuaku, untuk menikahi anak anda, tapi jika tidak boleh, aku akan pergi meninggalkan Nayla selamanya," tanya Arfa memastikan.
Tito mengira, jika Arfa masih bocah, tapi nyatanya ia salah besar, anak muda itu seolah tak memberi pilihan, kecuali Tito harus mengatakan "IYA" dan memberi izin, agar Arfa dan Nayla segera menikah.
"Bagaimana, jika aku tak memberi izin?"
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, aku permisi,"
Arfa segera beranjak, lalu pergi dari hadapan Tito, bahkan ia tak perduli saat pria tua itu memanggilnya berkali-kali, dan berusaha menghentikan langkahnya.
"Papa, bagimana? Kenapa tak menerima lamaranya?" Nayla menangis sesenggukan, sebab ia mendengar semua pembicaraan antara Arfa dan sang papa.
"Bukan begitu, Nay! Sebenarnya, papa tidak menolak, tapi Arfa saja yang gampang emosi, karena sebenarnya, papa tak berniat untuk tidak menerima lamaranya," ujar Tito menjelaskan.
Tapi Nayla tak mau perduli, sebab tadi, yang ia dengar. Jika Arfa tak akan menikahi dan akan meninggalkanya. Ia berlari keluar rumah, berharap Arfa masih ada di depan sana.
"Aaaaaa____!" pekiknya benci, sebab tak dapat menemui Arfa lagi.
Nayla terus berlari, berusaha mengejar mobil Arfa, tapi nyatanya mobil pria itu tak lagi berada di sana.
"Mbak Nayla, ayo pulang, lihatlah, sekarang sedang turun hujan," ajak sopir pribadi keluarganya.
"Pergi! Tinggalkan aku sendiri, jangan mendekat!"
"Tapi, mbak... pak Tito pasti akan memecat saya, jika tidak berhasil membawa mbak Nayla pulang ke rumah,"
"Terserah, bukan urusanku!" jawabnya emosi.
Ya, sedari Arfa pergi sebenarnya hujan turun dengan begitu deras, namun hal itu tak meng'urungkan niat Nayla untuk mengejar pria yang sudah membuatnya berbadan dua.
"Apa kamu, benar-benar akan meninggalkanku? Apa kamu, tak akan menikahiku?" tangis Nayla, air matanya turun sederas air hujan.
Berkali-kali ia menyebut nama, Arfa, dan membenci ucapan sang papa, yang ia dengar bahwa Tito menolak lamaran pria yang sungguh ia cinta.
"Faa___,"
Suaranya parau, dan bahkan nyaris hilang karena terus menangis dan berteriak.
Sesaat Nayla merasa tubuhnya tak lagi di guyur air hujan, sebab ada seseorang yang me'mayunginya dari belakang.
"A_arfa," gugupnya tak percaya, sebab memang Arfa yang kini tengah meneduhkan tubuhnya yang basah.
"Semurah itu air matamu?"
"Aku menangisimu, begok!"
"Tidak butuh tangismu, Nay. Sudahlah jangan menangis lagi, hapus air matamu!" Arfa memberi sapu tangan kepada Nayla dan meminta wanita itu tak lagi menangis.
"A_aku sedih, karena kamu akan meninggalkanku dan tidak akan menikahiku," tuturnya yang masih bergelut dengan isak tangisnya.
"Siapa yang bilang? Aku akan meninggalkanmu?"
"Tadi, aku mendengar pembicaraanmu dengan papa,"
Cletak!
Lagi, Arfa memang suka menyentil kening Nayla.
"Apa, hobbymu, suka mendengarkan pembicaraan orang lain, secara diam-diam?"
Nayla menggeleng.
"Aku tak mungkin meninggalkanmu, terlebih, kamu tengah mengandung anakku,"
Nayla langsung berhambur memeluk tubuh Arfa, ia kembali menangis dalam dekapan pria itu, dan Arfa pun tersenyum, ia membelai rambut panjang Nayla yang sudah basah.
__ADS_1
"Ayo masuk mobil, kamu harus pulang! Dan seharusnya, kamu tidak boleh hujan-hujanan, karena kamu sedang hamil,"
Nayla mengangguk, ia menuruti apa yang Arfa serukan padanya. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
"Pakai jacket ini, agar kamu tak terlalu kedingian!" si tampan, memberikan jacket jeans miliknya untuk di berikan kepada Nayla. "Lihat! Bajuku juga basah, semua ini karena kebodohanmu," Arfa menunjuk bajunya yang juga basah, karena tadi Nayla memeluknya dalam keadaan basah kuyup.
"Maaf!" Nayla tertunduk lesu.
"Kemarilah, sandarkan kepalamu di bahuku!"
"Haaah? Boleh'kah?" si cantik sedikit tak percaya.
"Ihh, jangan kepedean dulu, ya! Aku melakukan ini bukan karena perhatian padamu,"
"Oh,"
"Kok, hanya 'Oh'?"
"Lantas bagaimana? Katamu, melakukanya bukan karena perhatian,"
"Yaa... benar."
"Tuh, kan!" Nayla semakin menundukan wajahnya.
"Karena, aku melakukan ini, bukan sekedar perhatian saja, melainkan karena CINTA. Aku sayang kamu, Nay!"
Si tampan, menarik tangan Nayla, lalu meminta si cantik untuk segera bersandar di bahunya. Sementara si cantik, tersipu malu, ia sungguh bahagia akan ucapan Arfa baru saja.
"Sungguh, sampai detik ini, aku masih sulit menebak pikiranmu," ujar Nayla pelan.
"Kenapa? Apa, qku terlalu mengejutkan, ya?"
"Lebih dari itu. Karena hanya kamu yang bisa membuatku, menangis dan tertawa dalam waktu hampir bersamaan,"
"Sudahlah, jangan memujiku! Nanti aku terbang tinggi, siapa yang mau menurunkan?"
"Aku lah,"
"Pakai apa?"
"Ku tarik kakimu," jawab Nayla spontan.
"Yakin bisa? Kalau kamu, justru ikut terbang gimana?"
"Ya, gapapa sih, asal terbangnya sama kamu,"
Ucapan Nayla, juga berhasil membuat Arfa tersenyum. Sepanjang perjalan menuju rumah Nayla, berkali-kali Arfa mendaratkan kec*pan di kening Nayla, bahkan sikap Arfa yang begitu hangat, membuat Nayla merasa sangat nyaman.
.
.
.
.
.
TERIMA KASIH
__ADS_1